26 September 2026

Ia Telah Menunjukkan Kuburan Sejak Awal

Lelaki itu sedang mencela dunia.

Riwayat tidak memberitahukan namanya. Tidak dijelaskan pula musibah apa yang baru menimpanya.

Mungkin seseorang yang dicintainya meninggal.

Mungkin hartanya lenyap.

Mungkin tubuhnya mulai melemah, sahabatnya berkhianat, atau kekuasaan yang dahulu membuat orang-orang membungkuk kini berpindah ke tangan orang lain.

Kita tidak tahu.

Namun kita mengenal suara manusia ketika harapannya hancur.

“Dunia ini penipu!”

Begitulah kira-kira kemarahannya.

“Ketika kita mulai mencintai, ia memisahkan. Ketika kita merasa memiliki, ia merampas. Ketika kita baru saja merasakan kebahagiaan, ia mendatangkan penderitaan.”

Barangkali orang-orang di sekelilingnya mengangguk.

Mencela dunia terdengar seperti kezuhudan. Mengutuknya terasa seperti kebijaksanaan. Seakan-akan semakin keras seseorang membenci dunia, semakin dekat ia kepada Allah.

Namun Imam Ali a.s. mendengar perkataan itu.

Beliau tidak membenarkannya.

Ali justru mengarahkan pandangannya kepada lelaki tersebut dan membongkar kesalahan yang tersembunyi di balik kata-katanya:

“Wahai orang yang mencela dunia, padahal engkau sendiri tertipu oleh pesonanya dan terpedaya oleh kebatilannya.”

Lelaki itu terdiam.

Ia mengira Ali akan ikut mengutuk dunia.

Ternyata Ali justru menempatkannya sebagai pihak yang harus menjawab.

“Engkau yang tertarik kepada dunia, lalu engkau pula yang mencelanya?”

Suasana berubah.

Kini bukan dunia yang sedang diadili.

Lelaki itu.

Dan bersama dirinya, kita semua.

“Apakah engkau yang berhak menuduh dunia,” lanjut Ali, “atau justru dunia yang berhak menuduhmu?”

Pertanyaan itu seperti pedang yang membelah seluruh alasan manusia.

Sebab kita selalu lebih mudah mencari sesuatu di luar diri untuk dipersalahkan.

Ketika harta hilang, dunia dituduh kejam.

Ketika tubuh menua, waktu dituduh tidak adil.

Ketika orang yang kita cintai meninggal, kehidupan dianggap telah berkhianat.

Namun Imam Ali mengajukan pertanyaan yang jauh lebih jujur:

Kapan dunia pernah berjanji bahwa semua itu akan kekal?

—

“Kapan dunia memperdayakanmu?” tanya Ali.

“Apakah melalui tempat jatuhnya ayah-ayahmu yang telah hancur?”

“Apakah melalui tempat terbaringnya ibu-ibumu di bawah tanah?”

Lelaki itu mungkin ingin menjawab.

Namun kata-kata Ali membawa ingatannya kembali kepada wajah-wajah yang pernah ada.

Seorang ayah yang dahulu tegak, kemudian terbaring lemah.

Seorang ibu yang dahulu menggendongnya, kemudian harus digotong menuju pemakaman.

Tangan-tangan yang dahulu melindunginya kini diam di balik kain kafan.

Ali terus berbicara.

Betapa sering engkau merawat mereka dengan kedua tanganmu.

Betapa sering engkau duduk di sisi pembaringan mereka, berharap penyakit itu pergi.

Engkau mencari tabib.

Engkau meminta obat.

Engkau menunggu dari pagi hingga malam, berharap napas mereka kembali teratur.

Namun ketika ajal datang, obat tidak lagi berguna.

Tangisan tidak dapat menahan ruh.

Kasih sayang tidak mampu menggeser waktu kematian, walaupun hanya sesaat.

Dengan seluruh kekuatanmu, engkau tidak sanggup mencegah mereka pergi.

Lalu Ali menyampaikan kalimat yang menggetarkan:

Melalui kematian mereka, dunia telah memperlihatkan kepadamu gambaran tentang dirimu sendiri. Melalui kejatuhan mereka, dunia telah menunjukkan bagaimana kelak engkau akan jatuh.

Dunia tidak menyembunyikan kematian.

Kitalah yang menolak melihatnya.

Setiap jenazah yang lewat di hadapan kita adalah pengumuman.

Setiap keriput merupakan surat.

Setiap rambut yang memutih adalah peringatan.

Setiap rumah yang ditinggalkan penghuninya adalah kesaksian.

Setiap matahari yang tenggelam sedang mengajarkan bahwa sesuatu dapat bersinar dengan sangat indah—lalu tetap pergi.

Dunia tidak pernah berkata bahwa ayah kita akan hidup selamanya.

Dunia tidak menjanjikan ibu kita tidak akan dikuburkan.

Dunia tidak menandatangani perjanjian bahwa tubuh kita tidak akan menua, kekuasaan tidak akan berpindah, kekayaan tidak akan berkurang, dan orang yang kita cintai tidak akan berpisah.

Dunia menyatakan kefanaannya setiap hari.

Namun kita menutup mata, kemudian marah ketika kenyataan akhirnya mengetuk pintu.

Itulah ironi manusia.

Kita meminta dunia berbohong kepada kita—lalu menuduhnya menipu ketika ia mengatakan yang sebenarnya.

—

Setelah menghancurkan tuduhan lelaki itu, Imam Ali melakukan sesuatu yang lebih mengejutkan.

Beliau tidak menggambarkan dunia sebagai tempat terkutuk.

Beliau justru memujinya.

Ali berkata:

«إِنَّ الدُّنْيَا دَارُ صِدْقٍ لِمَنْ صَدَقَهَا»

“Sesungguhnya dunia adalah rumah kejujuran bagi orang yang memperlakukannya dengan jujur.”

Dunia menjadi jujur kepada orang yang tidak memaksanya terlihat abadi.

Dunia menjadi tempat keselamatan bagi orang yang memahami pesannya.

Ia menjadi rumah kekayaan bagi orang yang mengumpulkan bekal akhirat di dalamnya.

Ia menjadi sekolah peringatan bagi orang yang bersedia belajar.

Kemudian Ali menggambarkan dunia dengan ungkapan yang hampir tidak pernah dibayangkan oleh orang-orang yang gemar mencelanya:

Dunia adalah masjid para kekasih Allah.

Di manakah manusia bersujud kalau bukan di dunia?

Di manakah seseorang memberi makan orang lapar?

Di manakah tangan dapat mengusap kepala anak yatim?

Di manakah orang yang bersalah dapat meminta maaf?

Di manakah seorang pendosa dapat bertobat?

Di manakah manusia dapat mencintai, berkorban, bersabar, berjuang dan membela kebenaran?

Semuanya hanya dapat dilakukan di dunia.

Setelah kematian, tidak ada lagi rakaat yang dapat ditambahkan.

Tidak ada sedekah yang dapat diberikan oleh tangan yang telah kaku.

Tidak ada kezaliman yang dapat diperbaiki setelah lembar perbuatan ditutup.

Tidak ada kata maaf yang dapat disampaikan oleh lidah yang telah diam.

Dunia adalah tempat para malaikat beribadah.

Dunia adalah tempat wahyu Allah diturunkan.

Dunia adalah pasar para wali Allah.

Mereka datang membawa modal berupa umur.

Setiap napas adalah keping yang dibelanjakan.

Setiap hari adalah kesempatan berdagang.

Ada yang menukar umurnya dengan kesombongan.

Ada yang membelanjakannya untuk menumpuk harta yang kelak diperebutkan ahli waris.

Ada pula yang menukarkan hidupnya dengan kasih sayang, keadilan, ilmu, pengabdian dan pembelaan terhadap orang-orang tertindas.

Pasarnya sama.

Modalnya sama-sama waktu.

Namun ketika pasar ditutup, masing-masing membawa hasil yang berbeda.

Para wali Allah, kata Imam Ali, memperoleh rahmat di dunia dan membawa pulang keuntungan berupa surga.

Karena itu, dunia bukan musuh.

Dunia adalah tempat menentukan keberpihakan.

Yang berbahaya bukan dunia, melainkan ketika dunia memasuki hati dan menjadi tuhan kecil yang mengatur seluruh keputusan manusia.

Memiliki harta bukanlah kehinaan.

Tetapi menjadi milik harta adalah kehinaan.

Menduduki jabatan bukanlah dosa.

Tetapi menjual kebenaran demi jabatan adalah kehancuran.

Mencintai kehidupan bukan kesalahan.

Tetapi mengorbankan akhirat karena takut kehilangan kehidupan adalah kebodohan.

Zuhud bukan berarti tidak mempunyai apa pun.

Zuhud berarti tidak ada sesuatu pun yang mampu memiliki dirimu selain Allah.

—

“Siapakah yang pantas mencela dunia,” kata Ali, “padahal dunia telah mengumumkan kepergiannya?”

Ia telah memberitahukan bahwa dirinya akan berakhir.

Ia telah mengabarkan kematian seluruh penghuninya.

Melalui kesulitannya, dunia memperlihatkan contoh tentang kesulitan yang lebih besar.

Melalui kebahagiaannya, dunia menumbuhkan kerinduan kepada kebahagiaan yang tidak berakhir.

Pada petang hari ia dapat datang membawa kesehatan.

Keesokan pagi ia kembali membawa berita kematian.

Hari ini seorang anak dilahirkan.

Besok seorang ayah dikuburkan.

Hari ini sebuah rumah dipenuhi suara pesta.

Esok rumah yang sama dipenuhi tangisan.

Bukan karena dunia tidak memiliki aturan.

Justru itulah aturannya.

Ia adalah tempat perubahan, bukan tempat menetap.

Ia adalah jalan, bukan rumah terakhir.

Ia adalah pasar, bukan tempat tinggal abadi.

Orang yang membangun rumah permanen di tengah jalan tidak berhak memaki jalan ketika para musafir memintanya melanjutkan perjalanan.

Orang yang menyia-nyiakan seluruh modalnya tidak berhak mengutuk pasar ketika pintu-pintunya ditutup.

Orang yang mengabaikan seluruh peringatan tidak berhak menuduh dunia menyembunyikan kenyataan.

—

Lelaki yang semula mencela dunia kini tak lagi memiliki sesuatu untuk dikatakan.

Ia datang sebagai penuduh.

Namun kata-kata Ali mengubahnya menjadi terdakwa.

Dunia tidak pernah menyembunyikan kefanaannya.

Ia telah memperlihatkan kuburan orang-orang terdahulu.

Ia telah membiarkan kita menyaksikan orang kuat menjadi lemah, orang kaya meninggalkan kekayaannya, dan penguasa keluar dari istana hanya dengan sehelai kain.

Ia telah menasihati kita.

Hanya saja kita tidak mendengarkan.

Ia telah mengingatkan.

Kita memilih melupakan.

Ia telah berbicara jujur.

Kita memaksanya menjadi kebohongan yang menyenangkan.

Kelak, kata Imam Ali, ada manusia yang mencela dunia ketika penyesalan sudah tidak berguna.

Namun ada pula orang-orang yang akan memujinya pada Hari Kiamat.

Mereka akan berkata:

Di sanalah kami diingatkan, lalu kami mengingat.

Di sanalah kami dinasihati, lalu kami mengambil pelajaran.

Di sanalah kami diberi kesempatan, lalu kami mempergunakannya.

Dunia bagi mereka bukan penghalang menuju Allah.

Dunia adalah jembatan.

Mereka melintasinya, tetapi tidak mendirikan rumah di atasnya.

—

Inilah kebesaran pemikiran Imam Ali.

Beliau tidak mengajari manusia melarikan diri dari kehidupan.

Beliau mengajari manusia menempatkan kehidupan pada kedudukan yang benar.

Dunia bukan tujuan.

Namun tanpa dunia, tidak ada perjalanan menuju tujuan.

Dunia bukan surga.

Namun surga diperoleh melalui apa yang kita lakukan di dunia.

Dunia bukan rumah keabadian.

Namun keputusan-keputusan yang menentukan keabadian dibuat di sini.

Maka jangan mencela dunia karena seseorang meninggalkanmu.

Jangan mengutuknya karena tubuhmu menua.

Jangan menuduhnya berkhianat karena harta, kekuasaan dan kemasyhuran tidak bertahan selamanya.

Tanyakanlah kepada dirimu sendiri:

Bukankah dunia telah memperlihatkan semua itu sejak awal?

Ia tidak pernah menipumu.

Ia telah menunjukkan kuburan.

Engkaulah yang memilih memalingkan wajah.

Dunia tidak

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan:

Pokok perkataan ini terdapat dalam Nahj al-Balaghah, Hikmah 131. Teks Arab lengkapnya dapat dibaca pada kajian “Mu’assasah ‘Ulum Nahj al-Balaghah, al-‘Atabah al-Husainiyyah”. Terjemahan dan susunan pokok nasihatnya juga dimuat dalam “Nahjul Balagha Sayings 131–140” serta pembahasan tentang keseimbangan dunia dan akhirat di “Al-Islam.org“.

Riwayat hanya menyebut bahwa Imam Ali mendengar seorang lelaki mencela dunia. Nama lelaki, tempat, waktu, dan musibah yang melatarbelakangi perkataannya tidak disebutkan. Dugaan mengenai kehilangan, penyakit, atau kesedihannya, termasuk gambaran suasana dan reaksinya, merupakan rekonstruksi sastra.

Uraian mengenai dunia sebagai rumah kejujuran, tempat mengambil bekal, masjid para kekasih Allah, tempat turunnya wahyu, dan pasar para wali Allah berasal dari isi Hikmah 131. Pengembangan makna tentang modal umur, pasar yang ditutup oleh kematian, serta kecenderungan manusia menyalahkan dunia merupakan refleksi atas metafora Imam Ali tersebut

—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1EfQ3uPLWf/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us