12 October 2026

Madinah belum selesai menangis.

Tanah di sekitar makam Rasulullah saw. masih basah ketika kota itu mulai dipenuhi suara perdebatan tentang kekuasaan.

Di satu tempat, manusia berbicara tentang siapa yang akan memimpin.

Di tempat lain, Imam Ali a.s. duduk sendirian di hadapan lembaran-lembaran wahyu.

Tangan yang baru saja memandikan tubuh Rasulullah kini menyentuh ayat-ayat yang dahulu turun di hadapannya.

Ali menyaksikan hampir seluruh perjalanan Al-Qur’an.

Ia mengetahui ayat mana yang turun di Makkah dan mana yang turun di Madinah.

Ia mengetahui ayat yang turun ketika perang berkecamuk.

Ayat yang turun ketika kaum munafik tersenyum di hadapan Nabi, tetapi menyimpan pengkhianatan.

Ayat yang turun di rumah Fathimah.

Ayat yang turun tentang wilayah.

Ayat yang umum dan yang khusus.

Ayat yang muhkam dan mutasyabih.

Ia bukan hanya menghafal kalimatnya.

Ia mengetahui kapan ayat itu turun, mengapa ia turun, kepada siapa ia berbicara, dan bagaimana Rasulullah menjelaskannya.

Sebab setiap kali wahyu datang, Ali berada di dekat Nabi.

Rasulullah membacanya. Ali menuliskannya.

Rasulullah menerangkan maknanya.

Ali menyimpannya di dalam dada.

Kini suara wahyu telah berhenti.

Malaikat Jibril tidak akan turun lagi membawa ayat baru.

Namun sebelum wafat, Rasulullah telah meninggalkan amanah.

Kitab Allah dan Ahlul Baitnya tidak boleh dipisahkan.

Ali pun menutup pintu rumahnya.

Dalam berbagai riwayat disebutkan, beliau bertekad tidak mengenakan pakaian luar untuk urusan lain hingga menyelesaikan penghimpunan itu.

Hari-hari berlalu.

Dari balik pintu, terdengar goresan pena di atas lembaran.

Malam berganti pagi. Lampu minyak menyusut.

Ketika orang-orang lain sedang menyusun barisan kekuasaan, Ali menyusun ayat-ayat berdasarkan perjalanan turunnya wahyu.

Tidak ada satu ayat baru yang ditambahkan. Tidak ada satu ayat Al-Qur’an yang dikurangi.

Mushaf Ali bukanlah Al-Qur’an lain.

Ayatnya adalah ayat yang sama.

Surahnya adalah surah yang sama.

Wahyunya adalah wahyu yang sama.

Namun bersama ayat-ayat itu terdapat penjelasan yang tidak dimiliki orang lain:

  • Sebab turunnya.
  • Konteksnya.
  • Tafsirnya.
  • Takwilnya.
  • Nasikh dan mansukhnya.
  • Muhkam dan mutasyabihnya.
  • Serta pengetahuan yang diterima Ali langsung dari Rasulullah saw.

Fathimah sesekali memandang suaminya dari kejauhan.

Ia mengetahui apa yang sedang dikerjakan Ali.

Bukan sekadar menyatukan lembaran.

Ali sedang menyelamatkan hubungan antara wahyu dan penjelasannya.

Antara Al-Qur’an dan manusia yang paling mengetahui Al-Qur’an.

Setelah penghimpunan itu selesai, Ali membungkusnya dengan kain.

Kemudian beliau mengangkatnya.

Himpunan itu berat. Bukan hanya karena banyaknya lembaran.

Ia membawa seluruh perjalanan dua puluh tiga tahun kenabian.

Ia membawa suara Rasulullah.

Ia membawa penjelasan yang dapat menjaga umat dari perselisihan.

Ali keluar dari rumah.

Langkahnya bergerak menuju tempat orang-orang berkumpul.

Madinah memandangnya lewat.

Di tangannya terdapat Kitab Allah yang tersusun bersama ilmu pewaris Nabi.

Sesampainya di hadapan mereka, Ali meletakkan himpunan itu.

Beliau mengingatkan pesan Rasulullah:

“Aku meninggalkan kepada kalian dua perkara yang berat: Kitab Allah dan Ahlul Baitku.”

Kemudian seakan beliau berkata kepada sejarah:

“Ini Kitab Allah. Dan aku adalah bagian dari Ahlul Bait Rasulullah.”

Seharusnya ruangan itu berguncang. Seharusnya manusia berebut mendekat.

Seharusnya mereka berkata:

“Ajarkan kepada kami apa yang diajarkan Rasulullah kepadamu.”

Namun jawaban yang diterima Ali dingin:

“Kami telah memiliki Al-Qur’an. Kami tidak memerlukan apa yang engkau bawa.”

Sunyi.

Tidak ada pedang yang terhunus. Tidak ada darah yang mengalir.

Namun pada hari itu terjadi salah satu penolakan terbesar dalam sejarah Islam.

Mereka tidak menolak ayat-ayat Allah.

Mereka menolak penjelasan Rasulullah yang berada bersama ayat-ayat itu.

Mereka tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak diperlukan.

Mereka mengatakan Ali tidak diperlukan.

Mereka bersedia menerima teks— tetapi menolak pintu ilmunya.

Mereka ingin Kitab Allah berdiri tanpa Ahlul Bait.

Padahal Rasulullah telah memasangkan keduanya dan menyatakan bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadanya di Telaga.

Ali menatap orang-orang di hadapannya.

Ia tidak memohon. Tidak memaksa.

Tidak membuka lembaran itu untuk diperdebatkan di tengah perebutan kekuasaan.

Beliau membungkusnya kembali. Lalu mengangkatnya ke pundaknya.

Ali datang membawa sesuatu yang dapat menyelamatkan umat dari kebingungan selama berabad-abad.

Ia pulang membawanya kembali.

Pintu rumah tertutup.

Dan sejak hari itu, mushaf tersebut tetap berada dalam penjagaan Ahlul Bait—berpindah dari satu Imam kepada Imam berikutnya, menurut tradisi Imamiyah.

Bukan karena Al-Qur’an umat Islam kurang.

Al-Qur’an yang berada di tangan kaum muslimin tetap lengkap, terjaga, dan tidak mengalami kekurangan satu ayat pun.

Yang hilang dari jangkauan umum adalah susunan kronologis dan penjelasan lengkap Nabi yang dihimpun Ali bersamanya.

Umat memiliki ayat tentang wilayah— tetapi berselisih tentang siapa wali yang dimaksud.

Mereka memiliki Ayat Tathir— tetapi berdebat tentang siapa Ahlul Bait.

Mereka membaca Ayat Mubahalah— tetapi mengabaikan siapa yang dibawa Rasulullah sebagai dirinya sendiri.

Mereka membaca perintah menaati ulil amri— tetapi menyerahkan penentuannya kepada perebutan manusia.

Ayatnya tetap ada. Yang ditinggalkan adalah penjelasnya.

Al-Qur’an tetap dibaca. Namun pintunya ditutup.

Berabad-abad kemudian, manusia saling mengkafirkan menggunakan ayat yang sama.

Penguasa menghunus pedang menggunakan ayat yang sama.

Kaum Khawarij mengangkat semboyan dari Al-Qur’an untuk memerangi Ali.

Dan Ali berkata, “Itu kalimat benar yang digunakan untuk tujuan batil.”

Betapa berbeda sejarah umat seandainya pada hari itu mereka membuka mushaf yang dibawa Ali dan berkata:

“Wahai pintu kota ilmu, jelaskan kepada kami apa yang diajarkan Rasulullah.”

Namun sejarah memilih jalan lain.

Ali kembali ke rumah dengan membawa mushafnya.

Tidak ada pasukan mengiringinya. Tidak ada orang yang memanggilnya kembali.

Di balik pintu rumah itu, Fathimah melihat suaminya datang membawa amanah yang ditolak umat.

Ali meletakkannya dengan hati-hati.

Beliau tidak kehilangan Al-Qur’an. Al-Qur’an juga tidak kehilangan satu huruf pun.

Yang kehilangan adalah umat.

Sebab pada hari itu— mereka tetap memiliki Kitab Allah,

tetapi berpaling dari manusia yang mengetahui kapan setiap ayat turun, mengapa ia turun, dan ke mana maknanya harus membawa mereka.

Mereka menerima

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan penting: Mushaf Ali tidak berarti Al-Qur’an yang berbeda atau lebih lengkap ayatnya. Menurut penjelasan ulama Imamiyah, teks wahyunya sama dengan Al-Qur’an yang berada di tangan umat Islam; kekhususannya terletak pada urutan turunnya serta keterangan tafsir dan takwil yang menyertainya. Kajian penghimpunan Al-Qur’an oleh Imam Ali⁠, keyakinan Imamiyah tentang keutuhan Al-Qur’a

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1CE1uEzH8X/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us