12 October 2026

1. Pembukaan Kajian & Tinjauan Ulang

Pertemuan ketiga ini melanjutkan pembahasan mengenai wasiat Imam Ali bin Abi Thalib AS kepada putra beliau, Imam Hasan AS. Pembicara mengulas kembali poin wasiat awal yang telah dibahas sebelumnya, yaitu pesan untuk senantiasa bertakwalah kepada Allah SWT (Fa inni ushika bitaqwallah ya bunayya).

2. Pokok-Pokok Wasiat yang Dibahas

Pada bagian ini, terdapat empat poin utama dari kelanjutan wasiat Imam Ali AS yang dikaji:

  1. Wa luzumi amrih:
    Senantiasa melazimkan atau mengikat diri dengan perintah dan urusan Allah SWT.
  2. Wa ‘imarati qalbika bidzikrih:
    Memakmurkan dan menghidupkan hati dengan senantiasa mengingat Allah SWT.
  3. Wal ‘itishami bihablih:
    Berpegang teguh pada tali ikatan Allah SWT.
  4. Wa ayyu sababin ausaqu min sababin bainaka wa bainallah ‘azza wa jalla in anta akhadztabihi:
    Menyadari bahwa tidak ada ikatan atau sebab yang lebih kuat daripada ikatan antara hamba dengan Allah Azza wa Jalla jika hamba tersebut berpegang padanya.

3. Poin Pertama: Wa Luzumi Amrih (Konsistensi dalam Ketaatan)

  • Prinsip Luzum (Kontinuitas & Konsistensi):
    Mengikat diri dengan perintah Allah berarti seorang hamba harus memiliki ketaatan yang konsisten, yaitu ketaatan yang berlaku di mana saja, kapan saja, dan sebagai apa saja.
  • Bahaya Ketaatan Parsial:
    Banyak manusia yang hanya mampu menjaga kebaikan dirinya di tempat tertentu atau di hadapan publik, namun melanggar aturan agama ketika sedang sendirian.
    Pembicara mengutip riwayat Imam al-Jawad AS yang mengingatkan agar manusia tidak menjadi kekasih Allah di hadapan khalayak ramai (fil ‘alaniyah), tetapi menjadi musuh Allah ketika sendirian (fis-sirr).
  • Konsistensi dalam Segala Kondisi & Peran:
    • Waktu dan Emosi:
      Ketaatan tidak boleh goyah saat emosi tersulut atau ketika menghadapi situasi yang menekan.
    • Peran Sosial:
      Seseorang harus konsisten, tidak hanya bersikap amat baik kepada teman di luar, tetapi juga harus tetap santun dan bertanggung jawab kepada istri, keluarga, maupun karyawannya.
    • Hingga Akhir Hayat:
      Ketaatan juga harus dijaga hingga akhir hayat agar seseorang tidak berpaling atau kehilangan kendali di penghujung usianya.

4. Poin Kedua: Wa ‘Imarati Qalbika bi Dzikrih (Memakmurkan Hati dengan Dzikrullah)

  • Fitrah Tauhid dan Dahaga akan Kesempurnaan Mutlak:
    • Mengutip penjelasan Imam Khomeini yang merujuk pada pemikiran gurunya (Syekh Syahabadi) mengenai pertanyaan kepada Imam Ja’far as-Sadiq AS tentang ayat fitrah tauhid (Fitratallahi allati fataran-nasa ‘alaiha).
    • Secara fitrah, seluruh manusia mencintai kesempurnaan (kamal). Ketika manusia mengagumi sesuatu yang pandai, kaya, kuat, cantik, atau sakti, kekagumannya akan berpindah saat menemukan sosok lain yang lebih sempurna.
    • Pencarian manusia tidak akan pernah berhenti sampai ia menemukan Kesempurnaan Mutlak yang tidak ada tandingannya, yaitu Allah SWT.
  • Ketenangan Hati yang Tak Terbatas:
    • Hati manusia bersifat tak terbatas dan tidak akan pernah tenteram sebelum sampai pada Zat yang Maha Segala-galanya. Hal ini selaras dengan firman Allah: “Ala bidzikrillahi tatma’innul qulub” (Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram).
    • Dunia ini sangat terbatas, sedangkan dambaan hati manusia tidak terbatas; karena itu, jika manusia dikenalkan pada kehidupan akhirat yang abadi tanpa kematian dan kesulitan, hatinya secara fitrah akan memilih akhirat.

5. Poin Ketiga: Wal ‘Itishami bi Hablih (Berpegang Teguh pada Tali Allah)

  • Keimanan yang Berdampak pada Tindakan:
    Banyak orang mengaku percaya kepada Allah, namun hidup tanpa panduan-Nya dan tidak membangun koneksi nyata dalam keseharian.
    Berpegang pada tali Allah (‘itisham bihablillah) berarti mengatur seluruh jalan hidup berdasarkan perintah, larangan, dan aturan Tuhan.
  • Perantara Insan-Insan Ilahi:
    Karena manusia tidak bisa terhubung secara langsung tanpa petunjuk, Allah mengutus insan-insan Rabbani dan manusia suci (Nabi dan Para Imam Suci) sebagai perantara untuk membimbing koneksi hamba dengan-Nya.
  • Ikatan Tertinggi:
    Imam Ali AS menegaskan bahwa ikatan antara hamba dengan Penciptanya adalah kontrak dan hubungan paling ideal serta paling berhak dipatuhi dibanding ikatan apa pun di semesta ini.

6. Renungan Dzikrullah dari Doa Arafah Imam Husain AS

Pembicara menambahkan pemahaman mendalam tentang zikir dengan mengutip Doa Arafah karya Imam Husain AS:

  • Antadz-dzakiru qabla adz-dzakirin:
    Allah telah mengingat dan menyebut manusia terlebih dahulu sebelum manusia mampu mengingat-Nya.
    Keberadaan manusia adalah buah dari zikir/firman Allah (Kun fayakun), sehingga manusia tidak layak menyombongkan zikirnya.
  • Anugerah Tanpa Meminta:
    Allah telah memberikan berbagai anugerah dan kebaikan bahkan sebelum hamba mengenal-Nya atau sempat berdoa meminta kepada-Nya.
  • Kerugian Hakiki:
    Ungkapan Doa Arafah menegaskan, “Apa yang didapatkan oleh hamba yang kehilangan-Mu ya Allah? Dan apa yang hilang dari hamba yang telah menemukan-Mu?”
    Sungguh rugi orang yang rela menerima selain Allah sebagai ganti dari-Nya.

7. Poin Keempat: Ahyi Qalbaka bil-Mau’izhah (Hidupkan Hatimu dengan Nasihat)

A. Kedudukan Hati & Esensi Manusia
  • Hati adalah esensi dan inti hakiki dari manusia.
  • Al-Qur’an menyatakan bahwa harta dan anak tidak berguna pada hari kiamat kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat/bersih (Qalbun Salim).
  • Penentu baik buruknya seluruh amalan adalah kondisi hati (niat), sebagaimana dua orang yang sama-sama gugur di medan perang namun nilainya berbeda di hadapan Rasulullah karena niat di dalam hati mereka.
B. Empat Jenis Ruh Menurut Ayatullah Nasir Makarim Syirazi

Untuk memahami letak posisi hati, dijelaskan pembagian empat jenis ruh pada makhluk:

  1. Ruh Nabati (Jiwa Vegetatif):
    Dimiliki oleh tumbuhan dan manusia, ditandai dengan pertumbuhan, perkembangan, penyerap nutrisi, dan kemampuan reproduksi.
  2. Ruh Hewani (Jiwa Hewani):
    Dimiliki oleh hewan dan manusia, ditandai dengan adanya rasa (sensasi) dan kemampuan bergerak.
  3. Ruh Insani (Jiwa Manusiawi):
    Ruh khusus manusia yang mampu memahami hakikat universal, melakukan abstraksi, mengambil kesimpulan, berinovasi, berkreasi, dan mengambil keputusan. Ruh inilah yang menjadi esensi dari “hati”.
  4. Ruh Muqaddasah (Ruhul Qudus):
    Ruh suci tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh para Nabi dan Para Imam Suci sebagai insan pilihan Allah yang terhubung langsung dengan sumber petunjuk Ilahi.
C. Kehidupan Ruh Insani Pasca Kematian Fisik
  • Saat fisik manusia meninggal dunia, Ruh Nabati dan Ruh Hewani ikut mati (tidak lagi tumbuh, makan, atau bergerak fisik).
  • Namun Ruh Insani tidak mati; ruh inilah yang tetap sadar, menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur, serta merasakan nikmat atau siksaan Barzakh.
  • Analogi pengalaman mimpi menunjukkan bahwa jiwa dapat melihat dan merasakannya tanpa gerakan badan fisik.
    Pasca kematian, keterikatan badan terlepas sehingga penglihatan dan pendengaran rohani justru menjadi jauh lebih tajam (fabasharukal yauma hadiid).
    Oleh karena itu, Ruh Insani/hati ini harus terus dihidupkan dengan nasihat agar tidak mati atau tumpul.

8. Hakikat & Sumber-Sumber Nasihat (Mau’izhah)

  • Makna Bahasa Mau’izhah:
    Secara kebahasaan (Raghib al-Isfahani & Khalil bin Ahmad), nasihat mencakup dua sisi: peringatan yang disertai ancaman hukuman atas keburukan (zajrun muqtarinun bit-takhwiif) sekaligus kabar gembira berupa anugerah pahala atas kebaikan.
  • Lima Sumber Nasihat Utama dalam Riwayat Para Imam:
    1. Kematian (Al-Maut):
      Kematian adalah penasihat terbaik (Kafa bil-mauti wa’izhan). Mengingat kematian mengikis kepalsuan dunia dan menyadarkan bahwa kita pun akan menyusul orang-orang yang telah wafat.
    2. Hari Kiamat:
      Kesadaran bahwa seluruh perbuatan dan suara terkoneksi di alam semesta serta terekam secara sempurna. Al-Qur’an Surah Fussilat ayat 21 menjelaskan bahwa kulit dan anggota tubuh akan bersaksi atas perbuatan manusia, sehingga dosa harus segera dicuci dengan pertobatan.
    3. Hakikat Dunia:
      Dunia diibaratkan dalam metafora Nabi Isa AS sebagai wanita bermata biru yang menarik banyak peminat, namun setiap orang yang mendekatinya justru dibunuh olehnya.
      Dunia tidak pernah setia kepada para pemburunya.
    4. Segala Sesuatu di Sekitar Kita:
      Mengutip riwayat Imam Musa al-Kadhim AS, semua kejadian, bacaan, dan pengalaman hidup di sekitar manusia sejatinya dapat menjadi pelajaran jika manusia mau mengambil hikmahnya.
    5. Diri Sendiri sebagai Penasihat Utama:
      Mengutip riwayat Imam al-Jawad AS, seorang mukmin membutuhkan tiga hal: Taufik dari Allah, penasihat dari dalam dirinya sendiri (wa’izhun min nafsih), dan kesiapan menerima nasihat dari orang lain.
      Nasihat dari siapa pun (Allah, Rasul, Imam, atau orang bijak) baru berbuah jika diri sendiri yang tergerak untuk melakukan perubahan.

9. Penutup Kajian

Kajian Bagian 3 ditutup pada pembahasan poin “Ahyi qalbaka bil-mau’izhah” (Hidupkan hatimu dengan nasihat). Pembahasan akan dilanjutkan pada bagian berikutnya dari wasiat Imam Ali AS kepada Imam Hasan AS, diakhiri dengan doa dan salam.

 

AB Wasiat Imam Ali Pilar Ruh3

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us