Rumah itu telah dibeli.
Delapan puluh dinar telah menjadi harganya. Sebuah dokumen dibuat. Para saksi dihadirkan. Segala sesuatu yang diperlukan untuk meneguhkan kepemilikan telah dilakukan.
Syuraih bin al-Harits, seorang hakim, tentu memahami arti semua itu.
Sebuah rumah dapat diperebutkan. Kepemilikannya dapat disangkal. Orang dapat datang membawa pengakuan, menggugat batas tanah, atau mempermasalahkan transaksi. Karena itulah dokumen diperlukan. Karena itulah kesaksian mempunyai tempat.
Namun, ada satu kedatangan yang tidak diperhitungkan oleh seluruh perlindungan tersebut.
Seseorang akan datang.
Ia akan mengeluarkan Syuraih dari rumahnya.
Dan tidak satu pun saksi dapat menghalanginya.
⸻
Kabar pembelian itu sampai kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.
Beliau memanggil Syuraih.
Di Kufah, urusan manusia terus berjalan. Orang membeli, menjual, memperbaiki kehidupan, menyiapkan tempat tinggal bagi keluarganya. Di antara berbagai kesibukan itu, transaksi Syuraih menjadi perkara yang diperhatikan pemimpin kaum Muslimin.
Sang hakim datang menghadap.
Ali membuka pembicaraan dengan hal-hal yang jelas.
“Telah sampai kepadaku bahwa engkau membeli sebuah rumah seharga delapan puluh dinar, membuat dokumen untuknya, dan menghadirkan para saksi.”
Syuraih membenarkannya.
“Memang demikian, wahai Amirul Mukminin.”
Harga, dokumen, kesaksian.
Jawaban itu mengukuhkan semuanya.
Kemudian Ali memandangnya dengan kemarahan.
Dan perkataan yang menyusul tidak berhenti pada persoalan delapan puluh dinar.
“Wahai Syuraih, ketahuilah, akan datang kepadamu seseorang yang tidak memandang dokumenmu dan tidak menanyakan bukti-buktimu. Ia akan mengeluarkanmu dari rumah itu dan menyerahkanmu ke dalam kubur, seorang diri.”
Satu kalimat itu mengubah seluruh ukuran pembicaraan.
Rumah yang baru dibeli mendadak mempunyai ujung yang lain.
Kubur.
⸻
Syuraih terbiasa dengan perkara manusia.
Seorang penggugat menyampaikan tuntutan. Orang yang digugat memberikan jawaban. Bukti diperiksa. Kesaksian didengar. Sebuah keputusan diambil.
Tetapi kedatangan yang disebut Ali tidak memasuki tata cara tersebut.
Kematian tidak menunggu persidangan.
Ia tidak memerlukan pengesahan bahwa rumah itu benar-benar milik Syuraih. Dokumen pembelian dapat tetap sah. Para saksi dapat tetap hidup. Nama pemilik dapat tetap tercatat.
Pemiliknya akan dibawa pergi.
Betapa menggentarkan ketika sebuah rumah yang dipersiapkan sebagai tempat menetap diperlihatkan sebagai tempat yang kelak harus ditinggalkan.
Pintu yang terbuka untuk menyambut seseorang masuk pada akhirnya juga akan dilalui ketika orang itu dibawa keluar.
Ali kemudian mengarahkan peringatannya kepada asal harta yang digunakan.
“Perhatikanlah, wahai Syuraih. Jangan sampai engkau membeli rumah ini dengan harta yang bukan milikmu, atau membayar harganya dari sesuatu yang tidak halal bagimu. Jika demikian, engkau telah kehilangan tempat tinggal di dunia dan tempat tinggal di akhirat.”
Peringatan itu mempunyai ketajaman yang berbeda.
Rumah akan ditinggalkan oleh siapa pun yang memilikinya. Namun, bila cara memperolehnya melanggar hak orang lain, tanggung jawabnya tidak ikut berakhir ketika pemiliknya meninggal.
Batu dan tanah dapat berpindah kepada ahli waris.
Hisab mengikuti orang yang memperolehnya.
⸻
Lalu Ali menyampaikan sesuatu yang membuat perkara itu semakin dalam.
“Seandainya engkau datang kepadaku ketika hendak membelinya, aku akan menuliskan untukmu sebuah dokumen seperti ini. Setelah membacanya, engkau tidak akan menginginkan rumah itu dengan harga satu dirham pun, apalagi lebih.”
Satu dirham.
Rumah yang telah dibayar delapan puluh dinar itu kini dihadapkan kepada sebuah tulisan yang dapat mengubah keinginan orang terhadapnya.
Ali menyampaikan bentuk akta tersebut.
Sebuah akta perumpamaan.
Bahasanya mengambil bentuk transaksi yang dikenal seorang hakim, tetapi setiap bagiannya membuka tabir yang biasanya dibiarkan menutupi mata manusia.
“Inilah yang dibeli oleh seorang hamba yang hina dari seseorang yang sedang didesak untuk berangkat. Ia membeli sebuah rumah dari rumah-rumah negeri yang memperdaya, di lingkungan orang-orang yang fana, di kawasan mereka yang akan binasa.”
Pembeli dan penjual ditempatkan kembali di hadapan nasib mereka.
Seorang manusia menerima harta dari manusia lain. Keduanya dapat menyebut transaksi itu selesai. Keduanya dapat berpisah dengan membawa apa yang dianggap telah menjadi haknya.
Namun, keduanya sedang menuju keberangkatan.
Penjual tidak dapat menetap bersama uangnya.
Pembeli tidak dapat menetap bersama rumahnya.
Di bawah nama dan kedudukan mereka, ada kenyataan yang sama: waktu terus membawa mereka mendekati akhir kehidupan.
⸻
Ali melanjutkan kepada batas-batas rumah.
Empat batas, sebagaimana sebuah kepemilikan mempunyai sisi-sisi yang harus dikenali.
“Batas pertama berujung pada sebab-sebab malapetaka. Batas kedua berujung pada sebab-sebab musibah. Batas ketiga berujung pada hawa nafsu yang membinasakan. Batas keempat berujung pada setan yang menyesatkan; pada sisi itulah pintu rumah ini terbuka.”
Rumah dalam perumpamaan itu kini dikelilingi oleh ancaman yang tidak dapat ditunjukkan dengan ukuran tanah.
Manusia dapat memperkuat tembok, mengganti pintu, menjaga barang-barang di dalamnya. Namun, musibah tetap dapat memasuki kehidupan pemiliknya. Keinginan dapat tumbuh menjadi kerakusan. Sesuatu yang semula dibeli untuk mencukupi kebutuhan dapat berubah menjadi alasan untuk terus mengejar, menumpuk, dan mengorbankan ketenteraman.
Lalu Ali menyebut harga yang dibayarkan dalam akta itu.
Orang yang diperdaya oleh angan-angan membeli dari orang yang didesak oleh ajal, dengan meninggalkan kemuliaan rasa cukup dan memasuki kehinaan meminta serta ketergantungan.
Harga tersebut menyentuh bagian diri yang tidak tercatat dalam transaksi biasa.
Ada manusia yang memperoleh lebih banyak barang, sementara kebebasan jiwanya semakin sedikit.
Semakin bertambah miliknya, semakin bertambah pula ketakutannya kehilangan. Keinginannya terus bergerak mendahului kemampuannya untuk merasa cukup.
Di dalam akta Ali, seluruh pengorbanan tersembunyi itu diperhitungkan.
⸻
Kemudian uraian beliau membesar.
Dari rumah seorang hakim, pandangan dibawa menuju istana-istana para penguasa.
Kisra.
Kaisar.
Tubba‘.
Himyar.
Nama-nama yang pernah membuat manusia menundukkan kepala. Kekuasaan yang mempunyai tentara, wilayah, harta, dan kemegahan. Orang-orang yang mengumpulkan kekayaan, meninggikan bangunan, menghiasinya, lalu menyimpan perbendaharaan dengan harapan akan menjaminkan masa depan anak-anak mereka.
Ali menyebut Zat yang merenggut jiwa para penguasa itu, mengakhiri kekuasaan mereka, dan membawa semuanya menuju tempat pemeriksaan amal.
Di sana, seluruh kemegahan memasuki ukuran yang berbeda.
Pangkat tidak dapat mengubah apa yang telah dikerjakan. Bangunan yang tinggi tidak dapat menutupi hak manusia yang pernah dirampas. Banyaknya harta tidak dapat memaksa keputusan berpihak kepada pemiliknya.
Mereka akan dihadapkan kepada hisab.
Lalu Ali mengingatkan firman Allah:
“Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada kebatilan.”
Suasana sebuah pembelian rumah telah terbuka menjadi gambaran tentang pengadilan terakhir.
Syuraih, sang hakim, mendengar bagaimana para pemilik kekuasaan akhirnya harus menghadap sebagai pihak yang diperiksa.
⸻
Akta itu hampir selesai.
Masih ada satu bagian yang menentukan kekuatannya.
Saksi.
Pada transaksi Syuraih, para saksi telah dihadirkan untuk meneguhkan bahwa sebuah rumah berpindah kepemilikan.
Siapa yang menjadi saksi bagi akta yang disampaikan Ali?
Beliau menutupnya:
“Yang menyaksikan semua itu adalah akal, ketika ia telah keluar dari tawanan hawa nafsu dan selamat dari keterikatan kepada dunia.”
Akal yang merdeka.
Akal yang sanggup melihat akhir perjalanan ketika keinginan masih sibuk menghitung keuntungan.
Akal yang berani bertanya tentang halal dan haram ketika sebuah kesempatan tampak menggiurkan.
Akal yang dapat mengingat kematian di hadapan sesuatu yang baru saja dimiliki.
Itulah saksi yang disebut Ali.
⸻
Kita dapat membayangkan kembali rumah tersebut.
Dindingnya masih berdiri. Pintunya masih berada pada tempatnya. Transaksi yang membawanya menjadi milik Syuraih telah terjadi.
Namun, setelah mendengar perkataan Ali, rumah itu sulit dipandang dengan cara yang sama.
Pada pintunya kini terbayang sebuah keberangkatan.
Pada harganya terletak pertanyaan tentang asal harta.
Pada kemegahan yang mungkin diharapkan darinya terbentang bayangan para penguasa yang telah lebih dahulu meninggalkan istana.
Dan pada dokumen yang meneguhkan kepemilikannya, ada suatu batas yang tidak mampu dilampaui oleh tinta maupun kesaksian.
Dokumen itu dapat membuktikan bahwa rumah tersebut milik Syuraih.
Ia tidak dapat menjamin bahwa Syuraih akan tetap berada di dalamnya.
Kelak, tamu yang disebut Ali akan datang.
Rumah itu akan tetap di sini.
Syuraih harus pergi.
————-
Teguran keras itu ditujukan kepada Syuraih karena ia memegang amanah sebagai hakim. Di tangannya, hak manusia diputuskan. Bila hatinya ditawan oleh kecintaan kepada harta, kejernihan pertimbangannya dapat ikut terganggu. Karena itulah asal kekayaan dan kemerdekaan batinnya menjadi perhatian Ali.
Surat ini tidak menyatakan bahwa Syuraih terbukti membeli rumah dengan uang haram. Ali memperingatkannya agar memastikan kehalalan hartanya, sekaligus menyadarkan bahwa kepemilikan dunia tidak boleh menguasai dirinya. Seorang pejabat yang beliau tunjuk tetap berada dalam pengawasan dan harus bersedia menerima teguran.
Penutup akta itu menjelaskan inti pesannya: akal dapat menjadi saksi yang jernih ketika terbebas dari tawanan hawa nafsu. Itulah yang harus dijaga seorang hakim. Ia memerlukan kebebasan batin untuk menegakkan keadilan, termasuk ketika keinginannya sendiri harus dikalahkan.
(Penjelasan ini merupakan pembacaan atas isi Nahj al-Balaghah, Surat 3, bukan tambahan dialog dalam riwayat.)

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan sumber:
Nahj al-Balaghah, Surat 3 kepada Syuraih bin al-Harits.
Kutipan diterjemahkan secara makna dari teks Arab; penggambaran suasana dan pengembangan perumpamaan merupakan pengolahan sastra.
Teguran tentang harta tidak halal berbentuk peringatan bersyarat, bukan pernyataan bahwa korupsi Syuraih telah terbukti.
Kutipan ayat pada bagian akhir berasal dari QS Ghafir 40:78.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Lqd8yXWRN/

