12 October 2026

Sebuah surat dapat membawa sesuatu yang lebih berbahaya daripada ancaman.

Ia dapat membawa pengakuan.

Sebuah nama keluarga.

Sebuah tempat di antara orang-orang yang berkuasa.

Dan kepada Ziyad, Muawiyah sedang membuka kemungkinan itu: memasukkannya ke dalam hubungan nasab dengan Abu Sufyan.

Dengan demikian, Ziyad akan diakui sebagai saudara Muawiyah.

Di atas lembaran surat, persoalan itu mungkin terlihat sebagai urusan keluarga. Namun Ali bin Abi Thalib melihat arah yang dituju oleh pendekatan tersebut.

Kesetiaan Ziyad sedang diincar.

Dan jalan masuknya adalah sesuatu yang sangat pribadi.

⸻

Dalam penggambaran adegan ini, sepucuk surat terhampar di hadapan Ziyad.

Cahaya menyentuh permukaannya. Di sekelilingnya, urusan sehari-hari masih menunggu. Tetapi beberapa kalimat dapat membuat seluruh kesibukan terasa menjauh.

Sebuah kemungkinan baru telah dibuka.

Di dalam masyarakat yang memberi perhatian besar kepada nasab, pengakuan keluarga dapat mengubah cara seseorang dipandang. Nama yang dilekatkan kepada dirinya dapat mendahului langkahnya memasuki sebuah majelis.

Orang akan menyebutnya dengan cara berbeda.

Memperhitungkannya dengan cara berbeda.

Muawiyah mengetahui nilai politik dari pengakuan semacam itu.

Kita tidak memiliki catatan tentang gerak tangan Ziyad ketika menerima pendekatan tersebut, atau berapa lama ia memikirkan isinya. Namun surat Ali memperlihatkan bahwa persoalan itu cukup serius untuk segera diperingatkan.

Ada kecerdasan yang sedang hendak digelincirkan.

Ada keteguhan yang sedang hendak ditumpulkan.

⸻

Kabar tentang surat Muawiyah sampai kepada Amirul Mukminin.

Ali menulis kepada Ziyad.

Kalimat pembukanya langsung menembus maksud pendekatan tersebut:

“Aku telah mengetahui bahwa Muawiyah menulis kepadamu untuk menggelincirkan akalmu dan menumpulkan ketajamanmu.”

Betapa tepat sasaran kalimat itu.

Orang cerdas pun dapat digelincirkan.

Ketajaman seseorang dalam membaca persoalan dapat melemah ketika persoalan itu menyentuh sesuatu yang sangat ingin dimilikinya.

Ia mampu mengenali tipu daya yang diarahkan kepada orang lain. Namun ketika tawaran itu menyebut namanya sendiri, menjanjikan kedudukan bagi dirinya sendiri, ia perlu menghadapi ujian yang lebih sulit.

Keinginannya ikut membaca.

Harapannya ikut menafsirkan.

Dan keduanya dapat mendahului pertimbangannya.

Ali memperingatkan Ziyad sebelum kemungkinan itu mengikatnya lebih jauh.

“Maka berhati-hatilah terhadapnya.”

⸻

Surat itu kemudian menghadirkan gambaran yang keras.

Ali menyebut Muawiyah sebagai setan yang mendatangi seseorang dari depan, belakang, kanan, dan kiri, untuk menerobos kelalaiannya serta menyergapnya ketika lengah.

Ancaman dalam gambaran tersebut bergerak mencari celah.

Dari depan, seseorang mungkin sudah bersiap menghadapi tekanan. Ia dapat menegakkan keberanian ketika ditakut-takuti. Tetapi bagaimana ketika yang datang adalah sebuah pengakuan yang menyenangkan?

Bagaimana ketika pintu yang diketuk adalah keinginan untuk diterima?

Peringatan Ali menuntut kewaspadaan terhadap seluruh arah itu.

Ziyad perlu memeriksa tawaran tersebut dengan akal yang tetap merdeka.

Siapa yang menyampaikannya?

Apa yang hendak diperolehnya?

Mengapa pengakuan ini menjadi penting pada saat kesetiaannya sedang diperebutkan?

Surat Ali tidak berhenti pada kecaman. Ia bergerak menuju dasar yang digunakan untuk membangun klaim tersebut.

Sebuah ucapan lama Abu Sufyan.

⸻

Pada masa Umar bin Khattab, Abu Sufyan pernah mengeluarkan ucapan yang kemudian dikaitkan dengan asal-usul Ziyad.

Ali menyebut ucapan itu sebagai sebuah ketergelinciran.

Kemudian ia menetapkan batasnya dengan sangat jelas:

“Dengan ucapan itu, nasab tidak menjadi sah dan hak waris tidak diperoleh.”

Di sinilah ketegasan argumentasinya.

Bahwa seseorang pernah mengucapkan sesuatu tidak dengan sendirinya menjadikan isi perkataannya sebagai kebenaran yang mengikat.

Ada jarak antara ucapan dan pembuktian.

Ada perbedaan antara mengakui bahwa sebuah perkataan pernah terlontar dan mengesahkan klaim di dalamnya.

Ali menyatakan keduanya dalam satu rangkaian: ucapan itu pernah ada, tetapi ucapan tersebut tidak menetapkan nasab.

Bagi Ziyad, inilah bagian yang seharusnya menutup jalan penyesatan tersebut.

⸻

Ali lalu menggambarkan keadaan orang yang menggantungkan dirinya kepada klaim itu.

Seperti seseorang yang memaksa masuk ke dalam kelompok yang tidak menerimanya, sehingga terus didorong keluar.

Seperti wadah yang digantungkan pada pelana: berguncang mengikuti gerak tunggangan, tanpa kedudukan yang kukuh.

Gambaran itu hampir dapat kita lihat.

Sebuah wadah berayun di sisi hewan tunggangan. Setiap langkah mengguncangkannya. Ketika perjalanan dipercepat, ayunannya semakin keras.

Demikian rapuhnya kedudukan yang dibangun di atas klaim yang tidak tegak.

Sebuah pengakuan dapat terdengar mengangkat seseorang sangat tinggi. Namun ia perlu memeriksa tempat kakinya berpijak.

Apakah benar-benar mempunyai dasar?

Ataukah dirinya sedang digantungkan pada kepentingan orang yang memberikan pengakuan itu?

Ali telah menyampaikan peringatannya.

Surat itu sampai kepada Ziyad.

⸻

Kemudian terjadilah bagian paling getir dalam kisah ini.

Ziyad membaca surat tersebut.

Dalam catatan yang menyertai surat itu di Nahjul Balaghah, ia berkata:

“Demi Tuhan Ka‘bah, ia telah memberikan kesaksian tentangnya!”

Yang dipegang Ziyad adalah penyebutan Ali bahwa Abu Sufyan pernah mengeluarkan ucapan tersebut.

Padahal Ali menyebutnya untuk menjelaskan bahwa ucapan itu tidak menetapkan nasab.

Peringatan itu dibaca menuju arah yang berlawanan.

Kalimat penolakannya ada.

Batas argumentasinya ada.

Namun Ziyad mengambil bagian yang dapat dipergunakannya untuk menopang klaim tersebut.

Kita seperti menyaksikan seseorang menerima petunjuk tentang sebuah jalan yang berbahaya, lalu menjadikan penyebutan jalan itu sebagai alasan untuk memasukinya.

⸻

Catatan tersebut melanjutkan: perkara itu tetap berada dalam pikiran Ziyad sampai Muawiyah mengakuinya sebagai saudara.

Dengan demikian, kisah ini tidak berakhir ketika surat selesai dibaca.

Ia berlanjut dalam sesuatu yang dipelihara di dalam pikiran.

Sebuah klaim yang tetap dipegang.

Sebuah kemungkinan yang terus diberi tempat.

Dan akhirnya, pengakuan yang sejak awal diperingatkan Ali itu terjadi.

Kita kembali kepada surat yang terbuka di hadapan Ziyad.

Betapa jelas peringatannya.

Betapa tajam penjelasannya.

Ali telah membongkar tujuan pendekatan Muawiyah, memeriksa dasar klaimnya, dan memperlihatkan kerapuhan kedudukan yang ditawarkan.

Namun sebuah penjelasan yang terang tetap harus berhadapan dengan kesediaan pembacanya untuk menerima.

Di situlah kisah ini mengguncang.

Sebab manusia dapat membaca seluruh kalimat, lalu hanya membawa pulang bagian yang disukainya.

Surat Ali sampai ke tangan Ziyad.

Keinginan Ziyad menyambutnya lebih dahulu daripada kewaspadaannya.

Jebakan bernama

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan sumber:

Nahjul Balaghah⁠, surat 44 kepada Ziyad bin Abih⁠
Isi surat membedakan dengan tegas antara ucapan Abu Sufyan yang pernah terlontar dan keabsahan nasab yang ditolak Ali.
Tanggapan Ziyad—«شهد بها وربّ الكعبة»—serta keterangan tentang pengakuan Muawiyah terdapat dalam catatan sesudah surat, bukan dalam perkataan Imam Ali.
Penggambaran tentang keinginan dan cara Ziyad membaca merupakan interpretasi naratif saya atas tanggapan tersebut.

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/19W3ESaqt8/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us