10 October 2026

Rahib Tua di Tengah Gurun

Matahari menyala tepat di atas kepala.

Pasukan bergerak melintasi gurun menuju Shiffin. Ribuan kaki menendang debu. Kuda-kuda berjalan semakin lambat. Udara panas seperti keluar dari tungku raksasa.

Satu demi satu kantong air dikosongkan.

Tidak ada lagi yang tersisa.

Bibir para prajurit mulai pecah. Lidah mengering. Napas kuda terdengar berat. Orang-orang berpencar mencari sumber air, tetapi sejauh mata memandang hanya ada pasir, batu, dan cakrawala yang bergetar oleh panas.

Mereka kembali membawa kabar yang sama:

Tidak ada air.

Pasukan sebesar itu dapat menghadapi ribuan pedang.

Namun tanpa air, mereka akan dikalahkan oleh gurun bahkan sebelum tiba di medan pertempuran.

Di tengah kegelisahan itu, Imam Ali mengubah arah tunggangannya.

Beliau meninggalkan jalan utama dan memimpin pasukan menuju suatu tempat yang tidak mereka kenal.

Tidak jauh dari sana, tampak sebuah bangunan tua berdiri sendirian di tengah padang tandus.

Sebuah biara.

Dindingnya telah kusam dimakan usia. Di puncaknya tinggal seorang rahib yang menghabiskan hidupnya dalam ibadah dan penantian.

Pasukan berhenti di halaman biara.

Ali meminta agar penghuninya dipanggil.

Rahib itu muncul dari tempat pertapaannya dan memandang ribuan manusia yang kelelahan di bawah matahari.

Ali bertanya kepadanya:

“Adakah sumber air di sekitar tempat ini?”

Rahib itu menggelengkan kepala.

“Tidak ada air di dekat sini. Sumber terdekat berjarak beberapa mil. Aku sendiri hanya dapat bertahan karena seseorang membawakan persediaan air kepadaku setiap bulan.”

Para prajurit mendengar jawabannya.

Beberapa orang segera mendekati Ali.

“Perintahkan kami menuju tempat yang ditunjukkan rahib itu. Mungkin kami masih dapat mencapainya sebelum kekuatan kami habis.”

Ali memandang tanah di sekitar biara.

Beliau tidak memerintahkan pasukannya menempuh perjalanan panjang tersebut.

Dengan tenang, Ali mengarahkan tunggangannya ke arah kiblat. Kemudian beliau menunjuk sebidang tanah tidak jauh dari bangunan tua itu.

“Galilah di sini.”

Para prajurit saling berpandangan.

Rahib yang telah bertahun-tahun tinggal di tempat itu mengatakan tidak ada air.

Tetapi Ali justru menunjuk tanah kering yang tidak memperlihatkan satu pun tanda kehidupan.

Beberapa orang maju membawa cangkul dan alat-alat besi.

Tanah mulai dihantam.

Debu beterbangan.

Mereka menggali semakin dalam hingga alat-alat itu tiba-tiba membentur sesuatu yang sangat keras.

Trang!

Bunyi logam menghantam batu menggema di halaman biara.

Tanah dibersihkan.

Di bawahnya terlihat sebuah batu besar yang licin dan berkilau—seakan sengaja ditanam untuk menutup sesuatu di dalam bumi.

Para prajurit mencoba memecahkannya.

Tidak berhasil.

Mereka mencoba menyelipkan alat-alat besi ke bawahnya.

Batu itu tidak bergerak sedikit pun.

Ali berkata:

“Di bawah batu itu terdapat air. Geserlah, kalian akan menemukannya.”

Lebih banyak orang berkumpul.

Beberapa prajurit terkuat maju bersama-sama. Tangan-tangan mereka mencengkeram sisi batu. Urat-urat menegang. Kaki menghunjam tanah.

Mereka mendorong.

Menarik.

Mengangkat.

Batu itu tetap membisu.

Puluhan tangan bergabung.

Namun sekuat apa pun mereka berusaha, bongkahan raksasa itu tidak bergeser sejengkal pun.

Orang-orang mulai menyerah.

Dari atas biara, rahib tua itu menyaksikan semuanya.

Matanya tidak lagi hanya memandang pasukan yang kehausan.

Ia menunggu sesuatu.

Seolah seluruh hidupnya memang diarahkan menuju siang itu.

Ali turun dari tunggangannya.

Beliau berjalan mendekati batu.

Suasana tiba-tiba menjadi hening.

Para prajurit membuka jalan.

Ali menggulung lengan bajunya.

Beliau membungkuk, menyelipkan jari-jarinya ke bawah salah satu sisi batu yang tidak mampu digerakkan oleh puluhan lelaki.

Kemudian—

batu itu bergerak.

Tanah di sekitarnya bergetar.

Dengan kedua tangannya, Ali mengangkat bongkahan besar itu dari tempatnya.

Batu yang tadi menolak kekuatan puluhan prajurit kini berada dalam genggaman seorang lelaki.

Ali mengangkatnya—

lalu melemparkannya beberapa meter jauhnya.

Bumi terbuka.

Dari bawah tempat batu itu berada, memancar air yang putih berkilauan.

Dingin.

Jernih.

Deras.

Teriakan takbir pecah dari seluruh penjuru.

Para prajurit berlari mendekati mata air. Mereka minum. Membasuh wajah. Mengisi seluruh kantong air. Kuda-kuda dibawa mendekat dan menundukkan kepala ke aliran yang menyelamatkan kehidupan mereka.

Air itu terasa lebih manis dan lebih dingin daripada semua air yang mereka temukan sepanjang perjalanan.

Ali berdiri di antara mereka.

Beliau tidak minum terlebih dahulu.

Beliau meminta pasukannya menghilangkan dahaga dan memenuhi seluruh persediaan.

Ketika semua telah selesai, Ali kembali mendekati bongkahan batu.

Beliau mengangkatnya seorang diri.

Lalu meletakkannya kembali tepat di atas mata air.

Tanah diratakan.

Jejaknya ditutup.

Mata air itu kembali tersembunyi seakan tidak pernah ditemukan.

Tiba-tiba terdengar suara dari puncak biara:

“Bantulah aku turun!”

Rahib tua itu turun dengan tergesa-gesa.

Ia berjalan menembus barisan prajurit dan berdiri tepat di hadapan Ali.

Wajahnya bergetar.

Ia bertanya:

“Apakah engkau seorang nabi yang diutus oleh Allah?”

Ali menjawab:

“Bukan.”

Rahib itu kembali bertanya:

“Apakah engkau malaikat yang dekat dengan Allah?”

Ali menjawab:

“Bukan.”

Rahib semakin gemetar.

“Lalu siapakah engkau?”

Ali memandangnya dan berkata:

“Aku adalah wasi Muhammad bin Abdullah, Rasul Allah dan penutup para nabi.”

Air mata memenuhi mata rahib itu.

Ia meminta Ali mengulurkan tangan.

Di hadapan ribuan pasukan, rahib tersebut mengucapkan kesaksian tentang keesaan Allah dan kerasulan Muhammad.

Lalu ia menyatakan keyakinannya kepada kedudukan Ali sebagai penerus dan manusia yang paling berhak memimpin setelah Rasulullah.

Orang-orang terdiam.

Kemudian rahib itu mengungkapkan rahasia yang telah disimpan oleh biara tersebut selama berabad-abad.

Biara itu tidak dibangun secara kebetulan.

Generasi demi generasi rahib tinggal di sana sambil menunggu datangnya seseorang yang disebutkan dalam kitab-kitab mereka.

Di tanah dekat biara terdapat sebuah mata air.

Di atasnya diletakkan batu yang tidak dapat dipindahkan oleh manusia biasa.

Lokasinya hanya akan diketahui oleh seorang nabi atau wasi seorang nabi.

Tandanya adalah:

Ia mengetahui tempat batu itu berada.

Dan tangannya sanggup memindahkannya.

Banyak rahib telah tinggal dan mati di tempat itu.

Mereka menunggu.

Namun orang yang dijanjikan tidak pernah datang.

Rahib tua itu menghabiskan hidupnya dalam penantian yang sama—tanpa mengetahui apakah matanya akan sempat menyaksikan manusia yang disebutkan dalam kitab tersebut.

Tetapi siang itu, ia melihat seorang lelaki datang dari tengah gurun.

Lelaki itu menunjuk tanah yang selama bertahun-tahun diinjaknya tanpa mengetahui rahasianya.

Lelaki itu menemukan batu yang tersembunyi.

Dan lelaki itu mengangkat sesuatu yang tidak mampu digerakkan oleh puluhan prajurit.

Rahib berkata kepada Ali:

“Engkaulah manusia yang selama ini kami tunggu.”

Mendengar itu, Ali menangis.

Air matanya mengalir hingga membasahi janggutnya.

Seorang panglima yang mampu mengangkat batu raksasa itu menangis ketika mengetahui bahwa namanya telah disebut dalam kitab-kitab umat terdahulu.

Ali menengadahkan wajahnya kepada Allah.

Ia bersyukur karena dirinya tidak dilupakan.

Bersyukur karena tanda tentang dirinya telah disimpan melintasi abad—di sebuah biara sunyi, di bawah langit gurun, di balik sebongkah batu.

Rahib itu meninggalkan biaranya.

Ia tidak lagi ingin hidup sendirian menunggu kebenaran.

Sebab yang ditunggunya telah datang.

Ia bergabung bersama pasukan Ali menuju Shiffin.

Lelaki yang pagi itu masih menjadi rahib penjaga biara, kini berjalan sebagai seorang Muslim di belakang wasi Rasulullah.

Ketika pertempuran pecah, ia tetap berada dalam barisan Ali.

Dan di tanah Shiffin, bekas rahib itu gugur sebagai syahid.

Ali mendatangi jasadnya.

Beliau menyalatkannya.

Menguburkannya.

Dan memohonkan ampunan untuknya.

Setiap kali lelaki itu disebut, Ali mengenangnya dengan penuh kasih:

“Dia adalah pengikutku.”

Di tengah gurun itu ternyata bukan hanya sebuah mata air yang menunggu untuk ditemukan.

Ada pula seorang manusia yang menunggu untuk diselamatkan.

Batu tersebut menunggu tangan Ali.

Rahib itu menunggu kedatangan Ali.

Dan ketika sang wasi akhirnya tiba—

batu pun bergeser,

air pun memancar,

dan sebuah hati menemukan jalan pulang.

Batu yag

Catatan sumber:

Kisah ini hidup dalam khazanah riwayat Ahlul Bait dan dimuat oleh Syekh al-Mufid dalam Kitab al-Irsyad.
Rangkaian peristiwanya—pasukan kehausan, batu yang tidak mampu dipindahkan bersama-sama, mata air, kesaksian sang rahib, hingga kesyahidannya di Shiffin—dapat dibaca dalam kisah rahib di perjalanan menuju Shiffin⁠.

Hasyim Arsal Alhabsi 
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1JwxNnE1VE/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us