Khaibar berdiri angkuh di tengah gurun.
Benteng-benteng batu hitam menjulang di atas bukit. Pintu-pintu kayunya diperkuat lempengan besi. Menara-menara pengawas menghadap jauh ke lembah. Di balik tembok itu tersimpan senjata, makanan, dan prajurit-prajurit pilihan.
Pasukan Islam telah mengepungnya.
Hari pertama, panji diserahkan kepada Abu Bakar. Ia maju bersama pasukan, tetapi petang datang tanpa kemenangan. Benteng itu tidak terbuka. Abu Bakar kembali.
Hari berikutnya, panji berpindah ke tangan Umar bin Khattab. Pasukan kembali menyerbu. Debu membubung. Anak-anak panah beterbangan dari atas benteng. Namun ketika matahari tenggelam, Umar pun kembali tanpa kemenangan.
Khaibar masih berdiri.
Pintu besarnya masih tertutup.
Malam turun di atas perkemahan kaum Muslimin. Api-api kecil menyala. Pedang-pedang tergeletak di samping para prajurit yang kelelahan. Dari kejauhan, bayangan benteng Khaibar tampak seperti raksasa hitam yang belum terkalahkan.
Kemudian Rasulullah SAW berdiri.
Semua mata tertuju kepada beliau.
Dengan suara yang tenang, tetapi mengguncangkan seluruh perkemahan, Rasulullah bersabda:
“Besok, aku benar-benar akan menyerahkan panji ini kepada seorang lelaki yang melalui tangannya Allah akan memberikan kemenangan. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya.”
Malam itu berubah menjadi malam terpanjang.
Siapakah lelaki itu?
Para sahabat utama terjaga sambil berharap. Masing-masing membayangkan tangannya menggenggam panji Rasulullah. Bahkan Umar kemudian mengakui bahwa tidak pernah ia menginginkan kepemimpinan kecuali pada hari itu.
Fajar pun menyingsing.
Orang-orang segera berkumpul di hadapan Rasulullah SAW. Mereka berdiri tegak. Dada dibusungkan. Wajah diperlihatkan. Setiap orang berharap namanya dipanggil.
Rasulullah memandang mereka.
Kemudian beliau bertanya:
“Di mana Ali bin Abi Thalib?”
Semua terdiam.
Lelaki yang dicari itu ternyata tidak sedang berdiri di antara mereka. Ia tidak sedang menonjolkan diri. Ia tidak sedang berebut panji.
Ali sedang terbaring karena kedua matanya sakit.
“Matanya sedang bermasalah, ya Rasulullah.”
“Panggil dia.”
Beberapa orang bergegas mencarinya. Imam Ali AS datang dalam keadaan dituntun. Pandangannya kabur. Kedua matanya begitu sakit hingga untuk berjalan pun ia membutuhkan bantuan.
Di hadapannya berdiri benteng yang gagal dibuka pasukan sebelumnya.
Di dalam benteng menunggu Marhab, jagoan Khaibar yang ditakuti.
Namun Rasulullah SAW tidak mencari orang lain.
Beliau mendekatkan Ali, mengusapkan ludahnya pada kedua mata itu, lalu berdoa.
Ali membuka matanya.
Rasa sakit itu lenyap.
Pandangannya kembali terang, seolah-olah kedua matanya tidak pernah sakit sedikit pun.
Rasulullah kemudian mengambil panji dan meletakkannya di tangan Ali.
Angin pagi mengembangkan kain panji itu.
Sejenak dunia seperti diam.
Yang sehat sejak kemarin berharap dipilih. Tetapi yang sakitlah yang dicari.
Yang berdiri di depan tidak dipanggil. Tetapi yang tidak hadir justru ditunggu.
Ali menggenggam panji itu.
Rasulullah SAW berkata:
“Majulah. Jangan menoleh sampai Allah memberikan kemenangan kepadamu.”
Ali melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Beberapa langkah kemudian ia berhenti. Tetapi ia tidak menoleh. Tubuhnya tetap menghadap Khaibar. Dari tempatnya berdiri, ia berseru:
“Wahai Rasulullah! Atas dasar apakah aku memerangi mereka?”
Rasulullah memberikan petunjuknya.
Ali mendengarkan.
Tidak ada pertanyaan kedua. Tidak ada keraguan. Tidak ada perdebatan.
Panji dikibarkan.
Pasukan bergerak.
Tanah bergetar oleh derap kaki dan kuda. Debu membubung ke langit. Dari atas benteng, para pemanah bersiap. Pedang-pedang ditarik dari sarungnya.
Kemudian pintu Khaibar terbuka.
Dari baliknya keluar seorang lelaki bertubuh besar dengan baju perang berlapis besi. Di kepalanya terpasang pelindung baja. Pedang besar terhunus di tangannya.
Dialah Marhab.
Jagoan Khaibar.
Ia berjalan ke tengah medan dengan penuh kesombongan. Setiap langkahnya seakan menantang seluruh pasukan. Ia mengangkat pedangnya, lalu meneriakkan syair yang selama ini membuat lawan-lawannya gentar:
“Khaibar mengetahui bahwa akulah Marhab! Prajurit bersenjata, berani, dan telah teruji ketika perang berkobar!”
Namanya menggema di antara dinding-dinding benteng.
Khaibar mengenal Marhab.
Tetapi hari itu, Marhab akan mengenal Ali.
Dari barisan kaum Muslimin, Imam Ali maju.
Tidak ada keraguan pada langkahnya. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Angin menerpa pakaiannya. Panji Rasulullah berkibar di belakangnya.
Ia menatap Marhab, lalu menjawab:
“Akulah yang oleh ibuku dinamai Haidar! Singa rimba yang menggetarkan!”
Dua jagoan berdiri berhadapan.
Marhab mengangkat pedangnya.
Ali menggenggam Zulfiqar.
Suara pasukan tiba-tiba menghilang. Seolah-olah seluruh padang Khaibar menahan napas.
Marhab menyerang.
Pedangnya meluncur deras membelah udara.
Ali menghindar.
Besi beradu dengan besi. Percikan api beterbangan. Marhab kembali menyerang dengan seluruh kekuatan tubuhnya. Tanah berdebu di bawah kaki mereka.
Kemudian datanglah giliran Ali.
Zulfiqar terangkat.
Satu tebasan menggelegar.
Pelindung kepala Marhab pecah.
Jagoan Khaibar itu terhuyung, lalu roboh di hadapan Haidar.
Teriakan takbir mengguncang lembah.
Allahu Akbar!
Pasukan Islam menyerbu. Para penjaga benteng bertahan dari balik pintu raksasa. Anak-anak panah turun seperti hujan. Pedang beradu. Batu-batu dilemparkan dari atas tembok.
Di tengah pertempuran, perisai Imam Ali terlepas dari tangannya.
Seorang penjaga benteng menyerang.
Ali berbalik ke arah pintu besar Khaibar.
Kedua tangannya mencengkeram kayu dan besi itu.
Otot-otot lengannya menegang.
Kakinya menghunjam tanah.
Kemudian terdengar suara mengerikan dari engsel-engsel raksasa.
Kraaak!
Besi membengkok.
Kayu berderak.
Batu-batu di sekelilingnya retak.
Pintu Khaibar mulai terlepas dari tempatnya.
Para prajurit berhenti.
Mata mereka terbelalak.
Dengan satu hentakan, Imam Ali mencabut pintu raksasa itu dari bentengnya.
Debu meledak memenuhi udara.
Pecahan batu dan besi berhamburan.
Ali mengangkat pintu tersebut dan menjadikannya perisai. Anak-anak panah menghantam kayunya. Pedang-pedang membentur lempengan besinya. Tetapi Ali terus maju, membawa pintu yang sebelumnya menjadi pertahanan Khaibar.
Pintu yang dibuat untuk menghalangi pasukan Islam kini berada di tangan panglima Islam.
Pintu yang menjadi lambang kekuatan Khaibar kini menjadi perisai Ali.
Pasukan bergerak di belakangnya.
Pertahanan runtuh.
Benteng terbuka.
Khaibar akhirnya jatuh.
Ketika pertempuran berakhir, Imam Ali melemparkan pintu raksasa itu ke tanah. Suaranya menggelegar seperti petir menghantam bumi.
Debu perlahan turun.
Orang-orang mendekati pintu tersebut.
Riwayat masyhur menyebutkan bahwa puluhan orang mencoba mengangkatnya. Bahkan disebutkan, empat puluh lelaki harus mengerahkan tenaga untuk mengangkat pintu yang tadi berada seorang diri di tangan Ali.
Namun pada hari itu, kekuatan Ali bukan sekadar kekuatan otot.
Di tangannya terdapat panji Rasulullah.
Di dalam dadanya terdapat iman tanpa keraguan.
Dan di atas kepalanya terdapat kesaksian yang telah diumumkan Rasulullah di hadapan seluruh pasukan:
Ali mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya pun mencintai Ali.
Karena itu, Khaibar bukan hanya kisah tentang sebuah benteng yang ditaklukkan.
Khaibar adalah hari ketika semua orang menunggu namanya dipanggil, tetapi Rasulullah hanya mencari Ali.
Khaibar adalah hari ketika Abu Bakar maju, tetapi kembali tanpa kemenangan. Umar maju, tetapi benteng tetap tertutup.
Kemudian Ali datang dalam keadaan sakit.
Rasulullah menyembuhkannya.
Langit memilihnya.
Panji diserahkan kepadanya.
Marhab dijatuhkannya.
Pintu benteng dicabutnya.
Dan melalui tangannya, Allah memberikan kemenangan.
Sejak hari itu, sejarah tidak lagi hanya mengenal benteng Khaibar.
Sejarah mengenal lelaki yang menjebolnya:
Ali bin Abi Thalib.
Haidar—Singa Allah yang tidak pernah kembali membawa panji sebelum kemenangan berada di tangannya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JYpSQref8/

