Pemuda itu telah diberi tahu apa yang akan terjadi pada kedua tangannya.
Tangan kanan akan ditebas. Tangan kiri yang menggantikannya akan mengalami nasib yang sama. Setelah itu, pedang akan merenggut nyawanya.
Namun, ketika Imam Ali kembali menawarkan mushaf itu, ia maju.
“Aku yang akan membawanya, wahai Amirul Mukminin.”
Di hadapannya, dua pasukan sedang menunggu pecahnya perang.
—
Basrah, tahun 36 Hijriah.
Debu menggantung di antara barisan manusia. Ujung-ujung tombak menjulang. Kuda-kuda mengentakkan kaki, sementara orang-orang mempererat genggaman pada senjata mereka.
Di seberang pasukan Ali, barisan pendukung Perang Jamal telah bersiap.
Anak-anak panah mulai meluncur.
Beberapa orang di pihak Ali terluka. Ketegangan merambat sepanjang barisan. Mereka memiliki pedang. Mereka sanggup membalas. Namun, pandangan mereka terus mencari satu orang yang belum memberikan perintah menyerbu.
“Wahai Amirul Mukminin, anak-anak panah mereka telah melukai kami. Apa lagi yang engkau tunggu?”
Ali menghadap kepada Allah.
“Ya Allah, aku menjadikan-Mu saksi bahwa aku telah menyampaikan alasan dan peringatan. Jadilah saksi atas mereka.”
Kemudian beliau meminta baju zirahnya.
Zirah dikenakan. Pedang disandang. Serban dililitkan. Ali menaiki bagal peninggalan Rasulullah SAW.
Orang-orang memperhatikan setiap gerakannya.
Lalu beliau meminta sebuah mushaf.
Di tengah persiapan untuk saling membunuh itu, Ali mengangkat Kitab Allah.
“Wahai manusia, siapa yang akan membawa mushaf ini dan mengajak mereka kepada apa yang terkandung di dalamnya?”
Pertanyaan itu melintasi barisan.
Seorang pemuda berpakaian putih bangkit menyambutnya.
Namanya Muslim, dari Bani Mujasyi‘.
“Aku yang akan membawanya, wahai Amirul Mukminin.”
Ali menyampaikan kepadanya apa yang akan dihadapi.
“Wahai pemuda, tangan kananmu akan dipotong. Engkau akan mengambilnya dengan tangan kiri, lalu tangan kirimu pun dipotong. Kemudian engkau akan ditebas dengan pedang hingga terbunuh.”
Peringatan itu membuat jarak menuju pasukan lawan terasa begitu panjang.
Kini setiap langkah memiliki akibat. Setiap bagian tubuh yang disebut Ali masih utuh, masih dapat digerakkan, masih dapat dipakai untuk kembali menjalani kehidupan.
Mushaf itu tetap berada di tangan Imam.
Ali menyerukan tawarannya sekali lagi.
Pemuda yang sama kembali menyanggupi.
“Aku yang akan membawanya, wahai Amirul Mukminin.”
Beliau mengulangi peringatannya. Muslim harus mengetahui sepenuhnya apa yang sedang ia pilih.
Kali ini jawabannya telah teguh.
“Jangan khawatir, wahai Amirul Mukminin. Itu sedikit demi Allah.”
Kemudian ia menerima mushaf tersebut.
⸻
Muslim meninggalkan barisan.
Pakaian putihnya bergerak di antara warna tanah, besi, dan debu. Di belakangnya berdiri Ali bersama pasukannya. Di depannya, orang-orang yang telah melepaskan anak panah menunggu dengan senjata mereka.
Ia terus berjalan.
Mushaf itu dibawanya mendekati manusia-manusia yang hendak diserunya. Pada jarak sedekat itu, sebuah suara masih mungkin didengar. Sebuah ajakan masih mungkin diterima. Tangan yang menggenggam senjata masih mungkin mengendur.
Muslim berseru:
“Wahai kalian! Inilah Kitab Allah di antara kami dan kalian!”
Kalimat itu telah sampai.
Lalu sebuah pedang bergerak.
Tangan kanannya terputus.
Muslim menyambut mushaf dengan tangan kirinya.
Apa yang tadi didengarnya dari Ali kini berlangsung pada tubuhnya sendiri. Akan tetapi, serangan pertama itu belum membuatnya melepaskan Kitab Allah.
Pedang kembali menghantam.
Tangan kirinya pun terputus.
Muslim merengkuh mushaf ke dadanya.
Kini tubuhnya sendiri menjadi tempat terakhir untuk mempertahankan apa yang telah dipercayakan kepadanya.
Ia mendekapnya.
Serangan berikutnya datang.
Pemuda berpakaian putih itu roboh.
⸻
Ibunya menyaksikan apa yang mereka lakukan terhadap putranya.
Ia meratapinya dalam syair.
Di tengah riuh manusia yang membawa nama kabilah, tuntutan, dan kemenangan, seorang ibu kehilangan anaknya. Pemuda yang baru saja berjalan meninggalkan barisan itu tidak akan kembali dengan kedua tangan yang tadi menerima mushaf.
Ia telah menunaikan tugasnya.
Ajakan Ali telah sampai kepada mereka.
Kitab Allah telah dibawa ke hadapan mereka.
Dan tubuh pembawanya terbaring di tanah.
Di pihak Ali, batas penantian itu telah dicapai. Luka-luka akibat anak panah kini disusul kematian seorang pembawa seruan yang telah diperingatkan tentang nasibnya, lalu tetap memilih maju.
Ali menyerahkan panji kepada putranya, Muhammad bin al-Hanafiyyah.
“Majulah, anakku.”
Panji bergerak.
Barisan mulai maju. Debu terangkat di bawah kaki pasukan. Gemuruh yang sejak tadi tertahan akhirnya memenuhi medan Jamal.
Namun, sebelum kita mengikuti derap mereka, pandangan seakan tertinggal pada pemuda itu.
Pada pakaian putihnya.
Pada kedua tangan yang telah dikorbankannya.
Pada mushaf yang direngkuhnya ke dada ketika ia tidak lagi memiliki tangan untuk menggenggamnya.
Di situlah kita melihat betapa jauh Ali telah berusaha memberi ruang kepada manusia untuk mendengar kebenaran sebelum menghadapi pedangnya.
Bahkan ketika anak-anak panah telah melukai pasukannya, beliau masih mengirimkan Kitab Allah untuk berbicara kepada mereka.
Seorang pemuda telah mengantarkannya.
Ia telah berdiri di hadapan mereka dan menyerukan:
“Inilah Kitab Allah di antara kami dan kalian.”
Dan mereka menjawabnya dengan pedang.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan sumber:
Al-Muwaffaq al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 186–187, memuat pakaian putih Muslim, peringatan Ali, penawaran mushaf dua kali, kematiannya, ratapan ibunya, dan penyerahan panji kepada Muhammad bin al-Hanafiyyah.
Dialog di atas saya terjemahkan secara makna; penggambaran suasana merupakan pengolahan pengolahan dan pengembangan saya agar terasa hidup.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1ChjB2HNSQ/

