12 October 2026

Keputusan itu telah dijatuhkan.

Abu al-Aswad al-Du’ali diberhentikan dari kedudukannya sebagai hakim.

Kini, orang yang pernah mendengarkan pertanyaan para pencari keadilan itu membawa pertanyaannya sendiri. Orang yang biasa menimbang penjelasan orang lain membutuhkan sebuah penjelasan.

Mengapa?

Di hadapannya ada Ali bin Abi Thalib.

Orang yang mengangkatnya.

Orang yang kini mencabut amanah itu dari tangannya.

⸻

Ada sesuatu yang menegangkan dalam pertemuan antara seorang pemimpin dan pejabat yang diberhentikannya. Sebuah keputusan telah memisahkan keduanya dari kedudukan semula.
Yang seorang masih memegang kekuasaan; yang lain datang mempertanyakan mengapa kekuasaan yang pernah dipercayakan kepadanya diambil kembali.

Namun pertanyaan itu tetap dapat diajukan.

Abu al-Aswad tidak kehilangan hak untuk berbicara setelah kehilangan jabatannya.

Ia bertanya kepada Amirul Mukminin:

“ mengapa engkau memberhentikanku, padahal aku tidak berkhianat dan tidak melakukan kejahatan?”

Sebuah pembelaan yang langsung menuju pokok persoalan.

Tidak berkhianat.

Tidak melakukan kejahatan.

Apalagi yang kurang?

Bagi banyak orang, dua perkara itu sudah merupakan benteng yang kokoh bagi seorang pejabat. Selama tangannya tidak menggelapkan amanah dan dirinya tidak melakukan kejahatan, mengapa ia harus disingkirkan?

Pertanyaan Abu al-Aswad membawa kita berdiri di ambang jawaban itu.

Apakah ada sesuatu yang luput dari perhatiannya?

Sesuatu yang begitu dekat dengan dirinya, begitu sering ia gunakan, sampai ia tidak menyadari bahwa hal itu pun harus dipertanggungjawabkan?

Ali menjawab:

“Aku melihat ucapanmu meninggi di atas ucapan orang yang berperkara di hadapanmu.”

⸻

Suara.

Alasan yang disebutkan Ali menyentuh sesuatu yang dapat berlalu begitu saja di tengah kesibukan sebuah majelis pengadilan.

Suara seorang hakim.

Kita dapat membayangkan sebuah ruang tempat dua orang datang membawa perselisihan. Masing-masing menyimpan cerita. Masing-masing ingin didengar.
Ada kalimat yang meluncur dengan lancar, ada yang tersendat karena gugup. Ada orang yang terbiasa berhadapan dengan pejabat; ada pula yang baru melihat tempat itu saja sudah merasa kecil.

Di hadapan mereka duduk seseorang yang perkataannya dapat menentukan kelanjutan hidup mereka.

Sebelum pemeriksaan dimulai, kedudukan mereka sudah berbeda.

Yang satu memiliki kewenangan untuk memutuskan.

Yang lain menggantungkan harapan agar keterangannya dipahami.

Lalu suara dari tempat hakim itu meninggi.

Betapa mudah suatu kalimat kehilangan ujungnya.

Betapa mudah seseorang menelan kembali penjelasan yang seharusnya ia sampaikan.

Ia masih berada di dalam majelis. Orang-orang masih dapat melihat tubuhnya. Tetapi keberaniannya untuk berbicara mungkin sudah mundur jauh, meninggalkan kata-kata yang tidak sempat keluar.

Sebuah hak dapat menjadi sulit ditemukan ketika orang yang membawanya tidak sanggup menjelaskan.

Di situlah jawaban Ali terasa begitu berat.

Ia menaruh perhatian pada jalan yang harus dilalui sebuah kebenaran sebelum menjadi keputusan.

Pada telinga yang seharusnya bersedia mendengar.

Pada mulut yang harus sanggup menahan diri.

Pada manusia yang datang dengan harapan bahwa di tempat inilah, akhirnya, ia boleh menyelesaikan kalimatnya.

⸻

Abu al-Aswad telah menyebut dua ukuran dalam pembelaannya: tidak berkhianat dan tidak melakukan kejahatan.

Jawaban Ali membawa ukuran amanah itu lebih jauh.

Seorang hakim memegang nasib orang lain juga melalui caranya berbicara.

Suara yang bagi pemiliknya terasa biasa dapat terdengar mengancam bagi orang yang berada di bawah kewenangannya. Ketegangan yang bagi pejabat berlalu dalam sekejap dapat tinggal lama dalam dada seseorang yang sedang memperjuangkan haknya.

Karena itu, kesanggupan mengadili menuntut kesanggupan mengendalikan diri.

Menunggu penjelasan yang lambat.

Mendengarkan kalimat yang kurang teratur.

Memberi kesempatan kepada seseorang untuk mengatakan sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan untuk didengar.

Semua itu membutuhkan kekuatan.

Kekuatan untuk tidak menggunakan seluruh kuasa yang tersedia hanya karena kuasa itu berada di tangan sendiri.

Dalam jawaban singkat tersebut, kita membaca sebuah tuntutan yang berat: orang yang dipercaya menjaga keadilan harus menjaga agar kehadirannya sendiri tidak menyulitkan orang mencari keadilan.

⸻

Pertemuan itu juga menyimpan sesuatu yang patut kita renungkan.

Abu al-Aswad mempertanyakan keputusan Ali.

Dan Ali memberikan alasannya.

Seorang yang diberhentikan tetap didengar oleh orang yang memberhentikannya.

Pertanyaan yang menyentuh keputusan pemimpin itu mendapat jawaban tentang tanggung jawab jabatan. Di tengah ketegangan tersebut, percakapan tetap mempunyai tempat.

Riwayatnya berhenti dengan jawaban yang pendek. Kita tidak diberi uraian tentang gerak tangan Abu al-Aswad, perubahan wajahnya, atau apa yang ia lakukan sesudahnya.

Namun kalimat Ali terus bekerja dalam pikiran pembacanya.

Kita kembali membayangkan tempat seorang hakim duduk.

Orang-orang yang menunggu.

Perkara yang belum selesai.

Mulut yang hendak berbicara.

Dan untuk pertama kalinya, mungkin kita mendengarkan ruang itu dengan cara yang berbeda.

Kita memperhatikan siapa yang selalu mendapat kesempatan menjelaskan, siapa yang berkali-kali terpotong, dan siapa yang akhirnya memilih diam.

⸻

Betapa berat amanah dalam pandangan Ali.

Seseorang dapat menjaga tangannya dari pengkhianatan, tetapi masih harus memeriksa bagaimana ia menggunakan lidahnya.

Seseorang dapat merasa telah bekerja dengan benar, tetapi tetap harus melihat apa yang dirasakan manusia ketika berdiri di hadapannya.

Jabatan menuntut pemeriksaan yang terus-menerus terhadap diri sendiri.

Sebab orang yang datang mencari keadilan sudah membawa beban dari luar. Jangan sampai ia harus memikul ketakutan tambahan dari orang yang ditugaskan untuk menolongnya menemukan haknya.

Abu al-Aswad kehilangan jabatan.

Dari riwayat tentang pemberhentiannya, tertinggal sebuah pengingat bagi siapa pun yang memiliki kewenangan:

Di hadapanmu mungkin berdiri seseorang yang tidak pandai menyusun pembelaan. Tangannya gelisah. Kalimatnya berulang. Suaranya nyaris tenggelam.

Dengarkanlah sampai selesai.

Boleh jadi, pada suara yang paling pelan itulah sebuah hak sedang berjuang untuk sampai kepadamu.

Suara yang

Hasyim Arsal Alhabsi 
Dehills Institute

—

Catatan sumber:

Dialog ini dikutip dalam kajian Universitas Ahlulbait⁠, dengan rujukan kepada Mustadrak al-Wasā’il, jilid 17, hlm. 359, hadis 21581.
Teks yang dikutip berbunyi: «إني رأيت كلامك يعلو كلام خصمك».
Halaman kitab aslinya belum berhasil saya akses langsung, sehingga saya tidak menetapkan kesahihan sanadnya.
Uraian tentang dampak suara hakim merupakan pembacaan etis atas riwayat, bukan tambahan perkataan Imam Ali.
Namun karena hikmahnya yang dahsyat saya menuliskannya di sini dengan sedikit pengembangan.

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/194kbLAw8h/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us