Ketika Kebatilan Mengenakan Pakaian Agama
Makkah sedang dipenuhi manusia.
Dari berbagai penjuru, rombongan-rombongan datang memenuhi jalan menuju Baitullah. Debu melekat pada pakaian mereka. Talbiyah terdengar bersahutan. Orang kaya dan miskin mengenakan pakaian yang sama. Kepala-kepala tertunduk, tangan-tangan terangkat, dan jutaan harapan dibawa menuju rumah Allah.
Namun, di antara para peziarah itu, ada orang-orang yang datang membawa tujuan lain.
Mereka tidak membawa pasukan.
Tidak ada pedang terhunus.
Tidak ada bendera perang.
Senjata mereka jauh lebih halus: cerita, bisikan, tuduhan, dan kesalehan yang dipertontonkan.
Mereka datang dari Syam.
Surat Imam Ali bin Abi Thalib a.s. kepada Qutsam bin Abbas, gubernurnya di Makkah, menyebut bahwa sejumlah orang Syam telah dikirim ke kota suci pada musim haji.
Teks surat itu tidak merinci seluruh percakapan mereka. Namun, keterangan para pensyarah Nahjul Balaghah menjelaskan tujuan gerakan tersebut: membentuk opini para jamaah, menuduh Ali berada di balik terbunuhnya Utsman, serta meninggikan citra Muawiyah melalui cerita tentang kemurahan hati, kewibawaan, dan kesalehannya.
Ini bukan perjalanan ibadah biasa.
Ini operasi propaganda.
Medannya bukan istana atau medan perang.
Medannya adalah musim haji.
Sebuah Laporan dari Barat
Jauh dari Makkah, sebuah laporan tiba di tangan Amirul Mukminin.
Imam Ali memiliki orang-orang yang mengawasi gerakan politik lawan. Beliau tidak memerintah hanya berdasarkan perkiraan. Di tengah perang informasi, beliau membangun jalur kabar agar keputusan tidak lahir dari kecurigaan semata.
Suratnya kepada Qutsam dimulai dengan sebuah kalimat yang memperlihatkan sistem kewaspadaan itu:
“Pengawasanku di wilayah Barat telah menulis kepadaku.”
Yang dimaksud dengan wilayah Barat dalam konteks tersebut adalah kawasan yang berada di bawah pengaruh Syam. Dari sana datang informasi bahwa sejumlah orang telah diarahkan menuju musim haji.
Ali membaca ancaman itu dengan sangat tajam.
Muawiyah mengetahui bahwa Makkah tidak dapat diserbu seperti kota biasa. Ka‘bah tidak dapat dijadikan medan propaganda dengan cara yang terlalu kasar. Orang-orang tidak boleh tampak datang sebagai tentara.
Maka, mereka datang sebagai jamaah.
Bila pasukan memasuki sebuah kota dengan pedang, rakyat segera mengetahui bahwa mereka sedang diserang. Tetapi jika propaganda memasuki kota dengan pakaian ibadah, manusia dapat menyambutnya sebagai nasihat.
Di situlah letak bahayanya.
Kebatilan yang tampil sebagai kebatilan mudah dikenali.
Kebatilan yang mengenakan pakaian agama dapat diterima sebagai kebenaran.
Mereka Tidak Membawa Kebohongan Murni
Imam Ali menggambarkan orang-orang itu dengan kalimat yang luar biasa:
“Mereka mencampurkan kebenaran dengan kebatilan.”
Propaganda yang paling berbahaya memang bukan kebohongan seratus persen. Kebohongan murni mudah dibantah. Ia terlalu rapuh untuk bertahan lama.
Propaganda yang cerdas mengambil sepotong fakta, memotong latarnya, menghilangkan bagian yang merugikan kepentingannya, lalu menyambungkannya dengan kesimpulan yang telah disiapkan.
Utsman memang terbunuh.
Itu fakta.
Ada pemberontakan terhadap pemerintahannya.
Itu fakta.
Ada orang-orang dari berbagai wilayah yang mengepung rumahnya.
Itu juga fakta.
Namun, dari pecahan-pecahan fakta tersebut dibangun sebuah tuduhan bahwa Ali adalah dalang pembunuhan Utsman. Peran Ali dalam menasihati Utsman dihilangkan.
Usaha beliau mencegah pertumpahan darah disembunyikan. Bantuan yang dikirim untuk menjaga rumah Utsman tidak dibicarakan.
Yang tersisa hanya sebuah cerita yang telah dipotong sesuai kebutuhan politik.
Kebenaran tidak sepenuhnya dibuang.
Ia dicampur dengan kebatilan.
Al-Qur’an telah memperingatkan:
“Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”
Propaganda tidak selalu menciptakan kebohongan dari ruang kosong. Kadang-kadang ia mencuri tubuh kebenaran, lalu memasukkan ruh kebatilan ke dalamnya.
Inilah yang dibaca Imam Ali.
Taat kepada Makhluk dalam Bermaksiat kepada Allah
Ali kemudian menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang buta hatinya, tuli pendengarannya, dan kehilangan kejernihan pandangannya.
Mereka bukan tidak mempunyai mata.
Mereka tidak kehilangan telinga.
Masalahnya bukan pada alat indera, melainkan pada kesediaan menerima kebenaran.
Mereka dapat melihat, tetapi hanya mau melihat apa yang menguntungkan kelompoknya. Mereka dapat mendengar, tetapi hanya menerima suara yang memuji penguasanya. Mereka mengenal agama, tetapi agama itu telah diletakkan di bawah kepentingan politik.
Imam Ali berkata bahwa mereka:
“Menaati makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.”
Mereka mungkin menyebut nama Allah. Mereka mungkin berbicara tentang kehormatan sahabat, persatuan umat, dan darah Utsman. Namun, arah ketaatan mereka bukan lagi kepada kebenaran.
Mereka menaati manusia dengan mengorbankan perintah Allah.
Ketika penguasa meminta mereka memutarbalikkan cerita, mereka melakukannya.
Ketika kekuasaan meminta mereka menyembunyikan kebenaran, mereka menyembunyikannya.
Ketika kepentingan politik meminta agama menjadi alat, mereka menyerahkan agama ke tangan kekuasaan.
Pada titik itu, penguasa telah mengambil tempat yang tidak berhak ditempatinya.
Lidah masih menyebut Allah.
Namun, keputusan ditentukan oleh manusia yang sedang berkuasa.
Memerah Dunia dengan Nama Agama
Lalu Imam Ali menggunakan ungkapan yang sangat tajam:
“Mereka memerah dunia dengan menggunakan agama.”
Agama di tangan mereka bukan lagi jalan menuju Allah.
Agama telah menjadi sapi yang diperah untuk mendapatkan dunia.
Ayat dijadikan alat untuk memperoleh kedudukan. Kesalehan dipertontonkan untuk mengumpulkan kepercayaan. Nama sahabat digunakan untuk membangun legitimasi politik. Mimbar dijadikan tempat mencuci wajah kekuasaan.
Mereka tidak meninggalkan agama.
Mereka justru menggunakannya.
Dan orang yang menggunakan agama untuk mendapatkan dunia terkadang lebih berbahaya daripada orang yang terang-terangan menolak agama. Orang yang menolak agama berdiri di luar pintu.
Namun, pedagang agama masuk ke dalam rumah, mengenakan pakaian kesalehan, lalu mengambil kepercayaan manusia dari dalam.
Menurut Imam Ali, mereka menukar keuntungan akhirat dengan kesenangan dunia yang segera.
Mereka memilih sesuatu yang dekat, cepat, dan terlihat—uang, jabatan, perlindungan penguasa, serta kedudukan di tengah masyarakat—dengan menjual sesuatu yang belum tampak di depan mata: pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Haji yang seharusnya memerdekakan manusia dari dunia justru dijadikan pasar untuk membeli dunia.
Betapa mengerikannya.
Orang-orang berjalan mengelilingi Ka‘bah, tetapi tujuan mereka tetap mengelilingi kekuasaan.
Tubuh berada di Makkah.
Hati tetap berada di istana Syam.
Ali Tidak Menghukum Semua Orang Syam
Di tengah peringatan yang keras itu, terdapat satu prinsip keadilan yang sangat penting.
Imam Ali berkata:
“Tidak ada yang memperoleh kebaikan kecuali orang yang mengerjakannya, dan tidak ada yang dibalas karena kejahatan kecuali pelakunya.”
Ali tidak memerintahkan Qutsam mencurigai seluruh jamaah dari Syam.
Beliau tidak menuduh setiap orang yang datang dari wilayah lawan sebagai penyusup. Beliau juga tidak membenarkan hukuman kolektif hanya karena beberapa orang menjalankan operasi politik.
Kejahatan harus dilekatkan kepada pelakunya.
Orang tidak boleh dihukum karena sukunya.
Tidak karena kotanya.
Tidak karena asal wilayahnya.
Tidak pula karena ia datang bersama rombongan yang di dalamnya terdapat pelaku kejahatan.
Ini sangat penting.
Bahkan ketika menghadapi operasi propaganda dari wilayah musuh, Imam Ali tidak kehilangan ukuran keadilan. Kewaspadaan tidak boleh berubah menjadi prasangka terhadap semua orang.
Negara harus waspada.
Tetapi kewaspadaan tidak memberikan izin untuk berlaku zalim.
Perintah kepada Gubernur Makkah
Ali kemudian memerintahkan Qutsam bin Abbas agar berdiri teguh menjaga wilayahnya.
Ia harus bertindak seperti pemimpin yang kuat, berpengalaman, tulus, dan cerdas. Ia harus menaati Imamnya dan menghindari tindakan yang kelak memaksanya mengajukan alasan.
Kalimat ini merupakan prinsip pemerintahan:
Jangan melakukan sesuatu yang kelak hanya dapat dipertahankan dengan alasan.
Seorang pejabat yang benar tidak menunggu kerusakan terjadi lalu menyusun pembelaan. Ia mencegah kerusakan melalui kewaspadaan, kecakapan, dan keberanian mengambil tindakan yang tepat.
Namun, Ali juga memberikan dua peringatan:
“Jangan sombong ketika berada dalam kenikmatan dan jangan menjadi lemah ketika menghadapi kesulitan.”
Kekuasaan sering gagal karena dua keadaan.
Ketika situasi aman, pemimpin menjadi lengah dan sombong. Ia merasa kekuasaannya tidak akan terganggu.
Ketika ancaman datang, ia panik dan kehilangan keteguhan.
Ali meminta Qutsam tidak jatuh pada keduanya.
Jangan mabuk oleh keadaan aman.
Jangan runtuh ketika ujian datang.
Perang yang Tidak Menggunakan Pedang
Surat ini memperlihatkan bahwa Imam Ali memahami perang jauh melampaui pertempuran fisik.
Beliau mengetahui bahwa sebuah pemerintahan dapat dihancurkan tanpa mengepung ibu kotanya. Cukup rusak kepercayaan rakyatnya. Ciptakan cerita bahwa pemimpinnya tidak sah.
Ulangi tuduhan itu di tempat-tempat yang dihormati. Gunakan orang-orang yang tampak saleh sebagai pembawanya.
Lalu biarkan masyarakat menyebarkannya sendiri.
Pedang hanya dapat melukai tubuh.
Propaganda dapat membuat seseorang membenci orang yang sedang melindunginya dan mencintai orang yang sedang memperalatnya.
Karena itu, musim haji menjadi sasaran yang sangat strategis. Jamaah datang dari berbagai wilayah. Sebuah cerita yang ditanamkan di Makkah dapat dibawa pulang ke banyak kota.
Satu bisikan dapat berubah menjadi seribu mimbar.
Satu tuduhan dapat kembali sebagai keyakinan masyarakat.
Muawiyah tidak harus mengirimkan pasukan ke seluruh negeri jika ia dapat mengirimkan sebuah cerita yang dipercaya oleh seluruh negeri.
Mengapa Tidak Mengikuti Ali?
Kita sering mengenang Imam Ali sebagai pemilik Dzulfiqar. Namun, dalam peristiwa ini, Ali tidak menghunus pedang.
Beliau membaca informasi.
Mengenali pola.
Membongkar propaganda.
Memperingatkan gubernurnya.
Menjaga Makkah tanpa menjadikan jamaah haji sebagai korban kecurigaan kolektif.
Inilah kecerdasan seorang Imam dan negarawan.
Mengikuti Ali berarti tidak mudah tertipu oleh kesalehan yang dipertontonkan.
Tidak semua orang yang membawa nama agama sedang memperjuangkan agama.
Tidak semua orang yang menangisi sejarah sedang berkata jujur tentang sejarah.
Tidak semua orang yang menyerukan persatuan sedang mencari kebenaran. Bisa jadi ia hanya meminta korban diam agar cerita penguasa tetap utuh.
Mengikuti Ali berarti berani memisahkan fakta dari tafsir, kesaksian dari propaganda, agama dari perdagangan kekuasaan.
Ali tidak meminta kita menolak setiap berita yang datang dari lawan. Beliau mengajarkan sesuatu yang lebih cerdas: periksa bagaimana kebenaran dipilih, dipotong, dicampur, dan diarahkan.
Sebab kebohongan yang paling berhasil bukanlah kebohongan yang berdiri sendirian.
Ia adalah kebohongan yang bersembunyi di dalam tubuh kebenaran.
Hari itu, orang-orang Syam datang ke Makkah tanpa pasukan. Mereka berjalan di tengah jamaah dan membawa sebuah cerita.
Namun, dari kejauhan, Ali telah melihat mereka.
Ketika kebatilan mengenakan pakaian ibadah, Ali tidak merobek pakaian setiap jamaah. Beliau tidak menghukum manusia berdasarkan asalnya.
Ali hanya menyalakan cahaya agar wajah propaganda dapat dikenali.
Lalu beliau memerintahkan gubernurnya:
Berdirilah dengan teguh.
Bertindaklah dengan cerdas.
Jangan lengah ketika keadaan tenang.
Jangan melemah ketika badai datang.
Sebab terkadang musuh tidak memasuki kota dengan menghunus pedang.
Ia memasuki pikiran manusia sambil mengucapkan kata-kata suci.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Rujukan utama: Nahjul Balaghah, Surat 33, surat Imam Ali a.s. kepada Qutsam bin Abbas, gubernur Makkah. Teks surat menyebut laporan tentang sejumlah orang Syam yang dikirim pada musim haji; rincian mengenai operasi propaganda Muawiyah berasal dari keterangan syarah. “Teks Surat 33”. Lihat pula QS al-Baqarah [2]:42.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1dRAkNFBrW/

