Kisah Rabah, Pecinta Imam Ali as.
Dalam sebuah riwayat yang dinukil al-Mufaddal dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as., dikisahkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya.
Tiba-tiba tampak dari kejauhan sekelompok lelaki berkulit hitam berjalan perlahan. Di pundak mereka terbujur sebuah jenazah yang hanya ditutupi kain. Tidak ada iring-iringan kebesaran. Tidak ada panji. Tidak ada tokoh terpandang yang menyebut jasa-jasanya.
Hanya jenazah seorang manusia yang hendak dikembalikan kepada tanah.
Ketika rombongan itu melintas, Rasulullah SAW memandangnya dan bersabda,
“Aku ingin melihatnya.”
Langkah mereka pun berhenti.
Jenazah itu diletakkan di hadapan Rasulullah SAW. Beliau mendekat, lalu dengan tangannya sendiri menyingkap kain yang menutupi wajahnya.
Sejenak Rasulullah SAW memandang wajah yang telah kehilangan cahaya kehidupan itu. Kemudian beliau menoleh kepada Imam Ali as.
“Wahai Ali, orang ini adalah Rabah, hamba sahaya keluarga Bani Najjar.”
Imam Ali as. memandang wajah itu lebih lama. Beliau mengenalnya—bukan sebagai panglima, bukan pula sebagai orang kaya atau pemilik kedudukan.
Ali mengenalnya sebagai seorang manusia yang tubuhnya kerap berada dalam belenggu.
“Aku tidak pernah melihatnya,” kata Imam Ali as., “kecuali dalam keadaan terbelenggu. Dan setiap kali melihatku, ia selalu berkata bahwa ia mencintaiku.”
Kalimatnya sederhana:
“Wahai Ali, aku mencintaimu.”
Mungkin Rabah tidak memiliki mimbar untuk menyatakannya.
Ia tidak mempunyai pena untuk menuliskan pembelaannya.
Ia tidak memiliki kekayaan untuk dipersembahkan.
Bahkan tubuhnya bukan miliknya sendiri. Manusia menyebutnya budak. Pergelangan tangannya dibatasi besi. Langkahnya ditentukan orang lain.
Namun ada satu tempat yang tidak berhasil mereka kuasai:
hatinya.
Tubuh Rabah dapat dibelenggu, tetapi cintanya kepada Ali tidak dapat dirantai.
Rasulullah SAW kemudian memerintahkan agar jenazah Rabah dimandikan. Beliau memberikan salah satu pakaiannya untuk dijadikan kafan. Rasulullah sendiri menyalatinya, lalu berjalan bersama kaum muslimin mengantarkan Rabah menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Bayangkanlah pemandangan itu.
Seorang yang sepanjang hidupnya mungkin dipandang rendah oleh manusia, kini dikafani dengan pakaian Rasulullah SAW.
Seorang yang barangkali namanya tidak pernah disebut dalam majelis para pembesar, kini dishalati oleh Nabi terakhir.
Seorang yang tubuhnya dahulu berjalan dalam belenggu, kini diantar oleh Muhammad SAW dan kaum muslimin menuju kebebasan abadi.
Ketika iring-iringan itu bergerak, terdengarlah suara gemuruh dari langit. Bukan suara pasukan berkuda. Bukan denting pedang. Bukan pula derap langkah manusia.
Langit sedang membuka barisannya.
Rasulullah SAW kemudian bersabda bahwa Rabah diiringi oleh tujuh puluh ribu kelompok malaikat, dan setiap kelompok terdiri atas tujuh puluh ribu malaikat.
Lalu beliau menatap Imam Ali as. dan bersabda,
“Demi Allah, ia tidak memperoleh kemuliaan ini kecuali karena cintanya kepadamu.”
Bumi mungkin hanya melihat seorang hamba sahaya berkulit hitam yang dimasukkan ke dalam kubur.
Namun langit melihat seorang pecinta Ali sedang pulang.
Betapa terbaliknya ukuran manusia di hadapan Allah.
Manusia bertanya tentang warna kulitnya; langit bertanya tentang warna hatinya.
Manusia menghitung harta dan kedudukannya; para malaikat menyaksikan kesetiaannya.
Manusia mengenali rantai pada tangannya; Allah mengenali cinta yang hidup di dalam dadanya.
Rasulullah SAW kemudian turun ke liang lahat. Beliau membaringkan Rabah dengan penuh penghormatan. Namun sesaat kemudian beliau memalingkan wajahnya, lalu menata bata-bata tanah yang menjadi penutup liang lahatnya.
Para sahabat memperhatikan sikap beliau. Mereka bertanya,
“Wahai Rasulullah, mengapa tadi Anda memalingkan wajah?”
Rasulullah SAW menjawab bahwa kekasih Allah itu meninggalkan dunia dalam keadaan haus. Para bidadari pun datang membawa minuman dari surga untuknya.
Lalu beliau bersabda,
“Sesungguhnya kekasih Allah adalah manusia terhormat. Aku tidak ingin memandang istri-istrinya. Karena itulah aku memalingkan wajahku.”
Di sini kisah Rabah mencapai puncaknya.
Seorang yang mungkin tidak pernah memiliki kemewahan di dunia, disambut dengan minuman surga.
Seorang yang mungkin tidak dianggap terhormat oleh masyarakatnya, disebut Rasulullah SAW sebagai manusia terhormat.
Seorang yang dahulu hidup di bawah kuasa manusia, kini disambut oleh para penghuni langit.
Tetapi kita tidak boleh merendahkan makna cinta dalam kisah ini. Cinta kepada Imam Ali bukan sekadar getaran perasaan atau kalimat yang diucapkan lidah. Cinta kepada Ali adalah keberpihakan kepada jalan yang ditempuh Ali.
Ali adalah keadilan yang tidak dapat dibeli.
Ali adalah keberanian yang tidak tunduk kepada kekuasaan.
Ali adalah ilmu yang merendah di hadapan Allah.
Ali adalah tangan yang kuat di medan perang, tetapi lembut ketika menyentuh kepala anak yatim.
Maka mencintai Ali berarti mencintai keadilan, sekalipun keadilan itu merugikan kepentingan kita sendiri.
Mencintai Ali berarti membenci kezaliman, sekalipun dilakukan oleh tokoh yang kita kagumi.
Mencintai Ali berarti menjaga shalat, menolong yang lemah, menolak suap, melawan kesombongan, dan tidak menjual kebenaran kepada penguasa.
Orang yang meneriakkan nama Ali tetapi masih membela kezaliman baru mencintai bunyi namanya—belum mencintai jalannya.
Rabah mungkin tidak mempunyai banyak kesempatan untuk beramal besar. Akan tetapi, ia memiliki kompas yang benar.
Hatinya mengenali manusia yang menjadi pintu ilmu, lambang keadilan, dan pembela kebenaran. Cintanya bukan cinta kepada kekuasaan, sebab ketika itu Ali belum menjadi penguasa. Cintanya bukan cinta karena keuntungan, sebab Ali tidak memberinya kekayaan.
Ia mencintai Ali ketika cinta itu tidak menawarkan dunia.
Itulah cinta yang murni.
Kisah Rabah juga merupakan tamparan keras terhadap kesombongan ras, kelas, dan keturunan. Rasulullah SAW tidak membiarkan jenazah seorang hamba sahaya berkulit hitam berlalu seolah-olah ia tidak terlihat.
Beliau menghentikan rombongan, membuka wajahnya, menyebut namanya, memberikan pakaiannya sebagai kafan, menyalatinya, mengantarkannya, bahkan turun sendiri ke liang lahatnya.
Islam tidak datang hanya untuk berbicara tentang persamaan. Rasulullah SAW memperlihatkannya di hadapan manusia dan langit.
Dunia menulis Rabah sebagai budak.
Namun langit menulisnya sebagai pecinta.
Dunia melihat besi pada tubuhnya.
Namun Allah melihat wilayah di dalam hatinya.
Dunia melepasnya dalam kesunyian.
Namun langit menyambutnya dengan barisan malaikat yang tak terhitung.
Inilah pelajaran yang ditinggalkan Rabah kepada kita:
Kemuliaan tidak selalu memakai pakaian kebesaran. Kadang-kadang ia bersembunyi di balik tubuh yang terbelenggu, pada hati sederhana yang hanya mampu berkata, “Wahai Ali, aku mencintaimu.”
Salam atas Rabah—manusia yang mungkin tidak terkenal di bumi, tetapi kepergiannya mengguncangkan langit.
Salam atas setiap pecinta Ali yang tubuhnya tertindas, tetapi hatinya menolak diperbudak.
Dan semoga cinta kita kepada Imam Ali as. bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan cahaya yang mengubah cara kita menyembah Allah, memperlakukan manusia, membela kebenaran, dan melawan setiap bentuk kezaliman.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Catatan penting:
frasa “menyiramkan susu” tampaknya berasal dari kekeliruan membaca kata Arab اللَّبِن—bata tanah untuk menutup liang lahat—sebagai اللَّبَن, yang berarti susu. Karena itu saya memperbaikinya menjadi “menata bata-bata tanah”.
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19JakF1faG/

