25 September 2026
Ada buku yang memberi kita jawaban. Ada pula buku yang mengubah cara kita mengajukan pertanyaan. 500 Ayat untuk Ali bin Abi Thalib karya al-Hafizh Rajab al-Bursi termasuk jenis yang kedua.
Judulnya memang mengejutkan. Benarkah terdapat lima ratus ayat tentang Imam Ali a.s.?
Buku ini tidak mengatakan bahwa nama “Ali” tertulis secara harfiah sebanyak lima ratus kali di dalam Al-Qur’an. Ia juga tidak sedang menawarkan Al-Qur’an yang berbeda. Al-Bursi menghimpun ayat-ayat yang melalui sebab turunnya, penjelasan Rasulullah saw., riwayat para Imam, tafsir, takwil, maupun perwujudan nilai-nilainya berhubungan dengan pribadi Imam Ali a.s.
Di sinilah pentingnya buku ini.
Selama ini orang kerap bertanya, “Kalau Ali begitu penting, mengapa namanya tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an?”
Pertanyaan itu lahir karena kita mengira Al-Qur’an hanya memperkenalkan seseorang melalui nama. Padahal Al-Qur’an sering memperkenalkan manusia melalui sifat, tindakan, kedudukan, dan keberpihakannya: siapa yang memberikan sedekah ketika rukuk, siapa yang menyerahkan dirinya demi menyelamatkan Rasul, siapa yang menjadi nafs Rasulullah dalam peristiwa Mubahalah, dan siapa yang disucikan dalam rumah kenabian.
Nama dapat diperebutkan, tetapi sifat tidak dapat dipalsukan. Dan ketika ayat-ayat itu diletakkan berdampingan dengan perjalanan hidup Imam Ali, kita menemukan kesesuaian yang terlalu kuat untuk dianggap kebetulan.
Imam Ali tidak lagi terlihat hanya sebagai tokoh sejarah yang hidup setelah Rasulullah saw. Beliau hadir sebagai manusia yang menjelmakan nilai-nilai Al-Qur’an: keberanian tanpa kezaliman, kekuasaan tanpa kerakusan, ilmu tanpa kesombongan, ibadah tanpa kepura-puraan, serta keadilan yang tidak tunduk kepada keluarga, kawan, maupun kepentingan politik.
Tentu, tidak semua riwayat dalam buku ini mempunyai kekuatan sanad dan tingkat penafsiran yang sama. Ada ayat yang hubungannya dengan Imam Ali sangat kuat dan dikenal luas; ada pula yang bersifat takwil batin dan masih membutuhkan penelitian. Karena itu, buku ini harus dibaca dengan dua mata sekaligus: mata kecintaan dan mata penelitian. Cinta tanpa ilmu mudah berlebihan, sedangkan ilmu tanpa cinta sering kehilangan cahaya.
Nilai terbesar buku ini bukan sekadar pada jumlah “lima ratus ayat”. Nilainya terletak pada keberaniannya mengubah arah pembicaraan: dari pertanyaan, “Di mana nama Ali dalam Al-Qur’an?” menjadi pertanyaan yang jauh lebih mendalam:
Siapakah manusia yang kehidupannya paling utuh menerjemahkan Al-Qur’an setelah Rasulullah saw.?
Buku ini tidak menyisipkan Ali ke dalam Al-Qur’an. Buku ini mengajak kita menyadari bahwa kehidupan Ali telah berjalan di bawah cahaya ayat-ayatnya.
Nama Ali memang tidak tertulis secara langsung di dalam mushaf. Namun ilmu, keberanian, pengorbanan, keadilan, kesucian, dan wilayahnya memancarkan cahaya di sepanjang Al-Qur’an.
Sebab terkadang, untuk menemukan seseorang di dalam Kitab Allah, jangan hanya mencari namanya.
Carilah sifat-sifatnya—lalu lihatlah siapa yang menjalani semuanya.
Ketika ali
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us