21 October 2026

Nahrawan, tahun 38 Hijriah.

Sungai mengalir tenang di bawah bayang-bayang pohon kurma. Namun di sepanjang jalannya berdiri sekelompok lelaki dengan dahi menghitam karena sujud, bibir tak berhenti membaca Al-Qur’an, dan pedang menggantung di pinggang.

Mereka adalah Khawarij.

Dahulu mereka berada dalam pasukan Imam Ali a.s. Merekalah yang memaksa Imam menerima tahkim ketika mushaf diangkat di ujung tombak.

Namun setelah tahkim terjadi, mereka berbalik menuduh Ali telah kafir karena menerimanya.

Mereka memaksa Ali mengikuti kehendak mereka—

lalu mengkafirkan Ali karena melakukan apa yang mereka paksakan.

Kini mereka berdiri di jalan-jalan, menghentikan setiap musafir, menanyakan keyakinannya, kemudian menentukan apakah orang itu berhak hidup atau harus mati.

Agama telah berubah menjadi pisau. Dan mereka merasa tangan yang memegangnya adalah tangan Tuhan.

Pada suatu hari, seorang lelaki melintas bersama istrinya yang sedang mengandung.

Namanya Abdullah bin Khabbab.

Ayahnya, Khabbab bin al-Aratt, adalah salah seorang muslim pertama yang punggungnya pernah dibakar di atas bara karena mempertahankan keimanan kepada Rasulullah saw.

Khawarij menghentikan Abdullah. “Siapa engkau?”

“Aku Abdullah bin Khabbab.”

Mata mereka menyala. Mereka mengenal nama ayahnya.

Mereka kemudian bertanya tentang berbagai perkara, hingga akhirnya pertanyaan itu datang:

“Apa pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib?”

Abdullah memandang wajah-wajah keras di hadapannya.

Ia tahu satu jawaban yang salah dapat membuat pedang terhunus.

Namun ia tidak menyelamatkan tubuhnya dengan menjual kebenaran.

Ia menjawab, “Ali lebih mengetahui Kitab Allah daripada kalian. Ia lebih berhati-hati dalam agamanya dan lebih dalam pandangannya.”

Wajah-wajah itu berubah. Mereka mengikat kedua tangan Abdullah.

Istrinya menangis dan memohon, “Aku seorang perempuan yang sedang mengandung. Tidakkah kalian takut kepada Allah?”

Tidak ada jawaban. Mereka membawa keduanya menuju tepi sungai.

Dalam perjalanan, sebutir kurma jatuh dari pohonnya. Salah seorang dari mereka memungut dan memasukkannya ke mulut.

Kawan-kawannya langsung menegur. “Itu bukan milikmu! Engkau memakannya tanpa izin pemiliknya!”

Lelaki itu segera memuntahkan kurma tersebut.

Mereka begitu takut memakan sebutir kurma yang bukan miliknya.

Konon mereka juga melihat seekor babi milik seorang non-Muslim terbunuh. Mereka marah dan menuntut agar pemiliknya diberi ganti rugi.

Mereka menjaga hak seekor babi. Mereka takut mengambil sebutir kurma.

Tetapi beberapa langkah kemudian, mereka menyeret seorang muslim yang tidak bersalah bersama istrinya yang mengandung menuju kematian.

Begitulah ketika agama kehilangan Imam. Seseorang dapat menjadi sangat teliti terhadap kulit hukum—

namun menjadi monster terhadap nyawa manusia.

Di tepi sungai, Abdullah kembali ditanya,

“Apakah engkau tetap mengakui Ali berada di atas kebenaran?”

Dengan tangan terikat, ia menjawab,

“Aku bersaksi bahwa Ali lebih mengetahui Allah dan lebih menjaga agamanya daripada kalian.”

Pedang terangkat. Darah Abdullah mengalir ke sungai. Istrinya menjerit.

“Aku sedang mengandung! Apakah kalian tidak takut kepada Allah?”

Tetapi orang yang telah merasa dirinya menjadi wakil Tuhan tidak lagi mendengar tangisan manusia.

Perempuan itu pun dibunuh bersama bayi yang berada di dalam kandungannya.

Sungai Nahrawan membawa darah mereka menjauh.

Namun berita kejahatan itu bergerak lebih cepat daripada aliran air.

Ketika kabar tersebut sampai kepada Imam Ali, beliau sedang mempersiapkan pasukan untuk kembali menghadapi Muawiyah di Syam.

Imam terdiam. Wajahnya berubah.

Seorang utusan dikirim untuk memastikan kebenaran berita itu.

Utusan tersebut tidak pernah kembali. Khawarij membunuhnya juga.

Para panglima mendesak,

“Wahai Amirul Mukminin, bagaimana kita pergi menuju Syam sementara para pembunuh ini berada di belakang kita? Mereka akan membunuh keluarga dan anak-anak kita.”

Pasukan pun berbalik menuju Nahrawan.

Debu membumbung di cakrawala.

Ribuan pasukan Imam Ali tiba di hadapan kaum Khawarij. Pedang telah siap. Busur telah direntangkan.

Tetapi Ali tidak menyerang.

Beliau berdiri di antara dua pasukan dan mengirimkan pesan,

“Serahkan kepadaku orang-orang yang membunuh Abdullah bin Khabbab dan orang-orang tidak bersalah. Setelah itu aku akan meninggalkan kalian dan pergi menghadapi musuh di Syam.”

Jawaban dari seberang terdengar mengerikan: “Kami semua membunuhnya.”

Lalu mereka berseru, “Darah kalian semua halal bagi kami!”

Ali masih tidak memerintahkan serangan.

Beliau menyuruh Abu Ayyub al-Anshari mengangkat panji perlindungan.

Suara penyeru menggema di medan Nahrawan:

“Barang siapa berlindung di bawah panji ini, ia aman! Barang siapa meninggalkan medan dan pulang ke Kufah, ia aman! Barang siapa tidak ikut membunuh dan tidak memerangi kami, ia aman!”

Barisan Khawarij mulai pecah. Sebagian menurunkan pedangnya.

Sebagian berjalan menuju panji perlindungan. Sebagian meninggalkan medan.

Imam Ali memberi mereka kesempatan terakhir untuk hidup—

bahkan setelah mereka mengkafirkannya.

Bahkan setelah mereka membunuh para pengikutnya.

Bahkan setelah darah seorang perempuan mengandung mengalir ke sungai.

Namun sekelompok orang tetap bertahan.

Mereka menggenggam pedang sambil meneriakkan ayat-ayat Allah. Mereka merasa surga sedang menunggu di balik tubuh Ali.

Imam memandang pasukannya. “Jangan mulai memerangi mereka sebelum mereka memulai.”

Inilah Ali.

Ia tidak berperang karena marah. Ia tidak menghunus pedang karena dihina.

Selama Khawarij hanya mencacinya, menyebutnya kafir, bahkan berteriak di tengah khutbahnya, beliau membiarkan mereka.

Mereka masih mendapat bagian dari Baitulmal. Mereka masih boleh memasuki masjid.

Mereka masih hidup aman di bawah pemerintahannya.

Tetapi ketika mereka mulai membunuh orang tak bersalah—

ketika mereka mengubah takfir menjadi teror—

ketika agama dijadikan izin untuk merobek perut seorang ibu—

Ali berdiri.

Barisan Khawarij tiba-tiba menyerbu. Anak-anak panah melesat. Pedang-pedang terhunus.

Barulah suara Imam mengguncang Nahrawan:

“Sekarang—perangi mereka!”

Pasukan Ali bergerak seperti gelombang raksasa.

Pertempuran berlangsung dahsyat, tetapi tidak lama. Barisan Khawarij yang sebelumnya berteriak tentang kematian dan surga runtuh diterjang pasukan Amirul Mukminin.

Ketika debu mulai turun, Nahrawan dipenuhi pedang yang patah dan panji-panji yang rebah.

Ali berdiri memandang medan itu. Tidak ada kebanggaan di wajahnya. Tidak ada pesta kemenangan.

Yang terlihat hanyalah kesedihan seorang Imam yang terpaksa memerangi orang-orang yang dahinya terluka karena terlalu banyak bersujud—tetapi hatinya tidak pernah tunduk kepada kebenaran.

Mereka membaca Al-Qur’an. Tetapi menolak orang yang paling memahami Al-Qur’an.

Mereka mengucapkan la hukma illa lillah—tidak ada hukum selain hukum Allah.

Namun mereka menolak manusia yang ditunjuk untuk menegakkan hukum Allah.

Mereka takut memakan sebutir kurma haram. Tetapi tidak takut menumpahkan darah seorang ayah, seorang ibu, dan anak yang belum sempat melihat dunia.

Nahrawan bukan sekadar kisah peperangan. Nahrawan adalah peringatan abadi:

Manusia yang beragama tanpa akal dapat menjadi fanatik.

Manusia yang beragama tanpa kasih sayang dapat menjadi kejam.

Dan manusia yang membaca kitab tanpa mengenal Imam—

dapat mengangkat ayat suci dengan satu tangan, Perang Nahrawansambil membunuh orang tak bersalah dengan tangan lainnya.

Sebutkan pembunuhnya

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan:

Imam Ali a.s. baru mengambil tindakan setelah pembunuhan warga tak bersalah dan utusan penyelidiknya. Bahkan di hadapan mereka, beliau tetap menawarkan penyerahan pelaku, jalan keluar, dan perlindungan sebelum Khawarij memulai serangan.
Khutbah dan latar Nahrawan dalam Nahj al-Balaghah⁠, riwayat dari sumber Ahlul Bait⁠

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1E5PTqC27x/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us