CAHAYA YANG MEMBUAT HATI DAPAT MELIHAT
Bagian 8 dari 100
Doa Kumail—yang dalam tradisi Ahlul Bait dikenal sebagai Doa Khidir as dan diajarkan oleh Imam Ali as kepada Kumail bin Ziyad—kini membawa kita memasuki makna cahaya Ilahi.
Teks Doa Kumail
«وَبِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَضَاءَ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ
Wa binūri wajhika alladzī aḍā’a lahu kullu syay’.
“Dan dengan cahaya Wajah-Mu yang olehnya segala sesuatu menjadi terang.”»
Tema utama
Cahaya Ilahi bukan sekadar sesuatu yang dilihat, melainkan cahaya yang membuat hati mampu melihat segala sesuatu secara benar.
“Wajah” Allah tidak boleh dipahami sebagai anggota tubuh. Ungkapan ini menunjuk kepada Allah sebagaimana Dia menghadapkan rahmat, petunjuk, dan tanda-tanda kehadiran-Nya kepada makhluk.
Karena itu, cahaya Wajah-Nya bukan cahaya fisik yang dapat diukur. Ia adalah cahaya Ilahi yang menyingkap hakikat, membedakan kebenaran dari kepalsuan, dan memberikan arah kepada perjalanan manusia.
Ayat Al-Qur’an
1. QS An-Nur 24:35
«اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ
“Allah adalah cahaya langit dan bumi—cahaya di atas cahaya. Allah memberi petunjuk menuju cahaya-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.”»
Ayat ini menghubungkan cahaya dengan petunjuk. Cahaya Allah bukan benda yang memenuhi ruang, melainkan sumber keberadaan, penyingkapan, dan bimbingan yang membuat kebenaran dapat dikenali. “QS An-Nur 24:35”.
2. QS Al-Hadid 57:28
«وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
“Dia akan menjadikan bagi kalian cahaya yang dengannya kalian berjalan dan mengampuni kalian.”»
Manusia tidak hanya membutuhkan cahaya untuk mengetahui jalan. Ia membutuhkan cahaya untuk benar-benar berjalan di atasnya. Pengetahuan yang tidak mengubah langkah belum sepenuhnya menjadi cahaya. “QS Al-Hadid 57:28”.
3. QS Az-Zumar 39:69
«وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا
“Dan bumi menjadi terang dengan cahaya Tuhannya.”»
Pada akhirnya, seluruh penyamaran akan berakhir. Apa yang selama ini ditutupi oleh hawa nafsu dan kepentingan akan tersingkap di bawah cahaya keputusan Allah. “QS Az-Zumar 39:69”.
Riwayat Ahlul Bait
Diriwayatkan dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as:
«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ خَيْراً نَكَتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةً مِنْ نُورٍ وَفَتَحَ مَسَامِعَ قَلْبِهِ
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia menempatkan setitik cahaya di dalam hatinya dan membuka pendengaran hatinya.”»
Riwayat tersebut kemudian menyebut bimbingan malaikat dan menghubungkannya dengan kelapangan dada untuk menerima petunjuk. “Al-Kāfi, Kitab at-Tawḥīd, bab “Petunjuk Berasal dari Allah”, hadis 2”.
Catatan verifikasi:
Riwayat ini memiliki sanad, tetapi Allamah al-Majlisi menilainya majhūl, sedangkan Syekh Baqir al-Behbudi tidak memasukkannya ke dalam pilihan Ṣaḥīḥ al-Kāfī. Karena itu, redaksi tersebut lebih hati-hati disebut “diriwayatkan dari Imam ash-Shadiq as”, bukan langsung dipastikan sahih. Terjemahan Indonesia di atas merupakan terjemahan maknawi.
Kerangka pembahasan
1. Cahaya Wajah Allah bukan cahaya fisik atau gambaran jasmani.
2. Cahaya Ilahi membuat hati mampu membedakan kebenaran dari kepalsuan.
3. Kegelapan ruhani dapat terjadi meskipun seseorang memiliki banyak pengetahuan.
4. Wahyu, kenabian, dan bimbingan Ahlul Bait merupakan jalan penerimaan cahaya Allah.
5. Dosa menggelapkan cara menilai sebelum akhirnya menggelapkan perbuatan.
6. Kita membutuhkan bukan hanya perubahan keadaan, tetapi penerangan cara memandang keadaan.
Pembuka syarah
Kegelapan tidak selalu berarti tidak adanya cahaya di sekitar kita. Terkadang mata terbuka, jalan terbentang, dan nasihat telah disampaikan—tetapi hati tetap tidak mampu melihat.
Seseorang dapat mengetahui mana yang benar, tetapi terus memilih yang salah. Ia dapat membaca ayat-ayat Allah, tetapi hanya menemukan huruf. Ia dapat menyaksikan begitu banyak nikmat, tetapi yang tumbuh di dalam dirinya justru keluhan. Persoalannya bukan lagi kurangnya bukti; ada sesuatu di dalam hati yang telah kehilangan cahaya.
Dalam keadaan itulah Doa Kumail mengajarkan kita memohon:
«“Dengan cahaya Wajah-Mu yang olehnya segala sesuatu menjadi terang.”»
Cahaya Allah tidak hanya memperlihatkan apa yang berada di hadapan kita. Ia memperlihatkan nilai sebenarnya dari apa yang kita lihat.
Dengan cahaya itu, kenikmatan dikenali sebagai amanah. Musibah dibaca sebagai ujian. Dosa tampak sebagai racun meskipun dihias dengan kesenangan. Ketaatan dikenali sebagai jalan pulang meskipun harus ditempuh dengan pengorbanan.
Tanpa cahaya Ilahi, manusia dapat memandang keberhasilan sebagai bukti bahwa Allah merestui semua pilihannya. Ia dapat menyebut kerakusan sebagai ambisi, kepengecutan sebagai kehati-hatian, dan kecintaan kepada pujian sebagai perjuangan demi agama.
Ia mungkin memiliki mata yang sehat, tetapi kehilangan kemampuan melihat dirinya sendiri.
Di sinilah perbedaan antara pengetahuan dan cahaya. Pengetahuan dapat memberi manusia informasi tentang kebenaran, tetapi cahaya membuat hatinya mencintai kebenaran. Pengetahuan dapat menunjukkan letak jalan, tetapi cahaya memberinya keberanian untuk melangkah.
Cahaya tidak selalu mengubah benda-benda di sekitar kita. Cahaya mengubah kemampuan kita untuk melihatnya.
Karena itu, yang paling kita perlukan mungkin bukan agar seluruh kesulitan segera disingkirkan. Bisa jadi kita terlebih dahulu memerlukan hati yang diterangi agar dapat mengetahui apa yang sedang Allah ajarkan melalui kesulitan tersebut.
Sebab tidak semua orang yang berada di jalan terang dapat melihat.
Dan tidak semua orang yang membuka mata telah membuka hatinya.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19EM53yEFT/

