Perang Jamal tidak seperti Perang Badar.
Di Badar, pasukan Islam mengetahui siapa musuh yang berdiri di hadapan mereka. Namun di Basrah, yang saling berhadapan adalah orang-orang yang sama-sama mengucapkan syahadat, membaca Al-Qur’an, dan menghadap kiblat yang sama.
Itulah perang yang paling menyakitkan.
Perang melawan musuh dari luar dapat membakar keberanian. Tetapi perang di dalam tubuh umat sendiri menyayat hati sebelum pedang menyentuh tubuh.
Debu memenuhi udara Basrah. Derap kuda membuat tanah bergetar. Kilatan tombak dan pedang memantulkan cahaya matahari. Di kejauhan, barisan lawan telah menguat di sekitar seekor unta yang kemudian membuat peperangan itu dikenang sebagai Perang Jamal—Perang Unta.
Di tengah pasukannya, Imam Ali berdiri.
Ia tidak berada di istana yang jauh dari medan. Ia tidak mengirimkan anak-anak rakyat ke hadapan maut sementara keluarganya sendiri disembunyikan di tempat aman.
Ia hadir di sana.
Melihat apa yang dilihat pasukannya.
Mendengar desing anak panah yang mereka dengar.
Dan menghirup debu yang sama dengan mereka.
Di tangannya terdapat sebuah panji.
Dalam peperangan, panji bukan sekadar selembar kain yang berkibar. Ia adalah titik tempat barisan melihat arah. Selama panji masih tegak, pasukan mengetahui bahwa mereka belum tercerai-berai. Namun jika panji terjatuh, keguncangan dapat merambat dari satu hati kepada hati lainnya.
Ali kemudian menyerahkan panji itu kepada putranya:
Muhammad bin Ali.
Ia lebih dikenal sebagai Muhammad bin al-Hanafiyyah, dinisbahkan kepada ibunya, Khawlah dari Bani Hanifah. Ia bukan Hasan dan bukan pula Husain. Namun darah Ali mengalir di dalam dirinya, dan hari itu ia menerima sebuah amanah yang dapat membawanya langsung menuju kematian.
Muhammad menggenggam tangkai panji.
Di hadapannya, barisan musuh tampak rapat. Anak-anak panah meluncur dan berjatuhan laksana curahan hujan. Suara benturan senjata datang dari berbagai arah.
Ali memandang putranya.
Ia tidak memberinya janji bahwa dirinya akan selamat.
Ia tidak berkata bahwa jumlah mereka pasti menjamin kemenangan.
Ia juga tidak mengatakan bahwa menjadi putra Ali akan membuat pedang menghindarinya.
Ali hanya memberikan beberapa kalimat.
Kalimat-kalimat pendek yang lebih keras daripada besi dan lebih kokoh daripada gunung:
“Gunung-gunung boleh bergeser dari tempatnya, tetapi engkau jangan bergeser.”
Muhammad mendengarkan.
“Rapatkan gerahammu.”
“Kuserahkan kepadamu sebuah perintah: pinjamkan kepalamu kepada Allah.”
“Pancangkan kakimu ke bumi.”
“Arahkan pandanganmu kepada barisan musuh yang paling jauh.”
“Dan tundukkan pandanganmu.”
Kemudian Ali menutup semuanya dengan satu kalimat:
“Ketahuilah bahwa kemenangan hanyalah datang dari Allah Yang Mahasuci.”
Tidak ada pidato panjang.
Tidak ada teriakan tentang kebesaran diri.
Tidak ada jaminan kemenangan yang bersandar pada kekuatan manusia.
Hanya seorang ayah, seorang imam, dan seorang panglima yang sedang mengajarkan hakikat keberanian kepada putranya.
“Gunung-gunung boleh bergeser, tetapi engkau jangan bergeser.”
Ali tidak sedang berbicara tentang batu dan tanah.
Gunung adalah sesuatu yang dalam pandangan manusia tampak mustahil dipindahkan. Namun Ali mengajarkan bahwa dalam mempertahankan kebenaran, hati seorang manusia harus dapat menjadi lebih kukuh daripada gunung.
Keadaan boleh berubah.
Jumlah pendukung boleh menyusut.
Orang-orang yang dahulu berdiri di sampingmu boleh berbalik berdiri di hadapanmu.
Fitnah boleh mengubah kawan menjadi lawan.
Bahkan dunia seolah boleh bergeser dari tempatnya.
Namun engkau jangan bergeser dari kebenaran hanya karena kebenaran sedang sendirian.
“Rapatkan gerahammu.”
Ketakutan pertama-tama menyerang tubuh.
Tangan mulai bergetar. Napas menjadi pendek. Lutut kehilangan kekuatan. Mata terpaku pada kilatan pedang dan anak panah yang beterbangan.
Ali tidak mengajarkan putranya untuk berpura-pura tidak takut. Ia mengajarkannya agar menguasai ketakutan.
Rapatkan gigimu.
Kendalikan tubuhmu.
Jangan biarkan rasa takut mengambil keputusan menggantikan akal dan imanmu.
Keberanian bukanlah tidak adanya rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap melangkah ketika rasa takut memerintahkanmu mundur.
“Pinjamkan kepalamu kepada Allah.”
Kalimat ini menembus lebih dalam daripada pedang.
Ali tidak berkata, “Pinjamkan kepalamu kepadaku.”
Ia juga tidak berkata, “Korbankan kepalamu untuk kekuasaanku.”
Ia berkata, “Pinjamkan kepalamu kepada Allah.”
Banyak penguasa meminjam kepala rakyat untuk mempertahankan singgasana mereka, sementara kepala mereka sendiri disembunyikan di balik tembok istana.
Ali justru menyerahkan panji kepada putranya sendiri.
Ia mengingatkan bahwa kepala itu bukan milik kekuasaan, bukan milik ambisi, bahkan bukan sepenuhnya milik pemilik tubuhnya.
Ia adalah titipan Allah.
Dan bila Allah memanggilnya untuk membela kebenaran, seorang mukmin tidak menawarkannya kepada hawa nafsu, tetapi mengembalikannya kepada Sang Pemilik.
“Pancangkan kakimu ke bumi.”
Jangan berdiri seperti daun yang menunggu arah angin.
Jadilah pasak.
Ali mengetahui bahwa peperangan tidak selalu dimenangkan oleh orang yang paling keras berteriak. Terkadang kemenangan ditentukan oleh seseorang yang tetap berdiri ketika semua orang di sekelilingnya mulai mundur.
Satu langkah mundur dari pembawa panji dapat berubah menjadi seribu langkah kepanikan di belakangnya.
Karena itu, Ali tidak hanya menyuruh Muhammad mengangkat panji.
Ia menyuruhnya menjadi tiang bagi orang-orang yang memandang panji tersebut.
“Arahkan pandanganmu kepada barisan musuh yang paling jauh.”
Jangan hanya melihat pedang yang berada satu jengkal dari wajahmu.
Lihat keseluruhan medan.
Lihat tujuan yang lebih jauh daripada bahaya yang sedang mendekat.
Orang yang hanya memandang ancaman terdekat akan kehilangan arah. Namun orang yang mengetahui tujuan akhirnya tidak mudah dihentikan oleh rintangan pertama.
Kemudian Ali berkata:
“Tundukkan pandanganmu.”
Bukan berarti menutup mata dari kenyataan. Muhammad telah diperintahkan memandang hingga barisan musuh paling jauh. Yang harus ditundukkan adalah pandangan yang dapat disilaukan oleh kilatan senjata, banyaknya pasukan, dan kebesaran lahiriah musuh.
Jangan biarkan gemerlap pedang membuatmu lupa bahwa pedang hanyalah besi.
Jangan biarkan banyaknya manusia membuatmu mengira bahwa jumlah adalah ukuran kebenaran.
Lihatlah medan dengan jernih, tetapi jangan biarkan medan itu memasuki hatimu sebagai ketakutan.
Dan akhirnya:
“Ketahuilah bahwa kemenangan hanyalah datang dari Allah.”
Inilah kalimat yang menjaga keberanian agar tidak berubah menjadi kesombongan.
Ali adalah orang yang keberaniannya dikenal di seluruh Jazirah Arab. Namanya mengguncang para pendekar. Pedangnya telah menentukan banyak pertempuran besar dalam sejarah Islam.
Namun kepada putranya, Ali tidak berkata:
“Menanglah karena engkau putra Ali.”
Ia tidak berkata:
“Percayalah kepada pedangmu.”
Ia tidak pula berkata:
“Pasukan kita lebih gagah.”
Ali berkata bahwa kemenangan datang dari Allah.
Tugas manusia adalah berdiri dengan benar.
Meneguhkan kaki.
Menguasai rasa takut.
Menatap tujuan.
Menyerahkan diri kepada Allah.
Adapun kemenangan, ia bukan milik pedang, bukan milik panji, dan bukan milik panglima.
Kemenangan adalah milik Allah.
Muhammad bin al-Hanafiyyah menggenggam panji itu semakin kuat.
Angin Basrah membuat kainnya berkibar. Di hadapannya, anak-anak panah masih meluncur. Kilatan pedang belum meredup. Tanah masih bergetar oleh derap kuda.
Namun kini ia tidak hanya membawa panji pasukan.
Ia membawa kata-kata ayahnya.
Kakinya menancap.
Matanya memandang jauh.
Dan panji itu bergerak maju.
Hari itu Muhammad bin al-Hanafiyyah belajar bahwa menjadi putra Ali bukanlah hak istimewa untuk diselamatkan dari bahaya.
Menjadi putra Ali berarti menjadi orang pertama yang diminta berdiri ketika kebenaran membutuhkan pembelaan.
Ali tidak mewariskan kenyamanan kepada anak-anaknya.
Ia mewariskan keberanian untuk menanggung amanah.
Ia tidak mengajarkan bagaimana hidup sejauh mungkin dari kematian.
Ia mengajarkan bagaimana tidak kehilangan kehormatan ketika kematian berada sangat dekat.
Berabad-abad kemudian, suara peperangan itu telah lenyap. Debu Basrah telah lama turun kembali ke tanah. Panji yang dipegang Muhammad tidak lagi terlihat.
Namun perintah Ali masih berdiri:
Jika dunia bergeser, jangan bergeser dari kebenaran.
Jika ketakutan mengguncang tubuhmu, kuasailah dirimu.
Jika jalan di hadapanmu dipenuhi ancaman, pancangkan kakimu.
Jika kekuatan musuh menyilaukan mata, pandanglah tujuan yang lebih jauh.
Serahkan dirimu kepada Allah.
Dan jangan pernah mengira kemenangan datang dari selain-Nya.
Gunung-gunung boleh bergeser.
Engkau jangan.

HASYIM ARSAL ALHABSI
Dehills Institute
—
Catatan riwayat:
Perkataan Imam Ali ini tercantum dalam “Nahj al-Balaghah, Khutbah 11”. Pengantar teks menyebutkannya sebagai pesan Ali kepada Muhammad bin Ali al-Hanafiyyah ketika menyerahkan panji kepadanya pada Perang Jamal.
Teks Arabnya diawali:
“Tazūlul-jibālu wa lā tazul…”
Gunung-gunung boleh bergeser, tetapi engkau jangan bergeser.
Naskah resmi yang diterbitkan bagian kebudayaan “Haram Imam Ali di Najaf” juga mencantumkan teks tersebut dan menyebut riwayat paralelnya dalam Rabī‘ al-Abrār karya al-Zamakhsyari dan Manāqib Āli Abī Thālib karya Ibn Syahr Asyub.
“Penjelasan Ibn Abi al-Hadid” menerangkan ungkapan tentang geraham, kaki yang ditancapkan seperti pasak, pandangan menuju barisan terjauh, serta tidak membiarkan mata gentar oleh kilatan senjata.
Ia juga memuat kisah anak-anak panah yang turun seperti curahan hujan.
Inti wasiat dan konteks penyerahan panji bersumber dari riwayat tersebut.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BZG7UDKkM/

