25 September 2026

Ketika membaca Surah Āli ‘Imrān, kita memasuki kisah sebuah keluarga: seorang ibu yang menazarkan anak dalam kandungannya kepada Allah, Maryam yang tumbuh dalam pemeliharaan-Nya, dan Isa yang kelahirannya menjadi tanda kekuasaan-Nya.
Sebuah rumah tangga hadir di tengah sejarah wahyu. Doa seorang ibu dan kehidupan seorang putri ternyata berhubungan dengan masa depan umat manusia.

Al-Qur’an mengajarkan kita memperhatikan keluarga itu. Ada pengabdian yang berlangsung sebelum seorang nabi tampil di hadapan kaumnya. Ada kesucian yang dipelihara, amanah yang dijaga, dan jiwa yang seluruh harapannya diarahkan kepada Allah.

Lalu kita membaca:

> إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imrān atas seluruh alam.

Ayat berikutnya menyebut mereka sebagai keturunan yang sebagian berasal dari sebagian yang lain: dzurriyyatan ba‘ḍuhā min ba‘ḍ.

Kata yang menggerakkan seluruh rangkaian itu adalah iṣṭafā: Allah memilih.

Di sini, Al-Qur’an memperkenalkan suatu kesinambungan. Kita diajak melihat hubungan antargenerasi yang memikul amanah Ilahi. Nama-nama itu memiliki tempat dalam sejarah, sekaligus mengajarkan bagaimana Allah menghadirkan petunjuk melalui manusia-manusia pilihan.

Karena itu, membaca Āli ‘Imrān membuka pertanyaan yang layak direnungkan: bagaimana kesinambungan keluarga kenabian tersebut kita pahami ketika sampai kepada Muhammad SAW dan Ahlul Baitnya?

Dalam khazanah Ahlul Bait, pembicaraan tentang makna zahir dan batin membantu kita memasuki pertanyaan ini. Thabathaba’i dalam Al-Qur’ān fī al-Islām menerangkan bahwa keduanya merupakan lapisan makna yang dapat hadir bersama.
Makna zahir tetap mempunyai kedudukannya, sementara kedalaman batin mengajak pembaca memahami lebih jauh.

Dengan demikian, Maryam tetap Maryam, dan Isa tetap Isa. Kisah mereka mempunyai kenyataan sejarah yang dihormati.
Dari kenyataan itulah perenungan bergerak menuju hubungan-hubungan yang diterangi oleh ayat dan petunjuk Ahlul Bait.

Pada titik ini, sebuah nama menarik perhatian: ‘Imrān bin Abdul Muthalib, Abu Thalib.

Salah satu pendapat dalam khazanah tersebut menyebut ‘Imrān sebagai nama Abu Thalib. Sayyid Muhammad al-Shadr, dalam Syadzarāt min Falsafati Tārīkh al-Ḥusayn, mengajukan kemungkinan yang patut diperhitungkan mengenai nama itu.
Beliau kemudian menghubungkannya dengan kemungkinan keturunan Abu Thalib menjadi mishdaq, yakni sosok-sosok yang tercakup dalam ungkapan Āli ‘Imrān pada ayat pemilihan tersebut.

Al-Shadr menyampaikan gagasan itu sebagai kemungkinan penafsiran. Dengan kedudukan itulah kita mengikutinya di sini: sebuah pembacaan isyarat yang mengajak kita merenungkan rumah Abu Thalib dalam kesinambungan keluarga pembawa amanah.

Begitu perhatian diarahkan ke rumah itu, kita menemukan hubungan yang amat dekat dengan kehidupan Rasulullah SAW.

Abu Thalib mengasuh Muhammad setelah wafatnya Abdul Muthalib. Ketika Muhammad diutus sebagai Rasul, perlindungannya menghadapi ujian yang semakin berat.
Dalam sejarah yang dipelihara khazanah Ahlul Bait, rumah Abu Thalib menjadi tempat pengasuhan dan pembelaan terhadap Nabi. Kasih sayang di sana tumbuh menjadi kesetiaan yang menanggung risiko.

Bayangkan arti sebuah rumah bagi seorang anak yang kehilangan ayah, ibu, kemudian kakeknya. Atap memberinya tempat bernaung; penerimaan keluarga memberinya ruang untuk hidup.
Ketika anak itu kelak menyampaikan risalah dan menghadapi permusuhan, perlindungan keluarga tersebut memasuki wilayah pengorbanan.

Dari rumah yang sama, kita mengenal Ali bin Abi Thalib as.

Rangkaian keluarganya jelas: Muhammad adalah keponakan yang diasuh Abu Thalib; Ali adalah putranya; Fathimah, putri Muhammad, menjadi istri Ali; Hasan dan Husain adalah cucu Rasulullah sekaligus cucu Abu Thalib. Hubungan nasab, pengasuhan, dan pernikahan bertemu dalam keluarga ini.

Karena itu, pembicaraan tentang “keluarga Abu Thalib” perlu dipahami dengan keluasan hubungan tersebut. Di dalamnya terdapat pengasuhan Nabi, kelahiran Ali, dan kemudian pertemuan keturunan Muhammad dengan keturunan Ali melalui Hasan dan Husain.

Ada pengorbanan seorang ayah yang melindungi Rasul, kesetiaan seorang putra yang menyertainya, serta kesinambungan keluarga yang kelak menanggung amanah besar dalam sejarah Islam.

Pembacaan ini semakin kaya ketika kita kembali kepada Al-Mīzān.

Dalam penafsiran QS Āli ‘Imrān: 33–34, Thabathaba’i menempatkan Muhammad SAW dan keluarganya dalam cakupan Āli Ibrāhīm, melalui keturunan Ismail. Adapun ‘Imrān dalam konteks kisah yang menyusulnya beliau pahami sebagai ayah Maryam.

Dua keterangan ini menolong kita membaca secara tertib. Kehadiran Nabi dan keluarganya dalam pembahasan keluarga pilihan sudah memiliki pijakan melalui Āli Ibrāhīm. Sementara itu, pengaitan nama ‘Imrān dengan Abu Thalib merupakan jalur perenungan tersendiri yang diajukan al-Shadr.

Jadi, sebelum kita berbicara lebih jauh tentang isyarat sebuah nama, tema keluarga pilihan telah membawa kita kepada Muhammad dan keluarganya.

Kemudian surah yang sama mengantarkan kita kepada mubahalah.

Setelah menguraikan perkara Isa, Al-Qur’an memerintahkan Rasulullah mengajak pihak yang membantah untuk menghadirkan anak-anak, perempuan, dan diri masing-masing, kemudian memohon kepada Allah agar laknat-Nya ditimpakan kepada pihak yang berdusta.

Dalam riwayat Imam ash-Shadiq as yang dinukil Al-Mīzān dari Tafsir al-Qummi, Rasulullah hadir bersama Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Orang-orang yang kita kenal sebagai Ahlul Kisa berada bersama beliau dalam peristiwa tersebut.

Di dalam satu surah, pembacaan kita bergerak dari keluarga Maryam menuju kehadiran keluarga Muhammad.

Hubungan ini patut direnungkan. Kisah keluarga terdahulu diikuti sebuah peristiwa ketika keluarga Rasul hadir dalam pembuktian kebenaran risalah. Kita menyaksikan kesinambungan tema keluarga, kesucian, dan kesetiaan kepada Allah.

Thabathaba’i menjelaskan bahwa kehadiran Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain dalam mubahalah menunjukkan keterlibatan mereka bersama Rasulullah dalam dakwah dan penegasan kebenarannya. Beliau membedakan kedudukan tersebut dari kenabian. Mereka memiliki keutamaan dalam mendampingi dan membawa kebenaran yang disampaikan Nabi.

Di sinilah perenungan tentang rumah Abu Thalib memperoleh kedalaman.

Rumah yang dahulu mengasuh Muhammad mempunyai hubungan erat dengan keluarga yang kemudian berdiri bersama beliau dalam mubahalah. Ali adalah putra Abu Thalib. Hasan dan Husain adalah cucunya. Fathimah mempertemukan rumah kenabian dengan garis keturunan Ali.

Bagi pembaca yang mengikuti isyarat al-Shadr, nama ‘Imrān menjadi pintu untuk memperhatikan pertautan tersebut. Yang direnungkan adalah kesinambungan pengabdian: mengasuh, melindungi, menyertai, lalu menjaga amanah risalah.

Pembacaan seperti ini seharusnya juga menuntut sesuatu dari diri kita.

Mengagumi keluarga pilihan berarti belajar mengenali kualitas yang mereka hadirkan: ketulusan, keberanian, kesucian, dan kesetiaan. Nasab membawa perhatian kita kepada sejarah mereka; pengabdian mereka membimbing kita memahami bobot amanah itu.

Ketika kita memuliakan Maryam karena pengabdiannya kepada Allah, hati kita sedang belajar menghormati kesucian. Pelajaran tersebut semestinya menolong kita mengenali kemuliaan Fathimah. Ketika kita memahami arti keluarga dalam kisah para nabi, pemahaman itu semestinya memperdalam penghormatan kita kepada keluarga Muhammad.

Maka, membaca Āli ‘Imrān dapat menjadi perjalanan dari pengetahuan tentang sebuah nama menuju kesadaran tentang sebuah amanah.

Kita berangkat dari doa seorang ibu dalam keluarga Maryam. Kita merenungkan kesinambungan keluarga Ibrahim. Kita tiba pada Muhammad dan keluarganya, lalu menoleh kepada rumah Abu Thalib yang begitu dekat dengan perjalanan hidup Rasulullah.

Di rumah itu, Muhammad diasuh dan Ali dibesarkan. Perlindungan terhadap Rasul diwujudkan dalam tindakan yang menuntut keberanian. Dari Ali dan Fathimah, kesinambungan keluarga Nabi diteruskan.

Kemuliaan keluarga ini terbaca pada kesediaan mereka menyerahkan hidup untuk menjaga amanah Allah.

Ali imran

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

 

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1QMenAnNQ8/

 

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us