25 September 2026

Ketika Ayat Allah Dipasang di Atas Singgasana

Malam menggantung berat di atas Kufah.
Angin gurun menghantam dinding-dinding Darul Imarah, membawa debu dari jalan yang baru saja dilalui seorang penunggang dari Syam. Kudanya berpeluh. Jubahnya berlumur pasir. Tetapi surat yang dibawanya tetap terikat rapi dengan pita berwarna merah—warna kekuasaan yang sedang dibangun di Damaskus.
Di dalam balairung, para panglima, pembaca Al-Qur’an, dan tetua kabilah duduk dalam lingkaran.
Tidak ada singgasana tinggi.
Tidak ada tirai sutra.
Di hadapan mereka duduk Ali bin Abi Thalib—seorang penguasa yang pakaiannya lebih sederhana daripada pakaian sebagian rakyatnya.
Utusan itu membuka suratnya.
“Wahai penduduk Irak,” katanya, “kalian memerangi sesuatu yang telah dikehendaki Allah. Bukankah Dia berfirman:
«Qulillāhumma mālika al-mulki, tu’til-mulka man tasyā’u wa tanzi‘ul-mulka mimman tasyā’…»
Katakanlah: Ya Allah, Pemilik segala kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Engkau kehendaki.”
Utusan itu mengangkat kepalanya.
“Seandainya Allah tidak menghendaki kekuasaan berada di tangan Muawiyah, mungkinkah Syam tunduk kepadanya? Mungkinkah tentaranya sebanyak itu? Mungkinkah perintahnya menjangkau kota-kota?”
Suasana membeku.
Beberapa orang menundukkan kepala. Bukan karena mereka mempercayainya, tetapi karena kebatilan yang membawa sepotong ayat sering kali lebih berbahaya daripada kebatilan yang datang dengan pedang terhunus.
Imam Ali bangkit perlahan.
Tidak ada kemarahan yang meledak dari suaranya. Justru ketenangannya membuat kata-katanya terasa seperti langkah pasukan besar yang mendekat dari kejauhan.
“Engkau telah membaca ayat Allah,” ujar beliau dalam rekonstruksi adegan ini, “tetapi engkau meletakkannya di tempat yang dikehendaki penguasa.”
Utusan itu menyela, “Aku hanya mengatakan bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki.”
“Dan aku mengatakan,” jawab Ali, “jangan engkau samakan sesuatu yang Allah biarkan terjadi dengan sesuatu yang Allah perintahkan untuk ditaati.”
Semua mata terangkat.
Imam melangkah mendekati sebuah pelita.
“Bacalah seluruh Al-Qur’an, bukan hanya ayat yang menyenangkan istanamu. Tidakkah Al-Qur’an berbicara tentang seseorang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya karena Allah telah memberinya kerajaan?”
Utusan itu terdiam.
“Apakah kerajaan orang itu,” lanjut Ali, “menjadikannya kekasih Allah? Tidak. Ayat yang sama menyebutnya sebagai orang kafir dan zalim.”
Suara kain bendera di luar balairung terdengar dipukul angin.
“Memegang kekuasaan,” ujar Imam, “hanya membuktikan bahwa seseorang mampu memegangnya. Ia belum membuktikan bahwa orang itu berhak atasnya.”
Utusan Syam mulai kehilangan ketenangannya.
“Tetapi semua terjadi atas kehendak Allah!”
Imam berbalik tajam.
“Jika kehendak Allah kau artikan sebagai paksaan yang menghapus pilihan manusia, lalu mengapa Allah memberikan perintah dan larangan? Mengapa para nabi diutus? Mengapa ada pahala dan hukuman?”
Balairung menjadi sunyi.
“Allah tidak dikalahkan ketika manusia mendurhakai-Nya. Namun manusia juga tidak dipaksa untuk mendurhakai-Nya. Dia memberikan pilihan, memperingatkan, lalu meminta pertanggungjawaban.”
Imam menunjuk surat di tangan utusan itu.
“Jangan jadikan keagungan Allah sebagai tempat persembunyian bagi kejahatan manusia.”
Kalimat itu melintasi ruangan seperti sebilah pedang.
“Muawiyah memilih jalannya. Aku memilih jalanku. Rakyat memilih siapa yang mereka ikuti. Kemudian Allah akan mengadili pilihan-pilihan itu. Jangan engkau menyebut kerakusan sebagai takdir, lalu meminta manusia bersujud kepadanya.”
Utusan itu menggenggam suratnya semakin erat.
“Apakah engkau menolak bahwa Allah dapat memberikan kerajaan kepada siapa pun?”
“Tidak.”
Suara Ali kini semakin rendah, tetapi setiap katanya menghantam lebih keras.
“Aku menolak kebohongan bahwa setiap orang yang berhasil merebut pemerintahan telah memperoleh keridaan Allah.”
Beliau memandang para pejabatnya.
“Bagiku, pemerintahan bukan hidangan yang boleh disantap. Ia adalah amanat yang dikalungkan pada leher seorang penguasa. Bila ia menegakkan keadilan, amanat itu menjadi jalan keselamatan. Bila ia menjadikannya alat memperkaya keluarga, membeli kesetiaan, dan membungkam kebenaran, amanat itu berubah menjadi rantai.”
Kemudian Ali kembali memandang utusan Syam.
“Singgasana tidak dapat menyucikan orang yang duduk di atasnya. Justru orang yang duduk di atasnya akan ditimbang: apakah ia menyucikan kekuasaan dengan keadilan, atau mengotorinya dengan kezaliman?”
Utusan itu tidak lagi membaca ayat.
Tangannya menurunkan surat perlahan-lahan.
Ia datang membawa sepotong ayat untuk mengalahkan Ali.
Tetapi Ali mengembalikannya kepada seluruh Al-Qur’an.
—

Bertahun-tahun Kemudian: Ayat yang Dibacakan di Hadapan Kepala Husain

Waktu berlalu.
Ali telah syahid di mihrab Kufah. Hasan telah diracun. Muawiyah telah mati. Kekuasaan yang dahulu dipertahankan atas nama stabilitas diwariskan kepada Yazid seperti harta keluarga.
Kemudian datanglah Karbala.
Di Damaskus, lampu-lampu istana menyala. Para pembesar Syam duduk berbaris. Di hadapan mereka diletakkan kepala suci Husain bin Ali.
Di sisi lain ruangan berdiri keluarga Rasulullah sebagai tawanan.
Tangan Imam Ali bin Husain terbelenggu. Tubuhnya masih menanggung sakit. Di belakangnya berdiri Zainab binti Ali—perempuan yang kehilangan saudara-saudaranya, tetapi tidak kehilangan keberaniannya.
Yazid memandang kepala Husain.
Ia berkata kepada orang-orang di sekelilingnya bahwa Husain terbunuh karena tidak memahami firman Allah. Lalu ia membaca:
«“Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa yang Engkau kehendaki.”»
Di dalam mulut seorang nabi, ayat itu adalah pengakuan akan kebesaran Allah.
Di dalam istana Yazid, ayat yang sama dipaksa menjadi surat pengampunan bagi seorang pembunuh.
Seolah-olah karena Yazid duduk di atas singgasana, Allah pasti meridainya.
Seolah-olah karena Husain terbaring di Karbala, Allah pasti menghinakannya.
Seolah-olah pedang dapat menentukan siapa yang mulia di sisi Tuhan.
Ali bin Husain mengangkat wajahnya.
Belenggu terdengar beradu ketika beliau bergerak.
“Wahai Yazid,” katanya, “bagaimana menurutmu jika Rasulullah melihat kami berdiri di hadapanmu dalam keadaan terikat?”
Wajah-wajah di dalam istana berubah.
Untuk sesaat, tidak ada lagi khalifah dan tawanan. Yang terlihat hanyalah cucu Rasulullah dalam rantai—di hadapan seorang penguasa yang mengaku memerintah umat kakeknya.
Yazid memerintahkan agar tali-tali itu dilepaskan.
Tetapi tali yang membelenggu kebohongannya tidak dapat dilepaskan semudah itu.
Kemudian suara Zainab memenuhi istana.
“Apakah engkau mengira,” tantangnya, “karena bumi dipersempit bagi kami dan kami digiring sebagai tawanan, kami hina di sisi Allah sedangkan engkau mulia?”
Yazid tidak menjawab.
“Apakah lapangnya kekuasaan membuatmu mengira bahwa engkau memiliki kedudukan agung di hadapan-Nya?”
Zainab mengingatkannya bahwa penangguhan yang diberikan Allah kepada orang zalim bukan bukti cinta. Terkadang tali dibiarkan memanjang agar kesombongan berjalan semakin jauh menuju kehancurannya sendiri.
Pada saat itu, penafsiran istana runtuh.
Kemenangan militer tidak sama dengan kemuliaan.
Kekalahan lahiriah tidak sama dengan kehinaan.
Seandainya terbunuh berarti hina di hadapan Allah, para nabi yang dibunuh tentu lebih rendah daripada para pembunuh mereka.
Seandainya singgasana membuktikan keridaan Tuhan, Fir‘aun tentu lebih mulia daripada Musa.
Tetapi sejarah mengetahui yang sebaliknya.
Nama Fir‘aun bertahan sebagai kutukan.
Nama Musa bertahan sebagai cahaya.
Yazid memiliki istana pada hari itu.
Namun Husain memiliki masa depan.
—

Madinah: Jawaban yang Mengakhiri Perdebatan

Puluhan tahun sesudah tragedi itu, seorang lelaki bernama Abdul A‘la, maula keluarga Sam, duduk di hadapan Imam Ja‘far al-Shadiq.
Pertanyaan lama kembali muncul.
“Bukankah Allah berfirman bahwa Dia memberikan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki? Tidakkah berarti Allah telah memberikan kerajaan kepada Bani Umayyah?”
Imam al-Shadiq memandangnya.
Jawabannya singkat. Tidak memerlukan pidato panjang, pasukan, ataupun singgasana.
“Bukan demikian. Allah memberikan kerajaan itu kepada kami, lalu Bani Umayyah merampasnya. Pakaian yang direbut tidak menjadi milik perampas.”
Selesai.
Seluruh propaganda kerajaan dihancurkan dengan sehelai pakaian.
Seorang pencuri dapat mengenakan jubah yang bukan miliknya. Orang-orang mungkin melihat jubah itu berada di tubuhnya. Ia bahkan dapat berkeliling kota dan memerintahkan semua orang memanggilnya pemilik jubah.
Tetapi keberhasilannya merampas tidak mengubah kepemilikan.
Kekuatan tangannya tidak menciptakan hak.
Lamanya ia mengenakan jubah tidak menghalalkan pencurian.
Banyaknya orang yang takut kepadanya tidak mengubah dusta menjadi kebenaran.
Demikian pula kekuasaan.
Ada kekuasaan yang Allah izinkan hadir sebagai bagian dari ujian kehidupan—karena manusia diberi kemampuan memilih, berbuat adil, atau melakukan kezaliman.
Ada pula kekuasaan yang memperoleh pembenaran dan kewajiban untuk ditaati—karena dibangun di atas hak, petunjuk, dan keadilan.
Bani Umayyah memiliki kemampuan memerintah.
Namun kemampuan memerintah bukan bukti bahwa mereka memiliki hak untuk memerintah.
Mereka mempunyai tentara, tetapi bukan hujah.
Mereka mempunyai mimbar, tetapi bukan kebenaran.
Mereka mempunyai istana, tetapi bukan kemuliaan.
—

Epilog: Singgasana Hanya Menguji

Malam kembali turun di atas Kufah, Damaskus, dan Madinah.
Istana-istana Bani Umayyah akhirnya menjadi reruntuhan. Panji-panji mereka jatuh. Para penjaga mereka lenyap. Nama para panglima yang dahulu ditakuti manusia tinggal menjadi baris-baris dalam buku sejarah.
Namun satu ayat itu tetap dibaca.
«Qulillāhumma mālika al-mulk…»
Ayat itu tidak pernah mengatakan bahwa setiap penguasa adalah kekasih Allah.
Ayat itu mengatakan bahwa tidak ada kekuasaan yang dapat keluar dari kekuasaan-Nya.
Dia dapat memberikan amanat kepada seorang yang adil.
Dia dapat membiarkan seorang zalim berkuasa untuk menguji manusia.
Dia dapat menangguhkan hukuman.
Dia dapat pula mencabut singgasana ketika penghuninya merasa tidak mungkin dijatuhkan.
Kekuasaan bukan surat pembebasan dari pengadilan Tuhan.
Kekuasaan adalah panggilan untuk memasuki pengadilan itu dengan tanggung jawab yang lebih berat.
Muawiyah dapat menguasai Syam.
Yazid dapat duduk di Damaskus.
Tetapi Ali tetap menjadi ukuran keadilan.
Husain tetap menjadi suara kebenaran.
Dan ketika seluruh mahkota telah menjadi debu, kalimat Ahlulbait tetap berdiri:
Sesuatu yang dirampas tidak menjadi halal hanya karena perampasnya berhasil mempertahankannya.
Singgasana dapat direbut.
Sejarah dapat dipaksa untuk diam.
Ayat dapat dipotong dan dipasang di dinding istana.
Namun hak tidak pernah berubah menjadi milik perampas.
Mahkota yang
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan Rujukan dan Batas Dramatisasi:
1. Ayat pokok kisah adalah “QS Ali ‘Imran 3:26”.
2. Adegan utusan Syam berdebat langsung dengan Imam Ali merupakan rekonstruksi sastra. Dasar jawabannya ialah prinsip Imam Ali dalam Nahjul Balaghah: pemerintahan merupakan amanat, bukan santapan pribadi, sebagaimana terdapat dalam “Surat 5 kepada al-Asy‘ats bin Qais”.
3. Penolakan Imam Ali terhadap fatalisme tercatat dalam Nahjul Balaghah, Hikmah 78. Beliau menegaskan bahwa apabila manusia dipaksa oleh takdir yang tidak dapat dielakkan, pahala, hukuman, janji, dan ancaman Allah kehilangan makna. Lihat “Divine Decree versus Human Free Will”.
4. Argumen tentang penguasa zalim ditopang oleh “QS al-Baqarah 2:258” : Al-Qur’an menyebut seorang penentang Ibrahim memperoleh kerajaan, tetapi tetap mengecamnya sebagai kafir dan zalim. Karena itu, memperoleh kekuasaan faktual tidak otomatis berarti memperoleh legitimasi agama.
5. Riwayat tentang Yazid menggunakan QS 3:26 setelah terbunuhnya Imam Husain tercantum antara lain dalam riwayat sejarah yang dihimpun pada “Tarikh Madinat Dimasyq, biografi Imam Husain”.
6. Riwayat Imam Ja‘far al-Shadiq mengenai Bani Umayyah dan perumpamaan pakaian terdapat dalam Rawdhat al-Kafi. Teksnya juga dihimpun dan diterangkan dalam “Tafsir al-Mizan atas QS 3:26”. Al-‘Allamah al-Thabathaba’i membedakan kekuasaan faktual—yang dapat berada pada penguasa adil maupun zalim—dengan legitimasi syar‘i yang mewajibkan ketaatan.
7. Karena tidak ditemukan sumber kuat tentang dialog langsung Imam Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah mengenai ayat ini, dialog semacam itu tidak dinyatakan sebagai kejadian sejarah. Kisah ini adalah drama lintas generasi yang memadukan prinsip Imam Ali, peristiwa istana Yazid, perlawanan Imam Ali Zainal Abidin dan Sayidah Zainab, serta penjelasan Imam Ja‘far al-Shadiq.
—

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us