16 October 2026

Setiap selesai shalat, Rasulullah ﷺ mengusap dahinya. Bukan karena peluh semata. Tetapi karena ada sisa debu dan tanah yang menempel di keningnya.

Dahi beliau bersentuhan langsung dengan bumi.

Dalam riwayat-riwayat sahih disebutkan bahwa Nabi ﷺ sujud langsung di atas tanah. Para sahabat mendinginkan batu kerikil karena panas agar tetap bisa sujud di atasnya.
Ketika seseorang menghamparkan kain atau sorban sebagai alas tanpa udzur, Rasulullah ﷺ menyingkirkannya.

Beliau ingin dahi menyentuh bumi.

Beliau memerintahkan hal yang sama kepada Ali bin Abi Thalib. Dan karena seringnya kening Ali dipenuhi debu setelah sujud, Rasulullah ﷺ menggelarinya Abu Turab — ayahnya tanah. Gelar yang kemudian melekat pada dirinya, sebuah kemuliaan.

Abu Turab adalah simbol kerendahan tertinggi di hadapan Allah.

Sujud bukan sekadar gerakan. Ia adalah titik paling rendah manusia — dan pada saat yang sama, titik paling tinggi ruhnya.

Para pecinta Ahlul Bait berkata:

Kami tidak bersujud kepada Karbala.

Kami bersujud hanya kepada Allah.

Benar.

Di mana dahi diletakkan — itu bisa membangunkan jiwa.

Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk bersujud di atas tanah yang suci. Dan Allah sendiri memberi tahu dalam Al-Qur’an bahwa sebagian tanah dimuliakan lebih dari yang lain.

Ada tanah yang disebut thal muqaddasah (tanah suci). Ada bumi yang diberkahi.

Karbala bukan sekadar tanah.

Ia adalah bumi yang menyerap pengorbanan.

Bumi yang menyaksikan kebenaran berdiri tegak melawan tirani.

Bumi yang memeluk jasad Husayn ibn Ali — tentangnya Rasulullah ﷺ bersabda:

“Husain adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari Husain.”

Sujud di atas tanah Karbala bukan menyembah bumi.

Ia adalah menyembah Allah dengan ingatan.

Ingatan akan pengorbanan.

Ingatan akan keteguhan iman.

Ingatan akan makna berdiri di hadapan Rabb al-‘Alamin.

Sebagian tanah membawa sejarah.

Sebagian tanah membawa darah.

Dan sebagian tanah… membawa warisan yang membuat hati merendah sepenuhnya dalam sujud.

Sejarah turbah Karbala tidak lahir tiba-tiba sebagai simbol. Ia tumbuh perlahan dari praktik, riwayat, dan makna.

Masa Rasulullah ﷺ

Sujud dilakukan langsung di atas tanah. Ini bukan ciri mazhab tertentu, tetapi praktik Islam paling awal. Tanah adalah medium sujud yang ideal, bukan benda sembahan.

Tragedi Karbala

Setelah kesyahidan Husayn ibn Ali, tanah Karbala memperoleh makna historis dan spiritual mendalam bagi Ahlulbait.

Riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah diperlihatkan tanah Karbala sebelum peristiwa itu terjadi.

Beliau menangis.

Tanah itu disimpan oleh Ummu Salamah sebagai tanda kesyahidan yang akan datang.

Sejak itu, Karbala menjadi saksi pengorbanan tertinggi demi agama.

Masa Para Imam

Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bait dari Imam Ali ibn Husayn, Imam Muhammad al-Baqir, dan Imam Ja’far al-Sadiq, tanah Karbala digunakan sebagai tabarruk.

Imam Ja’far ash-Shadiq menyatakan bahwa sujud di atas tanah Husain “menembus hijab-hijab” — maksudnya menguatkan kekhusyukan dan kesadaran batin, bukan memberi efek magis otomatis.

Penting dicatat:

Turbah bukan objek ibadah

Tidak wajib, bukan rukun, bukan syarat sah, boleh sujud di tanah mana pun yang suci.

Karbala dipilih karena nilai kesadaran, bukan zat mistis.

Pada masa awal, tanah Karbala dibawa dalam bentuk tanah lepas. Seiring waktu, ia dipadatkan agar mudah dibawa, dibentuk menjadi kepingan kecil, lalu dikenal sebagai turbah.

Ini perkembangan praktis, bukan inovasi teologis.

Fungsinya tetap sama: alas sujud dari tanah.

Di masa Bani Umayyah dan Abbasiyah, ketika pengikut Ahlulbait ditekan, Karbala menjadi simbol perlawanan terhadap tirani. Turbah menjadi ingatan diam tentang harga kebenaran.

Ia bukan benda milik orang Syiah.

Ia adalah tanah yang berbicara kepada hati orang yang bersujud.

Mengapa Turbah Bertahan?

Karena ia menjawab tiga lapis sekaligus:

Fikih → sesuai Sunnah Nabi: sujud di atas tanah.

Sejarah → mengingat pengorbanan Husain.

‘Irfan → membantu hati merendah dalam sujud.

Sujud adalah puncak tauhid.

Ketika dahi menyentuh tanah, manusia kembali ke asalnya.

Minha khalaqnakum — dari tanah Kami ciptakan kalian.

Abu Turab adalah simbol itu.

Dan setiap kali seorang mukmin meletakkan dahinya di atas tanah, ia sedang berkata tanpa suara:

“Aku kembali ke asal.

Aku hamba.

Aku tidak punya apa-apa selain Engkau.”

Sujud di tanah bukan simbol sektarian.

Ia adalah simbol kerendahan total.

Dan Karbala — adalah tanah yang mengajarkan kita bagaimana tetap tegak dalam kebenaran… bahkan ketika seluruh dunia runtuh.

Kenapa sujud

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19v97Ff6f6/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us