(Terima kasih untuk Sahabatku Muhamad Asegaff )
Ada satu kalimat yang menarik untuk direnungkan:
“Agama itu terbentuk sesuai dengan kadar akal.”
-Imam Ali bin Abi Thalib kw
Kalimat ini sederhana, tetapi bila direnungkan lebih dalam, ia seperti membuka sebuah jendela besar tentang mengapa agama yang sama dapat melahirkan manusia dengan wajah keberagamaan yang sangat berbeda.
Ada orang yang semakin beragama semakin lembut. Ada yang semakin banyak belajar semakin rendah hati. Ada yang semakin dekat kepada Tuhan justru semakin mudah memahami kelemahan manusia.
Tetapi ada pula yang semakin merasa beragama justru semakin mudah marah. Semakin banyak membaca semakin gemar menghakimi. Semakin banyak hafal dalil semakin sempit ruang bagi orang lain.
Padahal Tuhannya sama. Kitab sucinya sama. Nabinya sama.
Lalu apa yang berbeda?
Boleh jadi salah satu jawabannya adalah: wadah yang menerima agama itu berbeda.
Dan salah satu wadah terpenting itu bernama akal.
Akal dalam tradisi Ahlul Bait bukan sekadar kemampuan menghitung, berdebat, atau memenangkan argumentasi. Orang yang pandai berbicara belum tentu berakal. Orang yang hafal ribuan riwayat belum tentu memiliki kedalaman pemahaman.
Akal adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Ia membuat seseorang mampu membedakan antara prinsip dan emosi, antara kebenaran dan kepentingan diri, antara agama dan ego yang sedang menyamar memakai pakaian agama.
Karena itu agama yang masuk kepada akal yang matang akan menghasilkan kebijaksanaan.
Sementara agama yang masuk kepada akal yang belum matang kadang hanya menghasilkan simbol.
Orang pertama memahami bahwa agama datang untuk membimbing manusia menuju Allah.
Orang kedua mungkin sibuk memastikan panjang celana orang lain.
Orang pertama bertanya, “Apa yang Allah kehendaki dari hidupku?”
Orang kedua sibuk bertanya, “Siapa yang bisa saya salahkan hari ini?”
Di situlah persoalannya menjadi menarik.
Agama sesungguhnya tidak menjadi sempit. Kitalah yang terkadang mempersempitnya sesuai ukuran pemahaman kita sendiri.
Bayangkan air laut dimasukkan ke dalam gelas.
Bukan lautnya yang sedikit. Gelasnya yang kecil.
Demikian pula pengetahuan tentang Tuhan. Rahmat-Nya luas. Hikmah-Nya tak bertepi. Al-Qur’an menyimpan lapisan makna yang tidak habis digali oleh generasi demi generasi.
Tetapi ketika semua itu masuk ke dalam pikiran manusia, manusia hanya mampu menerima sesuai kapasitasnya.
Maka masalah terbesar dalam beragama terkadang bukan kekurangan dalil.
Melainkan kekurangan keluasan akal.
Itulah sebabnya dua orang dapat membaca ayat yang sama tetapi memperoleh sikap yang berbeda.
Yang satu membaca ayat lalu merasa semakin dekat kepada Allah.
Yang lain membaca ayat yang sama lalu menemukan alasan untuk membenci manusia.
Yang satu menemukan rahmat. Yang lain menemukan senjata.
Padahal ayatnya sama. Yang berbeda adalah manusia yang membacanya.
Di sinilah saya memahami mengapa dalam tradisi Ahlul Bait, akal mendapatkan kedudukan yang begitu tinggi. Sebab iman tanpa akal sangat mudah berubah menjadi fanatisme. Semangat tanpa pengetahuan mudah berubah menjadi kemarahan. Cinta kepada agama tanpa kedewasaan mudah berubah menjadi keinginan menguasai orang lain.
Padahal Rasulullah SAW tidak datang untuk menghasilkan manusia-manusia yang sibuk memenangkan pertengkaran.
Beliau datang untuk menyempurnakan manusia.
Dan manusia yang sempurna bukanlah manusia yang merasa mengetahui segalanya.
Justru semakin luas pengetahuan seseorang, semakin ia menyadari betapa sedikit yang diketahuinya.
Ada sebuah paradoks yang sering terlihat dalam kehidupan keberagamaan.
Orang yang ilmunya sedikit kadang sangat yakin bahwa seluruh dunia salah kecuali dirinya.
Sementara orang yang benar-benar mendalami ilmu biasanya jauh lebih hati-hati berkata.
Bukan karena ia ragu terhadap kebenaran.
Tetapi karena ia mengetahui betapa luasnya persoalan.
Ia memahami sejarah.
Ia memahami konteks.
Ia memahami bahasa.
Ia memahami bahwa satu masalah sering memiliki banyak lapisan.
Maka akal melahirkan satu sifat yang sangat indah: tawadhu.
Kerendahan hati intelektual.
Kemampuan berkata: “Mungkin ada sesuatu yang belum saya ketahui.”
Kalimat sederhana seperti itu justru merupakan tanda kecerdasan.
Sebaliknya, salah satu tanda sempitnya akal adalah keyakinan bahwa seluruh persoalan dunia dapat diselesaikan dengan satu kalimat.
Halal.
Haram.
Sesat.
Kafir.
Selesai.
Padahal kehidupan manusia jauh lebih kompleks daripada itu.
Imam Ali a.s. adalah contoh luar biasa bagaimana agama dan akal bertemu dalam satu pribadi. Keberanian beliau tidak membuatnya kehilangan keadilan. Pengetahuan beliau tidak membuatnya kehilangan kelembutan. Kekuasaan tidak membuatnya kehilangan kemanusiaan.
Karena agama ketika bertemu dengan akal yang matang tidak melahirkan kesombongan.
Ia melahirkan hikmah.
Mungkin itulah sebabnya kita perlu sesekali berhenti dari keinginan menilai agama orang lain dan bertanya kepada diri sendiri:
Agama seperti apa yang sedang tumbuh dalam diriku?
Apakah semakin banyak saya belajar membuat saya semakin penyayang?
Apakah semakin banyak saya mengenal Allah membuat saya semakin rendah hati?
Apakah semakin dekat saya kepada Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya membuat saya semakin mampu melihat manusia dengan kasih sayang?
Atau justru sebaliknya?
Pertanyaan ini penting karena terkadang seseorang merasa sedang membela agama, padahal sebenarnya sedang membela dirinya sendiri.
Ia merasa sedang menjaga Tuhan.
Padahal Tuhan tidak membutuhkan penjagaan kita.
Justru kitalah yang membutuhkan penjagaan-Nya.
Akhirnya saya memahami satu hal sederhana.
Kualitas keberagamaan seseorang bukan hanya terlihat dari berapa banyak dalil yang diketahuinya, tetapi dari apa yang terjadi pada dirinya setelah mengetahui dalil itu.
Jika ilmu membuatnya semakin sombong, mungkin ada sesuatu yang salah dalam proses memahami.
Jika agama membuatnya semakin gemar menghina, mungkin ada sesuatu yang belum selesai dalam jiwanya.
Tetapi jika pengetahuan membuatnya semakin bijaksana, semakin adil, semakin lembut, dan semakin sadar akan keterbatasan dirinya, barangkali akal sedang menjalankan tugasnya dengan baik.
Karena agama bukan sekadar sesuatu yang kita hafalkan. Agama adalah sesuatu yang membentuk manusia.
Dan boleh jadi ukuran kedalaman agama seseorang akhirnya sangat sederhana:
bukan seberapa keras ia berbicara tentang Tuhan, tetapi seberapa indah akhlaknya setelah mengenal Tuhan.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/18qBW6Vr5a/

