Bismillâhirrahmânirrahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidina Muhammad wa Âli Sayyidina Muhammad
Maqam Ubudiyyah
Kajian ini membahas tentang Maqam (kedudukan) Nabi Muhammad SAW di hadapan pencipta-Nya, Allah SWT.
Fokus utama pembahasan adalah pada kalimat syahadat kedua: “Asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).
Seringkali kita mengucapkan kalimat ini tanpa merenungi maknanya secara mendalam.
Padahal, pemahaman dan makrifat terhadap syahadat ini akan menumbuhkan kecintaan yang berbeda kepada Baginda Nabi.
Rahasia Kata “Abduhu” (Hamba-Nya)
Dalam syahadat, gelar “Abduhu” (Hamba-Nya) diletakkan sebelum “Rasuluhu” (Utusan-Nya). Mengapa demikian?
- Pilihan Nabi:
Terdapat riwayat bahwa malaikat turun dan memberi pilihan kepada Nabi Muhammad SAW: apakah beliau ingin menjadi seorang “Raja sekaligus Nabi” atau “Hamba sekaligus Utusan”.
Atas saran Malaikat Jibril untuk bersikap tawadhu, Nabi Muhammad SAW memilih menjadi seorang hamba dan utusan (Abdan Rasulan). - Maqam Paling Mulia:
Penghambaan (ubudiyyah) adalah sifat paling sempurna bagi seorang manusia.
Ini adalah kedudukan tertinggi di mana seseorang menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk Allah. Seseorang tidak akan bisa menjadi Rasul jika ia belum menjadi hamba yang tulus dan ikhlas kepada Tuhannya. - Panggilan Kebanggaan Allah:
Panggilan “Abdi” (Hamba-Ku) dari Allah kepada Nabi adalah sebuah bentuk kebanggaan dan penghormatan yang luar biasa.
Gelar “Rasul” adalah sebutan dalam wilayah hubungan nabi dengan manusia, sedangkan “Abdu” adalah sebutan dalam wilayah hubungan khusus nabi dengan Allah.
Perbedaan Ibadah dan Ubudiyyah
Sumber menjelaskan perbedaan antara melakukan ibadah secara umum dengan mencapai maqam ubudiyyah:
- Ibadah:
Menjalankan perintah Allah untuk menggugurkan kewajiban atau tanggung jawab, terkadang masih memilih amalan yang mudah saja. - Ubudiyyah:
Ibadah yang dilakukan dengan kesadaran penuh, kesungguhan hati, keikhlasan, dan kepasrahan total.
Bagi mereka yang mencapai maqam ini, ibadah adalah kebutuhan hidup; mereka tidak lagi membeda-bedakan antara perintah yang berat atau ringan, wajib atau sunnah.
Makna Filosofis Huruf A-B-D (Ain, Ba, Dal)
Kata “Abad” atau hamba terdiri dari tiga huruf yang memiliki makna mendalam bagi seorang hamba:
- Ain (Alim):
Seorang hamba harus mengenal (makrifat) Tuhannya dengan sebenar-benarnya. - Ba (Basirah/Peduli):
Seorang hamba yang mengenal Tuhannya akan memiliki kepedulian terhadap sesama manusia karena ia menyadari posisi dirinya dan orang lain sebagai sesama hamba. - Dal (Dunya):
Seorang hamba harus mengosongkan hatinya dari kecintaan pada dunia agar hati tersebut suci hanya untuk Allah SWT.
Istilah Abid dan Ibad dalam Al-Qur’an
Terdapat perbedaan penggunaan kata dalam Al-Qur’an:
- Abid:
Sering digunakan untuk merujuk pada hamba yang berbuat dosa atau sedang dalam kondisi tidak taat. - Ibad (seperti Ibadurrahman):
Digunakan untuk merujuk pada hamba-hamba yang taat, bertaubat, rendah hati, dan kembali kepada Allah SWT.

Kajian Risalah Nabawiyyah
Bersama :Ustadz Ali Alaydrus
Episode 11: Maqam Ubudiyyah (Bagian 1)
Senin, 13 Maret 2022
Premiere Mulai Jam 19.30 s/d 20.30 WIB
Source Video: Channel Majulah IJABI
Semoga kita semua beroleh keberkahan yang diluaskan 🤲🙏
Kiranya berkenan subscribe, like, share. Terimakasih

