21 October 2026

“Berapa upahnya, Syekh?”

Lelaki tua itu mengambil kain yang disodorkan kepadanya. Jemarinya yang telah puluhan tahun bersahabat dengan jarum meraba permukaannya. Ia memperkirakan pola yang harus dibuat, jumlah jahitan, serta waktu yang diperlukan.

“Untuk membuat qaba, aba, dan pakaian ini, kira-kira diperlukan dua hari kerja.”

“Berapa seluruhnya?”

“Empat puluh tuman.”

Pelanggan itu mengangguk.

“Baik. Saya setuju.”

Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada keberatan. Harga telah disebutkan dan disepakati. Kain pun ditinggalkan.

Beberapa hari kemudian, pelanggan itu kembali. Pakaian pesanannya telah selesai. Jahitannya rapi, ukurannya tepat, dan seluruhnya dikerjakan sesuai permintaan.

Ia mengeluarkan uang.

“Ini empat puluh tuman sebagaimana yang kita sepakati.”

Penjahit itu menyerahkan pakaian tersebut, tetapi hanya mengambil separuh dari uang yang disodorkan.

“Cukup dua puluh tuman.”

Pelanggan itu mengernyitkan dahi.

“Berapa?”

“Dua puluh tuman.”

“Tetapi Syekh sendiri mengatakan empat puluh.”

“Benar.”

“Dan saya telah menyetujuinya.”

“Benar.”

“Lalu mengapa sekarang hanya dua puluh?”

Penjahit itu tersenyum.

“Ketika menyebutkan empat puluh tuman, saya mengira pekerjaan ini membutuhkan dua hari. Ternyata selesai dalam satu hari. Karena itu, dua puluh tuman sudah cukup.”

Pelanggan itu masih berusaha meyakinkannya.

“Tetapi kita telah bersepakat. Saya pun ridha membayar empat puluh tuman.”

Penjahit itu menjawab dengan tenang:

“Keridaanmu adalah urusanmu. Tetapi menjaga diriku agar tidak mengambil lebih daripada yang menurutku pantas adalah urusanku di hadapan Allah.”

Pelanggan itu terdiam.

Secara akad, penjahit tersebut mungkin dapat mengambil seluruh uang yang telah disepakati. Ia tidak menipu ketika menetapkan harga. Ia benar-benar memperkirakan pekerjaan itu membutuhkan dua hari. Pelanggan pun menerima harga tersebut tanpa paksaan.

Namun setelah pekerjaan selesai, ia mengetahui bahwa perkiraannya keliru. Pekerjaan itu ternyata lebih ringan daripada yang dibayangkannya.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal tersebut selain dirinya.

Pelanggan tidak akan memprotes. Tidak ada hukum yang akan menyeretnya. Tidak ada saksi yang akan menuduhnya berbuat curang. Ia bahkan dapat berlindung di balik kalimat yang sepenuhnya benar:

“Bukankah kita telah sepakat?”

Namun tidak semua yang dapat kita ambil harus kita ambil.

Di sinilah perbedaan antara orang yang sekadar mengetahui hukum dan orang yang hatinya hidup bersama Allah.

Fikih memberi batas agar manusia tidak jatuh ke dalam kezaliman. Akhlak mengangkat manusia lebih tinggi: agar ia tidak hanya bertanya, “Apakah ini halal?”, tetapi juga berani bertanya, “Apakah Allah menyukai caraku memperolehnya?”

Penjahit itu tidak sedang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan yang selesai lebih cepat harus dibayar lebih murah. Keahlian, pengalaman, dan mutu hasil kerja tetap memiliki nilai. Seseorang dapat menyelesaikan sebuah pekerjaan dalam satu jam justru karena ia telah belajar selama puluhan tahun.

Kisah ini bukan rumus penetapan tarif.

Kisah ini berbicara tentang insaf.

Harga empat puluh tuman ditentukan sendiri oleh penjahit tersebut berdasarkan perkiraan dua hari kerja. Ketika dasar perhitungannya berubah, ia merasa jumlah yang diterimanya juga harus berubah.
Tidak ada orang yang memaksanya. Tidak ada pelanggan yang menuntutnya. Ia hanya tidak ingin menjadikan kekeliruan perkiraannya sebagai keuntungan pribadi.

Dan kejadian seperti itu ternyata bukan hanya sekali.

Dalam kisah lain, seseorang membayar sepuluh tuman untuk menjahit celana. Setelah pekerjaan selesai, penjahit itu mengembalikan dua tuman karena upah yang menurutnya pantas hanya delapan tuman.

Pada kesempatan lain, seorang pelanggan telah pergi membawa pakaiannya. Penjahit tersebut baru menyadari bahwa pekerjaan itu ternyata lebih ringan dari perkiraannya.
Ia segera berlari mengejar pelanggan hanya untuk mengembalikan lima rial.

Tidak ada kamera yang merekamnya. Tidak ada wartawan yang menunggunya.

Tidak ada media sosial tempat ia mengumumkan kejujurannya.

Ia mengembalikan uang itu karena Allah melihatnya.

Kejujuran yang paling tinggi bukanlah mengembalikan sesuatu ketika semua orang memperhatikan kita. Kejujuran adalah mengembalikan sesuatu ketika tidak seorang pun mengetahui bahwa kita seharusnya mengembalikannya.

Nama tukang jahit itu adalah Rajab Ali Nekuguyan, lebih dikenal sebagai Syekh Rajab Ali Khayyat. Kata khayyat berarti penjahit.

Ia bukan ulama lulusan hauzah. Ia tidak memiliki pendidikan akademik keagamaan seperti para faqih. Gelar “Syekh” yang melekat pada namanya bukan jabatan formal, melainkan penghormatan orang-orang yang menyaksikan kedalaman ruhani dan kejernihan hatinya.

Ia tinggal di sebuah rumah bata sederhana di kawasan tua Teheran. Ketika hujan turun, atap rumahnya bocor. Ember dan baskom harus diletakkan untuk menampung air. Seorang pejabat militer pernah membelikannya sebidang tanah agar ia dapat memiliki rumah yang lebih layak.

Syekh Rajab Ali menolaknya.

“Apa yang kami miliki telah mencukupi.”

Ia tetap tinggal di rumah itu. Tetap duduk di depan mesin jahitnya. Tetap memegang kain, gunting, jarum, dan benang. Bahkan beberapa jam sebelum wafat, ia masih memikirkan pekerjaan dan hak pelanggannya.

Namun ke rumah sederhana itu datang para ulama, dosen, pejabat, mahasiswa, dan kaum terpelajar. Mereka tidak datang hanya untuk menjahitkan pakaian.
Mereka datang membawa pertanyaan tentang jiwa, keikhlasan, cinta kepada Allah, dan jalan membersihkan hati.

Ia menjahit jubah para ulama. Namun sebagian ulama datang kepadanya agar ia membantu menjahit kembali hati mereka yang robek.

Ruang jahitnya menjadi madrasah. Meja kerjanya menjadi tempat ujian. Mesin jahitnya menjadi mimbar tanpa suara. Uang pelanggan menjadi ayat yang harus dibacanya dengan benar.

Tangannya bekerja dengan kain, tetapi yang sesungguhnya dijahitnya setiap hari adalah hatinya sendiri.

Setiap jahitan pada pakaian pelanggan menjadi latihan agar tidak ada sobekan dalam hubungannya dengan Allah. Setiap uang yang diterimanya diperiksa, bukan hanya jumlahnya, tetapi juga jalan masuknya.

“Apakah uang ini benar-benar pantas untukku?”

“Apakah ada hak orang lain yang terbawa bersamanya?”

“Apakah aku menerimanya karena memang menjadi hakku, atau karena orang lain tidak mengetahui bahwa sebagian darinya patut dikembalikan?”

Imam Ali as berkata:

الْإِنْصَافُ أَفْضَلُ الْفَضَائِلِ

“Insaf adalah seutama-utamanya kebajikan.”

Insaf bukan sekadar berbuat baik kepada orang lain. Insaf adalah keberanian menggunakan timbangan yang sama ketika menilai hak diri sendiri dan hak manusia lain.

Kebanyakan manusia sangat teliti ketika menghitung apa yang menjadi haknya, tetapi tiba-tiba kehilangan kecermatan ketika menghitung hak orang lain.

Ketika menjadi pekerja, ia menuntut upah penuh.

Ketika menjadi pemberi kerja, ia mencari alasan untuk menguranginya.

Ketika menjual, ia mengingat seluruh kelebihan barangnya.

Ketika membeli, ia hanya membicarakan kekurangannya.

Syekh Rajab Ali menggunakan timbangan yang sama untuk dirinya dan orang lain—bahkan ketika timbangan itu membuat uang yang dibawanya pulang menjadi lebih sedikit.

Barangkali di situlah letak rahasianya.

Dalam kesaksian keluarga, murid, dan orang-orang dekatnya, Syekh Rajab Ali dikenal sebagai seorang arif yang dianugerahi bashirah, kedekatan ruhani, dan sejumlah perjumpaan dengan Imam Mahdi afs.

Pengalaman seperti itu tentu bersifat pribadi. Ia bukan hadis musnad yang harus menjadi dasar akidah dan tidak dapat diuji sebagaimana peristiwa lahiriah. Namun ada satu cara untuk menilai pengalaman ruhani seseorang: perhatikan buah yang dilahirkannya.

Apakah ia menjadi sombong?

Apakah ia menjual cerita perjumpaannya?

Apakah ia membangun kebesaran pribadi?

Apakah ia meninggalkan pekerjaan sederhana lalu meminta orang lain melayaninya?

Syekh Rajab Ali tidak melakukan semua itu.

Semakin dihormati, ia justru semakin menyembunyikan diri. Semakin banyak orang datang, kehidupannya tetap sederhana. Ia tidak mendirikan singgasana spiritual.
Ia tidak menjadikan kedekatan dengan Imam sebagai komoditas. Ia tetap duduk di depan mesin jahitnya dan mencari nafkah untuk keluarganya.

Ia memahami bahwa kemuliaan bukanlah ketika manusia mengetahui kita dekat dengan Imam, melainkan ketika akhlak kita tidak membuat Imam menjauh.

Kecintaannya kepada Imam Zaman afs juga bukan sesuatu yang disembunyikan. Murid-muridnya menuturkan bahwa majelisnya tidak pernah berlalu tanpa penghormatan kepada Imam Mahdi dan doa bagi percepatan kezuhurannya.

Ketika nama Imam Zaman disebut, ia sering terharu dan menangis.

Ia mengingatkan murid-muridnya:

“Banyak orang mengatakan bahwa mereka mencintai Imam Zaman lebih daripada diri mereka sendiri. Jika benar demikian, semestinya mereka lebih banyak bekerja untuk Imam daripada untuk kepentingan dirinya.”

Inilah penantian menurut Syekh Rajab Ali.

Bukan sekadar menghitung hari menuju kemunculan Imam, tetapi membersihkan diri agar tidak menjadi bagian dari masalah yang kelak harus diperbaiki Imam.

Bukan hanya membaca doa agar Imam datang, tetapi menghadirkan nilai-nilai Imam sebelum kedatangannya.

Bagaimana mungkin seseorang merindukan Imam Keadilan, tetapi menunda upah pekerjanya?

Bagaimana mungkin seseorang berdoa bagi kezuhuran Imam Mahdi, tetapi memanfaatkan ketidaktahuan pelanggan?

Bagaimana mungkin seseorang mengaku siap menjadi penolongnya, tetapi merasa menang ketika berhasil memperoleh sesuatu melebihi yang pantas diterimanya?

Kita sering membayangkan jalan menuju Imam Mahdi dimulai dari perjalanan jauh, riyadhah berat, atau amalan yang tidak sanggup dilakukan kebanyakan manusia.

Padahal boleh jadi jalan itu bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: beberapa keping uang yang sebenarnya dapat kita ambil, tetapi kita kembalikan karena takut kepada Allah.

Menjelang akhir kehidupannya, Syekh Rajab Ali masih bekerja sebagai penjahit.

Sehari sebelum wafat, ia pulang ke rumah, berwudu, lalu memanggil putranya.

“Jika pelanggan itu datang mengambil pakaiannya, sisa kainnya ada di dalam kantong. Jangan lupa diberikan kepadanya. Upahnya tiga puluh tuman.”

Ia sedang berada di ambang kematian. Namun yang masih diingatnya adalah sisa kain milik pelanggan dan jumlah upah yang harus dibayarkan.

Sisa kain itu mungkin tidak berharga bagi orang lain. Tetapi ia bukan miliknya.

Tiga puluh tuman mungkin jumlah kecil. Tetapi ia akan ditanya dari mana memperolehnya.

Beginilah seseorang mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Imam: bukan dengan mengumumkan pengalaman-pengalaman gaib, melainkan dengan memastikan tidak ada hak manusia yang terbawa ketika ia menghadap Allah.

Tidak lama kemudian, keadaannya melemah. Ia berwudu dan duduk menghadap kiblat.

Orang-orang terdekat berkumpul di sekelilingnya.

Tiba-tiba tubuhnya yang lemah bangkit. Wajahnya berubah cerah. Ia memandang ke arah yang tidak dapat dilihat orang lain, lalu tersenyum.

“Āqā Jān… khusy āmadīd.”

“Tuanku tercinta… selamat datang.”

Setelah itu, ia kembali berbaring dan meninggalkan dunia.

Orang-orang terdekatnya memahami bahwa tamu yang disambutnya dengan penuh cinta itu adalah Imam Zaman afs.

Sepanjang hidup ia merindukan Imam.

Sepanjang hidup ia berusaha agar pekerjaannya tidak melukai hati Imam.

Dan ketika tidak lagi mampu melangkah untuk menemui Imam, ia menyambut seseorang yang datang menemuinya.

Syekh Rajab Ali Khayyat memang seorang tukang jahit.

Namun Allah tidak menilai manusia dari pakaian yang dikenakannya, gelar yang ditulis di depan namanya, atau mimbar tempat ia berbicara. Allah melihat apa yang dilakukan pekerjaannya terhadap jiwanya.

Ada orang yang setiap hari menjahit pakaian, tetapi benang-benang dunia justru mengikat hatinya.

Ada pula orang seperti Syekh Rajab Ali: ia menjahit pakaian manusia sambil perlahan melepaskan jiwanya dari dunia.

Orang lain menjahit jubah agar tubuh tampak mulia.

Ia menjahit hatinya agar layak dipandang oleh Imam.

Bertanyalah dengan lebih jujur:

“Akhlak apa yang harus kubangun agar Imam Mahdi berkenan menjumpaiku?”

Barangkali kita belum memerlukan amalan yang lebih banyak. Barangkali kita terlebih dahulu memerlukan kejujuran yang lebih dalam.

Sebab terkadang hijab yang menghalangi kita dari cahaya bukanlah kurangnya doa, melainkan beberapa keping uang yang kita ambil meskipun hati mengetahui bahwa kita tidak pantas mengambilnya.

Syekh Rajab Ali tidak membawa pulang dua puluh tuman itu.

Namun boleh jadi, justru karena uang yang tidak dibawanya pulang itulah, namanya dibawa naik ke langit.

Ia hanyalah seorang tukang jahit di mata manusia.

Tetapi jahitan terindahnya bukanlah pakaian para ulama.

Jahitan terindahnya adalah dirinya sendiri.

TUKANG JAHIT

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan:

Kisah dan keterangan mengenai Syekh Rajab Ali Khayyat dinukil dari Kīmiyā-ye Maḥabbat (The Elixir of Love) karya Ayatullah Muhammad Muhammadi Reyshahri, terutama bagian tentang pekerjaan dan keadilannya⁠, pendidikan ruhaninya⁠, kecintaannya kepada Imam Zaman⁠, dan saat-saat terakhir kehidupannya⁠.
Dialog pada bagian awal saya kembangkan secara naratif tanpa mengubah inti kisah

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DP4fePxPJ/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us