Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Pembukaan dan Peringatan Maulid Sayyidah Zainab as
Ustadz menyambut pemirsa pada malam Jumat, 5 Jumadil Ula, yang merupakan hari penuh berkah karena bertepatan dengan Maulid Sayyidah Zainab as, cucu Rasulullah saw dan putri dari Imam Ali as serta Sayyidah Fatimah as.
Sayyidah Zainab dikenal sebagai sosok yang mendampingi Imam Husain as dalam tragedi Karbala dan wafat pada 15 Rajab tahun 62 Hijriah.
Rasulullah saw sendiri pernah berpesan agar umatnya menghormati Sayyidah Zainab karena kedudukannya yang setara dengan Khadijah Al-Kubra.
Keagungan Walayah Sayyidah Zainab as
Sayyidah Zainab adalah ahli tauhid sejati yang telah mencapai derajat Walayah. Beliau dijuluki Abidatu Ali Muhammad (perempuan ahli ibadah dari keluarga Muhammad) karena keteguhannya dalam beribadah.
Bahkan pada malam-malam paling kelam setelah syahidnya Imam Husain as di Karbala, beliau tidak pernah meninggalkan salat tahajud.
Sebelum syahid, Imam Husain as sempat berpesan, “Wahai adikku, jangan lupakan aku dalam salat malammu”.
Salah satu karakteristik utama Sayyidah Zainab adalah sifat Berkhidmat (pelayanan) dan Itsar (mendahulukan kepentingan orang lain demi kebahagiaan mereka).
Di Karbala, beliau memberikan jatah air dan makanannya kepada anak-anak yang kelaparan, bahkan menjadi tameng saat mereka akan dicambuk.
Puncak dari keteguhan tauhidnya adalah ucapannya yang terkenal di hadapan Ubaidillah bin Ziyad: “Ma raitu illa jamilah”—tidaklah aku melihat apa pun (dalam tragedi Karbala) kecuali keindahan.
Hal ini menunjukkan beliau telah mencapai derajat Tauhid Af’al, Shifat, Asma, dan Dzat, di mana segala kejadian dilihat sebagai perwujudan keindahan Allah swt.
Silsilah Irfan dan Kisah Sang Penenun
Pembahasan beralih pada kitab Risalah Al-Walayah dan Lubb al-Lubab (Kernel of the Kernel) yang merupakan catatan kuliah Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i.
Realitas Irfan ini bersumber dari Imam Ali as, yang kemudian menyebar melalui lebih dari 100 tarekat.
Silsilah keilmuan Sayyid Tabataba’i memiliki kisah unik yang bermula dari Sayyid Ali Sustari, seorang ulama terkemuka dan otoritas agama di kota Shushtar.
Suatu hari, seorang penenun misterius mengetuk pintu rumah Sayyid Ali Sustari dan memberitahu bahwa keputusan hukum yang beliau buat terkait tanah seorang anak yatim adalah salah.
Setelah diselidiki, ternyata benar bahwa saksi dalam kasus tersebut telah berbohong.
Sang penenun tersebut kemudian mendatangi Sayyid Ali Sustari berkali-kali dan berkata, “Jalan yang kau tempuh (saat ini) bukanlah jalan yang benar”.
Atas perintah sang penenun, Sayyid Ali Sustari menjual seluruh hartanya dan pindah ke Najaf, Irak.
Di sana, beliau dibimbing secara spiritual oleh sang penenun hingga mencapai maqom yang sangat tinggi.
Silsilah ini kemudian turun kepada Mulla Husein Quli Hamadani, lalu ke Sayyid Ahmad Karbala’i, hingga akhirnya sampai kepada Sayyid Tabataba’i.
Identitas sang penenun sendiri tidak diketahui pasti, namun diyakini sebagai utusan atau pancaran cahaya dari Imam Zaman as.
Metode Praktis Menuju Tauhid dan Walayah
Jalan Walayah didasarkan pada pengenalan diri (Ma’rifatun Nafs) sesuai hadis: “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya”. Tahap-tahapannya meliputi:
- Muraqabah:
Perasaan terus-menerus diawasi oleh Allah swt dalam setiap ruang dan waktu. Jika kita tahu “Kekasih” (Allah) selalu menatap, maka kita akan berperilaku sebaik mungkin. - Konsentrasi pada Jiwa:
Menyadari bahwa keragaman dunia ini sebenarnya terpancar dari satu sumber tunggal, yaitu Allah swt. - Menggeser Orientasi (Akbaruhammuna):
Mengalihkan fokus pikiran dari dunia kepada akhirat. Dunia didefinisikan sebagai segala sesuatu yang menjauhkan diri dari Allah, sedangkan akhirat adalah segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. - Takhalli dan Tahalli:
Takhalli adalah membersihkan hati dari karakter buruk (seperti cinta dunia, hasad, dan ujub), sementara Tahalli adalah menghias diri dengan akhlak Tuhan.
Berkhidmat: Jalan Pintas Menuju Allah
Pembicara menekankan bahwa cara paling cepat dan mudah (bypass) untuk mencapai Walayah adalah dengan berkhidmat pada sesama manusia.
Rasulullah saw bersabda bahwa memenuhi keperluan seorang mukmin lebih dicintai Allah daripada melakukan 20 kali haji yang penuh sedekah.
Allah mencintai makhluk yang paling santun dan senang melayani keluarga-Nya (sesama makhluk).
Contoh nyata dari jalan khidmat ini adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang selama masa santrinya di Kiai Kholil Bangkalan mengabdi dengan mencuci pakaian gurunya.
Abu Said Abdul Khoir juga menyatakan bahwa meskipun ada orang yang bisa terbang atau berjalan di atas air (yang juga bisa dilakukan lalat dan katak), jalan yang paling dekat kepada Tuhan adalah membahagiakan orang lain.
Sebagai penutup, ditekankan kembali tiga poin utama: keteladanan Sayyidah Zainab dalam Itsar, sejarah silsilah Irfan yang terjaga, dan pentingnya pengenalan diri melalui pelayanan kepada sesama.
Ceramah diakhiri dengan doa dan pembacaan Al-Fatihah untuk para guru serta almarhum ayah pembicara.

Bersama : DR Dimitri Mahayana
Ngaji Kitab Risalah Al-Walâyah
Kamis, 9 Desember 2021
Mulai jam 19.30 WIB (malam Jumat)
Tema :
Risalah Al-Walaayah: Dzat, Asma, Shifat, Af’al.
Judul video: Risalah Al-Walaayah: Dzat, Asma, Shifat, Af’al – Watch on Youtube


