Pedang Ali Tidak Dihunus untuk Melampiaskan Kebencian
Fajar belum sepenuhnya lahir di Shiffin.
Garis tipis berwarna merah membelah ufuk. Ribuan tombak berdiri dalam keremangan seperti hutan yang tumbuh dari tanah. Kuda-kuda meringkik, mengembuskan napas berat ke udara pagi. Perisai diperiksa. Tali pelana dikencangkan. Anak-anak panah dimasukkan ke dalam tabung kulit.
Di hadapan pasukan Irak, pasukan Syam telah membentuk barisan.
Jarak antara kedua pasukan semakin mengecil.
Begitu dekat sehingga debu yang diterbangkan kaki kuda dari satu pihak dapat dirasakan oleh pihak lainnya. Begitu dekat sehingga teriakan dari barisan depan dapat terdengar menyeberangi medan.
Ribuan manusia berdiri dengan pedang terhunus.
Satu anak panah saja dapat memulai semuanya.
Satu teriakan yang keliru dapat melepaskan ribuan kuda.
Satu tangan yang kehilangan kesabaran dapat mengubah padang itu menjadi lautan darah.
Tetapi sebelum pertempuran dimulai, Imam Ali bin Abi Thalib berdiri di hadapan pasukannya.
Ia tidak hanya akan menentukan bagaimana mereka bertempur.
Ia akan menentukan manusia seperti apa yang boleh keluar dari peperangan itu.
Para panglima berkumpul. Barisan merapat. Suara gesekan besi perlahan menghilang. Ribuan wajah menoleh kepada satu pusat.
Kemudian suara Ali terdengar:
«“Janganlah kalian memerangi mereka sebelum mereka memulai peperangan.”»
Kalimat itu meluncur di tengah pasukan yang telah menunggu begitu lama.
Mereka datang membawa pedang.
Tetapi perintah pertama Ali justru melarang pedang itu bergerak.
Bukan karena pasukannya lemah.
Bukan karena mereka takut.
Bukan pula karena Ali meragukan kebenaran yang diperjuangkannya.
Ia melanjutkan:
«“Sebab, segala puji bagi Allah, kalian berada di atas hujah. Membiarkan mereka sampai mereka memulai peperangan akan menjadi hujah lain bagi kalian terhadap mereka.”»
Ali sedang menetapkan garis yang tidak boleh dilanggar.
Kebenaran tidak memerlukan provokasi.
Keadilan tidak harus memulai pertumpahan darah untuk membuktikan kekuatannya.
Jika lawan memilih menahan pedang, Ali masih menyediakan ruang bagi perdamaian. Namun apabila mereka menyerang, sejarah akan mengetahui siapa yang membuka pintu kematian.
Matahari perlahan naik.
Cahayanya memantul pada ribuan mata pedang. Panji-panji berkibar semakin keras diterpa angin. Di kejauhan, barisan lawan mulai bergerak.
Namun pasukan Ali tetap berdiri.
Mereka menunggu.
Tidak ada anak panah yang dilepaskan.
Tidak ada pasukan berkuda yang diperintahkan menerjang.
Inilah pasukan yang kekuatannya diuji bahkan sebelum berhadapan dengan musuh: mampukah mereka menguasai amarah ketika seluruh tubuh telah siap menyerang?
Sebab bagi Ali, keberanian bukan hanya kesanggupan untuk maju.
Keberanian juga merupakan kesanggupan untuk tetap diam ketika seseorang memiliki kemampuan untuk menghancurkan.
Tetapi Ali mengetahui sesuatu yang sering dilupakan para panglima.
Perang tidak hanya berbahaya ketika seseorang kalah.
Perang juga berbahaya ketika seseorang menang.
Kekalahan dapat menghancurkan tubuh. Namun kemenangan dapat menghancurkan jiwa. Ketika lawan mulai berlari, rasa takut berubah menjadi kesombongan. Ketika musuh menjatuhkan pedang, perjuangan menegakkan kebenaran dapat berubah menjadi pesta pembalasan.
Karena itu, sebelum pertempuran pecah, Ali telah membawa pasukannya melampaui saat kemenangan.
Ia memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan ketika lawan tidak lagi mampu melawan.
«“Apabila dengan izin Allah mereka dikalahkan, janganlah kalian membunuh orang yang melarikan diri.”»
Sebuah perintah yang mengejutkan.
Dalam keganasan perang, punggung musuh yang berlari merupakan sasaran termudah. Ia tidak lagi menatap penyerangnya. Ia tidak lagi dapat melihat pedang yang datang dari belakang.
Tetapi Ali melarangnya.
Orang yang telah meninggalkan medan bukan lagi ancaman yang harus dibunuh.
Ia mungkin musuh beberapa saat sebelumnya. Namun ketika ia membalikkan tubuh dan melarikan diri, pedang Ali tidak diperbolehkan mengejar punggungnya.
Perintah berikutnya datang:
«“Jangan menyerang orang yang sudah tidak berdaya.”»
Pertempuran bukan pembantaian.
Kemenangan bukan izin untuk menghabisi manusia yang telah kehilangan kemampuan membela dirinya.
Lalu Ali menambahkan:
«“Jangan kalian menghabisi orang yang terluka.”»
Bayangkan kedahsyatan perintah itu.
Ketika debu memenuhi udara, tubuh-tubuh tergeletak dan suara benturan besi menutup suara hati, Ali memerintahkan tentaranya untuk tetap dapat membedakan antara musuh yang masih menyerang dan manusia terluka yang tidak lagi berdaya.
Pedang harus berhenti ketika perlawanan berhenti.
Ali sedang mengajari mereka bahwa musuh tetaplah manusia.
Darahnya tidak menjadi murah hanya karena ia berdiri di barisan yang salah. Tubuhnya tidak kehilangan kehormatan hanya karena beberapa saat sebelumnya ia mengangkat senjata.
Ali berperang melawan pemberontakan dan kebatilan.
Ia tidak berperang melawan kemanusiaan.
Tetapi perintah itu belum selesai.
Di tengah kebisingan perang, bukan hanya pedang yang dapat melukai. Cacian dapat membakar amarah. Penghinaan dapat membuat seorang prajurit kehilangan kendali. Kata-kata dapat menembus tempat yang tidak mampu dijangkau tombak.
Ali mengetahui bahwa dalam rombongan lawan mungkin terdapat perempuan yang berteriak, mencaci, atau menghina pasukannya.
Karena itu ia berkata:
«“Janganlah kalian menyakiti perempuan, sekalipun mereka mencela kehormatan kalian dengan kata-kata kotor dan mencaci para pemimpin kalian.”»
Seorang prajurit mungkin mampu menahan luka di tubuhnya.
Namun belum tentu ia mampu menahan penghinaan terhadap harga dirinya.
Ali mengetahui itu.
Tetapi justru di sanalah akhlak diuji.
Ia mengingatkan bahwa perempuan-perempuan tersebut bukan lawan seimbang di medan pertempuran. Kelemahan fisik mereka tidak boleh dijadikan kesempatan untuk membalas cacian dengan kekerasan.
Kemudian Ali membawa pasukannya kembali kepada ajaran Rasulullah:
«“Sesungguhnya dahulu kami diperintahkan untuk menahan diri dari mereka, sekalipun mereka masih musyrik.”»
Perintah itu bukan lahir karena perang saudara sedang terjadi.
Ia telah diajarkan sejak masa Rasulullah—bahkan ketika kaum Muslim berhadapan dengan masyarakat yang belum menerima Islam.
Ali lalu mengingatkan sebuah ukuran kehormatan yang bahkan telah dikenal oleh bangsa Arab sebelum datangnya Islam:
«“Pada masa jahiliah, apabila seorang lelaki memukul perempuan dengan batu atau tongkat, ia akan dicela, bahkan keturunannya akan menanggung aib setelahnya.”»
Betapa menohoknya kalimat itu.
Jika masyarakat jahiliah saja memandang kekerasan terhadap perempuan sebagai kehinaan, bagaimana mungkin pasukan yang mengaku membela Islam melakukannya?
Pasukan itu terdiam.
Mereka datang menunggu perintah tentang cara mengalahkan musuh.
Ali justru mengajari mereka bagaimana tidak berubah menjadi musuh bagi nilai-nilai yang mereka bela.
Ia tidak hanya memberikan strategi perang.
Ia memasang pagar di sekeliling kemenangan:
- Jangan memulai serangan.
- Jangan membunuh yang melarikan diri.
- Jangan menyerang yang tidak berdaya.
- Jangan menghabisi yang terluka.
- Jangan menyakiti perempuan, bahkan ketika lidah mereka menyakitimu.
Lima larangan.
Lima batas yang memisahkan pasukan keadilan dari pasukan yang hanya menginginkan kemenangan.
Sebab setiap orang dapat tampak beradab ketika keadaan tenang. Setiap orang dapat berbicara tentang kasih sayang ketika tangannya tidak memegang kekuasaan.
Namun akhlak sejati terlihat ketika seseorang mampu membalas—tetapi memilih menahan dirinya.
Keadilan diuji bukan ketika kita lemah, melainkan ketika musuh telah jatuh di hadapan kita.
Di Shiffin, Ali memperlihatkan bahwa kemenangan tidak menghapus hukum.
Amarah tidak membatalkan akhlak.
Dan penderitaan yang ditimbulkan musuh tidak memberikan hak untuk berubah menjadi sama kejamnya dengan musuh.
Bagi Ali, perang memiliki tujuan yang terbatas: menghentikan penindasan dan mengembalikan kebenaran ke tempatnya.
Ketika tujuan itu tercapai, pedang harus berhenti.
Perang tidak boleh menjadi pintu bagi dendam pribadi. Ia tidak boleh menjadi kesempatan untuk membunuh orang yang tak lagi melawan. Ia tidak boleh menjadi alasan bagi orang kuat untuk menyakiti yang lemah.
Di kejauhan, derap pasukan lawan semakin keras.
Tanah mulai bergetar.
Debu naik menutupi kaki-kaki kuda. Teriakan memenuhi udara. Anak-anak panah pertama bersiap dilepaskan.
Pasukan Ali menunggu.
Mereka tidak bergerak mendahului.
Namun ketika serangan akhirnya datang, mereka mengetahui dua hal yang sama pentingnya:
Mereka tahu kapan harus mengangkat pedang.
Dan mereka tahu kapan pedang itu wajib diturunkan.
Hari itu, Shiffin tidak hanya menjadi medan pertempuran antara dua pasukan.
Ia menjadi medan pertarungan antara dua cara memahami kekuasaan.
Ada kekuasaan yang percaya bahwa kemenangan membuatnya berhak melakukan apa saja.
Ada pula kekuasaan yang diajarkan Ali—kekuasaan yang justru semakin terikat kepada keadilan ketika ia semakin kuat.
Panglima lain mungkin mengajari pasukannya cara membunuh.
Ali mengajari pasukannya batas-batas yang tidak boleh dilanggar ketika membunuh menjadi mungkin.
Panglima lain mungkin berkata:
“Jangan sisakan seorang pun.”
Ali berkata:
«“Jangan bunuh mereka yang melarikan diri. Jangan serang mereka yang tak berdaya. Jangan habisi mereka yang terluka.”»
Di situlah perbedaan seorang penakluk dengan seorang Imam.
Penakluk ingin memenangkan medan.
Imam Ali ingin memastikan bahwa setelah memenangkan medan, pasukannya tidak kehilangan jiwanya.
Sebab kemenangan terbesar bukan ketika musuh jatuh di bawah kakimu.
Kemenangan terbesar adalah ketika musuh telah jatuh—tetapi kebencian tidak berhasil menjatuhkan kemanusiaanmu.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan Rujukan: Pokok perintah Imam Ali kepada pasukannya bersumber dari Nahjul Balaghah, Surat 14, yang diberikan menjelang pertempuran Shiffin. Teksnya memuat larangan memulai pertempuran, membunuh orang yang melarikan diri, menyerang orang tak berdaya, menghabisi yang terluka, dan menyakiti perempuan. “Nahjul Balaghah, Surat 14”.
Gambaran fajar, susunan pasukan, gerak kuda, dan reaksi para prajurit merupakan dramatisasi sastra. Inti perintah dan batas-batas peperangan yang disampaikan Imam Ali mengikuti teks sumber.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DcHirshJr/

