24 September 2026
Rasulullah ﷺ telah wafat.
Namun bagi orang-orang yang pernah berdiri di belakang beliau, kehilangan itu tidak hanya tinggal sebagai kesedihan. Ia menetap di dalam pendengaran, di dalam pandangan, bahkan di dalam gerakan tubuh.
Mereka masih mengingat suara takbir beliau.
Mereka masih mengingat bagaimana beliau turun bersujud, mengangkat kepala, kemudian bangkit untuk melanjutkan salat.
Ada kenangan yang dapat diceritakan dengan kata-kata. Namun ada pula kenangan yang hanya akan terbangun ketika seseorang melihat gerakan yang sama, mendengar irama yang sama, dan merasakan kembali suasana yang pernah menyentuh jiwanya.
Kenangan semacam itulah yang dibawa oleh ‘Imran bin Hushain.
Hari itu, di Basrah, kaum Muslimin berdiri dalam barisan salat.
Di antara mereka terdapat ‘Imran bin Hushain dan Mutharrif bin ‘Abdullah. Keduanya berdiri sebagai makmum, sementara di hadapan mereka Ali bin Abi Thalib bersiap memimpin salat.
Ali mengangkat takbir.
“Allahu Akbar.”
Jemaah pun mengikutinya.
Salat berlangsung dalam ketenangan. Tidak ada pidato. Tidak ada perdebatan. Tidak ada orang yang sedang menjelaskan keutamaan dirinya.
Ali hanya berdiri menghadap Allah.
Namun ketika ia mulai berpindah dari satu gerakan menuju gerakan berikutnya, sesuatu bergerak di dalam dada ‘Imran.
Ketika Ali turun bersujud, ia mengucapkan takbir.
“Allahu Akbar.”
Ketika ia mengangkat kepalanya dari sujud, ia kembali mengucapkan takbir.
“Allahu Akbar.”
Ketika ia bangkit setelah dua rakaat, suara takbir itu kembali terdengar.
“Allahu Akbar.”
Gerakan demi gerakan tersambung oleh pengagungan kepada Allah. Tidak ada perpindahan yang dibiarkan kehilangan ingatannya kepada Sang Mahabesar.
Bagi sebagian orang di dalam masjid, semuanya mungkin tampak biasa.
Namun tidak bagi ‘Imran.
Setiap takbir yang terdengar seakan mengetuk sebuah pintu lama di dalam ingatannya.
Tahun-tahun seolah tersingkap.
Ali masih berdiri di hadapan mereka, tetapi di dalam kenangan ‘Imran, hadir kembali sosok lain—sosok yang dahulu berdiri sebagai imam, sementara para sahabat merapatkan barisan di belakangnya.
Muhammad Rasulullah ﷺ.
Bukan karena suara Ali sama dengan suara beliau.
Bukan pula karena wajah keduanya serupa.
Yang dikenali ‘Imran adalah jejak ibadahnya.
Irama takbir itu.
Ketertiban gerakannya.
Cara seorang hamba berpindah dari berdiri menuju sujud, dari sujud menuju duduk, kemudian bangkit kembali seraya mengagungkan Allah.
Tubuh dapat menyimpan pelajaran yang tidak lagi mampu dijelaskan oleh lidah. Gerakan yang dilakukan berulang-ulang bersama seorang guru akan menetap jauh di dalam diri. Ia menjadi kebiasaan, watak, dan kesetiaan yang tidak memerlukan pertunjukan.
Ali tidak sedang mempertontonkan bahwa dirinya paling mengetahui salat Rasulullah.
Ia tidak menoleh untuk melihat siapa yang memperhatikannya.
Ia tidak mengubah salat menjadi panggung bagi kedudukannya.
Ia hanya salat.
Namun justru dalam ketidaksengajaan itulah kesaksian besar lahir.
Salat berakhir.
Ali mengucapkan salam. Keheningan yang selama beberapa saat menyelimuti barisan mulai terurai. Beberapa orang bersiap beranjak dari tempatnya.
Tetapi ‘Imran masih dikuasai oleh kenangan yang baru saja menyergapnya.
Ia meraih tangan Mutharrif.
Genggamannya seakan hendak memastikan bahwa apa yang baru mereka saksikan tidak berlalu begitu saja.
Kemudian ‘Imran berkata,
“Orang ini benar-benar telah mengingatkanku kepada salat Muhammad ﷺ.”
Dalam riwayat lain dari peristiwa itu, perkataannya disampaikan dengan susunan yang sedikit berbeda:
“Sungguh, ia telah mengimami kita dengan salat seperti salat Muhammad ﷺ.”
Mutharrif mendengarnya.
Dan sejarah menyimpan perkataan itu.
Tidak ada pasukan yang bergerak pada hari tersebut. Tidak ada gerbang kota yang ditaklukkan. Tidak ada pedang yang terhunus.
Hanya satu tangan menggenggam tangan yang lain, lalu seorang sahabat mengucapkan kesaksian tentang salat Ali.
Namun justru itulah kedahsyatannya.
‘Imran tidak mengenal Rasulullah ﷺ melalui buku-buku yang ditulis berabad-abad kemudian. Ia pernah melihat beliau. Ia pernah berdiri di belakang beliau. Telinganya pernah mendengar takbir beliau, dan tubuhnya pernah mengikuti gerakan salat beliau.
Ketika orang seperti itu berkata bahwa salat Ali mengingatkannya kepada salat Muhammad, perkataannya bukan pujian yang lahir dari kekaguman kosong.
Itu adalah pengenalan seorang saksi.
Ingatan tubuh terkadang lebih jujur daripada panjangnya perdebatan.
Orang dapat menghafalkan kata-kata yang bukan miliknya. Orang dapat mengenakan pakaian kesalehan. Orang bahkan dapat mengaku sebagai pembela Sunnah.
Namun ketika seseorang berdiri sendirian di hadapan Allah, kebiasaan yang tertanam di dalam dirinya akan berbicara.
Dan hari itu, tubuh Ali berbicara tentang Rasulullah.
Ali bukanlah orang yang mengenal ibadah Nabi dari kejauhan. Sejak masa awal kehidupannya, ia telah berada dekat dengan Muhammad. Ia melihat bahwa kenabian bukan hanya keberanian di medan pertempuran atau kefasihan ketika berbicara kepada manusia.
Kenabian juga hadir dalam keheningan salat.
Dalam tunduknya kepala.
Dalam rendahnya sujud.
Dalam takbir yang mengiringi setiap perpindahan seorang hamba di hadapan Tuhannya.
Apa yang telah disaksikan dan dijalani Ali bersama Rasulullah tidak berhenti sebagai pengetahuan di dalam kepala. Semuanya telah menjelma menjadi bagian dari dirinya.
Itulah sebabnya ‘Imran tidak berkata bahwa Ali baru saja menceritakan salat Muhammad.
Ia berkata bahwa Ali telah membuatnya mengingat salat Muhammad.
Perbedaannya sangat dalam.
Cerita dapat dipelajari dari orang lain. Tetapi sebuah laku yang membangunkan ingatan seorang saksi biasanya lahir dari kedekatan, pengulangan, dan kesetiaan yang panjang.
Di Basrah hari itu, Rasulullah ﷺ tidak kembali secara jasad.
Namun ketika Ali berdiri, bertakbir, bersujud, dan bangkit kembali, seorang sahabat merasa seakan dirinya kembali berada di belakang Nabi.
Betapa banyak manusia mengenang Rasulullah melalui peperangan-peperangan besar.
‘Imran mengenang beliau melalui takbir yang mungkin dianggap kecil.
Betapa banyak orang membicarakan Sunnah melalui perdebatan.
Ali memperlihatkannya tanpa berbicara.
Dan betapa banyak orang mengaku berjalan di atas jejak Muhammad.
Namun hari itu, seorang saksi yang pernah mengenal Rasulullah menunjuk jejak tersebut pada salat Ali.
Riwayat ini tidak mengatakan bahwa tidak seorang pun selain Ali mengetahui salat Nabi. Namun ia menyampaikan satu kenyataan yang tidak boleh dikecilkan:
Ketika ‘Imran bin Hushain mencari kembali salat Muhammad di dalam ingatannya, salat Ali-lah yang membangunkannya.
Maka pertanyaannya datang dengan perlahan, tetapi menghunjam:
Jika seorang sahabat yang pernah berdiri di belakang Rasulullah mengenali jejak ibadah beliau pada diri Ali, mengapa orang-orang yang mencari Sunnah Nabi justru sering melewati pintu Ali?
Mungkin Ali tidak pernah meminta manusia memujinya karena salat itu.
Mungkin ia bahkan tidak mengetahui bahwa di salah satu barisan terdapat seorang lelaki yang sedang menahan gelombang kerinduan kepada Rasulullah.
Ali hanya menghadap Allah sebagaimana yang telah dipelajarinya.
Tetapi setelah salam diucapkan, sejarah memberikan kesaksiannya melalui mulut ‘Imran:
“Dalam salatmu, aku mengingat Rasulullah.”
Rasulullah ﷺ telah wafat.
Namun selama jejak ibadah beliau masih dikenali dalam diri Ali, salat Muhammad belum lenyap dari bumi.
Dalam salat
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan sumber:
Inti peristiwa ini diriwayatkan dalam “Shahih al-Bukhari no. 786”: Mutharrif bin ‘Abdullah salat di belakang Ali bersama ‘Imran bin Hushain. Ali bertakbir ketika bersujud, mengangkat kepala, dan bangkit setelah dua rakaat. Seusai salat, ‘Imran menggenggam tangan Mutharrif dan menyatakan bahwa salat tersebut mengingatkannya kepada salat Muhammad ﷺ.
Riwayat paralel dalam “Shahih al-Bukhari no. 784” menyebutkan bahwa peristiwa itu berlangsung di Basrah dan bahwa Ali bertakbir setiap kali bangkit maupun turun. Peristiwa yang sama juga diriwayatkan dalam “Sunan an-Nasa’i no. 1082”.
Suasana masjid, pergulatan batin ‘Imran, dan penggambaran kenangannya merupakan rekonstruksi sastra. Tindakan Ali dalam salat, genggaman tangan ‘Imran, dan ucapannya kepada Mutharrif bersumber dari riwayat-riwayat tersebut

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us