Ketika Mereka Memberikan Seluruh Makanannya—Lalu Langit Mengabadikannya
Tidak semua kedahsyatan Ali terjadi di medan perang.
Tidak semuanya disaksikan ribuan pasukan.
Ada sebuah peristiwa yang hanya disaksikan oleh sebuah rumah kecil, beberapa potong roti, dan tiga orang lapar yang datang mengetuk pintu.
Tidak ada gemuruh kuda.
Tidak ada denting pedang.
Namun dari rumah itulah turun ayat-ayat yang hingga hari kiamat akan dibaca oleh manusia.
Imam Hasan dan Imam Husain sedang sakit.
Tubuh kedua cucu Rasulullah saw. itu melemah. Kegembiraan seakan menghilang dari rumah Fatimah. Rasulullah datang menjenguk mereka, sementara Ali dan Fatimah menjaga kedua putranya dengan hati yang diliputi kecemasan.
Ali dan Fatimah kemudian bernazar:
Jika Allah menyembuhkan Hasan dan Husain, mereka akan berpuasa selama tiga hari sebagai ungkapan syukur.
Allah memberikan kesembuhan.
Senyum kembali terlihat di wajah kedua anak itu.
Maka tibalah saat menunaikan nazar.
Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan Fiddhah mulai berpuasa.
Namun rumah itu bukan rumah seorang penguasa yang dipenuhi makanan.
Tidak ada hidangan mewah.
Tidak ada gudang gandum.
Hanya ada sedikit jelai yang kemudian digiling oleh tangan Fatimah dan dibuat menjadi beberapa potong roti.
Hari pertama berlalu.
Matahari perlahan tenggelam di balik Madinah.
Aroma roti sederhana memenuhi rumah kecil itu.
Ali duduk bersama Fatimah.
Hasan dan Husain yang baru sembuh menunggu waktu berbuka. Perut mereka telah kosong sejak fajar. Tubuh mereka mulai lemah.
Roti diletakkan di hadapan mereka.
Tinggal beberapa saat lagi sebelum makanan itu disentuh.
Tiba-tiba—
tok… tok… tok…
Seseorang mengetuk pintu.
Ali bangkit lalu membukanya.
Di luar berdiri seorang miskin.
Tubuhnya letih. Pakaiannya lusuh. Wajahnya menyimpan lapar yang mungkin telah berlangsung lebih lama daripada puasa penghuni rumah itu.
Ia berkata:
“Wahai keluarga Muhammad, aku adalah seorang miskin di antara kaum Muslimin. Berilah aku makanan. Semoga Allah memberi kalian makanan dari hidangan surga.”
Ali memandang makanan di dalam rumah.
Hanya itulah yang mereka miliki.
Jika diberikan, tidak akan ada makanan untuk berbuka.
Namun tidak terdengar perdebatan.
Tidak ada yang menyembunyikan rotinya.
Tidak seorang pun berkata, “Kita juga sedang lapar.”
Satu demi satu, roti itu dikumpulkan.
Seluruhnya diberikan kepada orang miskin tersebut.
Pintu kembali ditutup.
Malam pertama berlalu.
Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan Fiddhah berbuka hanya dengan air.
Mereka tidur dalam keadaan lapar.
Esoknya, mereka kembali berpuasa.
Siang terasa panjang.
Tubuh-tubuh yang belum memperoleh makanan sejak hari sebelumnya harus kembali menahan lapar hingga matahari terbenam.
Fatimah menggiling sisa jelai.
Tangannya menyiapkan roti untuk keluarganya.
Menjelang malam, makanan kembali diletakkan.
Hasan dan Husain memandang roti yang berada di hadapan mereka.
Dua hari telah mereka lalui hampir tanpa makanan.
Kemudian terdengar lagi—
tok… tok… tok…
Ali membuka pintu.
Kali ini, seorang anak berdiri di sana.
Ia tidak datang bersama ayahnya.
Sebab ia adalah seorang yatim.
Ia berkata:
“Wahai keluarga Muhammad, aku adalah anak yatim dari kaum Muslimin. Berilah aku makanan. Semoga Allah memberi kalian makanan dari hidangan surga.”
Di dalam rumah, keheningan kembali turun.
Seorang anak yang lapar sedang berdiri di luar.
Sementara di dalam, Hasan dan Husain—yang juga masih anak-anak—sedang menahan lapar.
Mereka dapat saja berkata:
“Kami pun masih kecil.”
Mereka dapat saja membagi sebagian makanan dan menyimpan sisanya.
Namun rumah Ali tidak mengajarkan cinta yang hanya mengutamakan diri sendiri.
Hasan dan Husain menyerahkan roti mereka.
Ali menyerahkan bagiannya.
Fatimah menyerahkan bagiannya.
Fiddhah pun melakukan hal yang sama.
Seluruh makanan diberikan kepada anak yatim itu.
Pintu kembali tertutup.
Untuk malam kedua, keluarga itu berbuka hanya dengan air.
Tubuh mereka semakin lemah.
Namun nazar belum selesai.
Hari ketiga tiba.
Mereka kembali berpuasa.
Matahari Madinah seakan membakar lebih keras. Lapar telah tinggal di dalam tubuh mereka selama berhari-hari. Langkah menjadi berat. Wajah-wajah mulai pucat.
Menjelang magrib, sisa jelai terakhir dibuat menjadi roti.
Inilah makanan terakhir di rumah itu.
Tidak ada lagi yang dapat digiling untuk esok hari.
Malam turun.
Roti kembali diletakkan di hadapan mereka.
Barangkali kali ini mereka dapat memakannya.
Barangkali malam ketiga ini pintu tidak akan diketuk.
Namun sebelum satu tangan pun menyentuh makanan—
tok… tok… tok…
Untuk ketiga kalinya, Ali berjalan menuju pintu.
Ketika pintu dibuka, berdirilah seorang tawanan.
Bukan kerabat mereka.
Bukan sahabat dekat mereka.
Bahkan mungkin bukan seseorang yang seiman dengan mereka.
Ia adalah seorang tahanan yang lapar.
Ia meminta makanan kepada rumah yang juga sedang kelaparan.
Ali dapat saja berkata:
“Engkau seorang tawanan.”
Ia dapat saja menutup pintu.
Namun orang yang berdiri di hadapan Ali tetaplah manusia.
Dan lapar tidak memiliki agama, suku, ataupun barisan perang.
Ali membawa makanan terakhir itu.
Fatimah menyerahkan rotinya.
Hasan dan Husain menyerahkan bagian mereka.
Fiddhah melakukan hal yang sama.
Seluruh makanan diberikan kepada tawanan tersebut.
Malam ketiga berlalu.
Untuk ketiga kalinya, mereka berbuka hanya dengan air.
Tidak ada manusia yang melihat pengorbanan itu.
Tidak ada pasukan yang bersorak.
Tidak ada penyair yang berdiri mengumumkan kemuliaan mereka.
Mereka juga tidak meminta orang miskin, anak yatim, dan tawanan itu mengingat nama mereka.
Tidak meminta pujian.
Tidak meminta balasan.
Bahkan tidak meminta ucapan terima kasih.
Pada hari berikutnya, Ali membawa Hasan dan Husain menemui Rasulullah saw.
Langkah kedua anak itu lemah.
Tubuh mereka gemetar karena lapar.
Ketika melihat keadaan mereka, hati Rasulullah tersayat.
Beliau pergi menuju rumah Fatimah.
Di sana, beliau melihat putrinya berada di tempat ibadahnya. Wajahnya pucat. Tubuhnya melemah karena tiga hari hampir tanpa makanan.
Rasulullah saw. menyaksikan keluarga yang paling dicintainya menahan lapar—
bukan karena tidak memiliki makanan semata,
melainkan karena setiap kali makanan berada di tangan mereka, mereka memilih memberikannya kepada orang lain.
Kemudian langit terbuka.
Jibril turun membawa firman Allah:
“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.”
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.”
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula ucapan terima kasih.”
—QS al-Insan: 7–9
Rumah kecil itu seketika menjadi lebih besar daripada istana mana pun.
Roti yang telah habis dimakan orang lain berubah menjadi ayat-ayat yang tidak akan pernah habis dibaca.
Allah kemudian menjanjikan kepada mereka taman-taman surga, pakaian sutra, keteduhan, mata air, bejana-bejana perak, dan minuman suci.
Mereka kehilangan tiga malam makanan—
tetapi Allah mengabadikan mereka sepanjang zaman.
Inilah Ali bin Abi Thalib.
Di Khaibar, tangannya menjebol pintu benteng.
Namun di Madinah, tangan yang sama membuka pintu rumahnya selama tiga malam.
Ketukan pertama datang dari seorang miskin.
Ketukan kedua datang dari seorang anak yatim.
Ketukan ketiga datang dari seorang tawanan.
Dan setiap kali pintu itu terbuka, Ali memberikan seluruh yang dimilikinya.
Kekuatan Ali ternyata bukan hanya ketika tangannya menggenggam pedang.
Kekuatan Ali juga terlihat ketika tangannya yang lapar melepaskan potongan roti terakhir.
Di Khaibar, Ali merobohkan sebuah benteng hingga bumi menyaksikan kedahsyatannya.
Namun dalam kisah tiga malam ini, Ali menaklukkan sesuatu yang jauh lebih kuat:
dirinya sendiri.
Tidak ada kemenangan yang lebih agung daripada mengalahkan rasa lapar demi mengenyangkan manusia lain.
Tidak ada kekayaan yang lebih besar daripada memberi ketika tidak memiliki apa-apa.
Dan tidak ada keikhlasan yang lebih murni daripada berbuat baik sambil berkata:
“Kami tidak menghendaki balasan darimu—bahkan tidak pula ucapan terima kasih.”
Tiga malam.
Tiga ketukan.
Beberapa potong roti.
Namun langit menjawabnya dengan surga.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan:
Kisah ini masyhur dalam tradisi tafsir Ahlul Bait sebagai sebab turunnya ayat 7–9 Surah al-Insan. Ia juga disebut dalam sejumlah literatur tafsir Sunni, meskipun penilaian terhadap sanad dan cakupan sebab turunnya diperselisihkan.
Uraiannya dapat dibaca dalam tafsir Surah al-Insan dan Tafsir Maududi. Adapun pemberian makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan ditegaskan langsung dalam QS al-Insan: 7–9
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1M5zgUtD1R/

