27 Oktober 2026

1. Review Ayat 18 & Teladan Ketawadhuan Rasulullah SAW serta Para Imam

Pembahasan pertemuan ketujuh ini diawali dengan mengulas kembali kelanjutan dari ayat ke-18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Larangan kesombongan ini ditegaskan melalui rekam jejak ketawadhuan para Kekasih Allah:

  • Kesederhanaan Rasulullah SAW di Tengah Masyarakat:
    • Ketika ada orang asing masuk ke Kota Madinah dan menemui majelis muslimin yang di dalamnya terdapat Rasulullah SAW, orang tersebut tidak dapat membedakan mana yang merupakan utusan Allah saking sederhananya penampilan beliau, hingga ia terpaksa bertanya: “Ayyukum Rasulullah?” (“Siapa di antara kalian yang Rasulullah?”).
    • Dalam perjalanan kafilah, saat rombongan berhenti untuk beristirahat dan memasak, Rasulullah SAW tidak berdiam diri. Beliau mengambil peran pekerjaan yang berat dengan bersabda: “Biarlah urusan mencari kayu bakar menjadi tugasku.”. Beliau menolak diperlakukan secara istimewa.
    • Dalam suatu pertemuan yang tidak memiliki alas/tikar sehingga sebagian sahabat duduk di atas tanah, Rasulullah SAW membentangkan kain abahnya sendiri di atas pasir dan meminta orang-orang duduk di atasnya.
    • Beliau bersedia menunggangi keledai tanpa pelana, memerah susu ternak sendiri, duduk bercengkerama bersama para budak, menyapa dan mengawali salam kepada anak-anak, menjahit baju dan sepatunya sendiri, menyapu rumah, serta tidak memilih-milih orang dalam berjabat tangan.
    • Beliau sangat menghormati rezeki Allah dan tidak pernah meremehkan hidangan apa pun yang disajikan di hadapannya.
  • Teladan Imam Ja’far ash-Shadiq:
    • Ketika hendak mandi di hamam (kamar mandi umum), para pengikutnya berusaha mengosongkan tempat tersebut khusus untuk beliau.
      Namun beliau menolak dan berkata: “Tidak perlu, biarkan semuanya mandi di tempatnya. Seorang mukmin tidak membutuhkan perlakuan khusus seperti itu.” (La haja lil-mukmin dzalik).
      Ini menegaskan prinsip persamaan derajat manusia dalam Islam.
  • Teladan Imam Ali ar-Rida:
    • Beliau senantiasa menolak jika tempat makannya dipisahkan dari para pelayan atau masyarakat awam.
    • Di kamar mandi umum, seorang yang tidak mengenali beliau meminta bantuan untuk membersihkan dakinya. Beliau membantu orang tersebut tanpa ragu.
      Ketika orang itu kemudian menyadari siapa beliau dan meminta maaf karena malu, Imam Ali ar-Rida menenangkan dengan menyatakan bahwa sesama mukmin sudah sepatutnya saling membantu.
  • Indikator Kerendahan Hati vs Kesombongan:
    • Tanda Tawadhu:
      Kesediaan menerima pendapat orang lain, siap menerima kritik, serta rela duduk di tempat yang posisinya berada di bawah status/jabatannya.
    • Tanda Sombong: Menolak pendapat orang lain, anti-kritik, serta enggan duduk di tempat yang dianggap tidak sesuai dengan derajat atau jabatannya.

2. Tafsir Ayat 19: Etika Berjalan dan Berbicara (I’tidal)

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَر الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19)

  • Etika Berjalan:
    • Hendaklah berjalan secara wajar, anggun, dan proporsional (i’tidal); tidak terlalu lambat/lemot hingga mengganggu orang lain, dan tidak pula tergesa-gesa atau terburu-buru.
    • Riwayat dari Imam Hasan bin Ali menceritakan bahwa berjalan dengan terlalu terburu-buru dapat mengurangi harga diri dan kemuliaan seorang mukmin.
  • Etika Berbicara:
    • Hendaklah menurunkan dan mengatur volume suara agar tidak berteriak-teriak. Berbicara dengan suara keras yang berlebihan tanpa alasan merupakan bagian dari indikasi kesombongan.
    • Al-Qur’an mengumpamakan suara keras yang mengganggu dengan suara keledai. Aturan ini membedakan etika berbicara manusia dari karakter keledai.
  • Prinsip Proporsionalitas (Mencegah Ifrat & Tafrit):
    • Islam adalah agama yang sempurna dan komprehensif, bahkan mengatur aspek sederhana seperti cara berjalan dan berbicara agar manusia tidak jatuh pada sikap ekstrem kanan maupun ekstrem kiri (ifrat dan tafrit).
    • Contoh lain adalah pola makan: terlalu sedikit makan menyebabkan kurang gizi, sedangkan terlalu banyak makan menimbulkan obesitas dan penyakit.

3. Rangkuman Wasiat Etika Luqman: 10 Perintah, 3 Larangan, dan 7 Dalil

Rangkaian nasihat Luqman kepada putranya mengandung 10 Perintah, 3 Larangan, dan 7 Dalil/Alasan Rasional:

10 Perintah:

  1. Berbuat baik kepada kedua orang tua (Wawassainal-insana biwalidaih).
  2. Berterima kasih / bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua (Anisykur li wa liwalidaika).
  3. Mendampingi orang tua dengan cara yang baik di dunia (Wa shahib huma fid-dunya ma’rufa), sekalipun orang tua mengajak pada keburukan (keburukannya ditolak, namun kebaikan padanya tetap dijalankan).
  4. Mengikuti jalan orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada Allah (Wattabi’ sabila man anaba ilayya).
  5. Mendirikan shalat (Ya bunayya aqimish-shalah).
  6. Mengajak pada kebaikan (Wa’mur bil-ma’ruf).
  7. Mencegah kemungkaran (Wan-ha ‘anil-munkar).
  8. Bersabar atas musibah yang menimpa (Wasbir ‘ala ma ashabak).
  9. Sederhana/proporsional dalam berjalan (Waqshid fi masyyik).
  10. Menurunkan volume suara dalam berbicara (Waghdhudh min shautik).

3 Larangan:

  1. Dilarang berbuat syirik (La tusyrik billah).
  2. Dilarang memalingkan wajah dari manusia karena sombong (Wa la tushai’ir khaddaka lin-nas).
  3. Dilarang berjalan dan bergaul dengan keangkuhan (Wa la tamsyi fil-ardhi maraha).

7 Dalil / Alasan Rasional:

  1. Alasan Bersyukur: Manfaat rasa syukur kembali kepada diri sendiri (Wa man yasykur fa innama yasykuru linafsih).
  2. Alasan Dilarang Syirik: Karena syirik merupakan kezaliman yang amat besar (Innash-syirka lazulmun ‘azhim).
  3. Alasan Berbuat Baik pada Orang Tua: Segala sesuatu akan kembali kepada Allah dan dimintai pertanggungjawaban (Ilayyal-masir).
  4. Alasan Waspada dalam Berperilaku: Allah mengetahui dan merekam seluruh perbuatan secara detail, baik yang tampak maupun tersembunyi (Innallaha latifun khabir).
  5. Alasan Wajib Bersabar: Ketaatan dan kehidupan membutuhkan kesabaran; tanpa sabar manusia akan hancur dan gagal (Inna dzalika min ‘azmil-umur).
  6. Alasan Dilarang Sombong: Segala sesuatu adalah wujud pemberian Allah; manusia tidak memiliki alasan untuk sombong (Innallaha la yuhibbu kulla mukhtalin fakhur).
  7. Alasan Dilarang Bersuara Keras: Karena suara keras yang tak terkontrol mengganggu lingkungan seperti suara keledai (Inna ankaral-ashwati lashautul-hamir).

4. Tafsir Ayat 20: Nikmat Penundukan Alam (Taskhir) & Pengingkaran Manusia

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman: 20)

  • Penundukan Alam (Taskhir):
    • Seluruh ciptaan di langit dan bumi (air, udara, fasilitas transportasi, bahan bangunan) dipersembahkan dan dikuasakan oleh Allah untuk kemaslahatan manusia.
  • Dua Kategori Nikmat:
    • Nikmat Dhohir (Tampak): Kesehatan, rezeki makanan/minuman, serta keindahan panorama alam (matahari, bulan, bintang, gunung, sungai, keanekaragaman hewan, dan aroma bunga).
    • Nikmat Batin (Tidak Tampak): Keimanan, akal pikiran, ketentraman jiwa, keluhuran akhlak, pertolongan gaib (al-imdad al-ghaibiyyah), kepekaan fitrah, berwilayah kepada para Nabi dan Ahlul Bait, serta nikmat naungan agama.
  • Pengingkaran Tanpa Pijakan:
    • Sekalipun diliputi nikmat, sebagian manusia tetap membantah keberadaan Allah tanpa argumen akal (bighairi ‘ilmin), tanpa petunjuk fitrah (wa la hudan), dan tanpa kitab wahyu (wa la kitabim-munir).
  • Keterbatasan Akal Manusia vs Hikmah Ilahi:
    • Tidak ada ciptaan atau takdir Allah yang sia-sia.
    • Ketika manusia merasa tidak menyukai peristiwa tertentu (seperti sakit atau musibah), hal tersebut terjadi karena keterbatasan ilmu manusia, bukan karena kecacatan dalam ciptaan Allah. Di balik hal yang tidak disukai, kerap tersimpan kebaikan yang mendalam.
    • Penyair Sa’di melukiskan keagungan alam bagaikan lukisan pada pintu dan dinding keberadaan; tanpa perenungan akal, manusia hanya melihat wujud fisik tanpa memahami hakikat di baliknya.

5. Tafsir Ayat 21: Mengikuti Kebenaran vs Menjadi Budak Tradisi

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ Dan apakah mereka akan mengikutinya walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala?” (QS. Luqman: 21)

  • Kritik Terhadap Fanatisme Tradisi:
    • Kaum musyrikin menolak ajaran wahyu dengan dalih mempertahankan ajaran leluhur.
    • Kebenaran Ilahi bersifat mutlak dan tidak boleh dikorbankan demi tradisi nenek moyang jika keduanya bertentangan. Contohnya tradisi Arab Jahiliyah yang mengubur bayi perempuan hidup-hidup karena menganggapnya beban; tradisi semacam ini wajib ditinggalkan begitu hukum Allah datang.
  • Dua Jalan: Jalan Allah dan Jalan Setan:
    • Apabila suatu tradisi atau aturan bertentangan dengan ajaran Allah, maka pada hakikatnya itu adalah ajaran setan yang menyeru menuju siksa api neraka (‘adzabis-sa’ir).
    • Ajaran manusia/leluhur harus diverifikasi melalui akal dan wahyu: jika benar dan sesuai ajaran Allah silakan dijalankan, namun jika bertentangan wajib ditinggalkan. Ajaran utusan Allah bersifat sakral, sedangkan pandangan manusia biasa tidak sakral.
  • Bahaya Fanatisme Kesukuan, Kebangsaan, dan Status:
    • Kebenaran menduduki posisi tertinggi di atas tradisi, kesukuan, kebangsaan, nasab, status sosial, maupun selera pribadi.
    • Contoh Kegagalan Bani Israil: Menolak kenabian Muhammad SAW semata-mata karena beliau berasal dari bangsa Arab, bukan dari kalangan Bani Israil.
    • Kisah Thalut: Sebagian kelompok menolak kepemimpinan Thalut sebagai panglima perang dengan alasan ia berasal dari strata miskin/rakyat biasa, padahal Thalut ditunjuk langsung oleh Allah.

6. Tafsir Ayat 22: Pasrah (Taslim) Kepada Allah dan Pegangan Tali yang Kuat

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman: 22)

  • Hakikat Pasrah (Taslim) dan Berbuat Baik (Muhsin):
    • Menyerahkan seluruh keputusan hidup kepada perintah Allah serta menghiasi diri dengan amal kebajikan.
  • Berpegang pada Tali yang Kokoh (Al-‘Urwatul-Wutsqa):
    • Pasrah kepada Allah membebaskan manusia dari perbudakan terhadap harta, jabatan, nasab, maupun pandangan sesama manusia.
    • Ikatan selain Allah bersifat fana dan dapat terputus, sedangkan ikatan kepada Allah adalah satu-satunya tali yang abadi. Para nabi dan Ahlul Bait kedudukannya adalah perantara/tali menuju Allah (Nahnul-‘urwatul-wutsqa).
  • Kebebasan Memilih dan Kepastian Balasan:
    • Di dunia, manusia diberikan kebebasan untuk memilih tunduk atau kufur.
    • Namun, apabila manusia memilih kufur, ia tidak lagi memiliki kebebasan untuk menghindar dari konsekuensi azab di akhirat kelak.
  • Penutup: Kajian diakhiri dengan doa dan harapan agar mendapatkan keberkahan serta kekuatan untuk mengamalkan petunjuk ayat-ayat Al-Qur’an.

AB Tafsir Surat Luqman 18

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us