23 October 2026

1. Konteks Pembahasan dan Peninjauan Ayat 27

  • Pembahasan kajian diawali dengan meninjau kembali rangkaian doa Nabi Nuh AS pada ayat ke-27, di mana beliau memohon agar Allah SWT tidak menyisakan seorang pun dari orang-orang kafir yang zalim di muka bumi.
  • Alasan permohonan tersebut adalah karena keberadaan orang-orang zalim tersebut akan menyesatkan hamba-hamba Allah—baik generasi mendatang (al-adziyyah al-qadima) maupun kelompok kecil mukmin yang imannya belum kuat—serta melahirkan keturunan yang fajir (jahat) dan kafir.

2. Penjelasan Tafsir Surat Nuh Ayat 28

Teks doa Nabi Nuh AS pada ayat ke-28 berbunyi:

رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنً۠ا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا

Doa ini memuat lima permohonan dengan urutan yang sistematis:

  1. Permohonan ampunan untuk diri sendiri (Robbigfirlii).
  2. Permohonan ampunan untuk kedua orang tua (waliwaalidayya).
  3. Permohonan ampunan untuk siapa saja yang masuk ke rumahnya dalam keadaan beriman (waliman dakhala baitiya mu’minan).
  4. Permohonan ampunan untuk seluruh orang beriman laki-laki dan perempuan (walilmu’miniina walmu’minaati).
  5. Permohonan kebinasaan/kehancuran bagi orang-orang yang zalim (walaa tazidizh-zhaalimiina illaa tabaaraa).

3. Alasan Doa Kebinasaan Bagi Orang-Orang Zalim

  • Terdapat penekanan yang serupa antara akhir ayat 28 (kebinasaan/tabaraa) dengan ayat 24 (kesesatan/dhalaalaa) bagi orang-orang zalim.
  • Maksud orang zalim dalam doa ini bukanlah orang yang sekadar belum menerima kebenaran atau belum yakin terhadap dakwah. Terhadap orang yang belum paham, para nabi justru mendoakan hidayah bagi mereka.
  • Doa kebinasaan ini ditujukan kepada orang-orang zalim yang sudah mengetahui kebenaran namun secara aktif menghalangi orang lain beriman, melakukan ancaman, konspirasi, dan penyesatan.
  • Kezaliman tersebut membuat mereka kehilangan karunia hidayah karena hati dan akal mereka sebenarnya menyadari kebenaran, namun dicampakkan akibat kesombongan dan kepentingan ego.

4. Makna Khatamallahu ‘ala Qulubihim (Penutupan Hati)

  • Penutupan atau stempel hati oleh Allah SWT bukanlah tindakan yang dilakukan sejak awal tanpa sebab.
  • Stempel hati merupakan dampak/akibat dari pengingkaran, penolakan kebenaran, dan kezaliman yang dilakukan secara terus-menerus.
  • Konsep ini dijelaskan dalam surah Ghafir ayat 35 dan surah An-Nisa ayat 155, di mana Allah mengunci hati orang-orang yang melampaui batas dan terus membantah ayat-ayat Allah tanpa alasan.

5. Hikmah Istighfar Para Nabi dan Kemaksuman Nabi Nuh AS

  • Para nabi berkedudukan Ma’sum (terpelihara dari dosa dan maksiat syar’i).
  • Permohonan ampun (istighfar) Nabi Nuh AS—setelah berdakwah selama 9,5 abad—bukan disebabkan perbuatan dosa syar’i, melainkan bentuk kerendahan hati (tawadhu’), merasa khawatir ada kekurangan (taqshir), atau menganggap dakwahnya belum maksimal.
  • Berlaku kaidah “Hasanatul Abrar Sayyi’atul Muqarramin”: Kebaikan kelompok Abrar dapat dianggap sebagai kekurangan bagi kelompok Muqarrabin yang berkedudukan lebih tinggi.
  • Perbandingan serupa terjadi pada Nabi Yusuf AS yang beristighfar ketika sempat mengandalkan rasa aman bersama saudara-saudaranya, yang dianggap sebagai kelalaian kecil (ghaflah) di tingkat para nabi.

6. Pelajaran Etika Mendoakan dari Doa Nabi Nuh AS

  1. Mendahulukan Diri Sendiri:
    Sebelum memintakan ampunan bagi orang lain, dianjurkan memohon ampunan untuk diri sendiri terlebih dahulu.
  2. Memprioritaskan Kedua Orang Tua:
    • Keberadaan seorang anak bergantung pada orang tua, sehingga orang tua memiliki hak yang sangat besar.
    • Bentuk bakti meliputi mendoakan, bersedekah atau berhaji atas nama orang tua, menunaikan wasiat, serta meng-qadha utang shalat atau puasa mereka.
    • Dirujuk pula contoh doa Imam Zainal Abidin dalam Shahifah Sajjadiyyah mengenai penghormatan, pengagungan, dan keutamaan keridhaan orang tua melebihi keinginan pribadi.
  3. Mendoakan Orang Beriman yang Masuk Rumah/Wilayah Dakwah (Baiti):
    • Kata baiti dapat ditafsirkan sebagai rumah tinggal, tempat ibadah, bahtera/kapal Nabi Nuh, maupun agama, syariat, dan wilayah dakwah.
  4. Mendoakan Seluruh Mukmin dan Mukminah:
    • Penggunaan sapaan Rabb menunjukkan hubungan yang akrab antara hamba dengan Allah SWT.
    • Mendoakan secara kolektif (Lana / seluruh mukmin) menjadi salah satu kiat agar doa lebih mudah dikabulkan (istijabah).

7. Profil Ringkas dan Catatan Sejarah Nabi Nuh AS

  • Nabi Nuh AS merupakan nabi dan rasul Ulul ‘Azmi yang pertama.
  • Nama beliau disebut dalam 29 surah di dalam Al-Qur’an sebanyak 43 kali.
  • Nama asli beliau menurut riwayat adalah Abdul Ghaffar, Abdul Malik, atau Abdul A’lam. Nama “Nuh” merupakan julukan (laqab) karena beliau banyak bermunajat dan meratap (niyah) memikirkan keselamatan kaumnya.
  • Masa dakwah beliau berlangsung selama 950 tahun, sementara riwayat mencatat total usia beliau mencapai 1.490 hingga 2.500 tahun. Rata-rata usia kaumnya adalah sekitar 300 tahun.
  • Putra beliau yang membangkang adalah Kanaan, sedangkan putra-putra yang beriman dan ikut dalam bahtera adalah Ham (keturunannya mendiami wilayah Afrika), Sam (mendiami Palestina dan Timur Tengah), dan Yafits (mendiami kawasan Cina/Asia).
  • Jumlah pengikut beriman di dalam kapal diriwayatkan ada yang menyebutkan sekitar 70-an orang, dan ada pula riwayat yang menyebutkan 7 orang.
  • Beliau digelari sebagai ‘Abdan Syakura (hamba yang banyak bersyukur) karena selalu menyandarkan seluruh nikmat kepada Allah SWT.

8. Kaitan Riwayat Nabi Nuh AS dengan Konsep Mahdawiyah dan Ujian Keimanan

  • Penyampaian riwayat dari Imam Ja’far Ash-Shadiq mengenai persamaan Imam Al-Mahdi dengan para nabi terdahulu:
    • Kelahirannya dirahasiakan seperti Nabi Musa AS.
    • Kegaibannya diragukan/dikecam seperti Nabi Isa AS.
    • Masa penantian dan dakwahnya berlangsung lama seperti Nabi Nuh AS.
    • Usianya dipanjangkan seperti Nabi Khidir AS.
  • Kisah Ujian Penanaman Biji Pohon Nabi Nuh AS:
    • Saat Nabi Nuh AS memohon azab untuk kaumnya, Allah SWT melalui Malaikat Jibril memerintahkan beliau menanam 7 biji pohon dan menunggu hingga tumbuh serta berbuah.
    • Setelah berbuah, Allah memerintahkan untuk menanam kembali bijinya, dan proses ini berulang hingga 7 kali.
    • Proses penundaan pertolongan ini bertujuan menguji dan menyaring para pengikut hingga tersisa orang-orang yang benar-benar mukmin tulus.
  • Hikmah Utama:
    Panjangnya masa kegaiban dan penantian berfungsi sebagai media penyaringan untuk memisahkan antara hamba yang jujur dan bertahan dalam kebenaran dengan orang-orang yang ragu atau gugur dalam keimanan.

AB Tafsir Surat Nuh Ayat

 

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us