1. Konteks Pembahasan dan Peninjauan Ayat 27
- Pembahasan kajian diawali dengan meninjau kembali rangkaian doa Nabi Nuh AS pada ayat ke-27, di mana beliau memohon agar Allah SWT tidak menyisakan seorang pun dari orang-orang kafir yang zalim di muka bumi.
- Alasan permohonan tersebut adalah karena keberadaan orang-orang zalim tersebut akan menyesatkan hamba-hamba Allah—baik generasi mendatang (al-adziyyah al-qadima) maupun kelompok kecil mukmin yang imannya belum kuat—serta melahirkan keturunan yang fajir (jahat) dan kafir.
2. Penjelasan Tafsir Surat Nuh Ayat 28
Teks doa Nabi Nuh AS pada ayat ke-28 berbunyi:
رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنً۠ا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا
Doa ini memuat lima permohonan dengan urutan yang sistematis:
- Permohonan ampunan untuk diri sendiri (Robbigfirlii).
- Permohonan ampunan untuk kedua orang tua (waliwaalidayya).
- Permohonan ampunan untuk siapa saja yang masuk ke rumahnya dalam keadaan beriman (waliman dakhala baitiya mu’minan).
- Permohonan ampunan untuk seluruh orang beriman laki-laki dan perempuan (walilmu’miniina walmu’minaati).
- Permohonan kebinasaan/kehancuran bagi orang-orang yang zalim (walaa tazidizh-zhaalimiina illaa tabaaraa).
3. Alasan Doa Kebinasaan Bagi Orang-Orang Zalim
- Terdapat penekanan yang serupa antara akhir ayat 28 (kebinasaan/tabaraa) dengan ayat 24 (kesesatan/dhalaalaa) bagi orang-orang zalim.
- Maksud orang zalim dalam doa ini bukanlah orang yang sekadar belum menerima kebenaran atau belum yakin terhadap dakwah. Terhadap orang yang belum paham, para nabi justru mendoakan hidayah bagi mereka.
- Doa kebinasaan ini ditujukan kepada orang-orang zalim yang sudah mengetahui kebenaran namun secara aktif menghalangi orang lain beriman, melakukan ancaman, konspirasi, dan penyesatan.
- Kezaliman tersebut membuat mereka kehilangan karunia hidayah karena hati dan akal mereka sebenarnya menyadari kebenaran, namun dicampakkan akibat kesombongan dan kepentingan ego.
4. Makna Khatamallahu ‘ala Qulubihim (Penutupan Hati)
- Penutupan atau stempel hati oleh Allah SWT bukanlah tindakan yang dilakukan sejak awal tanpa sebab.
- Stempel hati merupakan dampak/akibat dari pengingkaran, penolakan kebenaran, dan kezaliman yang dilakukan secara terus-menerus.
- Konsep ini dijelaskan dalam surah Ghafir ayat 35 dan surah An-Nisa ayat 155, di mana Allah mengunci hati orang-orang yang melampaui batas dan terus membantah ayat-ayat Allah tanpa alasan.
5. Hikmah Istighfar Para Nabi dan Kemaksuman Nabi Nuh AS
- Para nabi berkedudukan Ma’sum (terpelihara dari dosa dan maksiat syar’i).
- Permohonan ampun (istighfar) Nabi Nuh AS—setelah berdakwah selama 9,5 abad—bukan disebabkan perbuatan dosa syar’i, melainkan bentuk kerendahan hati (tawadhu’), merasa khawatir ada kekurangan (taqshir), atau menganggap dakwahnya belum maksimal.
- Berlaku kaidah “Hasanatul Abrar Sayyi’atul Muqarramin”: Kebaikan kelompok Abrar dapat dianggap sebagai kekurangan bagi kelompok Muqarrabin yang berkedudukan lebih tinggi.
- Perbandingan serupa terjadi pada Nabi Yusuf AS yang beristighfar ketika sempat mengandalkan rasa aman bersama saudara-saudaranya, yang dianggap sebagai kelalaian kecil (ghaflah) di tingkat para nabi.
6. Pelajaran Etika Mendoakan dari Doa Nabi Nuh AS
- Mendahulukan Diri Sendiri:
Sebelum memintakan ampunan bagi orang lain, dianjurkan memohon ampunan untuk diri sendiri terlebih dahulu. - Memprioritaskan Kedua Orang Tua:
- Keberadaan seorang anak bergantung pada orang tua, sehingga orang tua memiliki hak yang sangat besar.
- Bentuk bakti meliputi mendoakan, bersedekah atau berhaji atas nama orang tua, menunaikan wasiat, serta meng-qadha utang shalat atau puasa mereka.
- Dirujuk pula contoh doa Imam Zainal Abidin dalam Shahifah Sajjadiyyah mengenai penghormatan, pengagungan, dan keutamaan keridhaan orang tua melebihi keinginan pribadi.
- Mendoakan Orang Beriman yang Masuk Rumah/Wilayah Dakwah (Baiti):
- Kata baiti dapat ditafsirkan sebagai rumah tinggal, tempat ibadah, bahtera/kapal Nabi Nuh, maupun agama, syariat, dan wilayah dakwah.
- Mendoakan Seluruh Mukmin dan Mukminah:
- Penggunaan sapaan Rabb menunjukkan hubungan yang akrab antara hamba dengan Allah SWT.
- Mendoakan secara kolektif (Lana / seluruh mukmin) menjadi salah satu kiat agar doa lebih mudah dikabulkan (istijabah).
7. Profil Ringkas dan Catatan Sejarah Nabi Nuh AS
- Nabi Nuh AS merupakan nabi dan rasul Ulul ‘Azmi yang pertama.
- Nama beliau disebut dalam 29 surah di dalam Al-Qur’an sebanyak 43 kali.
- Nama asli beliau menurut riwayat adalah Abdul Ghaffar, Abdul Malik, atau Abdul A’lam. Nama “Nuh” merupakan julukan (laqab) karena beliau banyak bermunajat dan meratap (niyah) memikirkan keselamatan kaumnya.
- Masa dakwah beliau berlangsung selama 950 tahun, sementara riwayat mencatat total usia beliau mencapai 1.490 hingga 2.500 tahun. Rata-rata usia kaumnya adalah sekitar 300 tahun.
- Putra beliau yang membangkang adalah Kanaan, sedangkan putra-putra yang beriman dan ikut dalam bahtera adalah Ham (keturunannya mendiami wilayah Afrika), Sam (mendiami Palestina dan Timur Tengah), dan Yafits (mendiami kawasan Cina/Asia).
- Jumlah pengikut beriman di dalam kapal diriwayatkan ada yang menyebutkan sekitar 70-an orang, dan ada pula riwayat yang menyebutkan 7 orang.
- Beliau digelari sebagai ‘Abdan Syakura (hamba yang banyak bersyukur) karena selalu menyandarkan seluruh nikmat kepada Allah SWT.
8. Kaitan Riwayat Nabi Nuh AS dengan Konsep Mahdawiyah dan Ujian Keimanan
- Penyampaian riwayat dari Imam Ja’far Ash-Shadiq mengenai persamaan Imam Al-Mahdi dengan para nabi terdahulu:
- Kelahirannya dirahasiakan seperti Nabi Musa AS.
- Kegaibannya diragukan/dikecam seperti Nabi Isa AS.
- Masa penantian dan dakwahnya berlangsung lama seperti Nabi Nuh AS.
- Usianya dipanjangkan seperti Nabi Khidir AS.
- Kisah Ujian Penanaman Biji Pohon Nabi Nuh AS:
- Saat Nabi Nuh AS memohon azab untuk kaumnya, Allah SWT melalui Malaikat Jibril memerintahkan beliau menanam 7 biji pohon dan menunggu hingga tumbuh serta berbuah.
- Setelah berbuah, Allah memerintahkan untuk menanam kembali bijinya, dan proses ini berulang hingga 7 kali.
- Proses penundaan pertolongan ini bertujuan menguji dan menyaring para pengikut hingga tersisa orang-orang yang benar-benar mukmin tulus.
- Hikmah Utama:
Panjangnya masa kegaiban dan penantian berfungsi sebagai media penyaringan untuk memisahkan antara hamba yang jujur dan bertahan dalam kebenaran dengan orang-orang yang ragu atau gugur dalam keimanan.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
—
Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

