27 Oktober 2026

Teks Doa Kumail

> وَأَنْ تُوَفِّرَ حَظِّي مِنْ كُلِّ خَيْرٍ تُنْزِلُهُ

أَوْ إِحْسَانٍ تُفْضِلُهُ

أَوْ بِرٍّ تَنْشُرُهُ

أَوْ رِزْقٍ تَبْسُطُهُ

أَوْ ذَنْبٍ تَغْفِرُهُ

أَوْ خَطَأٍ تَسْتُرُهُ

Wa an tuwaffira ḥaẓẓī min kulli khayrin tunziluhu;

aw iḥsānin tufḍiluhu;

aw birrin tansyuruhu;

aw rizqin tabsuṭuhu;

aw dhanbin taghfiruhu;

aw khaṭa’in tasturuhu.

“Dan aku memohon agar Engkau memperbanyak bagianku dari setiap kebaikan yang Engkau turunkan; setiap ihsan yang Engkau anugerahkan; setiap kebajikan yang Engkau sebarkan; setiap rezeki yang Engkau lapangkan; setiap dosa yang Engkau ampuni; serta setiap kesalahan yang Engkau tutupi.”

Tema utama

Rezeki Ilahi tidak hanya berupa sesuatu yang ditambahkan ke dalam tangan. Ia juga berupa kebaikan yang ditanamkan ke dalam hati, dosa yang dihapuskan, dan kesalahan yang tidak dibukakan kepada manusia.

Kata ḥaẓẓī berarti “bagianku” atau “jatahku”. Hamba tidak hanya memohon agar kebaikan Allah turun secara umum. Ia memohon agar dirinya memperoleh bagian yang berlimpah dari kebaikan tersebut.

Doa ini kemudian menyusun pemberian Allah dalam enam bentuk:

  1. Khayr—segala kebaikan yang Allah turunkan.
  2. Iḥsān—karunia yang diberikan melampaui kelayakan seorang hamba.
  3. Birr—kebajikan yang Allah sebarkan di tengah kehidupan.
  4. Rizq—segala sesuatu yang Allah lapangkan untuk menopang kehidupan.
  5. Maghfirah—dosa yang Allah ampuni.
  6. Satr—kesalahan yang Allah tutupi.

Susunan ini membebaskan kata “rezeki” dari pengertian yang terlalu sempit. Penghasilan adalah rezeki, tetapi hati yang masih dapat menyesal juga rezeki. Kesempatan bekerja adalah rezeki, tetapi dosa yang diampuni adalah rezeki yang lebih menentukan keselamatan.

Ayat Al-Qur’an

  1. QS Al-Baqarah 2:268

> الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kepada kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”

Perhatikan pasangan yang digunakan Al-Qur’an: ampunan dan karunia. Allah tidak memisahkan kebutuhan ruhani dari kebutuhan kehidupan. Pengampunan merupakan bagian dari kekayaan seorang hamba; karunia-Nya pun tidak terbatas pada benda yang dapat dihitung.

  1. QS Fathir 35:2

> مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Rahmat apa pun yang Allah bukakan bagi manusia, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Apa pun yang Dia tahan, tidak ada seorang pun yang dapat melepaskannya setelah itu. Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Apabila Allah membuka pintu rahmat, tidak ada kekuatan yang dapat menutupnya. Karena itu, seorang hamba tidak menggantungkan seluruh harapannya kepada manusia yang hanya menjadi perantara. Ia memandang melampaui perantara menuju Pemilik seluruh pintu.

  1. QS Al-Qasas 28:77

> وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ

“Carilah negeri akhirat dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu, tetapi janganlah melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah mencari kerusakan di bumi.”

Nikmat tidak berhenti pada penerimanya. Ihsan Allah harus mengalir menjadi ihsan kepada manusia. Harta yang tidak pernah menolong, ilmu yang hanya membesarkan pemiliknya, dan kekuasaan yang menindas telah kehilangan arah pemberiannya.

Riwayat Ahlul Bait

Al-Ashbagh bin Nubatah meriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Ali as berdoa dalam sujudnya:

> وَأَطْلُبُ إِلَيْكَ طَلَبَ مَنْ يَعْلَمُ أَنَّكَ تُعْطِي وَلَا يَنْقُصُ مِمَّا عِنْدَكَ شَيْءٌ

“Aku meminta kepada-Mu sebagaimana permintaan orang yang mengetahui bahwa Engkau memberi, sedangkan pemberian-Mu tidak mengurangi sedikit pun apa yang ada di sisi-Mu.”

Doa ini tercantum dalam Al-Amālī karya Syekh ash-Shaduq, majelis ke-44, hadis 8 menurut penomoran sumber daring yang dirujuk.

Kerangka pembahasan

  1. Makna tuwaffira ḥaẓẓī: memohon bagian yang berlimpah dari karunia Allah.
  2. Perbedaan antara rezeki sebagai harta dan rezeki sebagai seluruh pemeliharaan Ilahi.
  3. Ihsan adalah pemberian yang tidak semata-mata berdasarkan kelayakan penerimanya.
  4. Nikmat menjadi sempurna ketika digunakan untuk jalan akhirat dan kebaikan manusia.
  5. Pengampunan dosa merupakan rezeki yang tidak kalah penting daripada kelapangan materi.
  6. Kesalahan yang ditutupi adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.
  7. Karunia Allah tidak berkurang karena banyaknya hamba yang menerima.

Pembuka syarah

Manusia biasanya menyebut rezeki ketika menghitung sesuatu yang masuk ke tangannya.

Gaji yang diterima, usaha yang berkembang, rumah yang dimiliki, kesehatan yang terjaga, dan pintu pekerjaan yang terbuka—semuanya memang rezeki.

Namun Doa Kumail mengajak kita menghitung dengan cara yang lebih dalam.

Ia menyebut kebaikan yang diturunkan, ihsan yang dianugerahkan, kebajikan yang disebarkan, rezeki yang dilapangkan, dosa yang diampuni, dan kesalahan yang ditutupi.

Ternyata tidak semua rezeki berbentuk sesuatu yang kita terima.

Ada rezeki yang berbentuk sesuatu yang Allah hapuskan.

Ada rezeki yang masuk ke tangan. Ada pula rezeki yang membersihkan catatan.

Ada rezeki yang membuat kehidupan menjadi lapang. Ada pula rezeki yang membuat jalan menuju akhirat tidak terhalang.

Karena itu, seseorang dapat memiliki banyak harta, tetapi memperoleh bagian yang sedikit dari kebaikan.
Sebaliknya, seseorang mungkin hidup dengan sederhana, tetapi memperoleh bagian besar dari rahmat: hati yang tenteram, keluarga yang penuh kasih, kesempatan berbuat baik, dosa yang diampuni, dan akhir kehidupan yang terjaga.

Doa Kumail mengajarkan kita memohon:

> “Perbanyaklah bagianku dari setiap kebaikan yang Engkau turunkan.”

Bukan sekadar: “Turunkanlah kebaikan.”

Kebaikan Allah telah turun setiap hari. Matahari terbit, hujan jatuh, ilmu disebarkan, pintu taubat dibuka, dan kesempatan berbuat baik diberikan. Namun tidak semua orang memperoleh bagian yang sama dari kebaikan yang mengelilinginya.

Dua orang dapat mendengar nasihat yang sama. Yang satu memperoleh cahaya, sedangkan yang lain hanya mendengar suara.

Dua orang dapat menerima kekayaan yang sama. Yang satu mengubahnya menjadi jalan pengabdian, sedangkan yang lain mengubahnya menjadi alasan kesombongan.

Dua orang dapat melakukan kesalahan yang sama. Yang satu segera menyesal dan pulang, sedangkan yang lain mencari alasan lalu mengulanginya.

Kebaikan turun, tetapi hanya hati yang siap yang dapat menerima bagiannya.

Kemudian doa menyebut ihsan.

Ihsan Allah adalah pemberian yang melampaui perhitungan kelayakan kita. Jika seluruh pemberian harus dibayar dengan amal yang setara, tidak ada seorang pun mampu membayarnya. Bahkan kemampuan untuk beramal adalah pemberian Allah.

Kita berdoa menggunakan lidah yang Dia ciptakan. Kita bersujud dengan tubuh yang Dia kuatkan. Kita menangis dengan hati yang Dia lembutkan. Kita kembali melalui pintu yang Dia sendiri bukakan.

Karena itu, seorang hamba tidak pernah berdiri di hadapan Allah sebagai pelanggan yang telah melunasi harga. Ia berdiri sebagai penerima ihsan.

Amirul Mukminin Ali as, dalam doa yang diriwayatkan darinya, mengajarkan bahwa pemberian Allah tidak pernah mengurangi apa yang berada di sisi-Nya.
Allah tidak menjadi miskin karena mengayakan hamba. Rahmat-Nya tidak menyusut karena mengampuni jutaan pendosa. Satu hamba tidak perlu takut kehabisan bagian karena hamba lain telah menerima banyak karunia.

Perbendaharaan manusia berkurang ketika dibagikan.

Perbendaharaan Allah tidak tunduk kepada hukum kekurangan.

Namun kelapangan pemberian Allah tidak berarti semua yang kita inginkan pasti baik bagi kita. Terkadang Allah memberi dengan menambahkan. Terkadang Dia memberi dengan menahan.
Terkadang permohonan yang tidak segera dikabulkan justru merupakan penjagaan dari sesuatu yang belum kita ketahui akibatnya.

Kita meminta bagian dari setiap kebaikan, bukan setiap keinginan.

Sebab tidak semua yang diinginkan jiwa merupakan kebaikan. Ada kekayaan yang menjauhkan seseorang dari Tuhan. Ada kedudukan yang merusak hatinya.
Ada hubungan yang menyenangkan pada awalnya, tetapi menghancurkan kehidupannya. Ada pintu yang tampak seperti kesempatan, padahal di baliknya terdapat kerugian ruhani.

Hamba yang matang tidak hanya berkata, “Berikan apa yang kuinginkan.”

Ia berkata, “Berikan kepadaku bagian yang luas dari setiap kebaikan yang Engkau ketahui sebagai kebaikan.”

Doa lalu menyebut rezeki yang dilapangkan. Tetapi segera setelahnya ia menyebut dosa yang diampuni dan kesalahan yang ditutupi.

Susunan ini mengoreksi ukuran kemakmuran kita.

Berapa banyak manusia yang merasa rezekinya sempit hanya karena penghasilannya tidak sebesar orang lain, padahal Allah telah memberinya kesehatan, keluarga yang setia, kemampuan beribadah, nama baik yang dijaga, dan dosa-dosa yang tidak dibukakan?

Sebaliknya, berapa banyak manusia yang merasa hidupnya berlimpah karena hartanya bertambah, sementara hatinya kehilangan ketenteraman, keluarganya kehilangan kehangatan, dan dirinya semakin jauh dari Allah?

Harta yang bertambah belum tentu merupakan kelapangan apabila bersamanya tumbuh kesombongan.

Kesederhanaan belum tentu merupakan kesempitan apabila di dalamnya terdapat ketenangan dan kedekatan kepada Allah.

Puncaknya, Doa Kumail meminta bagian dari dosa yang diampuni dan kesalahan yang ditutupi. Inilah pemberian yang baru akan diketahui nilainya dengan sempurna ketika manusia berdiri di hadapan catatan amalnya.

Di dunia, kita merayakan bertambahnya sesuatu ke dalam rekening.

Di akhirat, mungkin kita akan lebih bergembira karena sesuatu telah dihapus dari catatan.

Namun ampunan dan penutupan Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk mempertahankan kesalahan. Dosa yang ditutupi merupakan kesempatan untuk ditinggalkan. Aib yang belum dibuka adalah waktu untuk memperbaiki diri.

Setelah menerima ihsan Allah, kita pun diperintahkan menyalurkannya:

> “Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”

Nikmat yang hanya berhenti pada pemiliknya belum menyelesaikan perjalanannya.

Ilmu harus menerangi. Harta harus menolong. Kekuasaan harus melindungi. Pengampunan harus membuat kita lebih mudah memaafkan. Dan pengalaman menerima penutupan Allah seharusnya membuat kita berhenti gemar membuka aib manusia.

Maka ketika membaca penggalan ini, kita tidak hanya meminta kehidupan yang lebih banyak.

Kita meminta kehidupan yang lebih bermakna.

Kita tidak hanya meminta agar tangan dipenuhi.

Kita meminta agar hati memperoleh kebaikan, amal memperoleh keberkahan, catatan memperoleh pengampunan, dan akhir perjalanan memperoleh keselamatan.

Sebab bagian terbesar dari karunia Allah tidak selalu berupa sesuatu yang ditambahkan kepada kita.

Kadang-kadang karunia terbesar-Nya adalah dosa yang dihapuskan, kesalahan yang ditutupi, dan kesempatan baru untuk kembali kepada-Nya.

Doa kumail

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1SAahzzsiz/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us