1. Tafsir Surat Luqman Ayat 23
وَمَن كَفَرَ فَلَا يَحْزُنكَ كُفْرُهُ ۚ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
[Waman kafara fala yahzunka kufruh, ilaina marji’uhum fa nunabbi’uhum bima ‘amilu, innallaha ‘alimum bidzatis-sudur]
- Latar Belakang Ayat:
Ayat ini merupakan khitab (seruan/petunjuk) langsung dari Allah kepada Rasulullah SAW. Dalam menjalankan dakwah, tidak semua masyarakat menerima ajakan beliau, dan hal tersebut sempat membuat Rasulullah bersedih hati. - Mengapa Nabi SAW Dilarang Bersedih?
- Penolakan terhadap kebenaran adalah hal yang umum terjadi. Jika manusia terbaik seperti Rasulullah SAW—yang memiliki lisan paling fasih dan akhlak paling mulia—saja bisa ditolak, maka kita tidak boleh heran atau kaget jika dakwah kita ditolak.
- Rasa sedih yang berlebihan dapat berakibat buruk dan mengganggu tugas-tugas dakwah lain yang mestinya dikerjakan.
- Pengingkaran orang-orang kafir sama sekali tidak membahayakan atau merugikan posisi Rasulullah SAW.
- Rasulullah SAW telah menjalankan tugas tabligh dan menunaikan amanah sebaik-baiknya, sehingga penolakan kaumnya bukanlah kesalahan beliau.
- Mengapa Rasulullah SAW Bersedih?
- Karena keagungan akhlak beliau (wa innaka ‘ala khuluqin ‘azhim), Rasulullah SAW memiliki kasih sayang yang luar biasa.
Beliau tidak hanya bersedih atas dirinya, tetapi bersedih atas azab buruk yang akan menimpa orang-orang yang menolak petunjuk. - Allah menegur dalam surah lain (seperti QS. Al-Kahf: 6 dan QS. Asy-Syu’ara: 3) agar beliau tidak menghancurkan diri karena bersedih atas kekufuran mereka.
- Karena keagungan akhlak beliau (wa innaka ‘ala khuluqin ‘azhim), Rasulullah SAW memiliki kasih sayang yang luar biasa.
- Tanggung Jawab Nabi dan Da’i:
Kewajiban para insan Ilahi adalah menyampaikan petunjuk dan memberi keteladanan; adapun hidayah adalah wewenang penuh Allah SWT. - Keterkaitan Al-Mabda’ dan Al-Marji’:
Tempat asal penciptaan (mabda’) dan tempat kembali (marji’) saling berkaitan. Karena keberadaan manusia berasal dari Allah, maka tempat kembalinya tidak ada lain selain kepada Allah. - Pemberitahuan Seluruh Amal:
Allah akan memberitahukan (fa nunabbi’uhum) seluruh perbuatan manusia, baik yang tampak (zahir) maupun niat yang tersimpan di dalam hati (‘alimum bidzatis-sudur).
2. Tafsir Surat Luqman Ayat 24
نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٍ
[Numatti’uhum qalilan thumma nadhtarruhum ila ‘adzabin ghalizh]
- Kenikmatan Dunia Hanya Sementara:
Kemenangan, kenikmatan, atau kemakmuran yang dirasakan oleh orang-orang yang ingkar di dunia ini ditegaskan oleh Allah hanyalah kenikmatan sejenak/sedikit (numatti’uhum qalilan). - Kebebasan Memilih di Dunia vs Kepastian Balasan:
Di dunia, manusia diberikan kebebasan (ikhtiar) untuk beriman atau kufur. Namun kelak di akhirat, ikhtiar tersebut telah habis dan balasan atas perbuatan menjadi sebuah kepastian. - Kemakmuran Bukan Ukuran Kebenaran:
Kesejahteraan atau kekuasaan materi di dunia sama sekali bukan tanda kebahagiaan sejati dan bukan bukti bahwa seseorang berada di atas jalan yang benar. - Penangguhan (Istidraj):
- Allah memberikan waktu tangguh kepada orang zalim bukan karena meridhai mereka, melainkan agar kejahatan mereka sempurna hingga layak mendapat azab yang menghinakan (sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ali ‘Imran: 178).
- Hal ini dicontohkan lewat sikap Ibnu Ziyad dan Yazid pada peristiwa Karbala yang merasa menang secara lahiriah, padahal itu hanyalah kenikmatan sementara.
3. Tafsir Surat Luqman Ayat 25
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
[Wala’in sa’altahum man khalaqas-samawati wal-ardha layaqulunnallah, qulil-hamdulillah, bal aktsaruhum la ya’lamun]
- Fitrah Pengakuan Pencipta:
Jika ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, orang kafir/musyrik sekalipun pasti akan menjawab “Allah”.
Hal ini karena keagungan alam semesta membuat tidak ada seorang pun yang berani mengaku sebagai penciptanya. - Kesadaran Naluriah (Fitri/Hudhuri):
Kesadaran akan adanya Sang Pencipta bersifat naluriah (hudhuri) tanpa perlu dipelajari. Manusia sadar bahwa dirinya tidak memiliki sumbangsih satu sel pun dalam proses penciptaan dirinya. - Mengapa Mereka Disebut Musyrik?
- Mereka tidak mengingkari keberadaan Allah, tetapi mereka menyekutukan Allah dengan membuat berhala dari kayu atau batu sebagai perantara (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah (ma na’buduhum illa liyuqarribuna ilallahi zulfa).
- Beda Tawasul Islam/Ahlul Bait dengan Kemusyrikan:
- Kaum musyrik menyembah (na’buduhum) patung buatan tangan mereka sendiri.
- Kaum muslimin dan pengikut Ahlul Bait yang bertawasul tidak pernah menyembah nabi, wali, atau imam, melainkan menjadikan mereka perantara sesuai dengan perintah dan izin dari Allah SWT.
- Penyebab Menyimpang dari Fitrah:
Manusia menyimpang dari fitrah karena kebodohan serta enggan menggunakan potensi akal, pendengaran, penglihatan, dan hati nurani yang telah dianugerahkan Allah.
4. Tafsir Surat Luqman Ayat 26
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
[Lillahi ma fis-samawati wal-ardh, innallaha huwal-ghaniyyul-hamid]
- Kepemilikan Mutlak:
Segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah semata (lillahi ma fis-samawati wal-ardh). - Manusia adalah Hamba yang Fakir:
Kenyataan bahwa manusia terus mencari harta, ilmu, dan kekuasaan membuktikan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang fakir (membutuhkan). Oleh sebab itu, sangat tidak pantas jika manusia bersikap sombong. - Makna Al-Ghaniy (Maha Kaya / Tidak Membutuhkan):
Allah menciptakan dan mengendalikan seluruh alam tanpa membutuhkan bantuan siapa pun. - Makna Al-Hamid (Maha Terpuji):
Allah tidak memerlukan pujian dari makhluk. Manusia memuji Allah karena Dialah satu-satunya Dzat yang memang berhak dan layak dipuji atas segala nikmat dan keindahan ciptaan-Nya.
5. Tafsir Surat Luqman Ayat 27
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
[Walau annama fil-ardhi min syajaratin aqlamun wal-bahru yamudduhu min ba’dihi sab’atu abhurin ma nafidat kalimatullah, innallaha ‘azizun hakim]
- Kiluasan Ilmu dan Keagungan Allah:
Diumpamakan secara kiasan, seandainya seluruh pohon di bumi dijadikan pena dan seluruh lautan ditambah tujuh samudera lagi dijadikan tinta, kalimat-kalimat Allah tidak akan pernah habis dituliskan. - Ragam Makna “Kalimat Allah” dalam Al-Qur’an:
- Nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya.
- Sunan Ilahiyah (hukum/ketentuan Allah, seperti jaminan pertolongan bagi para rasul).
- Ciptaan khusus Allah, seperti Nabi Isa AS yang dinamakan Kalimatullah.
- Peristiwa dan ujian yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya.
- Ayat-ayat Ilahi serta sebab-sebab kemenangan kebenaran (al-haqq) atas kebatilan.
- Perspektif Riwayat Ahlul Bait: Secara batin (misdaq), Rasulullah SAW dan Ahlul Bait AS disebut sebagai kalimat-kalimat Allah karena seluruh keutamaan (fadhilah) yang Allah berikan kepada mereka sangat luas dan tidak dapat dihitung.
6. Tafsir Surat Luqman Ayat 28
مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
[Ma khalqukum wala ba’tsukum illa kanafsin wahidah, innallaha sami’un bashir]
- Kemudahan Kebangkitan Bagi Allah:
Menciptakan dan membangkitkan seluruh manusia dari awal hingga akhir zaman bagi Allah sama mudahnya dengan menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja (kanafsin wahidah). - Menjawab Kesangsian Hari Kebangkitan:
- Sebagian orang meragukan kebangkitan karena merasa masa lalu sudah terlampau lama, jasad telah hancur menjadi tanah, atau ragu bagaimana seluruh amal manusia dapat terekam.
- Allah menegaskan kekuasaan-Nya melalui Sami’un Bashir (Maha Mendidik dan Maha Melihat). Seluruh perbuatan, ucapan, hingga niat rahasia di dalam hati manusia terekam secara sempurna tanpa ada yang terlewat.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
—
Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

