18 October 2026

Pendahuluan & Konteks Pertemuan

Kajian ini merupakan kelanjutan pembahasan Surah Al-Ankabut (pertemuan ke-5) yang mengupas ayat 33 hingga 43. Pembahasan diawali dengan mengulas balik ayat 31–32:

  • Kabar Gembira dan Peringatan Siksaan:
    Para malaikat mendatangi Nabi Ibrahim AS untuk menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran keturunan meskipun usia beliau dan istrinya sudah lanjut.
    Selain itu, malaikat juga mengabarkan rencana penghancuran negeri tempat tinggal kaum Nabi Luth AS karena kezaliman penduduknya.
  • Kekhawatiran Nabi Ibrahim AS:
    Nabi Ibrahim mengkhawatirkan keselamatan Nabi Luth, namun para malaikat menegaskan bahwa Allah akan menyelamatkan Nabi Luth beserta keluarganya, kecuali istrinya yang termasuk golongan yang dibinasakan.

1. Ayat 33–35: Kedatangan Malaikat kepada Nabi Luth AS dan Kehancuran Kaum Luth

  • Kedatangan Tamu Malaikat:
    Para malaikat mendatangi Nabi Luth AS dalam wujud pemuda yang tampan.
    Nabi Luth merasa gelisah dan tidak berdaya (si’a bihim wa dhaqa bihim dzar’a) karena khawatir kaumnya yang memiliki perilaku penyimpangan seksual sesama jenis akan mengganggu tamu-tamunya tersebut.
  • Penenangan dan Peringatan Malaikat:
    Malaikat menenangkan Nabi Luth (la takhaf wa la tahzan) dan menyampaikan bahwa mereka adalah utusan Allah yang bertugas menyelamatkan beliau beserta keluarganya (kecuali istrinya), serta menurunkan azab (rijzam minas-sama’) berupa siksaan dari langit atas kefasikan kaum Luth.
  • Karakteristik Dosa yang Mengundang Azab (Bima Kanu Yafsuqun):
    Azab Allah tidak langsung turun pada kali pertama maksiat dilakukan, melainkan ketika dosa dikerjakan dengan kriteria berikut:

    1. Israr (Berulang tanpa Penyesalan):
      Melakukan dosa secara terus-menerus tanpa ada rasa penyesalan.
    2. Takrar / Kecanduan:
      Dosa dilakukan berulang kali hingga menjadi kebiasaan atau kecanduan yang membuat pelaku merasa tidak nyaman jika tidak melakukannya.
    3. Keriangan & Meremehkan Dosa:
      Berbuat dosa dengan gembira, tertawa, atau menganggapnya sebagai hal sepele/kecil.
    4. Terang-terangan (Mujaharah):
      Sengaja mengekspos dan mengumbar maksiat di depan umum tanpa rasa malu.
    5. Penyebaran & Dokumentasi Dosa:
      Menceritakan dosa dari mulut ke mulut, merekam, mendokumentasikan, atau mempublikasikan media perusak moral.
    6. Membanggakan Maksiat:
      Berbangga atas perbuatan maksiat yang telah dikerjakan.
  • Pelajaran dari Peninggalan Kaum Luth:
    Sisa-sisa peninggalan negeri kaum Luth dibiarkan ada sebagai tanda/petunjuk yang nyata (ayatamb bayyinah) bagi orang-orang yang mau menggunakan akalnya (li qaumiy ya’qilun).

2. Ayat 36–37: Utusan Nabi Syuaib AS kepada Penduduk Madyan

  • Pengutusan Nabi Syuaib AS:
    Allah mengutus Nabi Syuaib AS kepada penduduk Madyan (Wa ila Madyana akhahum Syu’aiba).
  • Hikmah Kata Akhahum (Saudara Mereka):
    Walaupun maqam (derajat) para nabi berkedudukan sebagai “ayah” spiritual bagi umatnya, Al-Qur’an menggunakan istilah akhahum (saudara mereka) untuk menunjukkan keakraban tanpa jarak agar dakwah dapat diterima dengan hangat.
  • Tiga Teras Utama Dakwah Para Nabi:
    1. Mentauhidkan Allah:
      Memerintahkan manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan tuhan-tuhan palsu (ya qaumik’budullaha).
    2. Mengingat Kehidupan Akhirat:
      Mengarahkan manusia agar menjadikan dunia sekadar jembatan menuju kehidupan hakiki di akhirat (warjul-yaumal-akhira).
    3. Menjauhi Kerusakan:
      Melarang manusia berbuat kejahatan dan kerusakan di muka bumi (wa la ta’tsau fil-ardhi mufsidin).
  • Azab Kaum Madyan:
    Ketika penduduk Madyan mendustakan Nabi Syuaib, mereka ditimpa azab berupa gempa bumi yang sangat dahsyat (ar-rajfah), sehingga mereka mati seketika (fa-asbahu fi darihim jatsimin) di tempat masing-masing tanpa sempat melarikan diri.

3. Ayat 38: Perumpamaan Kaum ‘Ad dan Tsamud serta Tipu Daya Setan

  • Kehancuran Kaum ‘Ad dan Tsamud:
    Kehancuran kedua kaum ini telah jelas terlihat dari puing-puing peninggalan pemukiman mereka.
  • Modus Penyesatan Setan (Tazyin):
    Setan mengelabui manusia dengan memperindah perbuatan buruk (zayyana lahumusy-syaithanu a’malahum), sehingga pelaku merasa perbuatannya biasa, wajar, atau sekadar pemenuhan kepuasan.
  • Manusia Mencari Alasan:
    Setelah terperangkap tazyin setan, manusia mencari-cari pembenaran atas dosanya sehingga terhalang dari jalan yang lurus (fashaddahum ‘anis-sabil). Padahal secara akal sehat (wa kanu mustabshirin), mereka sebenarnya menyadari bahwa perbuatan tersebut salah.

4. Ayat 39–40: Penentangan Qarun, Firaun, dan Haman serta Keberagaman Azab Allah

  • Kesombongan Tokoh-Tokoh Zaman Nabi Musa AS:
    Nabi Musa AS membawa bukti-bukti nyata (bayyinat) kepada Qarun (pemilik harta), Firaun (penguasa), dan Haman (pejabat tinggi).
    Namun mereka bersikap angkuh (fastakbaru fil-ardhi).
  • Ketidakmampuan Luput dari Azab:
    Kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan tinggi tidak sanggup menyelamatkan mereka dari siksaan Allah (wa ma kanu sabiqin).
  • Perbandingan Karakter Qarun vs Nabi Sulaiman AS:
    • Qarun:
      Ketika diberi kekayaan, dia bersikap sombong dan berkata bahwa hartanya diperoleh karena kepintarannya sendiri (Innama utituhu ‘ala ‘ilmin ‘indi), sehingga ia lupa diri dan dibinasakan.
    • Nabi Sulaiman AS:
      Ketika diberi kekayaan yang jauh lebih melimpah, beliau justru sadar dan berkata bahwa semua itu adalah anugerah Allah (Hadza min fadhli Rabbi) untuk menguji apakah beliau bersyukur atau kufur.
  • Bentuk-Bentuk Azab Allah (Fa Kulla Akhadzna bi Dzambih):
    1. Hasib: Badai angin kencang yang membawa bebatuan.
    2. As-Shaihah: Suara gemuruh menggelegar yang membinasakan.
    3. Khasf: Dibenamkan ke dalam perut bumi (seperti Qarun).
    4. Gharaq: Ditenggelamkan ke dalam air (seperti Firaun dan Haman).
  • Kezaliman Diri Sendiri:
    Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya (wa ma kanallahu li-yazlimahum), melainkan manusiayalah yang menzalimi diri mereka sendiri (walakin kanu anfusahum yazlimun) karena menolak peringatan yang telah disampaikan dalam jangka waktu yang sangat panjang.

5. Ayat 41–42: Perumpamaan Sandaran Selain Allah dan Rumah Laba-Laba (Al-Ankabut)

  • Perumpamaan Rumah Laba-Laba (Kamatsalil-‘Ankabut):
    Orang-orang yang mengambil pelindung atau sandaran selain Allah diumpamakan seperti laba-laba yang membuat rumah.
    Padahal, selemah-lemah rumah adalah rumah laba-laba (wa inna auhanal-buyuti la-baitul-‘ankabut).
  • Kelemahan dan Ketidakamanan Rumah Laba-Laba:
    • Secara Fisik: Sangat rapuh dan mudah hancur hanya dengan sedikit tiupan atau ayunan.
    • Secara Keamanan: Rumah laba-laba tidak aman bagi penghuninya sendiri; anak-anak laba-laba yang baru menetas harus segera melarikan diri agar tidak dimangsa oleh induknya sendiri.
  • Renungan Metafora Lalat dan Laba-Laba:
    • Lalat menggambarkan simbol kerakusan yang tidak pernah berhenti terbang mencari makanan.
    • Laba-laba menggambarkan hewan yang tampak pasif/malas dalam mencari mangsa.
    • Namun karena kerakusannya, lalat akhirnya justru tersangkut di sarang laba-laba dan menjadi mangsanya.
  • Pelajaran dari Kisah Putra Nabi Nuh AS:
    Putra Nabi Nuh memilih bersandar pada gunung yang tinggi (sa-awi ila jabalin ya’shimuni minal-ma’) karena menganggapnya kokoh.
    Namun, gunung tersebut tidak dapat menyelamatkannya dari banjir besar, sementara perahu kayu Nabi Nuh selamat karena berada di bawah rahmat dan perlindungan Allah.
  • Relevansi Kekuatan Duniawi:
    Kekuatan atau persenjataan fisik yang tidak berlandaskan kepatuhan kepada Allah pada hakikatnya sangat rapuh seperti sarang laba-laba saat berhadapan dengan pertolongan Allah.
  • Allah Maha Mengetahui:
    Allah mengetahui setiap sesembahan/sandaran selain-Nya yang diseru oleh manusia (Innallaha ya’lamu ma yad’una min dunihi min syai’), dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Wa Huwal-‘Azizul-Hakim).

6. Ayat 43: Perumpamaan dalam Al-Qur’an dan Kategori Orang Berilmu vs Orang Lalai

  • Memahami Perumpamaan Al-Qur’an:
    Allah membuat berbagai perumpamaan (Wa tilkal-amtsalu nadhribuha lin-nas), namun tidak ada yang mampu memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (wa ma ya’qiluha illal-‘alimun).
  • Kategori Al-Ghafilun (Orang yang Lalai):
    Kebalikan dari orang berilmu (al-‘alimun) adalah orang-orang yang lalai (al-ghafilun).
  • Penggunaan Indera dan Akal (Merujuk QS. Al-A’raf: 179):
    • Manusia diberi mata, telinga, hati, dan akal untuk memahami kebenaran.
    • Orang-orang yang tidak memfungsikan akal dan inderanya untuk mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah akan menjadi orang yang lalai (ula’ika humul-ghafilun).
    • Kelalaian ini menyebabkan derajat manusia merosot hingga lebih rendah dan lebih sesat daripada binatang ternak (ula’ika kal-an’ami bal hum adhall), karena binatang memang tidak dianugerahi perangkat akal dan hati sekompleks manusia.

AB Tafsir Surah Al Ankabut 33

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us