15 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Ketika Imam Ali Mengadili Seorang Gubernur karena Sebuah Undangan Makan

Malam menyelimuti Bashrah.

Di sebuah rumah megah, lentera-lentera menyala terang. Permadani terbaik dibentangkan. Bejana-bejana besar memenuhi meja. Daging yang lembut, roti terbaik, madu, buah-buahan, dan makanan beraneka warna disajikan silih berganti.

Para saudagar duduk bersama bangsawan.

Gelang-gelang emas beradu dengan mangkuk. Tawa bersahutan. Wangi rempah memenuhi ruangan.

Di antara para tamu itu duduk Utsman bin Hunaif—gubernur Bashrah yang diangkat oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Ia tidak merampok Baitulmal.

Ia tidak menerima suap.

Ia tidak mengkhianati negara.

Ia hanya memenuhi undangan makan.

Hanya duduk.

Hanya mengambil beberapa suap.

Barangkali ia berpikir, apa salahnya seorang gubernur menghadiri jamuan seorang warga?

Namun ada sesuatu yang tidak terlihat di ruangan itu.

Tidak ada orang miskin.

Di luar rumah, masih ada perut yang kosong. Ada tangan-tangan kasar yang tidak pernah menerima undangan. Ada rakyat yang hanya dapat mencium aroma makanan dari balik pintu.

Orang kaya dipersilakan masuk.

Orang miskin tidak dianggap ada.

Dan ratusan kilometer dari meja itu, di Kufah, Ali mengetahuinya.

Tak ada mata-mata yang diutus untuk mencari kesalahan pribadi. Tetapi pemerintahan Ali memiliki mata yang tidak pernah terpejam terhadap ketidakadilan.

Berita itu tiba:

Gubernur Bashrah menghadiri pesta kaum kaya—pesta yang menyingkirkan kaum miskin.

Ali tidak mengirim pasukan.

Tidak mencopot Utsman bin Hunaif saat itu juga.

Tidak pula menghunus Dzulfiqar.

Beliau mengambil pena.

Tangan yang menjebol pintu Khaibar itu mulai menulis sebuah surat.

Dan setiap kalimatnya lebih tajam daripada pedang.

“Wahai Ibnu Hunaif…”

Bayangkan Utsman membuka surat itu.

Baris pertama membuat suara pesta yang masih tersisa dalam ingatannya tiba-tiba menghilang.

“Telah sampai kepadaku bahwa seorang pemuda Bashrah mengundangmu ke sebuah jamuan, lalu engkau bergegas menghadirinya.”

Utsman terdiam.

Ternyata khalifah mengetahui.

Bukan hanya mengetahui bahwa ia datang.

Ali mengetahui makanan beraneka warna dipilihkan untuknya. Ali mengetahui bejana-bejana besar dipindahkan ke hadapannya.

Lalu datanglah kalimat yang menghantam:

“Aku tidak menyangka engkau menghadiri jamuan suatu kaum yang orang miskinnya disingkirkan dan orang kayanya diundang.”

Bukan makanannya yang pertama-tama dipersoalkan.

Bukan kemewahan rumahnya.

Masalahnya adalah siapa yang boleh duduk di meja itu—dan siapa yang sengaja ditinggalkan di luar.

Ali seakan sedang berkata:

Engkau bukan sekadar Utsman bin Hunaif.

Engkau adalah mata pemerintahanku di Bashrah.

Ketika engkau duduk di antara orang kaya, rakyat melihat negara sedang duduk bersama mereka.

Ketika orang miskin ditolak dari pintu, mereka merasa negara ikut menolak mereka.

Seorang pejabat tidak pernah datang sendirian.

Jabatan berjalan bersamanya.

Nama pemerintah melekat pada pakaiannya.

Dan setiap suap yang masuk ke mulutnya akan ditanya: di meja siapa ia duduk, dari mana makanan itu berasal, dan siapa yang menangis di luar pintu.

Surat itu berlanjut.

Ali meminta gubernurnya memperhatikan setiap makanan yang dikunyahnya. Yang meragukan harus ditinggalkan. Yang diketahui berasal dari jalan halal barulah boleh disentuh.

Namun surat itu belum selesai.

Ali tidak hanya menegur bawahannya.

Beliau menyeret dirinya sendiri ke ruang pengadilan.

“Ketahuilah, setiap pengikut mempunyai seorang pemimpin yang diikutinya dan dari cahaya pengetahuannya ia memperoleh petunjuk.”

Kemudian Ali memperlihatkan bagaimana pemimpin mereka hidup.

Khalifah yang wilayah kekuasaannya terbentang luas itu tidak menimbun emas.

Ia tidak mengumpulkan kekayaan.

Dari seluruh dunia, ia merasa cukup dengan dua lembar pakaian yang telah usang.

Dari seluruh hidangan, ia merasa cukup dengan dua potong roti.

Ia tahu tidak semua rakyat mampu hidup sekeras dirinya.

Karena itu, ia tidak memerintahkan Utsman menjadi Ali.

Ia hanya meminta:

Bantulah aku dengan ketakwaan, kesungguhan, kesucian diri, dan keteguhan.

Lalu surat itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menggetarkan.

Seakan-akan Ali berdiri seorang diri di tengah istana kekuasaan dan berbicara kepada dunia:

“Apakah aku cukup merasa bangga hanya karena dipanggil Amirul Mukminin, tetapi tidak ikut merasakan kesulitan mereka?”

Itulah pertanyaan yang membuat mahkota kehilangan kilaunya.

Apa artinya disebut pemimpin kaum beriman jika pemimpin itu kenyang sementara rakyatnya lapar?

Apa gunanya gelar khalifah jika ia tidur di atas kasur empuk sementara seorang ibu menidurkan anaknya dengan perut kosong?

Apa arti kekuasaan jika penderitaan rakyat hanya menjadi angka dalam laporan?

Ali dapat menikmati makanan terbaik.

Tak seorang pun mampu melarangnya.

Baitulmal berada di bawah pemerintahannya. Negeri-negeri berada dalam kekuasaannya. Emas dan gandum mengalir ke Kufah.

Namun Ali menolak.

Bukan karena makanan yang baik haram.

Bukan karena kekayaan selalu tercela.

Tetapi karena ia adalah pemimpin.

Selama masih ada rakyat yang tidak sanggup membeli roti, ia tidak ingin lidahnya terbiasa dengan kemewahan.

Selama masih ada orang miskin yang pakaiannya koyak, ia tidak ingin tubuhnya dimanjakan oleh pakaian terbaik.

Ia memilih berdiri di tempat rakyat paling lemah berdiri.

Bukan agar kemiskinan menjadi tontonan.

Namun agar orang miskin tahu bahwa pemimpinnya tidak meninggalkan mereka sendirian.

Surat itu terus menyala.

Ali menggambarkan dirinya seperti pohon liar di padang pasir.

Pohon yang tumbuh dengan sedikit air memiliki batang lebih kuat. Kayunya lebih keras. Apinya lebih lama menyala.

Kemewahan tidak membuatnya perkasa.

Kesederhanaanlah yang menempa tubuh dan jiwanya.

Kemudian dunia seakan berdiri di hadapan Ali sebagai seorang perempuan cantik yang menawarkan istana, makanan, emas, dan kekuasaan.

Ali menatapnya.

“Menjauhlah dariku, wahai dunia.”

Ia telah lolos dari cakarnya.

Ia telah melepaskan diri dari jeratnya.

Dunia pernah menipu raja-raja. Dunia pernah menundukkan manusia-manusia besar. Dunia membisikkan bahwa kekuasaan adalah kesempatan untuk menikmati segalanya.

Namun ia berhadapan dengan lelaki yang tidak dapat dibeli.

Ali tidak takut kepada pasukan.

Tidak tunduk kepada para bangsawan.

Dan tidak takluk oleh sepiring makanan.

Di Bashrah, Utsman bin Hunaif memegang surat itu dengan tangan bergetar.

Mungkin jamuan tersebut telah lama berakhir.

Namun kini setiap suapnya terasa berada di tenggorokan.

Ia baru memahami:

Kesalahan seorang pejabat tidak selalu dimulai dari peti uang yang dicuri.

Kadang-kadang ia dimulai dari sebuah undangan.

Dari satu kursi di meja orang kaya.

Dari satu malam ketika penguasa merasa nyaman berada di ruangan yang pintunya tertutup bagi orang miskin.

Tidak ada pedang yang terhunus malam itu.

Tidak ada benteng yang runtuh.

Tetapi satu surat dari Ali telah merobohkan tembok yang jauh lebih berbahaya:

Tembok yang memisahkan penguasa dari rakyatnya.

Inilah Ali.

Ia tidak melarang orang kaya menikmati harta yang halal.

Namun ia tidak membiarkan pejabatnya kehilangan kepekaan.

Ia tidak menghukum seseorang karena makanan lezat.

Ia menegur karena di balik kelezatan itu ada orang miskin yang disingkirkan.

Sebab bagi Ali, meja makan seorang penguasa adalah cermin pemerintahannya.

Lihatlah siapa yang duduk di sekelilingnya.

Jika hanya orang kaya yang mendapat kursi sementara kaum lemah berdiri di luar pintu, barangkali keadilan telah meninggalkan ruangan jauh sebelum makanan pertama dihidangkan.

Satu Suap yang Mengguncang Pemerintahan

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Source: https://www.facebook.com/share/p/1JrgzM66QV/

Dehills Institute

Catatan: Naskah ini berpijak pada Surat ke-45 Nahj al-Balāghah⁠, yang ditujukan kepada Utsman bin Hunaif, gubernur Bashrah

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us