Hikmah Peringatan Milad ImamAli as.
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Esensi dan Hikmah Peringatan Milad
Peringatan hari kelahiran (milad) Imam Ali bin Abi Thalib as. pada tanggal 13 Rajab merupakan momen kebahagiaan besar bagi para pecintanya.
Berdasarkan riwayat, para pengikut (Syiah) memiliki hubungan spiritual yang erat dengan Ahlulbait, sehingga mereka secara alami ikut bergembira saat Ahlulbait gembira dan bersedih saat Ahlulbait mengalami duka.
Namun, majelis peringatan ini diselenggarakan bukan sekadar untuk mengekspresikan kegembiraan atau membuktikan kecintaan, melainkan sebagai sarana penting untuk menggali hikmah spiritual mendalam serta meneladani nilai-nilai mulia yang ada pada diri beliau.
Hubungan Istimewa Sejak Dini dengan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memiliki hubungan keluarga dan emosional yang sangat erat dengan Abu Thalib dan istrinya, Fatimah bintu Asad, yang telah mengasuh beliau layaknya anak kandung sendiri sejak masa kanak-kanak.
Ketika Imam Ali lahir, Rasulullah menyambutnya dengan kegembiraan yang luar biasa khas.
Beliau menamakan tahun tersebut sebagai Sana-tul Khair (Tahun Kebaikan) karena bertepatan dengan mulai tampaknya tanda-tanda kenabian (seperti batu-batu di sekitar Mekah yang memberi salam kepada beliau), sepuluh tahun sebelum pelantikan resmi kenabian.
Segala perlakuan istimewa dan asuhan nabi terhadap Ali kecil sejak bayi merupakan rekayasa dan bimbingan langsung dari Allah SWT, bukan karena alasan personal seperti rasa sepi atau balas budi.
Ali dipersiapkan sejak dini sebagai pendamping setia dalam mengemban misi kenabian.
Mukjizat Kelahiran di Dalam Ka’bah
Kelahiran Imam Ali di dalam Ka’bah adalah sebuah mukjizat besar yang tidak pernah diberikan kepada manusia lain, baik sebelum maupun sesudahnya.
Hal ini merupakan fakta sejarah mutlak yang disepakati secara mutawatir oleh para ulama lintas mazhab.
Ketika Fatimah bintu Asad—seorang wanita beriman yang tetap menjaga tauhid murni di tengah zaman jahiliyah—merasakan sakit melahirkan saat sedang tawaf, beliau berdoa memohon kemudahan di sudut Ka’bah yang dikenal sebagai Al-Mustajar (Rukun Yamani).
Secara ajaib, tembok Ka’bah terbelah sehingga beliau dapat masuk, lalu rapat kembali.
Fatimah berada di dalam Ka’bah selama tiga hari tiga malam tanpa meninggalkan setetes darah pun di tempat suci tersebut, dan keluar pada hari keempat dengan membawa bayi Ali yang telah terbalut selimut putih.
Saat lahir, bayi Ali juga langsung mengucapkan dua kalimat syahadat. Keistimewaan kelahiran ini sangat kontras dengan ibunda Nabi Isa (Maryam) yang justru diperintahkan untuk keluar meninggalkan rumah ibadah saat melahirkan.
Adapun klaim sejarah lain mengenai tokoh yang lahir di Ka’bah (seperti Hakim bin Hizam) dinilai sebagai upaya fabrikasi sejarah yang lemah untuk menandingi keutamaan mutlak Imam Ali.
Korelasi Spiritual Ka’bah dan Imam Ali
Allah menetapkan Ka’bah sebagai pilar tegaknya urusan umat Islam dan menetapkan bahwa memandang Ka’bah adalah ibadah.
Hal ini sejajar dengan kedudukan Imam Ali, di mana memandang wajah beliau juga bernilai ibadah.
Kehadiran syariat Islam dan kesucian Ka’bah yang dirayakan umat saat ini merupakan buah dari perjuangan serta pengorbanan Imam Ali dalam membela agama Allah.
Bahkan, bekas retakan di Rukun Yamani tempat ibunda beliau masuk masih terlihat hingga hari ini sebagai tanda fisik dari Allah agar umat manusia terus mengenal keagungan beliau.
Imam Ali adalah perwujudan nyata dari Sirat al-Mustaqim (Jalan yang Lurus) untuk mengantarkan umat menuju Rasulullah dan Allah SWT.
Politik Pembungkaman Sejarah oleh Bani Umayyah
Upaya sistematis untuk meredupkan keutamaan Imam Ali bersumber dari warisan politik dinasti Bani Umayyah.
Diceritakan bagaimana putra mahkota Hisyam bin Abdul Malik terkejut saat membaca catatan sejarah nabi milik Aban (putra Khalifah Utsman bin Affan).
Catatan tersebut mengungkap fakta kepahlawanan luar biasa Imam Ali dalam pertempuran penting Islam; seperti di Perang Badar, di mana lebih dari separuh korban musyrik Quraisy tewas di tangan pedang beliau, serta keteguhan beliau melindungi Rasulullah saat perang Uhud dan Hunayn di kala sebagian besar sahabat lainnya melarikan diri.
Demi mempertahankan kekuasaan, Khalifah Abdul Malik bin Marwan melarang keras penyebaran sejarah tersebut dan membiarkan masyarakat tetap bodoh tentang kebenaran sejarah.
Akibat dari doktrin dan teror masa lalu ini, banyak muslim saat ini yang tidak akrab dengan hari lahir beliau atau merasa takut untuk sekadar menyebut beliau dengan gelar “Imam” karena khawatir dituduh Syiah.
Kesimpulan
Imam Ali as. bukanlah milik golongan tertentu saja, melainkan milik seluruh kaum muslimin dan bahkan menjadi kebanggaan kemanusiaan secara universal.
Beliau adalah cerminan Islam yang sejati serta mukjizat hidup dan konkret dari perjuangan Rasulullah SAW.

Bersama Ustadz Ali Umar Al Habsyi
Judul video: Hikmah Peringatan Milad ImamAli as. – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:

Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN






