Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Ketika ahli nujum melarang Ali berangkat—dan Ali memerintahkan pasukannya bergerak pada saat itu juga
Pagi itu, pasukan telah siap.
Kuda-kuda menghentakkan kaki ke tanah. Tombak-tombak berdiri seperti hutan besi. Bendera-bendera berkibar diterpa angin, sementara ribuan mata menunggu satu perintah:
Berangkat.
Di depan mereka terbentang jalan menuju Nahrawan.
Namun sebelum pasukan bergerak, seorang lelaki datang dengan langkah tergesa-gesa.
Namanya disebut dalam penjelasan Nahj al-Balāghah sebagai ‘Afif bin Qais al-Kindi. Ia dikenal memahami peredaran bintang dan perhitungan waktu.
Ia menengadah ke langit.
Matanya bergerak dari satu sudut cakrawala ke sudut lainnya. Ia menghitung posisi bintang, perjalanan matahari, dan pertanda-pertanda yang diyakininya tersembunyi di antara benda-benda langit.
Wajahnya mendadak berubah.
Ia menerobos barisan dan mendekati Imam Ali.
“Wahai Amirul Mukminin!”
Suara itu membuat beberapa kepala berpaling.
Ali menatapnya.
Lelaki itu berkata dengan nada penuh kecemasan:
“Jangan berangkat pada saat ini.”
Suasana mendadak hening.
Pasukan yang beberapa saat lalu siap bergerak kini saling memandang. Tangan-tangan yang memegang tali kekang mulai mengendur.
‘Afif kembali memandang langit.
“Menurut perhitungan bintang, waktu ini tidak baik. Jika engkau berangkat sekarang, aku khawatir engkau tidak akan memperoleh kemenangan.”
Beberapa prajurit ikut menengadah.
Langit terlihat biasa.
Tidak ada petir. Tidak ada badai. Tidak ada suara dari angkasa.
Namun kalimat tentang kekalahan telah dilemparkan ke tengah pasukan—dan ketakutan tidak selalu membutuhkan bukti. Ia hanya membutuhkan satu suara yang terdengar meyakinkan.
“Jika pasukan bergerak sekarang,” lanjut sang ahli nujum, “kalian akan menghadapi kegagalan dan kekalahan.”
Bisikan mulai merambat.
“Kita tunggu saja.”
“Mungkin kita berangkat beberapa saat lagi.”
“Apa salahnya menghindari waktu buruk?”
Satu ramalan hampir menahan ribuan pasukan.
Bukan karena mereka kehilangan pedang.
Bukan karena kuda-kuda mereka lumpuh.
Tetapi karena hati mereka mulai menggantungkan keselamatan kepada letak bintang.
Ali diam.
Beliau memandang lelaki itu, lalu menengadah ke langit yang sedang dijadikan dasar untuk menakut-nakuti manusia.
Langit yang sama pernah beliau pandangi ketika menemani Rasulullah.
Langit yang sama menaungi Badar, Uhud, Khandaq, dan Khaibar.
Bintang-bintang itu tidak pernah memberikan kemenangan kepada Muhammad.
Matahari tidak pernah mengangkat pedang bersama Ali.
Semuanya hanyalah makhluk—beredar pada jalur yang telah ditentukan oleh Allah.
Lalu suara Ali terdengar:
“Apakah engkau mengaku mengetahui waktu ketika seseorang berangkat, lalu keburukan tidak akan menimpanya?”
Sang ahli nujum terdiam.
“Dan apakah engkau mampu menunjukkan waktu ketika seseorang keluar, lalu bahaya pasti menimpanya?”
Tidak ada jawaban.
Ali melangkah mendekat.
Jika ucapan lelaki itu dibiarkan, persoalannya bukan lagi sekadar kapan pasukan harus berangkat.
Yang sedang dipertaruhkan adalah tauhid.
Jika manusia percaya bahwa suatu jam dengan sendirinya membawa keselamatan, kepada siapakah ia akan bersyukur ketika selamat?
Jika manusia percaya bahwa susunan bintang menentukan kekalahan, kepada siapakah ia akan memohon pertolongan?
Apakah kepada Allah—
atau kepada peta langit yang dibuat manusia?
Suara Ali semakin tegas:
“Barang siapa membenarkan perkataanmu dalam perkara ini, berarti ia telah mendustakan Al-Qur’an.”
Pasukan tersentak.
Ali tidak sedang berbicara tentang ilmu yang dipergunakan untuk membaca arah perjalanan. Bukan pengetahuan tentang bintang yang menolong musafir menemukan jalan di daratan atau pelaut menentukan arah di lautan.
Beliau sedang menghancurkan keyakinan bahwa bintang dapat membuka rahasia takdir dan menentukan manfaat maupun bahaya tanpa kehendak Allah.
“Orang yang mempercayaimu,” lanjut Ali, “akan merasa tidak membutuhkan pertolongan Allah dalam memperoleh apa yang diinginkannya dan menolak apa yang ditakutinya.”
Inilah racun ramalan.
Ia tidak selalu menyuruh manusia meninggalkan Tuhan dengan terang-terangan.
Ia hanya memindahkan sandaran hati sedikit demi sedikit.
Dari Allah kepada hari.
Dari doa kepada angka.
Dari tawakal kepada posisi bintang.
Hingga ketika keberhasilan datang, manusia tidak lagi berkata, “Allah telah menolongku.”
Ia berkata:
“Ahli nujum itu benar.”
Ali menatap lelaki tersebut.
“Dengan ucapanmu, engkau ingin orang yang mengikutimu memuji dirimu, bukan memuji Tuhannya. Sebab engkau menganggap dirimulah yang menunjukkan waktu ketika ia mendapatkan manfaat dan terhindar dari bahaya.”
Tak seorang pun lagi memandang langit.
Semua mata kini tertuju kepada Ali.
Kemudian Amirul Mukminin membalikkan tubuhnya dan menghadap seluruh pasukan.
Di hadapannya berdiri ribuan lelaki yang beberapa saat lalu siap berperang, tetapi hampir dikalahkan oleh sebuah ramalan sebelum melangkah.
Ali berseru:
“Wahai manusia!”
Suara itu menggema melintasi barisan.
“Jauhilah ilmu perbintangan yang digunakan untuk meramal, kecuali pengetahuan yang dapat membantu kalian menemukan arah di daratan dan lautan.”
Bintang adalah penunjuk jalan.
Bukan penulis takdir.
Matahari adalah penanda waktu.
Bukan pemberi kemenangan.
Langit adalah ayat Allah.
Bukan Tuhan.
“Ramalan semacam itu,” lanjut Ali, “akan membawa manusia kepada perdukunan. Ahli nujum yang mengaku mengetahui takdir menjadi seperti peramal; peramal menyerupai penyihir; dan jalan itu membawa manusia menjauh dari keimanan.”
Angin bertiup lebih keras.
Bendera-bendera kembali berkibar.
‘Afif masih berdiri di tempatnya. Semua perhitungannya telah selesai. Menurut angka-angka yang dipercayainya, saat itu adalah waktu kekalahan.
Ali justru menaiki tunggangannya.
Tangannya meraih tali kekang.
Tidak menunggu bintang berpindah.
Tidak menunggu matahari bergeser.
Tidak meminta ahli nujum mencari jam yang dianggap lebih menguntungkan.
Beliau memilih waktu yang baru saja disebut sebagai waktu bencana.
Kemudian perintah itu terdengar—singkat, tetapi seperti menghancurkan seluruh berhala yang disembunyikan manusia di dalam ketakutannya:
“Bergeraklah atas nama Allah!”
Teriakan pasukan membelah udara.
Kuda-kuda melompat maju. Ribuan kaki menghantam tanah. Tombak-tombak bergerak. Debu mengepul menutupi cakrawala.
Pasukan berangkat pada jam yang diramalkan membawa kekalahan.
‘Afif berdiri menyaksikan mereka menjauh.
Ia telah membaca bintang.
Namun Ali membaca sesuatu yang lebih tinggi daripada bintang:
kehendak Allah.
Pasukan itu bergerak menuju Nahrawan. Dan pada hari yang dikatakan sebagai hari kesialan tersebut, ramalan ahli nujum runtuh di hadapan kenyataan.
Ali memperoleh kemenangan.
Bukan karena waktu itu ternyata membawa keberuntungan.
Bukan karena susunan bintang berubah.
Tetapi karena sejak awal, bintang tidak pernah memegang takdir.
Di bawah langit yang luas, Ali meninggalkan sebuah pelajaran yang lebih besar daripada peperangan:
Manusia boleh membaca musim.
Boleh menghitung perjalanan matahari.
Boleh menggunakan bintang untuk menemukan arah.
Namun saat ia menyerahkan nasibnya kepada benda-benda langit, ia telah mengecilkan Tuhan dan membesarkan makhluk.
Ali tidak sekadar memenangkan pertempuran hari itu.
Ia membebaskan pasukannya dari ketakutan kepada sesuatu selain Allah.
Ahli nujum berkata:
“Jangan bergerak. Langit meramalkan kekalahan.”
Ali menjawab dengan derap ribuan kuda:
“Bergeraklah—atas nama Allah.”
Sebab bagi Ali, kemenangan tidak turun dari bintang.
Kemenangan datang dari Tuhan yang menciptakan bintang.

Hasyim Arsal Alhabsi
Sumber artikel dan gambar: https://www.facebook.com/share/p/1Hynis9enL/
Dehills Institute
Catatan: Inti peristiwa dan khotbah Imam Ali ini tercantum dalam Nahj al-Balāghah, Khotbah 79; penggambaran suasananya berusaha saya bangun agar terasa kisahnya sinematik.

