15 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Ketika Ibnu Abbas menemukan Ali menjahit sandalnya menjelang Perang Jamal

Dzi Qar berada dalam ketegangan.

Kabar dari Bashrah datang bertubi-tubi. Pasukan telah berhimpun. Pedang-pedang diasah. Kuda-kuda dipersiapkan. Para utusan berlari keluar-masuk membawa laporan tentang Talhah, Zubair, dan pasukan yang sedang menunggu di seberang.

Perang besar hampir pecah.

Di luar sebuah kemah sederhana, para panglima berdiri menunggu perintah. Mereka ingin mengetahui strategi Amirul Mukminin. Jalur mana yang akan ditempuh? Kapan pasukan bergerak? Siapa yang memegang sayap kanan? Siapa yang akan menghadapi barisan lawan?

Namun Ali belum keluar.

Abdullah bin Abbas berjalan menuju kemah beliau.

Ia membuka penutupnya.

Lalu langkahnya terhenti.

 

Di dalam kemah itu tidak ada peta peperangan yang terbentang.

Tidak ada peti emas.

Tidak ada kursi kebesaran.

Tidak ada pelayan yang membungkuk di hadapan seorang khalifah.

Yang dilihat Ibnu Abbas hanyalah seorang lelaki duduk di atas tanah.

Lelaki itu adalah penguasa wilayah yang membentang dari Hijaz hingga Irak, dari Persia hingga Mesir.

Tetapi di tangannya—

ada sebuah sandal tua.

Talinya telah putus. Kulitnya aus. Debu perjalanan menempel pada permukaannya. Sandal itu bahkan tidak layak diletakkan di hadapan seorang raja.

Ali sedang menambalnya sendiri.

Tangannya yang pernah menggenggam Dzulfiqar kini memegang jarum dan tali. Jari-jari yang pernah menjebol pertahanan Khaibar perlahan memasukkan benang ke dalam kulit sandal yang robek.

Ibnu Abbas memandang dengan keheranan.

Di luar, ribuan orang menunggu keputusan tentang perang dan kekuasaan.

Di dalam, khalifah sedang memperbaiki alas kakinya.

Ali tidak segera menoleh. Ia tetap menyatukan bagian sandal yang terlepas, menarik talinya, lalu menguji kekuatannya.

Kemudian beliau bertanya:

“Wahai Ibnu Abbas…”

Ibnu Abbas mendekat.

“Menurutmu, berapakah nilai sandal ini?”

Ibnu Abbas terdiam.

Barangkali dalam pikirannya muncul pertanyaan: Mengapa kita sedang membicarakan sebuah sandal ketika Bashrah berada di ambang perang?

Namun Ali menunggu jawabannya.

Ibnu Abbas menatap sandal itu sekali lagi.

Kulitnya telah menua. Talinya berkali-kali ditambal. Tidak ada pedagang yang tertarik membelinya.

Ia menjawab:

“Tidak ada nilainya.”

Ali mengangkat sandal itu.

Sebuah benda yang tidak diinginkan siapa pun.

Sebuah benda yang mungkin akan dibuang orang lain ke pinggir jalan.

Kemudian Amirul Mukminin berkata:

“Demi Allah, sandal ini lebih aku cintai daripada memerintah kalian…”

Ibnu Abbas membeku.

Di luar kemah, manusia sedang bersiap menumpahkan darah karena kekuasaan.

Sebagian orang memobilisasi suku-suku untuk merebutnya. Sebagian menggunakan nama agama untuk mempertahankannya. Mereka mengirim surat, mengumpulkan pasukan, membeli kesetiaan, dan menyalakan kebencian.

Namun lelaki yang sedang memegang kekuasaan itu justru mengatakan:

Sandal rusak ini lebih berharga bagiku daripada pemerintahan kalian.

Ali kemudian menyelesaikan kalimatnya:

“…kecuali dengan kekuasaan itu aku dapat menegakkan kebenaran atau menolak kebatilan.”

Hening memenuhi kemah.

 

Saat itulah Ibnu Abbas memahami bahwa Ali tidak sedang bertanya tentang sandal.

Ali sedang menjelaskan kekhalifahan.

Bagi kebanyakan manusia, kekuasaan adalah tujuan. Mereka rela kehilangan sahabat, keluarga, kehormatan, bahkan agama untuk mendapatkannya.

Bagi Ali, kekuasaan hanyalah alat.

Jika ia tidak dapat mengembalikan hak orang yang dirampas…

Jika ia tidak dapat melindungi orang lemah…

Jika ia tidak dapat menghentikan tangan orang zalim…

Jika ia tidak dapat menegakkan kebenaran dan menyingkirkan kebatilan…

maka kekuasaan itu tidak lebih berharga daripada sandal robek.

Bahkan lebih rendah.

 

Ali tidak membutuhkan mahkota agar menjadi mulia. Kekuasaanlah yang membutuhkan Ali agar memiliki kehormatan.

Beliau menyelesaikan tambalannya.

Jarum diletakkan.

Sandal itu dikenakan kembali.

Kemudian Ali berdiri.

Tidak ada jubah kerajaan yang menunggu di bahunya. Tidak ada mahkota yang dipasang di kepalanya. Ia keluar dari kemah dengan sandal tua yang baru saja dijahitnya sendiri.

Para prajurit segera berdiri tegak.

Suara-suara terhenti.

Ribuan mata memandang kepadanya.

Di hadapan mereka berdiri lelaki yang akan memimpin sebuah peperangan—tetapi hatinya tidak menginginkan sedikit pun kemegahan yang biasanya dicari para pemenang.

 

Ali berjalan ke tengah pasukan.

Debu Dzi Qar berputar di sekitar kakinya. Sandal yang tadi dianggap tidak bernilai kini menopang langkah seorang khalifah menuju medan tempat kebenaran dan kebatilan akan berhadapan.

 

Ali mulai berbicara:

Allah mengutus Muhammad ﷺ ketika di tengah bangsa Arab belum ada yang membaca kitab samawi dan tidak ada yang mengaku sebagai nabi.”

Suara beliau menggema.

“Rasulullah membawa manusia menuju kedudukan mereka yang benar. Beliau mengantarkan mereka kepada keselamatan, hingga kehidupan mereka menjadi lurus dan keadaan mereka menjadi teguh.”

 

Lalu suara Ali mengeras:

Demi Allah, aku termasuk orang yang berjuang dalam perubahan itu. Aku tidak pernah lemah dan tidak pernah menjadi pengecut.”

Para prajurit mendengarkan.

Mereka mengenal sejarah lelaki di hadapan mereka.

Ia adalah pemuda yang berdiri ketika Nabi meminta seorang pembela.

Ia adalah lelaki yang tidur di ranjang Rasulullah pada malam pembunuhan.

Ia adalah pedang yang berdiri di Badar, Uhud, Khandaq, dan Khaibar.

Namun Ali tidak menyebut semua itu untuk membanggakan dirinya.

Ia sedang mengatakan bahwa perjuangannya belum berubah.

Dahulu ia berperang agar manusia menerima turunnya kebenaran.

Kini ia berdiri untuk menjaga agar kebenaran tidak dipermainkan setelah Rasulullah wafat.

Aku akan membelah kebatilan,” kata Ali, “hingga kebenaran keluar dari sisinya.”

Itulah alasan ia berada di Dzi Qar.

 

Bukan karena ingin memperluas kerajaan.

Bukan karena tersinggung kehormatannya.

Bukan karena takut kehilangan kursi.

Ia berdiri karena kebatilan telah mengenakan pakaian agama—dan seseorang harus merobek penyamarannya.

Pasukan pun bergerak.

Panji-panji terangkat. Kuda-kuda mulai berjalan. Debu mengepul di sepanjang jalur menuju Bashrah.

 

Di depan mereka berjalan seorang khalifah.

Tidak dengan sepatu bertatahkan permata.

Tidak dengan sandal baru yang dibeli dari Baitulmal.

Tetapi dengan sandal tua yang dijahitnya sendiri.

Dan sejarah seakan menyimpan sandal itu sebagai ukuran bagi setiap penguasa setelahnya:

Jika kursi tidak digunakan untuk menegakkan hak, nilainya lebih rendah daripada kulit usang.

Jika kekuasaan tidak melindungi orang lemah, ia hanyalah kebatilan yang mengenakan mahkota.

Jika seorang pemimpin menginginkan jabatan demi dirinya sendiri, ia belum memahami Ali.

Karena Ali tidak pernah menjadi besar disebabkan kekuasaan.

Kekuasaanlah yang menjadi mulia ketika berada di tangan Ali.

 

Hari itu Ibnu Abbas memasuki kemah untuk mencari seorang panglima.

Ia menemukan seorang tukang sandal.

Namun ketika lelaki itu berdiri dan melangkah keluar, dunia melihat sesuatu yang jauh lebih besar:

seorang Imam yang dapat menaklukkan negeri, tetapi tidak pernah membiarkan sebuah negeri menaklukkan hatinya.

Sandal yg lebih mahal drpd kekhalifahan

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

Source: https://www.facebook.com/share/p/19NjHUTuAz/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us