15 September 2026

Dua Pakaian di Pasar Kufah

Pasar Kufah sedang ramai.
Suara pedagang bersahutan. Kain-kain dari berbagai wilayah tergantung di depan kedai. Para pembeli berjalan sambil menawar, sementara debu tipis naik setiap kali kaki-kaki melintasi jalan sempit.
Di tengah keramaian itu, dua orang berjalan berdampingan.
Yang pertama mengenakan pakaian sederhana. Tidak ada mahkota di kepalanya. Tidak ada pasukan yang membuka jalan. Tidak pula pengawal yang meneriakkan kedatangannya.
Ia adalah Imam Ali bin Abi Thalib a.s.
Khalifah yang wilayah pemerintahannya membentang luas itu datang ke pasar untuk membeli pakaian dengan uangnya sendiri.
Di sampingnya berjalan Qanbar—pelayan sekaligus sahabat setia yang selalu berada dekat dengannya.
Ali berhenti di depan sebuah kedai kain.
Pedagang itu segera mengenalinya.
Wajahnya berubah. Tubuhnya membungkuk lebih rendah. Senyumnya menjadi terlalu manis.
“Wahai Amirul Mukminin…”
Ali memperhatikan perubahan sikap itu.
Beliau memahami apa yang mungkin terjadi berikutnya: harga akan diturunkan, kualitas terbaik akan dikeluarkan, atau sesuatu akan diberikan sebagai penghormatan kepada khalifah.
Ali tidak menginginkannya.
Ia tidak ingin membeli sebagai penguasa.
Ia hanya ingin membeli sebagai seorang manusia.
Tanpa berkata panjang, Ali meninggalkan kedai tersebut.
Pedagang itu terpaku. Mungkin ia tidak memahami mengapa seorang khalifah menolak penghormatan. Namun Ali mengetahui bahwa perlakuan istimewa adalah pintu kecil menuju ketidakadilan.
Hari ini potongan harga.
Besok hadiah.
Lusa permintaan.
Kemudian sebuah keputusan mulai berubah arah karena hati telah merasa berutang.
Ali berjalan menuju kedai lain.
Di sana berdiri seorang pemuda yang belum pernah melihat wajah khalifah dari dekat. Ia tidak mengenali lelaki sederhana yang kini berhenti di hadapannya.
Ali bertanya:
“Apakah engkau mempunyai dua pakaian seharga lima dirham?”
Pemuda itu mengangguk.
Ia mengambil dua helai pakaian.
Yang pertama lebih baik. Bahannya lebih halus, jahitannya lebih rapi. Harganya tiga dirham.
Yang kedua lebih kasar dan sederhana. Harganya dua dirham.
Keduanya diletakkan di hadapan Ali.
Tidak ada kemewahan di sana. Namun perbedaan antara keduanya mudah terlihat.
Ali membayar lima dirham.
Kemudian tangannya mengambil pakaian yang lebih baik—yang berharga tiga dirham.
Qanbar mengira pakaian itu tentu untuk khalifah.
Bagaimanapun, Ali selalu berdiri di hadapan umat. Ia naik ke mimbar. Ia menerima para utusan. Ia memimpin pemerintahan yang luas.
Namun Ali berbalik dan menyerahkan pakaian terbaik itu kepada Qanbar.
“Ambillah ini.”
Qanbar terdiam.
Ia melihat pakaian di tangannya, kemudian memandang pakaian yang tersisa untuk Ali.
Pakaian khalifah lebih murah daripada pakaian pelayannya.
Qanbar segera menolak.
“Wahai Amirul Mukminin, engkau lebih berhak memakainya. Engkau naik ke atas mimbar dan menyampaikan khotbah kepada manusia.”
Ali memandang Qanbar.
Di pasar yang ramai itu, zaman seolah berhenti untuk mendengar jawabannya.
Ali tidak berkata:
“Aku khalifah, maka aku berhak mendapatkan yang terbaik.”
Ia tidak berkata:
“Engkau pelayan, maka pakaian kasar sudah cukup bagimu.”
Ali justru berkata:
“Engkau masih muda dan mempunyai kegembiraan seorang pemuda. Aku malu kepada Allah apabila aku mengutamakan diriku atas dirimu.”
Qanbar tidak mampu menjawab.
Barangkali selama hidupnya ia telah mendengar banyak orang berbicara tentang persamaan.
Namun hari itu ia melihat persamaan turun dari mimbar, berjalan memasuki pasar, lalu menyerahkan pakaian terbaik kepada seorang pelayan.
Ali melanjutkan:
“Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: pakaikanlah kepada pelayan kalian sebagaimana kalian berpakaian, dan berilah mereka makan sebagaimana kalian makan.”
Kata-kata Rasulullah tidak hanya tinggal sebagai hafalan di lidah Ali.
Ia menjadi pakaian di tubuh Qanbar.
Ia menjadi pilihan kecil yang memperlihatkan betapa besar jiwa seorang pemimpin.
Qanbar akhirnya menerima pakaian itu.
Ali mengambil pakaian yang lebih murah.
Ketika dikenakan, lengannya ternyata terlalu panjang. Ujung kain menutupi tangannya.
Ali meminta pemuda penjual kain memotong bagian yang berlebih.
Pemuda itu memotongnya sejajar dengan pergelangan tangan.
“Biarkan aku menjahit tepinya untukmu,” katanya.
Ali memandang potongan kain yang kasar itu.
“Biarkan saja. Segala sesuatu akan berlalu lebih cepat daripada jahitan itu.”
Kalimat tersebut membuat dunia seakan mengecil.
Kekuasaan akan berlalu.
Pakaian akan usang.
Tubuh akan kembali menjadi tanah.
Mimbar akan ditinggalkan.
Yang tersisa hanyalah apa yang pernah dilakukan seseorang ketika ia memiliki kesempatan mengutamakan dirinya—tetapi memilih memberikan yang terbaik kepada orang lain.
Barangkali pemuda pedagang itu baru menyadari siapa pembelinya ketika orang-orang mulai berbisik.
“Itu Amirul Mukminin.”
Tangannya terhenti.
Ia menatap lelaki yang sedang mengenakan pakaian dua dirham dengan ujung lengan belum dijahit.
Itulah khalifah.
Bukan lelaki yang mengenakan pakaian termahal.
Bukan orang yang meminta harga khusus.
Bukan penguasa yang menempatkan pelayan beberapa langkah di belakangnya.
Justru pelayannya mengenakan pakaian yang lebih baik.
Ali lalu meninggalkan pasar bersama Qanbar.
Mereka berjalan berdampingan.
Orang-orang mungkin melihat seorang khalifah dan seorang pelayan.
Namun bila pakaian dijadikan ukurannya, tidak seorang pun dapat mengetahui siapa tuan dan siapa pelayan.
Dan mungkin memang itulah yang dikehendaki Ali.
Sebab di hadapan Allah, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh siapa yang berada di atas mimbar dan siapa yang berdiri di belakangnya.
Hari itu tidak ada pedang yang diangkat.
Tidak ada benteng yang dihancurkan.
Namun Imam Ali merobohkan benteng yang jauh lebih sulit ditaklukkan:
perasaan bahwa kedudukan membuat seseorang lebih berhak atas kenikmatan daripada manusia yang melayaninya.
Khaibar menyaksikan Ali mengangkat pintu benteng.
Pasar Kufah menyaksikan Ali melakukan sesuatu yang mungkin lebih berat:
ia melepaskan keistimewaan dari tangannya sendiri.
Qanbar berjalan memakai pakaian tiga dirham.
Khalifah berjalan dalam pakaian dua dirham.
Dan sejarah menyaksikan sebuah pemandangan yang tidak pernah sanggup ditiru oleh kemewahan istana mana pun:
seorang pelayan berpakaian lebih baik daripada penguasanya—karena penguasanya merasa malu kepada Allah jika mengutamakan dirinya.
Ketika pelayan berpakaian
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Sumber kisah: riwayat Mukhtār al-Tammār dalam Makārim al-Akhlāq, dihimpun dalam bab kebijakan sosial Imam Ali pada Imam Ali’s Book of Government⁠

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us