15 September 2026

Ali sedang tertidur ketika Rasulullah datang.

Debu melekat pada tubuhnya. Di sekelilingnya, pohon-pohon kurma muda menaungi tanah tempat ia dan ‘Ammar bin Yasir berbaring. Angin melintas di antara pelepah, membawa keheningan sebuah persinggahan di tengah perjalanan.
Sebentar lagi, di tempat sesederhana itu, Rasulullah akan memberinya sebuah panggilan yang akan dikenang sepanjang zaman.
Dan sesudah panggilan itu, akan terucap kabar yang membuat ketenangan di bawah pepohonan terasa begitu rapuh.
Pasukan kaum Muslimin telah tiba di Dzul ‘Usyairah. Rasulullah SAW memimpin perjalanan itu, meninggalkan Madinah menuju jalur yang dilalui kafilah Quraisy. Bentangan tanah terbuka mengelilingi mereka; perjalanan menuntut ketahanan tubuh, sementara setiap persinggahan memberi kesempatan untuk menarik napas.
Dalam perjalanan tersebut, Ali bin Abi Thalib as bersahabat seperjalanan dengan ‘Ammar bin Yasir.
Ketika rombongan menetap, perhatian mereka tertuju kepada beberapa orang Bani Mudlij yang sedang bekerja di sumber air dan kebun kurma. Kehidupan berjalan dengan kesibukannya sendiri: tangan-tangan mengurus kebun, air menghidupi tanah, dan pohon-pohon berdiri di bawah langit yang luas.
Ali mengajak sahabatnya mendekat.
“Wahai Abu al-Yaqzhan, maukah engkau datang kepada mereka, supaya kita melihat bagaimana mereka bekerja?”
“Jika engkau menghendakinya,” jawab ‘Ammar.
Keduanya pun mendatangi para pekerja itu dan memperhatikan pekerjaan mereka selama beberapa waktu.
Kemudian kantuk datang.
Ali dan ‘Ammar beranjak menuju rumpun kurma muda. Di sana terdapat tanah berdebu yang cukup lunak untuk membaringkan tubuh. Mereka merebahkan diri, membiarkan penat perjalanan mereda.
Tanah menjadi alas. Naungan pelepah menjadi tempat berteduh.
Lalu keduanya tertidur.
Rasulullah mendatangi dan membangunkan mereka.
Debu dari tempat pembaringan telah melekat pada tubuh keduanya. Melihat keadaan Ali, beliau memanggil:
“Mā laka, yā Abā Turāb?”
“Ada apa denganmu, wahai Abu Turab?”
Abu Turab.
Secara harfiah, “bapak debu”—sebuah panggilan yang dalam adegan itu berhubungan langsung dengan debu yang melekat pada tubuh Ali.
Betapa bersahajanya saat itu. Seorang pemuda terbangun dari tidurnya di atas tanah, lalu mendengar Rasulullah menyapanya dengan panggilan yang begitu dekat.
Di tangan seorang penyair, debu mungkin hanya menjadi lambang kerendahan. Di dalam peristiwa ini, debu mengantar kita kepada sesuatu yang lebih hangat: kedekatan seorang Nabi dengan orang yang dikasihinya.
Kelak, orang akan menyebut Ali dengan berbagai gelar kebesaran. Namun panggilan yang bersentuhan dengan tanah ini justru mempunyai tempat yang istimewa dalam hidupnya.
Karena Rasulullah yang memberikannya.
Kemudian percakapan itu beralih.
Rasulullah mengajukan pertanyaan kepada Ali dan ‘Ammar:
“Maukah kalian berdua kuberitahu tentang dua manusia yang paling celaka?”
Keduanya menjawab:
“Tentu, wahai Rasulullah.”
Beliau menyebut orang dari kaum Tsamud yang membunuh unta Nabi Shalih.
Lalu pembicaraan itu mendadak mendekat kepada Ali sendiri.
“Dan orang yang akan memukulmu, wahai Ali, pada bagian ini…”
Dalam riwayat tersebut, Rasulullah meletakkan tangan pada bagian kepala Ali.
“…hingga membasahi bagian ini.”
Beliau menyentuh janggutnya.
Darah dari kepala itu kelak akan mengalir sampai ke janggut.
Bayangkan kembali tempat mereka berada: pohon-pohon kurma muda, tanah yang masih menyimpan bekas tubuh dua orang yang tertidur, dan debu yang belum lama melekat pada pakaian. Di tengah kesederhanaan itu, Rasulullah menyampaikan kabar tentang ujung perjalanan Ali.
Baru saja terdengar panggilan yang begitu akrab.
Kini disebutkan luka yang akan merenggut hidupnya.
Keheningan adegan itu terasa menyesakkan. Kita, yang membaca dari seberang abad, mengetahui betapa panjang jalan yang masih terbentang di hadapan Ali. Namun di bawah naungan kurma itu, kabar tentang akhirnya telah diucapkan.
Tahun-tahun kemudian, Sahl bin Sa‘d memberikan kesaksian tentang panggilan tersebut: tidak ada nama yang lebih disukai Ali daripada Abu Turab.
Kesaksian itu bahkan muncul ketika seseorang melaporkan bahwa seorang penguasa Madinah menggunakan sebutan tersebut untuk merendahkannya.
Sahl justru tertawa.
Mereka hendak menghina Ali dengan nama yang diberikan Rasulullah—nama yang sangat dicintainya.
Betapa sedikit yang mereka pahami tentang sebuah kenangan.
Bagi orang yang membencinya, mungkin yang terdengar hanya debu. Bagi Ali, panggilan itu datang dari lisan Rasulullah.
Dan sampai hari ini, ketika kita mengucapkan Abu Turab, sebuah adegan sederhana kembali hidup: seorang pemuda yang beristirahat di atas tanah, seorang sahabat di sisinya, dan Rasulullah yang datang memanggilnya.
Debu di tubuh itu telah lama hilang.
Panggilan Rasulullah tetap tinggal.
Abu turab
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan sumber: Alur persinggahan dan kabar kesyahidan mengikuti riwayat ‘Ammar dalam Sirah Ibn Hisham, bagian Dzul ‘Usyairah⁠.
Ada riwayat yang lain, ketika Rasulullah SAW melihat debu di wajah Imam Ali dan mengatakan “usap debu di wajahmu, Duhai Abu Turab” (sambil Nabi SAW tersenyum).
Ada pula riwayat berlatar masjid, ketika Rasulullah membersihkan debu dari punggung Ali sambil memanggilnya Abu Turab. Riwayat ini, beserta kesaksian bahwa Ali sangat menyukai panggilan tersebut, tercantum dalam Sahih al-Bukhari 3703. Ketiga latar itu tidak disatukan menjadi satu kejadian dalam tulisan saya ini

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us