Teks Doa Kumail
> فَغَرَّنِي بِمَا أَهْوَى وَأَسْعَدَهُ عَلَىٰ ذٰلِكَ الْقَضَاءُ
Fa gharranī bimā ahwā, wa as‘adahu ‘alā dzālika al-qaḍā’.
“Maka ia memperdayaku melalui sesuatu yang kusukai, dan ketetapan yang berlaku memberikan ruang terjadinya hal itu.”
Redaksi masyhur menempatkan penggalan ini setelah pengakuan bahwa hamba tidak menjaga diri dari penghiasan musuhnya.
Tema utama
Setan tidak harus menciptakan keinginan baru. Ia mencari kecenderungan yang telah ada dalam diri manusia, lalu menjadikannya pintu masuk menuju dosa.
Namun godaan bukan paksaan: manusia tetap bertanggung jawab karena ia menerima dan mengikuti ajakan tersebut.
Frasa “ketetapan memberikan ruang terjadinya hal itu” tidak berarti Allah memerintahkan dosa atau menyukai keberhasilan setan.
Allah menetapkan dunia sebagai tempat ujian: manusia diberi kemampuan, pilihan, waktu, dan kemungkinan untuk taat ataupun bermaksiat.
Godaan setan berlangsung di dalam ruang ujian yang diizinkan Allah, tetapi pilihan moral tetap milik manusia.
Karena itu, Doa Kumail tetap mengakui dosa, bukan melemparkannya kepada takdir.
Ayat Al-Qur’an
- QS Ibrahim 14:22
> وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ
“Aku tidak mempunyai kekuasaan atas kalian selain bahwa aku mengajak kalian, lalu kalian memenuhi ajakanku. Karena itu, janganlah menyalahkanku; salahkanlah diri kalian sendiri.”
Pada hari akhir, setan sendiri mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan memaksa.
Ia mengundang, membisikkan, menghias, dan menjanjikan—tetapi manusia yang menjawab ajakannya.
- QS Ali ‘Imran 3:155
> إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا
“Sesungguhnya setan membuat mereka tergelincir karena sebagian perbuatan yang telah mereka usahakan.”
Ayat ini menunjukkan bahwa godaan dapat menemukan pijakan pada sesuatu yang telah dipelihara manusia sendiri. Kebiasaan, dosa terdahulu, dan keinginan yang tidak didisiplinkan dapat menjadi permukaan licin bagi langkah berikutnya.
Namun ayat itu juga ditutup dengan pengampunan dan kelembutan Allah.
Riwayat Ahlul Bait
Dalam khotbah yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali as mengenai para pengikut setan disebutkan:
> اتَّخَذُوا الشَّيْطَانَ لِأَمْرِهِمْ مِلَاكًا، وَاتَّخَذَهُمْ لَهُ أَشْرَاكًا، فَبَاضَ وَفَرَّخَ فِي صُدُورِهِمْ، وَدَبَّ وَدَرَجَ فِي حُجُورِهِمْ، فَنَظَرَ بِأَعْيُنِهِمْ، وَنَطَقَ بِأَلْسِنَتِهِمْ، فَرَكِبَ بِهِمُ الزَّلَلَ، وَزَيَّنَ لَهُمُ الْخَطَلَ
“Mereka menjadikan setan sebagai pengendali urusan mereka, dan setan menjadikan mereka sebagai perangkap-perangkapnya. Ia bertelur dan berkembang di dalam dada mereka, merayap di pangkuan mereka, melihat melalui mata mereka, dan berbicara melalui lidah mereka. Kemudian ia membawa mereka kepada ketergelinciran dan menghiasi kebatilan bagi mereka.”
Ungkapan “bertelur dan berkembang di dalam dada” merupakan gambaran kiasan tentang godaan yang dibiarkan menetap hingga tumbuh menjadi cara berpikir dan bertindak.
Kerangka pembahasan
- Setan menggunakan kecenderungan yang telah ada dalam diri manusia.
- Yang disukai belum tentu baik, dan yang tidak disukai belum tentu buruk.
- Godaan setan tidak menghapus kebebasan dan tanggung jawab.
- Ketetapan Allah menyediakan medan ujian, bukan memerintahkan maksiat.
- Dosa yang dipelihara dapat menjadi pijakan bagi ketergelinciran berikutnya.
- Taubat menutup pintu masuk dengan mendisiplinkan keinginan.
Pembuka syarah
Setan tidak selalu mendobrak pintu hati.
Sering kali ia hanya mencari pintu yang telah kita biarkan terbuka.
Pintu itu dapat berupa keinginan untuk dipuji, rasa takut kehilangan kedudukan, kecintaan berlebihan kepada harta, kebutuhan untuk selalu menang, atau luka lama yang membuat kita merasa berhak menyakiti orang lain.
Doa Kumail berkata:
> “Maka ia memperdayaku melalui sesuatu yang kusukai.”
Setan mempelajari apa yang kita cintai tanpa batas. Ia tidak menawarkan sesuatu yang sama sekali asing. Ia menghubungkan dosa dengan sesuatu yang memang telah diinginkan hati.
Kepada orang yang mencintai harta, ia tidak perlu menawarkan kejahatan. Ia hanya membisikkan bahwa sedikit kecurangan diperlukan demi keamanan keluarga.
Kepada orang yang mencintai kedudukan, ia menyebut menjatuhkan pesaing sebagai perjuangan menjaga amanah.
Kepada orang yang haus pujian, ia dapat menyamarkan riya sebagai semangat menyebarkan kebaikan.
Di sinilah manusia perlu membedakan antara cinta kepada sesuatu dan hak untuk memilikinya dengan cara apa pun.
Tidak semua yang kita sukai harus diikuti. Tidak semua yang dapat dilakukan layak dilakukan. Keinginan adalah bagian dari diri, tetapi ia tidak boleh menjadi hakim tertinggi bagi diri.
Penggalan ini kemudian menyebut al-qaḍā’—ketetapan Allah. Kita hidup dalam dunia yang memungkinkan ujian berlangsung. Allah tidak segera mencabut lidah ketika manusia hendak berdusta.
Dia tidak langsung melumpuhkan tangan yang akan mengambil sesuatu yang haram.
Kemampuan tetap diberikan, sebab tanpa kemampuan memilih tidak ada ketaatan yang bermakna.
Namun izin keberadaan tidak sama dengan keridaan moral. Allah membiarkan pilihan dapat dilakukan, tetapi Dia tidak memerintahkan atau mencintai kemaksiatan.
Setan kelak tidak dapat menjadi pembela kita. Al-Qur’an menggambarkannya berkata: “Aku hanya mengajak, dan kalian menjawab.”
Karena itu, taubat yang matang tidak berkata, “Setan membuatku melakukannya.”
Ia berkata, “Setan menemukan sesuatu yang kusukai, lalu aku membukakan pintu baginya.”
Pengakuan itu memang menyakitkan. Namun di sanalah kebebasan mulai kembali. Sebab pintu yang pernah kita buka juga dapat kita tutup—dengan kewaspadaan, disiplin, zikir, dan pertolongan Allah.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1dn7AAmXzJ/

