Teks Doa Kumail
> وَكَثْرَةِ شَهَوَاتِي وَغَفْلَتِي
Wa katsrati syahawātī wa ghaflatī.
“Dan karena banyaknya keinginan-keinginanku serta kelalaianku.”
Penggalan ini datang setelah pengakuan tentang kelalaian yang berlangsung terus dan kejahilan yang menyertainya.
Tema utama
Masalah ruhani bukan hanya adanya keinginan, melainkan terlalu banyak keinginan yang dibiarkan berebut kekuasaan sampai hati kehilangan pusat dan melupakan Allah.
Syahwah pada asalnya adalah kecenderungan atau keinginan. Tidak setiap keinginan tercela.
Keinginan makan, berkeluarga, memiliki keamanan, dan memperoleh kehidupan yang layak merupakan bagian dari penciptaan manusia.
Namun doa ini menyebut katsratu syahawātī—banyaknya keinginan-keinginan. Ketika keinginan terus berkembang tanpa disiplin, manusia bukan lagi menggunakan dunia; ia mulai digunakan oleh dunia. Hatinya terpecah karena setiap keinginan menuntut untuk segera dipenuhi.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-Kahf 18:28
> وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Janganlah mengikuti orang yang hatinya Kami jadikan lalai dari mengingat Kami, yang mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya telah melampaui batas.”
Ayat ini menghubungkan tiga perkara: hati yang lalai dari zikir, mengikuti keinginan, dan kehidupan yang kehilangan ukuran.
- QS Al-Anbiya 21:1
> اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ
“Telah dekat kepada manusia perhitungan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian dan berpaling.”
Kelalaian bukan berarti manusia tidak melakukan apa-apa. Ia dapat sangat sibuk, tetapi seluruh kesibukannya justru membuatnya lupa mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.
- QS Al-Jatsiyah 45:23
> أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
Hawa nafsu menjadi “tuhan” bukan karena disembah melalui sujud, melainkan karena keinginannya memperoleh ketaatan yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah.
Riwayat Ahlul Bait
Dalam hikmah yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali as disebutkan:
> وَكَمْ مِنْ عَقْلٍ أَسِيرٍ تَحْتَ هَوًى أَمِيرٍ
“Betapa banyak akal yang menjadi tawanan di bawah kekuasaan hawa nafsu.”
Teks ini merupakan bagian dari Hikmah 211 menurut edisi Nahj al-Balaghah yang dirujuk.
Kerangka pembahasan
- Keinginan pada dirinya tidak selalu buruk.
- Banyaknya keinginan dapat memecah arah dan perhatian hati.
- Kelalaian dapat bersembunyi di balik kehidupan yang sangat sibuk.
- Akal menjadi tawanan ketika hanya bertugas membenarkan keinginan.
- Zikir mengembalikan hati kepada pusat dan tujuan hidupnya.
- Pengendalian diri berarti menempatkan keinginan di bawah kebenaran.
Pembuka syarah
Manusia modern sering tidak kekurangan pilihan. Ia justru tenggelam di dalam terlalu banyak pilihan.
Ada yang ingin dimiliki, ditonton, dicapai, dibeli, dikunjungi, dan dipuji. Satu keinginan belum terpenuhi, keinginan lain telah muncul. Hati terus mengejar, tetapi tidak pernah sungguh tiba.
Doa Kumail mengajarkan pengakuan:
> “Dan karena banyaknya keinginan-keinginanku serta kelalaianku.”
Doa ini tidak mengatakan bahwa seluruh keinginan manusia adalah dosa. Tanpa keinginan, manusia tidak akan bekerja, menikah, membangun rumah, mencari ilmu, atau melindungi keluarganya.
Persoalannya muncul ketika keinginan kehilangan batas.
Apa yang semula hanya dibutuhkan berubah menjadi sesuatu yang harus dimiliki. Apa yang semula merupakan kenikmatan berubah menjadi identitas.
Apa yang semula berada dalam genggaman perlahan menggenggam pemiliknya.
Banyaknya keinginan kemudian melahirkan banyaknya gangguan. Tubuh berada dalam salat, tetapi pikiran sibuk menghitung keuntungan.
Lidah membaca doa, tetapi hati memikirkan penilaian manusia. Seseorang mempunyai waktu untuk melihat ratusan hal, tetapi merasa tidak mempunyai waktu untuk melihat dirinya sendiri.
Inilah ghaflah: bukan tidak adanya aktivitas, melainkan tidak hadirnya Allah di dalam kesadaran ketika aktivitas berlangsung.
Pada keadaan semacam itu, akal pun dapat kehilangan kebebasannya. Ia tidak lagi bertanya apakah suatu keinginan benar. Ia hanya diminta mencari alasan agar keinginan itu dapat dipenuhi.
Amirul Mukminin as menggambarkan akal seperti seorang tawanan, sedangkan hawa nafsu menjadi penguasa. Yang seharusnya memimpin justru diperintah; yang seharusnya dididik justru mengambil alih singgasana.
Jalan keluar bukan membunuh seluruh keinginan. Jalan keluar adalah mengembalikan susunannya.
Allah menjadi tujuan. Akal menjadi pembimbing. Keinginan menjadi tenaga yang diarahkan. Dunia menjadi sarana, bukan tuan.
Hati yang mempunyai satu pusat tidak mudah dipecah oleh seribu keinginan.
Ia dapat menikmati banyak nikmat tanpa melupakan satu-satunya Pemilik nikmat.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1SZ7NQesJe/

