Teks Doa Kumail
> إِلَهِي وَمَوْلَايَ أَجْرَيْتَ عَلَيَّ حُكْمًا اتَّبَعْتُ فِيهِ هَوَى نَفْسِي
Ilāhī wa mawlāya, ajrayta ‘alayya ḥukman ittaba‘tu fīhi hawā nafsī.
“Tuhanku dan Tuanku, Engkau telah memberlakukan atasku suatu hukum, tetapi dalam menghadapinya aku mengikuti hawa nafsuku.”
Penggalan ini membuka pembahasan yang sangat halus tentang hubungan antara hukum dan ketetapan Allah dengan pilihan manusia.
Tema utama
Manusia hidup di dalam kekuasaan dan ketetapan Allah, tetapi ia tetap bertanggung jawab atas arah yang dipilihnya.
Menyebut takdir setelah berbuat dosa tidak boleh menjadi cara untuk melarikan diri dari tanggung jawab.
Allah memberikan kehidupan, kemampuan, kesempatan, dan kebebasan yang terbatas.
Namun manusia memilih apakah semua itu digunakan untuk menaati Allah atau mengikuti hawa nafsunya.
Inilah keseimbangan yang dijaga dalam ajaran Ahlul Bait: tidak ada jabr—keterpaksaan mutlak yang menghapus tanggung jawab—dan tidak ada pula tafwīḍ—kemandirian manusia yang sepenuhnya terlepas dari kekuasaan Allah.
Kehendak manusia bekerja di dalam kerajaan dan kemampuan yang diberikan Allah, bukan di luar keduanya.
Ayat Al-Qur’an
- QS Shad 38:26
> وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Janganlah mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
Hawa nafsu tidak selalu membuat manusia kehilangan pengetahuan tentang kebenaran. Ia dapat membuat manusia mengetahui kebenaran, tetapi memilih sesuatu yang lebih menyenangkan dirinya.
- QS An-Nazi‘at 79:40–41
> وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut terhadap kedudukan Tuhannya dan menahan jiwa dari hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”
Ayat ini tidak memerintahkan manusia memusnahkan seluruh keinginan. Ia memerintahkannya agar tidak membiarkan keinginan menjadi penguasa yang menentukan benar dan salah.
Riwayat Ahlul Bait
Al-Kulaini meriwayatkan dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as:
> اِحْذَرُوا أَهْوَاءَكُمْ كَمَا تَحْذَرُونَ أَعْدَاءَكُمْ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَعْدَى لِلرِّجَالِ مِنِ اتِّبَاعِ أَهْوَائِهِمْ وَحَصَائِدِ أَلْسِنَتِهِمْ
“Waspadailah hawa nafsu kalian sebagaimana kalian mewaspadai musuh-musuh kalian. Tidak ada sesuatu yang lebih memusuhi manusia daripada mengikuti hawa nafsunya dan hasil buruk lidahnya.”
Riwayat ini terdapat dalam Al-Kāfī, jilid 2, Kitab Iman dan Kufur, Bab Mengikuti Hawa Nafsu, hadis pertama.
Kerangka pembahasan
- Makna hukum dan ketetapan Allah dalam kehidupan manusia.
- Allah memberi kemampuan, sedangkan manusia menentukan pilihan moralnya.
- Mengikuti hawa nafsu merupakan tindakan, bukan nasib yang tidak dapat dihindari.
- Takdir tidak boleh digunakan sebagai pembelaan atas dosa.
- Ahlul Bait menolak keterpaksaan mutlak dan kemandirian mutlak.
- Taubat dimulai ketika manusia berhenti menyalahkan keadaan.
Pembuka syarah
Ada satu tempat persembunyian yang sangat nyaman bagi manusia setelah melakukan kesalahan: takdir.
Ia berkata, “Mungkin memang sudah begini jalannya.” Ia menyebut keadaan, lingkungan, masa lalu, kelemahan, bahkan kehendak Allah—seolah-olah dirinya tidak pernah mempunyai pilihan.
Doa Kumail menutup tempat persembunyian itu:
> “Engkau telah memberlakukan atasku suatu hukum, tetapi dalam menghadapinya aku mengikuti hawa nafsuku.”
Pengakuan ini sangat jujur. Seorang hamba mengetahui bahwa seluruh hidup berlangsung di dalam kerajaan Allah. Tidak ada napas, kesempatan, atau kemampuan yang berdiri sendiri dari-Nya.
Namun ia juga mengakui: di dalam keadaan yang dihadapkan kepadanya, dialah yang mengikuti hawa nafsunya.
Allah memberinya mata, tetapi ia memilih apa yang dipandang. Allah memberinya lidah, tetapi ia menentukan kata yang diucapkan.
Allah memberinya kekuatan, tetapi ia memilih apakah kekuatan itu digunakan untuk melindungi atau menindas.
Takdir menghadirkan medan kehidupan. Namun pilihan kita menentukan bagaimana kita berjalan di dalamnya.
Karena itu, seorang pendosa tidak dapat sepenuhnya berkata, “Setan memaksaku,” atau, “Allah telah menetapkannya.” Setan menggoda, hawa nafsu menarik, dan keadaan dapat mempersulit. Namun perbuatan tetap melewati persetujuan kehendak manusia.
Di sinilah letak kemuliaan sekaligus tanggung jawab kita. Jika manusia benar-benar dipaksa, pahala dan dosa kehilangan makna. Perintah, larangan, nasihat, serta taubat pun tidak lagi mempunyai tempat.
Doa ini tidak mengajari kita menyalahkan ketetapan Allah.
Ia mengajari kita mengakui pilihan yang telah dibuat di dalam ketetapan itu.
Taubat dimulai ketika manusia berhenti berkata, “Aku tidak mempunyai pilihan,” lalu berani mengucapkan: “Ya Allah, Engkau memberiku jalan, tetapi aku mengikuti hawa nafsuku. Ampunilah aku dan kuatkanlah aku untuk memilih dengan benar ketika jalan itu kembali terbuka.”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1dn7AAmXzJ/

