Teks Doa Kumail
> وَدَوَامِ تَفْرِيطِي وَجَهَالَتِي
Wa dawāmi tafrīṭī wa jahālatī.
“Dan karena kelalaianku yang terus-menerus serta kebodohanku.”
Penggalan ini melanjutkan pengakuan tentang keburukan yang dilakukan seorang hamba dalam kesendiriannya.
Tema utama
Bahaya terbesar bukan hanya satu kesalahan, melainkan kesalahan yang terus dibiarkan sampai berubah menjadi kebiasaan dan dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan.
Kata tafrīṭ menunjuk kepada sikap meremehkan, mengabaikan, atau tidak menunaikan sesuatu sebagaimana seharusnya. Kata dawām menambahkan unsur keberlangsungan: kelalaian itu tidak terjadi sekali, tetapi terus dipelihara.
Adapun jahālah tidak selalu berarti tidak memiliki informasi. Seseorang dapat mengetahui hukum dan akibat suatu perbuatan, tetapi tetap bertindak secara ceroboh, dikuasai emosi, atau mengabaikan pengetahuannya.
Pada saat seperti itu, ia mengetahui dengan pikirannya, tetapi hidup seakan-akan tidak mengetahui.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-Hasyr 59:19
> وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”
Melupakan Allah akhirnya membuat manusia kehilangan pengenalan yang benar terhadap dirinya: dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
- QS Al-An‘am 6:54
> أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Barang siapa di antara kalian melakukan keburukan karena kejahilan, kemudian sesudah itu bertobat dan memperbaiki diri, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini tidak berhenti pada penyesalan. Setelah taubat disebutkan iṣlāḥ—perbaikan. Pola kehidupan yang dahulu melahirkan kelalaian harus ditata kembali.
Riwayat Ahlul Bait
Dalam nasihat yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali as disebutkan:
> لَا تَكُنْ مِمَّنْ يَرْجُو الْآخِرَةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ، وَيُرَجِّي التَّوْبَةَ بِطُولِ الْأَمَلِ
“Janganlah menjadi orang yang mengharapkan akhirat tanpa amal dan menunda taubat karena panjangnya angan-angan.”
Nasihat itu kemudian menggambarkan orang yang bersegera melakukan dosa ketika syahwat datang, tetapi kembali menunda ketika waktunya bertobat. Teks ini tercantum sebagai Hikmah 150 dalam edisi Nahj al-Balaghah yang dirujuk.
Kerangka pembahasan
- Perbedaan antara kesalahan sesaat dan kelalaian yang dipelihara.
- Tafrīṭ sebagai pengabaian terhadap kewajiban dan kesempatan.
- Jahālah dapat berupa tindakan bodoh meskipun pelakunya telah mengetahui.
- Dosa berulang perlahan kehilangan rasa asingnya.
- Penundaan taubat memperkuat kebiasaan yang hendak ditinggalkan.
- Taubat harus disertai perbaikan pola hidup, bukan hanya penyesalan.
Pembuka syarah
Tidak semua kehancuran datang melalui satu keputusan besar.
Sebagian tumbuh dari perkara kecil yang terus ditunda: salat yang diletakkan di ujung waktu, permintaan maaf yang tidak kunjung disampaikan, hak yang belum dikembalikan, dan kebiasaan buruk yang selalu dijanjikan akan dihentikan nanti.
Doa Kumail menyebutnya dengan sangat jujur:
> “Dan karena kelalaianku yang terus-menerus serta kebodohanku.”
Yang menakutkan bukan hanya kelalaian. Yang menakutkan adalah dawām—kelalaian yang berlangsung terus.
Pada mulanya hati masih memberi peringatan. Seseorang merasa gelisah ketika meninggalkan kewajiban atau melakukan kesalahan. Namun ia menenangkannya dengan janji: “Besok aku akan berubah.”
Besok datang, tetapi perubahan kembali dipindahkan ke hari berikutnya.
Lama-kelamaan, suara peringatan itu melemah. Bukan karena perbuatannya telah menjadi benar, melainkan karena hati telah terlalu sering dipaksa berdamai dengan sesuatu yang diketahuinya salah.
Inilah salah satu bentuk kejahilan yang paling halus. Manusia mempunyai pengetahuan, tetapi pengetahuan itu tidak lagi memimpin kehidupannya.
Ia mengetahui kematian, tetapi hidup seolah-olah waktunya tidak terbatas. Ia mengetahui kewajiban, tetapi selalu menemukan alasan untuk menundanya.
Kebodohan semacam ini tidak disembuhkan hanya dengan menambah informasi. Ia membutuhkan keberanian untuk bertindak berdasarkan sesuatu yang telah diketahui.
Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya menyebut taubat. Ia menyebut perbaikan. Waktu harus ditata, lingkungan harus dipilih, kewajiban harus mulai ditunaikan, dan jalan menuju kebiasaan buruk harus diputus.
Tidak semua perubahan harus dimulai dengan langkah besar. Salat berikutnya dapat dikerjakan tepat waktu.
Hak pertama dapat dikembalikan. Satu pintu menuju dosa dapat ditutup hari ini.
Sebab lawan dari kelalaian yang terus-menerus bukan niat baik yang sesekali muncul.
Lawannya adalah kebaikan kecil yang mulai dilakukan dengan setia.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1SZ7NQesJe/

