25 October 2026

Teks Doa Kumail

> وَلَمْ أَحْتَرِسْ فِيهِ مِنْ تَزْيِينِ عَدُوِّي

Wa lam aḥtaris fīhi min tazyīni ‘aduwwī.

“Dan aku tidak menjaga diri di dalamnya dari penghiasan musuhku.”

Yang dimaksud dengan musuh dalam konteks penggalan ini ialah setan, sedangkan tazyīn berarti membuat keburukan tampak indah, wajar, atau layak dilakukan.

Tema utama

Bahaya terbesar godaan bukan ketika keburukan terlihat sebagai keburukan, melainkan ketika ia dihias sehingga tampak sebagai kebaikan, kebutuhan, kebebasan, atau tindakan yang dapat dibenarkan.

Doa ini tidak hanya berkata, “Musuhku menghias keburukan.” Ia mengakui, “Aku tidak menjaga diri.”

Setan memang menggoda, tetapi kelalaian manusialah yang memberinya jalan masuk.
Karena itu, kewaspadaan ruhani tidak cukup dengan mengetahui bahwa setan adalah musuh. Kita harus mengenali cara kerjanya dalam pikiran, alasan, dan pembenaran diri.

Ayat Al-Qur’an

  1. QS Al-Hijr 15:39

> قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata: Wahai Tuhanku, karena Engkau telah membiarkanku tersesat, sungguh aku akan menghiasi segala sesuatu bagi mereka di bumi dan akan menyesatkan mereka semuanya.”

Strategi yang disebut pertama bukan paksaan, melainkan penghiasan. Dosa dibiarkan tetap bernama dosa, tetapi diberi nama baru yang lebih menarik agar hati tidak segera menolaknya.

  1. QS Fathir 35:6

> إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.”

Mengetahui adanya musuh belum tentu membuat seseorang waspada. Al-Qur’an memerintahkan agar setan benar-benar diperlakukan sebagai musuh: jalannya dikenali, bisikannya diperiksa, dan pintu masuknya ditutup.

Doa Ahlul Bait

Dalam Doa ke-17 Shahifah Sajjadiyyah, yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, disebutkan:

> اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ نَزَغَاتِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَكَيْدِهِ وَمَكَايِدِهِ، وَمِنَ الثِّقَةِ بِأَمَانِيِّهِ وَمَوَاعِيدِهِ وَغُرُورِهِ وَمَصَايِدِهِ

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari bisikan setan yang terkutuk, tipu daya dan berbagai siasatnya, serta dari mempercayai angan-angan, janji, penipuan, dan perangkap-perangkapnya.”

Dalam doa yang sama dimohonkan agar Allah menunjukkan kebatilan yang dibisikkan setan, melindungi kita setelah mengenalinya, dan membangunkan kita dari tidur kelalaian.

Kerangka pembahasan

  1. Tazyīn sebagai penghiasan keburukan.
  2. Setan jarang mengundang manusia dengan nama dosa yang sebenarnya.
  3. Pembenaran diri dapat menjadi pakaian bagi hawa nafsu.
  4. Kelalaian manusia membuka jalan bagi godaan.
  5. Kewaspadaan membutuhkan ilmu, zikir, dan pemeriksaan niat.
  6. Taubat bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi membongkar nama palsu yang diberikan kepadanya.

Pembuka syarah

Keburukan yang tampil telanjang biasanya mudah dikenali.

Jika dusta datang dengan memperkenalkan dirinya sebagai dusta, hati masih mempunyai kesempatan untuk menolaknya.
Jika kezaliman mengaku sebagai kezaliman, nurani segera merasa terganggu.

Namun keburukan jarang datang dengan wajah aslinya.

Kesombongan datang dengan nama kehormatan. Kebencian menyamar sebagai ketegasan. Keinginan dipuji disebut dakwah.
Rasa iri diberi nama kepedulian. Membuka aib orang lain dibungkus sebagai pembelaan terhadap kebenaran.

Inilah yang disebut Doa Kumail sebagai tazyīni ‘aduwwī—penghiasan oleh musuh.

Setan tidak selalu mengubah pengetahuan kita tentang hukum. Ia cukup mengubah cara kita memandang perbuatan. Sesuatu yang dahulu membuat hati gelisah perlahan tampak wajar.
Yang semula dianggap dosa kemudian disebut kebutuhan. Setelah berkali-kali dilakukan, ia bahkan dapat dianggap sebagai hak.

Tetapi Doa Kumail tidak membiarkan kita meletakkan seluruh kesalahan kepada setan:

> “Aku tidak menjaga diri dari penghiasan musuhku.”

Ada pengakuan tentang kewaspadaan yang ditinggalkan.

Barangkali hati pernah memberi peringatan, tetapi kita segera membungkamnya. Nasihat datang, tetapi kita hanya mencari kelemahan orang yang menyampaikan.
Ayat dibacakan, tetapi kita menciptakan seribu alasan agar ia berlaku bagi orang lain, bukan bagi diri sendiri.

Menjaga diri berarti berani bertanya sebelum bertindak: Apakah ini sungguh benar, atau hanya sesuatu yang sangat ingin kubenarkan? Apakah ini untuk Allah, atau untuk kemenangan egoku?
Jika orang lain melakukan hal yang sama kepadaku, apakah aku masih akan menyebutnya adil?

Setan tidak takut kepada banyaknya pengetahuan selama pengetahuan itu tidak pernah digunakan untuk memeriksa diri.

Bahkan pengetahuan dapat dipakainya sebagai hiasan baru: manusia melakukan kesalahan, lalu mencari dalil untuk membenarkannya.

Karena itu, salah satu perlindungan terbesar adalah kejujuran kepada diri sendiri.

Sebelum meminta Allah menghancurkan tipu daya musuh, kita perlu berhenti membantu musuh dengan pembenaran-pembenaran kita sendiri.

Doa kumail

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1dn7AAmXzJ/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us