25 October 2026

Teks Doa Kumail

> وَخَالَفْتُ بَعْضَ أَوَامِرِكَ

Wa khālaftu ba‘ḍa awāmirika.

“Dan aku telah menentang sebagian perintah-perintah-Mu.”

Redaksi ini mengikuti teks masyhur Doa Kumail.

Tema utama

Dosa tidak selalu berbentuk kejahatan yang dikerjakan.
Ada dosa yang berbentuk kebaikan yang sengaja ditinggalkan, kewajiban yang terus ditunda, dan panggilan Allah yang didengar tetapi tidak dijawab.

Pada penggalan sebelumnya, seorang hamba mengakui bahwa ia melampaui batas.
Kini pengakuannya menjadi lebih khusus: ia tidak hanya melakukan sesuatu yang dilarang, tetapi juga menentang sesuatu yang diperintahkan.

Kita sering lebih mudah mengenali dosa yang tampak: berdusta, merampas, memfitnah, atau menyakiti.
Namun ada dosa-dosa yang tidak meninggalkan keributan—salat yang diabaikan, amanah yang tidak ditunaikan, orang lemah yang tidak ditolong, dan kebenaran yang tidak dibela ketika kita sebenarnya mampu.

Ayat Al-Qur’an

  1. QS An-Nur 24:51

> إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Ucapan orang-orang beriman ketika mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar diputuskan perkara di antara mereka hanyalah: ‘Kami mendengar dan kami taat.’”

Keimanan tidak berhenti pada kemampuan mendengar perintah. Ia mencapai bentuknya ketika pendengaran berubah menjadi ketaatan.

  1. QS Al-Ahzab 33:36

> وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Tidaklah patut bagi seorang mukmin laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada bagi mereka pilihan lain dalam urusan tersebut.”

Ketaatan berarti manusia tidak menempatkan keinginannya sebagai hakim tertinggi atas setiap perintah Allah.

Riwayat Ahlul Bait

Diriwayatkan dari Imam Muhammad al-Baqir as bahwa Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi:

> وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدٌ بِمِثْلِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَإِنَّهُ لَيَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّافِلَةِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu seperti apa yang telah Kuwajibkan kepadanya. Sesungguhnya ia terus mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan tambahan sampai Aku mencintainya.”

Riwayat ini dicantumkan dalam Kitāb al-Mu’min dan disampaikan melalui Imam al-Baqir as.

Kerangka pembahasan

  1. Perbedaan antara melanggar larangan dan meninggalkan perintah.
  2. Dosa kelalaian sering lebih tersembunyi daripada dosa perbuatan.
  3. Iman menuntut perubahan dari “mendengar” menjadi “menaati”.
  4. Kewajiban harus didahulukan daripada ibadah tambahan.
  5. Taubat mencakup penunaian kewajiban yang masih dapat diperbaiki atau diganti.
  6. Cinta kepada Allah dibuktikan melalui kesediaan menjawab panggilan-Nya.

Pembuka syarah

Tidak semua dosa meninggalkan jejak berupa sesuatu yang kita kerjakan.

Ada dosa yang meninggalkan ruang kosong.

Salat yang seharusnya ditunaikan, tetapi dilewatkan. Janji yang seharusnya dipenuhi, tetapi dilupakan. Orang yang seharusnya dibela, tetapi ditinggalkan sendirian.
Permintaan maaf yang seharusnya disampaikan, tetapi terus ditunda oleh kesombongan.

Tidak ada suara benda yang pecah. Tidak ada pintu yang didobrak. Namun sebuah perintah Allah telah dibiarkan tanpa jawaban.

Doa Kumail mengajari kita berkata:

> “Aku telah menentang sebagian perintah-perintah-Mu.”

Pengakuan ini menyadarkan bahwa agama bukan hanya daftar perkara yang tidak boleh dilakukan.
Allah juga memerintahkan manusia untuk salat, berlaku adil, menepati amanah, berbakti, menolong, belajar, serta berdiri bersama kebenaran.

Seseorang mungkin merasa dirinya baik karena tidak mencuri harta manusia. Namun apakah ia telah memberikan hak orang-orang yang berada di bawah tanggungannya?
Ia mungkin tidak menyebarkan fitnah, tetapi apakah ia berani menjelaskan kebenaran ketika nama seseorang dihancurkan di hadapannya?

Kadang-kadang kita sibuk dengan ibadah yang kita pilih sendiri, tetapi mengabaikan kewajiban yang dipilihkan Allah bagi kita.

Kita ingin melakukan sesuatu yang terasa menggetarkan, tetapi lalai terhadap tugas sederhana yang harus dikerjakan setiap hari.
Kita mengejar amalan tambahan, sementara utang belum dibayar, keluarga ditelantarkan, dan salat wajib terus diletakkan di ujung waktu.

Padahal riwayat Ahlul Bait mengingatkan bahwa jalan kedekatan yang paling dicintai Allah dimulai dari apa yang diwajibkan-Nya.

Taubat dari penggalan ini tidak cukup dengan berhenti melakukan keburukan. Kita juga harus mulai mengerjakan kebaikan yang selama ini ditinggalkan.

Sebab pada Hari Perhitungan, kita tidak hanya akan ditanya tentang kejahatan yang dilakukan tangan.

Kita juga akan ditanya tentang kebaikan yang sebenarnya mampu dilakukan—tetapi tidak pernah kita mulai.

Doa kumail

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1FPUxiYnku/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us