Teks Doa Kumail
> يَا إِلَهِي وَرَبِّي وَسَيِّدِي وَمَوْلَايَ
لِأَيِّ الْأُمُورِ إِلَيْكَ أَشْكُو
وَلِمَا مِنْهَا أَضِجُّ وَأَبْكِي
لِأَلِيمِ الْعَذَابِ وَشِدَّتِهِ
أَمْ لِطُولِ الْبَلَاءِ وَمُدَّتِهِ
فَلَئِنْ صَيَّرْتَنِي لِلْعُقُوبَاتِ مَعَ أَعْدَائِكَ
وَجَمَعْتَ بَيْنِي وَبَيْنَ أَهْلِ بَلَائِكَ
وَفَرَّقْتَ بَيْنِي وَبَيْنَ أَحِبَّائِكَ وَأَوْلِيَائِكَ
Yā Ilāhī wa Rabbī wa Sayyidī wa Mawlāya. Li’ayyil-umūri ilayka asykū, wa limā minhā aḍijju wa abkī? Li’alīmil-‘adzābi wa syiddatihi, am liṭūlil-balā’i wa muddatihi? Fala’in ṣayyartanī lil-‘uqūbāti ma‘a a‘dā’ika, wa jama‘ta baynī wa bayna ahli balā’ika, wa farraqta baynī wa bayna aḥibbā’ika wa awliyā’ika…
“Wahai Tuhanku, Pemeliharaku, Junjunganku, dan Pelindungku! Tentang perkara manakah aku harus mengadu kepada-Mu? Untuk yang manakah aku harus menjerit dan menangis?
Apakah karena pedih dan beratnya azab, atau karena panjang dan lamanya penderitaan?
Jika Engkau menempatkanku dalam hukuman bersama musuh-musuh-Mu, mengumpulkanku bersama orang-orang yang menerima cobaan hukuman-Mu, serta memisahkanku dari para kekasih dan wali-Mu…”
Catatan urutan
Penggalan ini berhenti tepat pada ketakutan seorang hamba akan dipisahkan dari para kekasih dan wali Allah.
Bagian berikutnya akan melanjutkannya dengan:
> فَهَبْنِي يَا إِلَهِي وَسَيِّدِي وَمَوْلَايَ وَرَبِّي صَبَرْتُ عَلَى عَذَابِكَ
فَكَيْفَ أَصْبِرُ عَلَى فِرَاقِكَ
“Anggaplah, wahai Tuhanku, Junjunganku, Pelindungku, dan Pemeliharaku, aku dapat bersabar menanggung azab-Mu. Namun bagaimana mungkin aku bersabar berpisah dari-Mu?”
Dengan demikian, Bagian ini membahas ketakutan berpisah dari para kekasih Allah, sedangkan Bagian berikutnya (89) akan memasuki ketakutan yang lebih dalam: berpisah dari Allah sendiri.
Tema utama
Nasib akhir manusia tidak hanya digambarkan melalui tempat yang akan didudukinya, tetapi juga melalui siapa yang menyertainya.
Cinta, keberpihakan, keteladanan, dan kepemimpinan yang dipilih di dunia akan membentuk kebersamaan manusia di akhirat.
Doa ini tidak hanya takut kepada rasa sakit. Ia takut berada dalam golongan yang salah.
Seseorang dapat mengaku mencintai Allah dan Ahlul Bait, tetapi pertanyaan yang lebih menentukan ialah: nilai siapa yang ia ikuti? Kebenaran siapa yang ia bela? Akhlak siapa yang tumbuh dalam dirinya?
Cinta kepada para wali Allah bukan sekadar perasaan, nama kelompok, atau slogan. Cinta menuntut kesetiaan moral:
– mencintai keadilan yang mereka tegakkan;
– menolak kezaliman yang mereka lawan;
– menjaga kehormatan manusia sebagaimana mereka menjaganya;
– dan berusaha mengikuti ketakwaan, kejujuran, kesabaran, serta pengorbanan mereka.
Kita tidak akan sungguh-sungguh bersama para kekasih Allah hanya dengan menyebut nama mereka. Kita harus berjalan menuju arah yang mereka tempuh.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-Isra 17:71
> يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ
“Pada hari ketika Kami memanggil setiap kelompok manusia bersama imam mereka.”
Ayat ini menggambarkan bahwa manusia tidak datang ke akhirat tanpa jejak kepemimpinan. Siapa yang diikuti, diteladani, dan dijadikan penunjuk arah mempunyai akibat akhirat.
Para mufasir memberikan beberapa penjelasan terhadap kata imam: nabi, pemimpin, kitab, atau catatan amal. Dalam perspektif Ahlul Bait, ayat ini juga mengingatkan adanya imam-imam petunjuk dan pemimpin-pemimpin kesesatan.
Karena terdapat variasi penafsiran, ayat ini tidak boleh digunakan secara serampangan untuk memastikan nasib akhir individu tertentu. Namun pesan moralnya terang: manusia bertanggung jawab atas arah kepemimpinan yang diikutinya.
- QS An-Nisa 4:69
> وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah: para nabi, orang-orang yang sangat benar, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik sahabat.”
Al-Qur’an tidak memisahkan kebersamaan dari ketaatan. Jalan untuk bersama para manusia suci bukan sekadar mengagumi mereka, melainkan menaati Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang mereka ajarkan.
Cinta membuka jalan, sedangkan ketaatan membuktikan bahwa kita benar-benar menempuhnya.
- QS Az-Zukhruf 43:67
> الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Sahabat-sahabat karib pada hari itu akan menjadi musuh satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”
Tidak semua persahabatan akan bertahan di akhirat. Hubungan yang dibangun di atas hawa nafsu, kepentingan, pembenaran dosa, dan persekutuan dalam kezaliman dapat berubah menjadi permusuhan.
Hanya hubungan yang membantu manusia menuju ketakwaan yang tetap menjadi persahabatan ketika seluruh kepentingan dunia telah berakhir.
Riwayat Ahlul Bait
Dalam surat yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali as kepada Utsman bin Hunaif, beliau berkata:
> أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَأْمُومٍ إِمَامًا يَقْتَدِي بِهِ وَيَسْتَضِيءُ بِنُورِ عِلْمِهِ
وَلَكِنْ أَعِينُونِي بِوَرَعٍ وَاجْتِهَادٍ وَعِفَّةٍ وَسَدَادٍ
“Ketahuilah, setiap pengikut mempunyai seorang imam yang diteladaninya dan dari cahaya ilmunya ia mengambil penerangan. Maka bantulah aku dengan ketakwaan, kesungguhan, kesucian diri, dan kelurusan.”
Imam Ali as tidak meminta para pengikutnya hanya mengucapkan kesetiaan. Beliau meminta empat bukti: kewaraan, kesungguhan, kesucian diri, dan kelurusan sikap.
Inilah makna mengikuti imam: membiarkan cahaya ilmunya mengubah kehidupan. [Nahj al-Balaghah, Surat 45]
Kerangka pembahasan
- Doa berpindah dari ketakutan terhadap azab menuju ketakutan berada dalam golongan yang salah.
- Manusia akan dipanggil bersama imam dan arah kepemimpinan yang diikutinya.
- Kebersamaan dengan para nabi dan orang saleh diperoleh melalui ketaatan.
- Persahabatan yang dibangun di atas dosa akan berubah menjadi permusuhan.
- Cinta kepada Ahlul Bait harus dibuktikan melalui ketakwaan dan akhlak.
- Tidak seorang pun berhak sembarangan menetapkan individu tertentu sebagai “musuh Allah”.
- Doa memohon agar cinta duniawi kita dibentuk menjadi kebersamaan akhirat dengan para wali Allah.
Pembuka syarah
Pada akhirnya, akhirat bukan hanya hari ketika manusia menerima balasan.
Ia juga merupakan hari ketika seluruh penyamaran tentang keberpihakan runtuh.
Di dunia, seseorang dapat berdiri bersama orang saleh demi citra, tetapi diam-diam menyukai jalan para penindas. Ia dapat menyebut nama para wali Allah, tetapi menjalani kehidupan dengan nilai-nilai musuh mereka.
Ia dapat mengaku mencintai Imam Ali as, tetapi membenci keadilan ketika keadilan itu merugikan kepentingannya.
Di akhirat, nama tidak lagi dapat menyembunyikan arah.
Doa Kumail bertanya:
> “Tentang perkara manakah aku harus mengadu? Untuk yang manakah aku harus menjerit dan menangis?”
Apakah karena pedihnya azab?
Apakah karena panjangnya penderitaan?
Ataukah karena sesuatu yang lebih dalam: ditempatkan bersama musuh-musuh Allah dan dipisahkan dari para kekasih serta wali-Nya?
Pertanyaan ini membuka suatu kenyataan: neraka bukan hanya rasa sakit. Ia juga merupakan kebersamaan yang salah.
Bayangkan seseorang yang selama hidupnya mengaku mencintai kebenaran, tetapi pada akhirnya dikumpulkan bersama para pendusta.
Ia mengaku membenci kezaliman, tetapi namanya tercatat bersama orang-orang yang membantu para penindas.
Ia mengaku mencintai Ahlul Bait, tetapi perbuatannya membuatnya ditempatkan jauh dari jalan mereka.
Barangkali inilah salah satu kesedihan terbesar: menyadari bahwa slogan yang kita ucapkan tidak sama dengan arah kehidupan yang kita pilih.
Doa berkata:
> “Jika Engkau menempatkanku dalam hukuman bersama musuh-musuh-Mu…”
Siapakah musuh-musuh Allah?
Kita harus sangat berhati-hati di sini. Penggalan ini bukan izin untuk menunjuk setiap orang yang berbeda dengan kita sebagai musuh Allah. Manusia tidak memiliki pengetahuan mutlak mengenai batin, akhir kehidupan, pertobatan, dan keputusan Allah terhadap seseorang.
Musuh Allah bukan sekadar orang yang tidak termasuk dalam kelompok kita.
Musuh Allah adalah orang yang dengan sadar memusuhi kebenaran, menegakkan kezaliman, merampas hak, merendahkan manusia, serta terus menolak jalan Allah setelah kebenaran menjadi jelas baginya.
Bahkan ketika membaca penggalan ini, perhatian pertama harus diarahkan kepada diri sendiri:
“Apakah ada sifat musuh Allah yang sedang tumbuh dalam diriku?”
Apakah aku berlaku adil ketika mempunyai kekuasaan?
Apakah aku menjaga hak orang yang tidak kusukai?
Apakah aku berkata benar ketika kebenaran merugikan kepentinganku?
Apakah aku membela orang tertindas atau justru mencari alasan untuk membenarkan penindas?
Sebab seseorang dapat mengutuk kezaliman masa lalu sambil melakukan bentuk kezaliman yang sama pada masa kini.
Ia dapat menangisi Imam Husain as, tetapi memperlakukan manusia lemah dengan cara yang menyerupai orang-orang yang dahulu membiarkan Husain sendirian.
Ia dapat menyebut nama Imam Ali as dengan cinta, tetapi marah ketika diminta berlaku adil sebagaimana Ali.
Karena itu, kecintaan kepada Ahlul Bait bukan sekadar hubungan emosional. Cinta memang dimulai dari hati, tetapi tidak boleh berakhir di sana.
Cinta harus melanjutkan perjalanannya menuju akhlak.
Imam Ali as berkata bahwa setiap pengikut mempunyai imam yang diteladaninya dan dari cahaya ilmunya ia memperoleh penerangan. Beliau tidak menuntut seluruh pengikut hidup persis seperti kezuhudannya.
Beliau mengetahui kemampuan manusia berbeda. Namun beliau meminta mereka membantu dengan kewaraan, kesungguhan, kesucian diri, dan kelurusan.
Artinya, cinta tidak menuntut kita langsung menjadi seperti Imam Ali.
Tetapi cinta menuntut kita bergerak menuju arah beliau.
Jika dahulu kita mudah berdusta, cinta kepada Ali harus membuat kita semakin jujur.
Jika dahulu kita menikmati keuntungan yang lahir dari ketidakadilan, cinta kepada Ali harus membuat kita gelisah.
Jika dahulu kita mudah merendahkan manusia miskin, cinta kepada Ali harus mengajari kita melihat kehormatan mereka.
Jika dahulu kita mengukur kebenaran berdasarkan siapa yang mengucapkannya, cinta kepada Ali harus mengingatkan: kenalilah kebenaran, maka engkau akan mengenali para pengusungnya.
Doa kemudian berkata:
> “Dan Engkau memisahkanku dari para kekasih dan wali-Mu.”
Inilah ketakutan seorang pencinta.
Di dunia, kita mungkin merasa dekat dengan Ahlul Bait karena nama mereka sering berada di lidah. Kita menghadiri majelis mereka, menangisi musibah mereka, mengunjungi makam mereka, dan membela kehormatan mereka.
Semua itu mulia.
Namun doa memaksa kita mengajukan pertanyaan yang lebih sulit: apakah mereka akan mengenali kehidupan kita sebagai kehidupan seorang pengikut?
Jangan sampai lidah kita dekat, tetapi akhlak kita jauh.
Jangan sampai air mata kita mengalir untuk Husain, tetapi tangan kita menyakiti manusia yang lemah.
Jangan sampai kita mengucapkan salam kepada Imam Zaman afs setiap pagi, tetapi memilih kenyamanan ketika kebenaran membutuhkan keberanian.
Al-Qur’an memberi harapan yang sangat indah: orang yang menaati Allah dan Rasul akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh.
Berarti kebersamaan akhirat mulai dibangun di dunia.
Setiap kali kita memilih kebenaran, kita sedang melangkah menuju kelompok para shiddiqin.
Setiap kali kita membela orang yang dizalimi, kita sedang menempuh jalan para wali.
Setiap kali kita menolak keuntungan yang haram, kita sedang memilih siapa yang ingin kita temani.
Setiap kali kita memperbaiki akhlak karena cinta kepada Ahlul Bait, jarak antara pengakuan dan kenyataan menjadi semakin kecil.
Sebaliknya, setiap dosa yang dipelihara bukan hanya sebuah pelanggaran. Ia dapat menjadi langkah menuju kelompok yang tidak kita inginkan.
Inilah sebabnya para sahabat karib yang saling membantu dalam dosa akan menjadi musuh pada Hari Kiamat.
Pada hari itu, mereka menyadari bahwa hubungan yang dahulu terasa menyenangkan ternyata saling membawa kepada kebinasaan.
Sahabat sejati bukan hanya orang yang membuat kita merasa nyaman.
Sahabat sejati adalah orang yang tidak membiarkan kita berjalan dengan tenang menuju jurang.
Ia mungkin menasihati ketika kita tidak suka mendengarnya. Ia mungkin menghentikan kita ketika hawa nafsu ingin dibenarkan.
Namun justru orang seperti itulah yang layak tetap menjadi sahabat di akhirat.
Maka Bagian 88 mengajarkan kita mengoreksi cinta dan keberpihakan.
Siapa yang paling kita kagumi?
Siapa yang ingin kita tiru?
Kepada siapa kita memberikan pembelaan tanpa syarat?
Nilai siapa yang kita pelihara di dalam rumah, pekerjaan, pergaulan, dan keputusan politik kita?
Sebab manusia perlahan menyerupai apa yang terus-menerus dicintai dan dibelanya.
Doa ini akhirnya berubah menjadi permohonan yang sangat pribadi:
“Ya Allah, jangan hanya jadikan nama para wali-Mu berada di lidahku. Jadikan jalan mereka hidup dalam perbuatanku.
Jangan biarkan aku mengaku mencintai para kekasih-Mu, tetapi dibangkitkan bersama orang-orang yang memusuhi nilai mereka.
Bersihkanlah cintaku dari kepalsuan. Bimbinglah langkahku menuju ketaatan. Jadikan aku dekat dengan Muhammad dan keluarga Muhammad saw bukan hanya dalam pengakuan, tetapi dalam kejujuran, keadilan, keberanian, kesucian, dan kasih sayang.
Sebab azab yang paling menyedihkan bukan hanya rasa sakit.
Ia adalah ketika seseorang menyadari bahwa sepanjang hidupnya ia menyebut nama para kekasih Allah—namun tidak sungguh-sungguh berjalan bersama mereka.”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Cbf1D1dzy/

