Teks Doa Kumail
> وَلَا مَفْزَعًا أَتَوَجَّهُ إِلَيْهِ فِي أَمْرِي
Wa lā mafza‘an atawajjahu ilayhi fī amrī.
“Dan aku tidak menemukan tempat berlindung yang dapat kutuju dalam menghadapi urusanku.”
Penggalan ini tepat berada sesudah “lā ajidu mafarran mimmā kāna minnī.” Bagian 80 sengaja berhenti pada kalimat ini. Penggalan sesudahnya—“ghayra qabūlika ‘udzrī…”—akan menjadi Bagian 81 sehingga tidak ada teks yang hilang atau digabungkan.
Tema utama
Ketika ketakutan datang, manusia membutuhkan tempat berlindung. Namun seorang mukmin harus membedakan antara sarana yang digunakan dan Allah sebagai sandaran terakhir.
Kata mafza‘ berasal dari makna ketakutan atau keterkejutan yang mendorong seseorang segera mencari perlindungan.
Ia bukan sekadar tempat singgah, melainkan sesuatu atau seseorang yang secara spontan dituju ketika bahaya terasa mendekat.
Adapun atawajjahu berarti aku menghadapkan diri, mengarahkan wajah, perhatian, dan harapan.
Dengan demikian, penggalan ini tidak hanya bertanya, “Siapa yang dapat membantuku?” Ia mengajukan pertanyaan yang lebih dalam:
“Kepada siapa hatiku memberikan kepercayaan terakhir?”
Ayat Al-Qur’an
- QS Yusuf 12:86
> قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Ya‘qub berkata: Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.”
Nabi Ya‘qub as tidak menyangkal kesedihannya. Beliau menangis, kehilangan penglihatan karena dukacita, dan mengakui beratnya kehilangan Yusuf. Namun kesedihan itu tidak membuat hatinya kehilangan arah.
Mengadu kepada Allah bukan tanda lemahnya iman. Justru iman mengajari manusia ke mana harus membawa kelemahannya.
Ada keluhan yang membuat seseorang semakin jauh dari Allah karena berisi penolakan dan kebencian terhadap ketetapan-Nya.
Ada pula pengaduan yang membawa seseorang semakin dekat karena ia menumpahkan lukanya kepada satu-satunya Zat yang mampu memahami seluruhnya.
- QS Asy-Syu‘ara 26:61–62
> فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
“Ketika kedua kelompok itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, ‘Kita pasti akan tersusul.’ Musa berkata, ‘Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku; Dia akan menunjukkan jalan kepadaku.’”
Di depan mereka terdapat laut. Di belakang mereka pasukan Fir‘aun. Secara lahiriah, seluruh jalan telah tertutup.
Para pengikut Musa melihat keadaan dan berkata, “Kita akan tertangkap.” Musa melihat Tuhan yang menguasai keadaan dan berkata, “Tuhanku bersamaku; Dia akan menunjukkan jalan.”
Iman tidak membuat Musa menolak kenyataan bahwa pasukan sedang mengejar. Iman membuatnya menolak kesimpulan bahwa kekuasaan Fir‘aun adalah kenyataan terakhir.
- QS Al-Muzzammil 73:9
> رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا
“Dialah Tuhan timur dan barat; tidak ada Tuhan selain Dia. Maka jadikanlah Dia sebagai tempat berserah dan Pemelihara urusan.”
Wakīl bukan berarti Allah menjadi pengganti usaha manusia. Menjadikan Allah sebagai Wakīl berarti melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menganggap ikhtiar sebagai kekuatan yang berdiri sendiri.
Obat dapat menjadi sarana penyembuhan, tetapi bukan sumber kesembuhan yang mandiri. Manusia dapat menolong, tetapi kemampuan menolongnya juga berasal dari Allah.
Pintu dunia dapat diketuk, tetapi hati tidak boleh mengira bahwa pemilik pintu itu berkuasa tanpa izin-Nya.
Doa Ahlul Bait sebagai jangkar
Dalam Doa ke-28 Ash-Shahīfah as-Sajjādiyyah, yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, disebutkan:
> اللَّهُمَّ إِنِّي أَخْلَصْتُ بِانْقِطَاعِي إِلَيْكَ
وَأَقْبَلْتُ بِكُلِّي عَلَيْكَ
وَصَرَفْتُ وَجْهِي عَمَّنْ يَحْتَاجُ إِلَى رِفْدِكَ
“Ya Allah, aku memurnikan diriku dengan memutuskan ketergantunganku kepada selain-Mu. Aku menghadap kepada-Mu dengan seluruh diriku. Aku memalingkan wajahku dari siapa pun yang juga membutuhkan pertolongan-Mu.”
Kemudian disebutkan:
> وَرَأَيْتُ أَنَّ طَلَبَ الْمُحْتَاجِ إِلَى الْمُحْتَاجِ سَفَهٌ مِنْ رَأْيِهِ وَضَلَّةٌ مِنْ عَقْلِهِ
“Aku melihat bahwa seorang yang membutuhkan, apabila menggantungkan dirinya kepada sesama yang juga membutuhkan, merupakan kekeliruan dalam pandangan dan penyimpangan dalam pertimbangannya.”
Doa ini tidak melarang manusia meminta pertolongan kepada sesamanya.
Imam Sajjad as sedang membersihkan akar ketergantungan: jangan memperlakukan makhluk yang sama-sama membutuhkan Allah seolah-olah ia mempunyai kekuasaan mandiri.
Bersandar kepada Allah Bukan Meninggalkan Sebab
Kalimat Doa Kumail ini tidak mengajarkan agar seseorang menolak dokter ketika sakit, menolak bantuan hukum ketika dizalimi, atau menolak pertolongan sahabat ketika kesulitan.
Ahlul Bait tidak mengajarkan kepasifan yang diberi nama tawakal.
Manusia tetap harus berobat, bekerja, belajar, bermusyawarah, dan meminta bantuan kepada orang yang mampu.
Akan tetapi, ia mengetahui bahwa semuanya hanyalah jalan. Tidak satu pun dari jalan itu merupakan sumber kekuatan yang mandiri.
Kesalahan dimulai ketika sarana berubah menjadi sesembahan batin.
Seseorang merasa aman hanya karena mempunyai uang. Ia merasa tidak mungkin jatuh karena mempunyai kedudukan. Ia menganggap masalahnya pasti selesai karena mengenal orang berkuasa.
Perlahan-lahan hatinya memberikan kepada makhluk sesuatu yang hanya layak diberikan kepada Allah: kepercayaan mutlak.
Ketika sarana itu hilang, jiwanya ikut runtuh.
Tawakal yang benar membuat seseorang menggunakan seluruh sarana yang halal tanpa menjadikan satu pun darinya sebagai Tuhan kecil.
Kerangka pembahasan
- Makna mafza‘ sebagai tempat yang dituju dalam ketakutan.
- Tawajjuh bukan sekadar memandang, melainkan mengarahkan seluruh harapan.
- Kesedihan dan pengaduan kepada Allah tidak bertentangan dengan kesabaran.
- Iman melihat Allah ketika seluruh perhitungan manusia menemukan jalan buntu.
- Perbedaan antara menggunakan sarana dan menggantungkan hati kepada sarana.
- Manusia lain dapat menolong, tetapi mereka juga membutuhkan pertolongan Allah.
- Tawakal menyatukan ikhtiar yang sungguh-sungguh dengan ketergantungan hanya kepada-Nya.
Pembuka syarah
Setiap manusia mempunyai nama yang pertama kali dipanggilnya ketika ketakutan datang.
Ketika kabar buruk diterima, ketika penyakit ditemukan, ketika utang jatuh tempo, ketika pekerjaan terancam, atau ketika seseorang merasa seluruh jalan mulai tertutup—hatinya segera mencari tempat untuk berlindung.
Ada yang pertama-tama mengingat hartanya.
Ada yang mengingat kedudukannya.
Ada yang mengingat orang berkuasa yang dikenalnya.
Ada pula yang langsung merasa tidak mempunyai siapa-siapa, lalu tenggelam dalam keputusasaan.
Doa Kumail membawa kita kepada pertanyaan yang sangat pribadi:
> “Dan aku tidak menemukan tempat berlindung yang dapat kutuju dalam menghadapi urusanku.”
Penggalan ini bukan penolakan terhadap pertolongan manusia. Kita hidup di dalam jaringan sebab yang diciptakan Allah. Seorang yang sakit membutuhkan dokter.
Orang yang tidak mengetahui jalan membutuhkan penunjuk. Orang yang dizalimi dapat membutuhkan pengacara dan hakim yang adil.
Namun dokter dapat sakit. Penunjuk jalan dapat tersesat. Penguasa dapat kehilangan kekuasaannya.
Orang kaya dapat menjadi miskin. Semua yang kita jadikan sandaran di dunia pada dasarnya juga sedang mencari sandaran.
Maka persoalannya bukan apakah kita boleh meminta bantuan kepada manusia.
Persoalannya adalah apakah hati kita berhenti pada manusia itu.
Sarana berada di tangan, tetapi Allah harus tetap berada di pusat kesadaran. Kita mengetuk pintu manusia, tetapi mengetahui bahwa hanya Allah yang dapat membuat pintu itu terbuka.
Kita menelan obat, tetapi mengetahui bahwa zat kimia tidak memiliki kemampuan menyembuhkan secara mandiri. Kita menyusun rencana, tetapi memahami bahwa seluruh hasil tetap berada dalam kerajaan-Nya.
Nabi Ya‘qub as membawa kesedihannya kepada Allah.
Nabi Musa as berdiri di hadapan laut ketika pasukan Fir‘aun semakin dekat. Para pengikutnya berkata, “Kita pasti tersusul.” Semua perhitungan lahiriah membenarkan ketakutan mereka.
Namun Musa berkata:
> “Sekali-kali tidak. Tuhanku bersamaku; Dia akan menunjukkan jalan.”
Laut masih berada di depan ketika kalimat itu diucapkan. Jalan belum terlihat. Air belum terbelah. Pertolongan belum tampak.
Tetapi hati Musa telah menemukan tempat berlindung sebelum matanya melihat jalan keluar.
Inilah tawakal: bukan keyakinan bahwa hidup akan selalu berlangsung seperti yang kita inginkan, melainkan keyakinan bahwa kita tidak pernah berada di luar pengetahuan, kekuasaan, dan hikmah Allah.
Kadang-kadang Allah menyelamatkan kita dengan membuka jalan.
Kadang-kadang Dia menyelamatkan kita dengan menutup jalan yang selama ini kita inginkan.
Kadang-kadang Dia mengubah keadaan.
Kadang-kadang Dia tidak segera mengubah keadaan, tetapi mengubah hati kita agar mampu melewatinya.
Karena itu, ketika seluruh sandaran dunia berguncang, seorang mukmin tidak berkata, “Aku tidak mempunyai siapa-siapa.”
Ia berkata, “Barangkali Allah sedang menunjukkan bahwa sejak awal tidak ada satu pun yang benar-benar kumiliki selain Dia.”
Doa Kumail tidak mengajari kita meninggalkan ikhtiar. Ia mengajari kita membersihkan arah hati di tengah ikhtiar.
Tangan boleh mengetuk banyak pintu.
Akal boleh menyusun banyak jalan.
Namun hati hanya mempunyai satu kiblat.
Dan ketika seluruh jalan dunia tidak lagi terlihat, hati itu tetap mengetahui kepada siapa ia harus menghadap.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1FGf8zUB55/

