27 Oktober 2026

Teks Doa Kumail

> مُعْتَذِرًا نَادِمًا

Mu‘tadziran nādiman.

“Seraya memohon maaf dan menyesal.”

Tema utama

Taubat dimulai ketika manusia tidak lagi menggunakan permintaan maaf untuk membela kesalahannya, tetapi datang dengan penyesalan yang jujur dan kesiapan memperbaiki akibat perbuatannya.

Kata mu‘tadziran menunjukkan seseorang yang datang menyampaikan uzur dan memohon agar permintaan maafnya diterima. Namun dalam konteks ini, ia bukan sedang mencari alasan untuk membenarkan dosa.

Ia datang bukan untuk berkata, “Aku bersalah, tetapi keadaan memaksaku.”

Ia datang untuk berkata, “Aku bersalah, dan tidak ada lagi yang ingin kusembunyikan di balik alasan.”

Adapun nādiman berarti menyesal. Penyesalan bukan sekadar takut terhadap hukuman atau malu karena kesalahan diketahui manusia.
Penyesalan yang sejati lahir karena seseorang menyadari bahwa melalui dosanya, ia telah menjauh dari Allah, merusak dirinya, atau melukai makhluk-Nya.

Ayat Al-Qur’an

  1. QS Al-Qiyamah 75:14–15

> بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ ۝ وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ

“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun ia mengemukakan berbagai alasan.”

Manusia dapat menyusun pembelaan yang meyakinkan orang lain, tetapi di kedalaman batinnya ia mengetahui bagian mana yang sedang disembunyikan.
Taubat dimulai ketika alasan-alasan itu diletakkan dan hati berani memberikan kesaksian yang jujur terhadap dirinya sendiri.

  1. QS At-Taubah 9:102

> وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ

“Ada pula orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka. Mereka mencampurkan amal yang baik dengan amal lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka.”

Al-Qur’an tidak menggambarkan manusia secara hitam-putih. Seseorang dapat mempunyai amal baik sekaligus kesalahan. Yang membuka jalan kepulangan bukan klaim bahwa dirinya selalu benar, melainkan keberanian mengakui apa yang salah.

  1. QS Al-A‘raf 7:23

> قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata: Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Nabi Adam as dan Hawa tidak melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Mereka mengakui kezaliman terhadap diri sendiri, kemudian bersandar kepada ampunan dan rahmat Allah.

Riwayat Ahlul Bait

Syekh ash-Shaduq meriwayatkan dari Imam Musa al-Kazim as bahwa beliau mengutip sabda Rasulullah saw:

> كَفَى بِالنَّدَمِ تَوْبَةً

“Cukuplah penyesalan sebagai taubat.”

Dalam penjelasan selanjutnya, Imam al-Kazim as menyatakan bahwa orang beriman akan merasa sedih dan menyesali dosa yang dilakukannya.
Sebaliknya, ketiadaan penyesalan membuat seseorang terus bertahan dalam dosa.

“Cukuplah penyesalan sebagai taubat” tidak berarti hak manusia boleh dibiarkan atau kerusakan tidak perlu diperbaiki. Maksudnya, penyesalan merupakan jiwa taubat.
Tanpanya, istighfar hanya menjadi ucapan. Jika dosa menyangkut hak orang lain, penyesalan harus bergerak menuju pengembalian hak dan pemulihan luka.

Kerangka pembahasan

  1. Hubungan penggalan ini dengan pengakuan kekurangan pada Bagian 74.
  2. Perbedaan antara memohon maaf dan mencari pembenaran.
  3. Manusia tetap mengenali kesalahannya meskipun mampu menyusun banyak alasan.
  4. Penyesalan sejati lahir dari kesadaran telah menjauh dari Allah.
  5. Menyesali akibat dosa berbeda dari menyesali dosa itu sendiri.
  6. Penyesalan merupakan jiwa taubat, tetapi harus melahirkan perbaikan.
  7. Hati yang masih menyesal adalah hati yang belum kehilangan jalan pulang.

Pembuka syarah

Tidak semua permintaan maaf merupakan pengakuan.

Ada orang yang berkata, “Aku meminta maaf,” tetapi setelah itu ia segera menjelaskan mengapa dirinya sebenarnya tidak terlalu bersalah.
Ia mengakui kesalahan dengan satu kalimat, lalu membelanya dengan sepuluh kalimat berikutnya.

Permintaan maaf berubah menjadi ruang sidang. Ia menjadi terdakwa sekaligus pengacaranya sendiri.

Doa Kumail membawa seorang hamba keluar dari kebiasaan itu. Setelah berkata bahwa ia datang kepada Allah dengan segala kekurangan dan tindakan melampaui batas terhadap dirinya, ia melanjutkan:

> “Seraya memohon maaf dan menyesal.”

Ia tidak datang membawa prestasi untuk mengimbangi dosa. Ia tidak menyalahkan keadaan, lingkungan, godaan, atau manusia lain. Semua itu mungkin mempunyai pengaruh, tetapi tidak dapat menghapus tanggung jawab pilihannya.

Di hadapan manusia, kita masih dapat memilih bagian cerita yang ingin disampaikan.
Kita dapat mengecilkan kesalahan sendiri, membesarkan kesalahan orang lain, lalu menyusun kisah yang membuat kita tetap tampak sebagai korban.

Namun di hadapan Allah, cerita itu tidak dapat disunting.

Allah mengetahui apa yang dilakukan tangan, apa yang direncanakan pikiran, dan apa yang disembunyikan hati.
Karena itu, permohonan maaf kepada-Nya bukan usaha memberikan informasi. Ia adalah keberanian menghentikan kebohongan terhadap diri sendiri.

Penyesalan yang dimaksud doa ini juga bukan sekadar ketakutan karena dosa telah terbongkar. Seseorang dapat menyesal karena kehilangan nama baik tanpa menyesali perbuatannya.
Ia dapat menangis karena menerima hukuman, tetapi tetap mencintai dosa yang mengantarkannya kepada hukuman itu.

Penyesalan sejati lebih dalam.

Ia berbisik: “Seandainya tidak seorang pun mengetahuinya, aku tetap berharap tidak pernah melakukan perbuatan itu—karena Allah mengetahuinya, karena jiwaku telah terluka olehnya, dan mungkin manusia lain masih menanggung akibatnya.”

Di sinilah penyesalan menjadi awal perubahan.

Jika ada hak yang dirampas, ia dikembalikan. Jika ada nama yang dirusak, ia dipulihkan. Jika ada hati yang dilukai, permintaan maaf disampaikan.
Jika sebuah kebiasaan selalu membawa kepada dosa, jalan menuju kebiasaan itu ditutup.

Penyesalan tidak membiarkan manusia membenci dirinya selamanya. Ia membuat manusia membenci jalan salah yang pernah ditempuhnya.

Karena itu, rasa sakit setelah berbuat dosa tidak selalu merupakan tanda bahwa Allah telah meninggalkan kita.
Bisa jadi, justru itulah cara rahmat-Nya membangunkan hati yang hampir tertidur.

Hati yang mati dapat melakukan dosa tanpa kegelisahan.

Hati yang masih hidup akan terluka, mengetuk pintu Allah, lalu berkata tanpa pembelaan:

> “Aku datang memohon maaf dan menyesal.”

Dan selama penyesalan itu masih ada, jalan pulang belum tertutup.

Doa kumail

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CZhvNG9fZ/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us