27 Oktober 2026

Teks Doa Kumail

> إِلَهِي وَسَيِّدِي فَأَسْأَلُكَ بِالْقُدْرَةِ الَّتِي قَدَّرْتَهَا

وَبِالْقَضِيَّةِ الَّتِي حَتَمْتَهَا وَحَكَمْتَهَا وَغَلَبْتَ مَنْ عَلَيْهِ أَجْرَيْتَهَا

أَنْ تَهَبَ لِي فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَفِي هَذِهِ السَّاعَةِ

كُلَّ جُرْمٍ أَجْرَمْتُهُ

وَكُلَّ ذَنْبٍ أَذْنَبْتُهُ

وَكُلَّ قَبِيحٍ أَسْرَرْتُهُ

وَكُلَّ جَهْلٍ عَمِلْتُهُ

كَتَمْتُهُ أَوْ أَعْلَنْتُهُ

أَخْفَيْتُهُ أَوْ أَظْهَرْتُهُ

Ilāhī wa sayyidī, fa-as’aluka bil-qudrati allatī qaddartahā;

wa bil-qaḍiyyati allatī ḥatamtahā wa ḥakamtahā, wa ghalabta man ‘alayhi ajraytahā;

an tahaba lī fī hādhihi al-laylati wa fī hādhihi as-sā‘ati;

kulla jurmin ajramtuhu;

wa kulla dhanbin adhnabtuhu;

wa kulla qabīḥin asrartuhu;

wa kulla jahlin ‘amiltuhu;

katamtuhu aw a‘lantuhu;

akhfaytuhu aw aẓhartuhu.

“Wahai Tuhanku dan Junjunganku, aku memohon kepada-Mu dengan kekuasaan yang telah Engkau tetapkan; dengan keputusan yang telah Engkau pastikan dan hukumkan, serta yang dengannya Engkau mengatasi siapa pun yang atasnya keputusan itu Engkau berlakukan; agar pada malam ini dan pada saat ini Engkau menganugerahkan kepadaku pengampunan atas setiap pelanggaran yang telah kulakukan, setiap dosa yang telah kuperbuat, setiap keburukan yang kurahasiakan, dan setiap kebodohan yang telah kulakukan—baik yang kusembunyikan maupun kunyatakan, yang kututupi maupun kutampakkan.”

Catatan terjemahan:

Kata an tahaba lī secara harfiah berarti “agar Engkau menganugerahkan kepadaku”. Berdasarkan konteks dosa-dosa yang disebut sesudahnya, yang dimohonkan adalah anugerah pengampunan.

Tema utama

Taubat yang sungguh-sungguh tidak terus menunggu waktu yang dianggap sempurna. Ia dimulai pada malam ini, pada saat ini, dengan membawa seluruh diri—yang terlihat maupun tersembunyi—ke hadapan Allah.

Seorang hamba tidak dapat mengubah masa lalu dengan kekuatannya sendiri. Perbuatan yang telah terjadi tidak dapat ditarik kembali; ucapan yang telah melukai tidak dapat dibuat seolah-olah tidak pernah terucap.
Karena itulah ia memohon dengan qudrah Allah: kekuasaan yang mampu membuka masa depan baru setelah masa lalu dikotori dosa.

Ungkapan “pada malam ini dan pada saat ini” memutus kebiasaan menunda. Taubat tidak diletakkan pada suatu hari yang belum tentu datang. Kepulangan dimulai ketika kesadaran hadir—sekarang.

Ayat Al-Qur’an

  1. QS Al-Hadid 57:16

> أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka tunduk ketika mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan?”

Pertanyaan Al-Qur’an ini seakan meruntuhkan seluruh alasan penundaan: jika hati telah mendengar panggilan Allah, waktu untuk kembali bukan besok. Waktunya telah tiba.

  1. QS Ali ‘Imran 3:133

> وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.”

Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan agar manusia mencari ampunan, tetapi agar ia bergegas menuju ampunan. Sebab penundaan dapat mengeraskan hati dan mengubah dosa yang dahulu disesali menjadi kebiasaan yang kemudian dibela.

  1. QS Al-An‘am 6:120

> وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ

“Tinggalkanlah dosa yang tampak maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa akan diberi balasan atas apa yang mereka lakukan.”

Ayat ini sejalan dengan pengakuan Doa Kumail: “yang kusembunyikan maupun kunyatakan, yang kututupi maupun kutampakkan.”
Taubat tidak boleh hanya memperbaiki citra yang dilihat manusia. Ia harus menjangkau kehidupan rahasia yang hanya diketahui Allah.

Riwayat Ahlul Bait

Diriwayatkan dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as:

> إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقِرَّ التَّوَّابَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang mengakui kesalahannya dan terus kembali dalam taubat.”

Kelanjutan riwayat menyebut bahwa Rasulullah saw bertaubat kepada Allah setiap hari, meskipun beliau tidak memiliki dosa seperti manusia biasa. Dalam riwayat lain dari Imam ash-Shadiq as disebutkan:

> لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُحَاسِبْ نَفْسَهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ

“Bukan dari golongan kami orang yang tidak menghisab dirinya setiap hari.”

Riwayat itu melanjutkan: apabila seseorang menemukan kebaikan, hendaknya ia memohon agar Allah menambahkannya; apabila menemukan keburukan, hendaknya ia memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.
Kedua riwayat tercantum dalam Kitāb al-Zuhd, bab tentang taubat, istigfar, penyesalan, dan pengakuan dosa, masing-masing sebagai hadis 11 dan 19 pada edisi daring yang dirujuk.

Kerangka pembahasan

  1. Setelah membicarakan keadilan Allah, doa kembali kepada pengakuan dan permohonan pribadi.
  2. Manusia tidak dapat menghapus masa lalu, tetapi Allah berkuasa menganugerahkan pengampunan.
  3. Kalimat “malam ini dan saat ini” mengajarkan urgensi taubat.
  4. Dosa mencakup perbuatan yang tampak dan kehidupan rahasia.
  5. Jahl bukan hanya tidak mengetahui, tetapi juga tindakan bodoh yang lahir ketika hawa nafsu mengalahkan petunjuk.
  6. Taubat menyatukan kembali diri yang tampak di hadapan manusia dengan diri yang diketahui Allah.
  7. Pengampunan yang dimohonkan sekarang harus diikuti perbaikan yang dapat dimulai sekarang.

Pembuka syarah

Sebagian besar penundaan tidak terdengar seperti penolakan. Ia hanya memakai satu kata yang tampak ringan:

Nanti.

Nanti ketika hati sudah lebih tenang. Nanti setelah urusan selesai. Nanti ketika usia lebih matang.
Nanti setelah dosa ini dinikmati untuk terakhir kali. Nanti pada malam yang lebih sunyi, dalam keadaan yang lebih khusyuk, ketika kita merasa lebih pantas berdiri di hadapan Allah.

Namun “nanti” adalah tempat banyak niat baik kehilangan kehidupan.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah hati yang masih lembut malam ini akan tetap lembut esok hari. Dosa yang hari ini membuat kita menangis mungkin besok tidak lagi terasa berat.
Peringatan yang sekarang mengetuk hati dapat kehilangan suaranya apabila terus-menerus diabaikan.

Karena itu, Doa Kumail tidak berkata, “Ampunilah aku pada suatu hari ketika aku telah siap.”

Ia berkata:

> “Pada malam ini dan pada saat ini.”

Taubat tidak menunggu manusia menjadi suci. Taubatlah yang menjadi permulaan penyucian.

Seorang hamba datang dengan masa lalu yang tidak dapat diulang. Ada ucapan yang telah terlepas dari lidahnya. Ada pandangan yang telah dibiarkan.
Ada hak yang telah dilanggarnya. Ada hati yang mungkin telah dilukainya. Ia tidak mampu memutar waktu dan menghapus kejadian itu dari sejarah.

Maka ia bersandar kepada kekuasaan Allah.

Bukan untuk meminta agar akibat dosa dianggap tidak penting, melainkan agar Allah memberinya sesuatu yang tidak dapat ia ciptakan sendiri: pengampunan, kemampuan memperbaiki, dan kesempatan memulai kembali.

Doa kemudian menyebut dosa dengan beberapa nama: jurm, dzanb, qabīḥ, dan jahl.
Seakan-akan hamba itu tidak ingin membiarkan satu sudut pun dari masa lalunya bersembunyi di balik istilah yang samar.

Ada pelanggaran yang disadari sepenuhnya.

Ada dosa yang dahulu dianggap kecil.

Ada keburukan yang sengaja dirahasiakan karena kita mengetahui betapa buruknya ia apabila dilihat manusia.

Ada pula jahl—kebodohan yang dilakukan.
Bukan hanya tidak mengetahui, tetapi bertindak tanpa kebijaksanaan: mengetahui nasihat, tetapi memilih hawa nafsu; mengenal akibat, tetapi mengejar kenikmatan sesaat; memahami bahwa Allah melihat, tetapi hidup seolah-olah tidak sedang dilihat.

Kemudian doa membongkar pemisahan antara dua diri:

> “Yang kusembunyikan maupun kunyatakan; yang kututupi maupun kutampakkan.”

Manusia dapat memiliki kehidupan yang sangat rapi di hadapan orang lain. Ucapannya tampak saleh, namanya dihormati, dan kekurangannya tertutup dengan baik. Namun di balik semua itu mungkin terdapat ruang yang tidak diizinkannya disentuh oleh petunjuk Allah.

Doa Kumail mengajarkan bahwa taubat tidak cukup hanya memperbaiki diri yang terlihat.

Seseorang belum sepenuhnya kembali apabila ia meninggalkan dosa terbuka, tetapi masih memelihara dosa rahasia. Ia belum sepenuhnya jujur apabila meminta agar reputasinya diselamatkan, tetapi tidak meminta agar batinnya disembuhkan.
Allah bukan hanya Tuhan bagi wajah yang kita tampilkan kepada manusia. Dia adalah Tuhan atas rahasia yang bahkan sulit kita akui kepada diri sendiri.

Namun keterbukaan di hadapan Allah bukanlah keterbukaan di hadapan Tuhan yang baru mengetahui dosa setelah kita mengakuinya. Allah telah mengetahuinya sebelum lidah berbicara.

Pengakuan diperlukan bukan agar Allah mengetahui, melainkan agar kita berhenti bersembunyi.

Di hadapan manusia, pengakuan dapat mempermalukan.
Di hadapan Allah, pengakuan yang tulus justru dapat menjadi awal pemulihan. Riwayat yang dinisbatkan kepada Imam ash-Shadiq as menyatakan bahwa Allah mencintai hamba yang mengakui kesalahannya dan terus kembali dalam taubat.

Betapa lembut ajaran ini.

Allah tidak mencintai dosa, tetapi Dia mencintai kepulangan seorang pendosa. Dia tidak meridai pelanggaran, tetapi Dia membuka pintu bagi orang yang berhenti membela pelanggarannya.

Karena itu, kalimat “pada saat ini” adalah undangan untuk berhenti menawar waktu dengan Allah.

Jika ada hak manusia yang harus dikembalikan, mulailah menyiapkan pengembaliannya sekarang. Jika ada hubungan haram yang harus dihentikan, buatlah keputusan sekarang.
Jika ada kewajiban yang ditelantarkan, susunlah perbaikannya sekarang. Jika ada kesombongan yang membuat kita enggan meminta maaf, tundukkan ia sekarang.

Mungkin seluruh kerusakan belum dapat diperbaiki dalam satu malam. Namun arah kehidupan dapat diubah dalam satu saat.

Malam ini tidak harus menjadi malam ketika kita telah selesai memperbaiki semuanya.

Cukuplah ia menjadi malam ketika kita berhenti melarikan diri.

Dan saat ini tidak harus menjadi saat ketika kita telah mencapai kesucian.

Cukuplah ia menjadi saat ketika kita berkata dengan jujur:

“Ya Allah, aku datang membawa seluruh diriku—yang tampak dan tersembunyi. Aku tidak ingin lagi menunggu waktu yang lebih sempurna untuk kembali. Dengan kekuasaan-Mu, anugerahkan kepadaku pengampunan pada malam ini, pada saat ini.”

Doa kumail

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19EkuTgoLm/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us