Dalam tradisi Ahlul Bait, doa ini dikenal sebagai Doa Khidir as, kemudian diajarkan oleh Amirul Mukminin Ali as kepada Kumail bin Ziyad.
Teks Doa Kumail
> يَا رَبِّ ارْحَمْ ضَعْفَ بَدَنِي وَرِقَّةَ جِلْدِي وَدِقَّةَ عَظْمِي
يَا مَنْ بَدَأَ خَلْقِي وَذِكْرِي وَتَرْبِيَتِي وَبِرِّي وَتَغْذِيَتِي
هَبْنِي لِابْتِدَاءِ كَرَمِكَ وَسَالِفِ بِرِّكَ بِي
يَا إِلَهِي وَسَيِّدِي وَرَبِّي
أَتُرَاكَ مُعَذِّبِي بِنَارِكَ بَعْدَ تَوْحِيدِكَ
وَبَعْدَ مَا انْطَوَى عَلَيْهِ قَلْبِي مِنْ مَعْرِفَتِكَ
وَلَهِجَ بِهِ لِسَانِي مِنْ ذِكْرِكَ
وَاعْتَقَدَهُ ضَمِيرِي مِنْ حُبِّكَ
وَبَعْدَ صِدْقِ اعْتِرَافِي وَدُعَائِي خَاضِعًا لِرُبُوبِيَّتِكَ
Yā Rabbi irḥam ḍa‘fa badanī, wa riqqata jildī, wa diqqata ‘aẓmī. Yā man bada’a khalqī wa dzikrī wa tarbiyatī wa birrī wa taghdziyatī. Habnī libtidā’i karamika wa sālifi birrika bī.
Yā Ilāhī wa Sayyidī wa Rabbī, aturāka mu‘adzdzibī binārika ba‘da tawḥīdika, wa ba‘da mā inṭawā ‘alayhi qalbī min ma‘rifatika, wa lahija bihī lisānī min dzikrika, wa‘taqadahu ḍamīrī min ḥubbika, wa ba‘da ṣidqi‘tirāfī wa du‘ā’ī khāḍi‘an lirubūbiyyatika?
“Wahai Tuhanku, kasihanilah kelemahan tubuhku, halusnya kulitku, dan rapuhnya tulangku. Wahai Dia yang memulai penciptaanku, menyebut dan memperhatikanku, memeliharaku, berbuat baik kepadaku, serta memberiku makanan. Anugerahkanlah kepadaku ampunan demi kemurahan-Mu yang telah mendahului dan kebaikan-Mu yang sejak dahulu menyertaiku.
Wahai Tuhanku, Junjunganku, dan Pemeliharaku! Apakah kiranya Engkau akan menyiksaku dengan api-Mu setelah aku mengesakan-Mu; setelah hatiku memeluk makrifat kepada-Mu; lidahku terbiasa menyebut-Mu; batinku berpegang kepada cinta-Mu; dan setelah jujurnya pengakuanku serta doaku yang tunduk kepada rububiyah-Mu?”
Catatan terjemahan:
Pada kalimat habnī libtidā’i karamika, objek permohonannya tidak disebutkan secara eksplisit. Kata “ampunan” ditambahkan dalam terjemahan sebagai penjelas berdasarkan rangkaian makna doa, bukan sebagai tambahan pada teks Arab.
Tema utama
Kerapuhan tubuh bukan kehinaan manusia. Ia merupakan pengingat bahwa sejak awal kita hidup karena pemeliharaan Allah.
Karena itu, harapan seorang hamba tidak hanya bertumpu pada ketakutannya terhadap azab, tetapi juga pada sejarah panjang kemurahan Tuhan yang telah menciptakan, memelihara, dan menanamkan tauhid, makrifat, zikir, serta cinta di dalam dirinya.
Penggalan ini mempertemukan dua kenyataan: tubuh yang lemah dan hati yang mengenal Allah.
Tubuh berkata, “Aku tidak sanggup.”
Hati berkata, “Tetapi aku mengenal siapa Tuhanku.”
Doa ini bukan tuntutan bahwa orang yang mengaku bertauhid pasti terbebas dari seluruh pertanggungjawaban.
Ia adalah munajat penuh harap: seorang hamba membawa tauhid, makrifat, zikir, cinta, dan pengakuannya ke hadapan kemurahan Allah—bukan sebagai harga yang mewajibkan Allah mengampuninya, melainkan sebagai tanda bahwa dirinya masih memiliki hubungan dengan-Nya.
Ayat Al-Qur’an
- QS Ar-Rum 30:54
> اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً
“Allah-lah yang menciptakan kalian dari kelemahan, kemudian menjadikan kekuatan setelah kelemahan, lalu menjadikan kelemahan dan uban setelah kekuatan.”
Manusia tidak hanya menjadi lemah pada akhir kehidupannya. Ia berasal dari kelemahan. Kekuatan yang muncul di antara masa bayi dan masa tua hanyalah sebuah musim singkat yang dianugerahkan Allah. Karena itu, orang yang sedang kuat tidak pantas menghina yang lemah; sebentar lagi kekuatan itu pun akan kembali kepada Pemiliknya.
- QS Asy-Syu‘ara 26:78–80
> الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dialah yang menciptakanku, lalu Dia memberiku petunjuk; Dialah yang memberiku makan dan minum; dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.”
Ucapan Nabi Ibrahim as ini bergema sangat dekat dengan Doa Kumail. Allah bukan hanya Pencipta yang memulai kehidupan, kemudian meninggalkannya.
Dia menciptakan, memberi petunjuk, menyediakan makanan, memberi minuman, dan menyembuhkan. Kehidupan kita adalah rangkaian panjang pemeliharaan-Nya.
- QS Az-Zumar 39:23
> ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ
“Kemudian kulit dan hati mereka menjadi lembut ketika mengingat Allah.”
Al-Qur’an menyebut kulit dan hati secara bersamaan. Wahyu tidak hanya menggugah pikiran; ia dapat membuat tubuh gemetar, mata menangis, dan hati menjadi lembut.
Tubuh bukan penghalang kehidupan ruhani. Ia ikut menjadi saksi perjumpaan seorang hamba dengan kalam Tuhannya.
Riwayat Ahlul Bait
Dalam sebuah khotbah yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali as disebutkan:
> وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَيْسَ لِهذَا الْجِلْدِ الرَّقِيقِ صَبْرٌ عَلَى النَّارِ، فَارْحَمُوا نُفُوسَكُمْ
“Ketahuilah bahwa kulit yang halus ini tidak mempunyai ketahanan terhadap api. Maka kasihilah diri kalian.”
Imam kemudian mengingatkan betapa manusia sudah mengeluh hanya karena tertusuk duri, terluka ketika terjatuh, atau terbakar oleh panasnya tanah.
Jika penderitaan dunia yang kecil saja sulit ditanggung, manusia seharusnya tidak mempermainkan keselamatan akhiratnya. [Nahj al-Balaghah, Khotbah 183]
Nasihat “kasihilah diri kalian” tidak berarti memanjakan hawa nafsu. Dalam konteks ini, menyayangi diri adalah menyelamatkannya dari dosa.
Tidak semua yang menyenangkan tubuh merupakan kasih sayang kepadanya; terkadang kasih sayang justru berbentuk penolakan terhadap keinginan yang akan membinasakannya.
Kerangka pembahasan
- Tubuh manusia diciptakan dalam kelemahan dan akan kembali kepada kelemahan.
- Kerapuhan fisik bukan kehinaan, melainkan tanda ketergantungan kepada Allah.
- Kehidupan adalah sejarah panjang pemeliharaan Ilahi: penciptaan, pendidikan, kebaikan, dan pemberian rezeki.
- Tauhid harus berdiam di dalam hati, mengalir melalui lidah, dan mengikat batin dengan cinta.
- Harapan kepada Allah bukan tuntutan atas amal, tetapi bersandar kepada kemurahan-Nya yang telah mendahului.
- Menyayangi diri berarti menjaganya dari dosa dan mempersiapkannya untuk kembali kepada Allah.
Pembuka syarah
Tubuh adalah bagian diri kita yang paling jujur.
Ia tidak dapat terus-menerus berpura-pura kuat. Mata akhirnya lelah, tangan gemetar, kulit kehilangan ketegangannya, dan tulang mulai mengabarkan usia.
Seseorang dapat menyembunyikan kesedihannya dari banyak orang, tetapi tubuh sering mengungkapkan apa yang tidak sanggup dikatakan oleh lidah.
Di hadapan Allah, seorang hamba tidak merasa perlu menyembunyikan semua itu.
Ia berkata:
> “Wahai Tuhanku, kasihanilah kelemahan tubuhku, halusnya kulitku, dan rapuhnya tulangku.”
Doa ini tidak mencela tubuh. Ia tidak menganggap jasad sebagai sesuatu yang hina dan harus dibenci.
Tubuh adalah ciptaan Allah, kendaraan ketaatan, tempat sujud, serta saksi bagi perjalanan manusia menuju-Nya.
Dengan tubuh inilah kita berdiri dalam salat.
Dengan tangan inilah kita memberi atau merampas.
Dengan kaki inilah kita berjalan menuju majelis zikir atau menuju tempat kemaksiatan.
Dengan mata inilah kita membaca Al-Qur’an atau memandang sesuatu yang dilarang.
Suatu hari anggota-anggota itu akan berbicara mengenai cara kita mempergunakannya. Karena itu, ketika Doa Kumail memohonkan belas kasih bagi tubuh, permohonan tersebut bukan sekadar ketakutan terhadap rasa sakit.
Ia juga merupakan kesadaran bahwa tubuh ini telah dipercayakan kepada kita, sedangkan kita tidak selalu memperlakukannya sebagai amanah.
Sesudah mengakui kelemahannya, seorang hamba memandang kembali seluruh perjalanan hidupnya:
> “Wahai Dia yang memulai penciptaanku, memperhatikanku, memeliharaku, berbuat baik kepadaku, serta memberiku makanan.”
Sebelum kita dapat menyebut nama Allah, Allah telah memelihara kita.
Ketika kita belum mengetahui cara meminta, kebutuhan kita telah disediakan. Ketika tubuh masih dibentuk dalam rahim dan tidak seorang pun dapat menolong dirinya sendiri, Allah menumbuhkan tulang, membungkusnya dengan daging, menggerakkan jantung, serta menyiapkan jalan kehidupan.
Kita tidak memulai hubungan ini.
Kemurahan Allah telah mendahului kesadaran kita tentang kemurahan itu.
Inilah dasar harapan dalam Doa Kumail. Seorang hamba tidak berkata, “Kasihanilah aku karena aku telah sempurna dalam ketaatan.” Ia justru kembali kepada awal kisahnya: “Kasihanilah aku karena sejak permulaan Engkau telah memperlakukanku dengan kemurahan.”
Dosa memang membuatnya malu, tetapi dosa tidak menghapus seluruh jejak pemeliharaan Allah.
Ia masih dapat mengingat bahwa Tuhan yang dimohonnya hari ini adalah Tuhan yang menciptakannya dahulu, memberinya makanan, menutup aibnya, menunggunya bertobat, dan mempertahankan denyut jantungnya agar ia masih mempunyai kesempatan untuk kembali.
Kemudian munajat ini memasuki wilayah yang lebih dalam:
> “Apakah kiranya Engkau akan menyiksaku dengan api-Mu setelah aku mengesakan-Mu?”
Ini bukan keberanian seorang terdakwa yang merasa mempunyai hak untuk menuntut hakim. Ini adalah harapan seorang hamba yang mengetahui bahwa tauhid bukan perkara kecil.
Namun tauhid yang dibawa kepada Allah bukan sekadar kalimat yang pernah diucapkan. Doa segera menjelaskan jejaknya:
> “Hatiku telah memeluk makrifat kepada-Mu.”
Ada pengenalan di dalam hati.
> “Lidahku terbiasa menyebut-Mu.”
Ada nama Allah yang terus kembali ke lidah.
> “Batinku berpegang kepada cinta-Mu.”
Ada cinta yang berdiam pada tempat paling tersembunyi.
> “Aku mengakui dengan jujur dan berdoa dengan tunduk kepada rububiyah-Mu.”
Ada pengakuan, kerendahan, dan kepulangan.
Empat lapisan diri dihadirkan: hati, lidah, batin, dan keseluruhan sikap seorang hamba.
Ia seakan berkata, “Ya Allah, aku memang berdosa, tetapi aku bukan orang yang tidak mengenal-Mu. Di balik seluruh kekotoranku, masih ada sesuatu yang tertuju kepada-Mu.”
Di sinilah kita harus berhenti dan memeriksa diri.
Apakah tauhid hanya berada di lidah, atau telah memasuki hati?
Apakah zikir hanya terdengar ketika tasbih berada di tangan, atau muncul pula ketika dosa menawarkan dirinya?
Apakah cinta kepada Allah hanya terasa dalam suasana doa, atau juga mampu membuat kita meninggalkan sesuatu yang dibenci-Nya?
Cinta yang sejati tidak selalu berarti tidak pernah jatuh. Namun ketika jatuh, ia tidak membiarkan seseorang merasa betah jauh dari Yang Dicintainya.
Dosa membuatnya sakit, kelalaian membuatnya rindu, dan setiap kejauhan melahirkan keinginan untuk kembali.
Karena itu, pertanyaan dalam Doa Kumail bukan pernyataan bahwa pengakuan tauhid otomatis membatalkan seluruh akibat dosa. Ia merupakan husnuzan—prasangka baik yang sangat dalam kepada Allah.
Seorang hamba mengetahui bahwa amalnya tidak cukup. Makrifatnya masih bercampur kelalaian.
Zikirnya sering tanpa kehadiran hati. Cintanya belum selalu terbukti dalam ketaatan. Pengakuannya pun masih membawa banyak kekurangan.
Akan tetapi, ia juga mengetahui bahwa kemurahan Allah mendahului seluruh kekurangan itu.
Ia tidak menggantungkan keselamatan pada kesempurnaan cintanya kepada Allah. Ia menggantungkannya pada kesempurnaan kasih Allah kepadanya.
Maka, kelemahan tubuh tidak lagi hanya menjadi alasan untuk takut. Ia berubah menjadi alasan untuk semakin berharap. Tulang yang rapuh mengingatkan bahwa kesombongan tidak mempunyai tempat.
Kulit yang halus mengingatkan agar kita tidak bermain-main dengan dosa. Hati yang mengenal Allah mengingatkan bahwa pintu kepulangan masih terbuka.
Seorang hamba akhirnya datang membawa seluruh dirinya: tubuh yang lemah, hati yang mengenal, lidah yang berzikir, batin yang mencintai, dan masa lalu yang membutuhkan pengampunan.
Seakan-akan ia berbisik:
“Ya Allah, tubuhku rapuh, tetapi tubuh ini adalah ciptaan-Mu. Hatiku tidak sempurna, tetapi di dalamnya masih ada pengenalan kepada-Mu. Lidahku telah banyak bersalah, tetapi ia masih menyebut nama-Mu. Cintaku lemah, tetapi aku tidak mempunyai kekasih dan tempat pulang selain Engkau.
Maka janganlah memperlakukanku menurut kelemahanku.
Perlakukanlah aku menurut kemurahan-Mu.”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19zSMPYm5r/

