Nubuat Kedatangan Nabi Muhammad (saww)
oleh Dr Sayyid Musthofa Qozwini
Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad
Kesatuan Umat Manusia dan Inti Agama
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, serta salawat dan salam bagi junjungan kita Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau yang suci. Inti dari semua agama adalah satu, yaitu mengajak umat manusia untuk menyembah hanya kepada Allah. Karena berbagi tujuan dan jalan yang sama, Al-Qur’an memandang umat manusia sebagai satu keluarga, satu bangsa, dan satu komunitas besar. Meskipun kita hidup di negara yang berbeda, memiliki bahasa, warna kulit, dan budaya yang beragam, kita semua berasal dari sumber yang sama—Adam dan Hawa—dan akan menuju tujuan akhir yang sama.
Kesatuan Misi Para Nabi
Allah SWT telah menetapkan agama yang sama bagi Nuh, Muhammad, Ibrahim, Musa, dan Isa. Pesan utamanya adalah untuk menjunjung tinggi harmoni dan kebersamaan manusia serta melarang perpecahan. Karena semua nabi memiliki satu misi dan tujuan yang sama, maka barangsiapa yang tidak mempercayai salah satu dari mereka, berarti ia telah mengingkari semua nabi.
Sebagai contoh, Al-Qur’an menyebut bahwa kaum Nabi Nuh telah menolak “semua utusan”, padahal saat itu hanya ada Nabi Nuh di antara mereka. Hal ini karena para nabi adalah satu keluarga besar dalam misi ketuhanan. Bahkan, Allah menyebut para nabi sebagai “saudara” bagi komunitas mereka—meskipun komunitas tersebut belum beriman—karena nabi datang dengan kasih sayang dan demi kebaikan umatnya.
Integritas Para Nabi dan Perjanjian Suci
Islam meyakini integritas semua nabi tanpa diskriminasi. Seseorang tidak bisa hanya menerima Musa dan Isa tetapi menolak Muhammad, karena tindakan tersebut menunjukkan ketidakpahaman terhadap pesan sejati dari nabi-nabi sebelumnya. Dalam tradisi Ahlul Bayt, disebutkan melalui hadis Imam Sadiq as bahwa Allah membuat perjanjian (mithaq) dengan setiap nabi yang diutus-Nya untuk mengakui kenabian Muhammad SAW dan kepemimpinan (wilayah) Imam Ali as setelah beliau. Perjanjian ini diambil bahkan ribuan tahun sebelum kelahiran mereka agar para nabi dapat mempersiapkan komunitas mereka akan kedatangan sang penutup para nabi.
Nubuat dalam Kitab-Kitab Terdahulu
Kedatangan Nabi Muhammad SAW bukanlah sebuah kejutan atau misteri karena deskripsi fisik, moral, dan etikanya telah disebutkan dalam Taurat (Perjanjian Lama) dan Injil (Perjanjian Baru). Hal ini bertujuan agar orang-orang yang berhati bersih dapat langsung mengenali beliau saat beliau tiba. Menariknya, kitab-kitab terdahulu tidak hanya menyebutkan tentang Nabi Muhammad, tetapi juga menyebutkan tentang keluarga dan para pengikut setianya yang akan membawa obor petunjuk bagi umat manusia.
Larangan Menyembunyikan Kebenaran
Allah telah membuat perjanjian dengan Ahli Kitab agar mereka menyebarkan kebenaran ini kepada anak cucu dan komunitas mereka, bukan menyembunyikannya. Namun, sejarah mencatat ada sebagian yang menukar janji penting ini dengan keuntungan duniawi yang rendah. Sebelum kedatangan Nabi di Madinah, kaum Yahudi dan Nasrani sering memberitahu kaum musyrik bahwa akan datang seorang nabi yang jujur dan berintegritas yang akan menjadi hakim dan penuntun bagi mereka. Namun, ironisnya, ketika Nabi Muhammad datang dengan kitab yang mereka kenali kebenarannya, sebagian dari mereka justru menolaknya karena kepentingan tertentu.
Tanggung Jawab Menyuarakan Kebenaran
Allah memiliki toleransi nol terhadap penyembunyian fakta kebenaran. Siapa pun yang mengetahui kebenaran dalam kitab suci tetapi menyembunyikannya akan menghadapi konsekuensi berat dan kehilangan rahmat Allah. Hal ini tidak hanya berlaku bagi kaum terdahulu, tetapi juga merupakan peringatan keras bagi umat Islam saat ini—termasuk para ulama, pendidik, orang tua, dan pemimpin. Jika kita mengetahui kebenaran namun memilih untuk bersikap “diplomatis” dan menyembunyikannya, kita akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat. Kebenaran harus disampaikan dengan cara yang baik dan bijaksana, namun tidak boleh disembunyikan sama sekali.

Source: AlHurr TV

