Sejarah Rasulullah (saww) [Bag.3]: Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Muhammad saw.
oleh Dr. Sayed Moustafa Al-Qazwini
Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad
Kelahiran di Tahun Gajah (Amul Fil)
Kisah kehidupan Nabi Muhammad saw. adalah sebuah cerita istimewa yang menyentuh hati setiap mukmin.
Beliau lahir dalam keadaan yatim dan hidup dalam kemiskinan pada tahun 570 Masehi, yang dikenal sebagai Tahun Gajah (Amul Fil).
Nama tahun ini merujuk pada peristiwa penyerangan kota Mekah oleh penguasa zalim asal Yaman bernama Abraha yang berniat menghancurkan Ka’bah, namun ia dan pasukannya akhirnya dikalahkan secara mutlak.
Silsilah dan Keluarga Banu Hashim
Nabi Muhammad saw. lahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muttalib dan Aminah binti Wahab.
Ayah beliau, Abdullah, meninggal dunia baik sesaat sebelum atau beberapa bulan setelah kelahiran beliau.
Kakek beliau, Abdul Muttalib, adalah seorang penganut monoteisme (Muwahhid) yang menyembah Tuhan berdasarkan tradisi Nabi Ibrahim as. dan tidak menyembah berhala.
Keluarga beliau berasal dari Banu Hashim, sebuah kabilah dari suku Quraisy yang dikenal paling dermawan, baik hati, dan menonjol di Mekah.
Masa Pengasuhan oleh Halimah Sa’diyyah
Sesuai tradisi saat itu, anak-anak Mekah dikirim ke luar kota untuk disusui oleh suku-suku di pedalaman.
Tujuannya ada dua: agar anak-anak terhindar dari penyakit yang tersebar di kota dan agar mereka tumbuh lebih kuat dan sehat di lingkungan gurun yang keras.
Nabi Muhammad saw. diasuh oleh seorang wanita terhormat bernama Halimah Sa’diyyah.
Abdul Muttalib menyukai nama Halimah karena bermakna “kebahagiaan” dan “kesabaran”.
Beliau tinggal di pedalaman selama lima tahun sebelum akhirnya dikembalikan ke pelukan ibunya, Aminah, karena Halimah khawatir akan keselamatan Muhammad setelah beberapa orang dari Ahli Kitab mengenali tanda-tanda kenabian pada fisik beliau.
Wafatnya Sang Ibu dan Pengasuhan Kakek
Setelah kembali ke Mekah, Aminah membawa Muhammad saw. mengunjungi paman-pamannya dari Banu Najjar di Madinah serta berziarah ke makam suaminya, Abdullah.
Namun, dalam perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit dan wafat di sebuah desa bernama Al-Abwa.
Muhammad yang kini yatim piatu dibawa kembali ke Mekah oleh Ummu Aiman untuk diserahkan kepada Abdul Muttalib. Abdul Muttalib sangat mencintai cucunya dan meyakini integritas serta kesucian Muhammad kecil.
Di saat masa kekeringan, Abdul Muttalib sering membawa Muhammad ke depan Ka’bah untuk berdoa meminta hujan (Istisqa) atas nama kesucian sang cucu, dan doa tersebut selalu dikabulkan dengan hujan yang lebat.
Di Bawah Perlindungan Abu Thalib dan Fatima bint Asad
Saat Muhammad saw. berusia 8 tahun, Abdul Muttalib wafat.
Sebelum meninggal, ia mengamanahkan cucunya kepada putranya, Abu Thalib.
Meskipun Abu Thalib bukan orang kaya, beliau memberikan perlindungan dan kasih sayang yang luar biasa, bahkan lebih mengutamakan Muhammad daripada anak-anak kandungnya sendiri.
Istri Abu Thalib, Fatima bint Asad, juga merawat Muhammad dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu.
Kesetiaan Nabi kepada Fatima bint Asad sangat luar biasa. Puluhan tahun kemudian, saat Fatima wafat di Madinah, Nabi sendiri yang mengurus jenazahnya dan bahkan berbaring sejenak di dalam lubang kuburnya untuk memberikan ketenangan bagi jiwanya.
Beliau menyatakan bahwa Fatima adalah ibu yang melindunginya saat ia sendirian dan yatim piatu.
Keyakinan Tauhid Leluhur dan Nama Beliau
Berdasarkan tradisi Imamiyah, Zaidiyah, dan sebagian tradisi Sunni, leluhur Nabi Muhammad saw.—termasuk Abdul Muttalib, Abdullah, Amina, dan Abu Thalib—adalah orang-orang yang beriman kepada Tuhan yang Esa dan tidak pernah menyembah berhala.
Terkait nama, beliau dikenal dengan nama Muhammad dan Ahmad. Nama Muhammad diberikan dengan harapan agar beliau dipuji di langit dan di bumi. Al-Quran menyebutkan nama Muhammad di empat tempat, dan nama Ahmed disebutkan satu kali dalam Surat As-Saff. Pemberian lebih dari satu nama pada seorang Nabi adalah hal yang wajar, sebagaimana Nabi Yakub (Israel), Nabi Yunus (Dzu-nun), dan Nabi Isa (Al-Masih).

Source: AlHurr TV

