Segala puji bagi Allah dan selawat bagi Sayyidul Wujud, Muhammad SAW.
Kita berada di bulan Rabi’ul Awal, saat umat Islam bergembira menyambut kelahiran manusia yang menjadi sebab diciptakannya segala makhluk.
Kegembiraan ini adalah wujud syukur atas anugerah dan rahmat terbesar yang Allah berikan kepada alam semesta.
Namun, perayaan yang benar bukanlah dengan melanggar syariat, melainkan dengan mendekatkan diri kepada Allah, membaca sejarah beliau, dan menjadikan Rasulullah sebagai Uswatun Hasanah (teladan yang baik) dalam kehidupan kita.
Realitas Dakwah: Jalan Para Nabi yang Penuh Tantangan
Dalam kajian Surah Al-Hijr ayat 95 hingga akhir, Allah menegaskan perlindungan-Nya terhadap Rasulullah SAW.
Setiap nabi yang diutus Allah pasti menghadapi tantangan, ejekan, bahkan peperangan. Dakwah bukanlah berjalan di atas karpet merah, melainkan di atas duri.
Oleh karena itu, perintah untuk berdakwah selalu dibarengi dengan perintah untuk bersabar.
Ejekan adalah senjata bagi mereka yang frustrasi dan lemah argumen.
Ketika seseorang tidak lagi mampu beradu dalil, mereka akan menyerang dengan hinaan fisik atau tuduhan gila (majnun) dan penyihir (shahir).
Namun, para Nabi tidak pernah membalas dengan ejekan, karena kebenaran (Al-Haq) tidak pernah kekurangan dalil yang indah.
Jaminan Perlindungan Allah Terhadap Lima Tokoh Pengejek
Allah berfirman dalam Surah Al-Hijr: 95, “Inna kafaynaka al-mustahzi’in” (Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari kejahatan orang-orang yang memperolok-olokkan kamu).
Berdasarkan riwayat, ada lima tokoh kafir Quraisy yang sangat gencar mengejek Nabi: Al-Walid bin al-Mughirah, Al-Aas bin Wa’il, Al-Aswad bin Abd al-Muttalib, Al-Aswad bin Abdi Yaghuth, dan Al-Harith bin Talatila.
Allah sendiri yang menyelesaikan mereka dengan cara yang menghinakan.
- Al-Walid mati karena luka kecil yang terinfeksi di kakinya,
- Al-Aas tewas dengan tubuh terputus-putus setelah jatuh ke batu,
- Al-Aswad bin Abdi Yaghuth dibenturkan kepalanya ke pohon oleh Malaikat Jibril,
- Al-Aswad bin Abd al-Muttalib menjadi buta dan gila, serta
- Al-Harith tewas mengenaskan setelah wajahnya berubah menjadi hitam.
Ini membuktikan bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran sendirian.
Empat Obat Spiritual untuk Hati yang Sempit
Meskipun dijamin oleh Allah, sebagai manusia, Rasulullah tetap merasa sedih dan sesak dadanya mendengar hinaan tersebut. Untuk menenangkan hati, Allah memberikan empat perintah dalam ayat 98-99:
- Tasbih:
Mensucikan Allah dari segala keraguan. - Tahmid:
Memuji Allah agar hati merasa tentram dan bersyukur. - Sujud:
Memperbanyak sujud (salat) sebagai bentuk penghambaan yang paling dekat dengan-Nya. - Ibadah Hingga Akhir Hayat:
Menyembah Allah sampai datangnya Al-Yaqin (kematian).
Ibadah di sini mencakup seluruh aktivitas kehidupan yang dilakukan sesuai syariat, termasuk mencari nafkah yang halal.
Keyakinan ini adalah bekal bagi setiap orang yang ingin meneruskan jalan para Nabi.


